Minggu, 28 Februari 2016

Keturunan Arab & Hadrami di Indonesia.III

Harapan muncul pada 4 Oktober 1934 ketika upaya persatuan dan perdamaian masyarakat Arab di Indonesia diinisiasi oleh seorang wartawan dan nasionalis muda peranakan Arab yang bernama Abdurrachman (AR) Baswedan (Kakek dari Anies Baswedan, rektor Universitas Paramadina dan pendiri Indonesia Mengajar).

Abdurrahman Baswedan ( AR Baswedan )

Saat itu AR Baswedan mengumpulkan seluruh pemuka keturunan Arab Indonesia dan mengikrarkan ‘Sumpah Pemuda Indonesia keturunan Arab’. Isi ikrar itu antara lain (peranakan Arab) mesti mengakui Indonesia sebagai tanah air mereka, menjauhi sifat mengisolasi diri (tidak berbaur dengan masyarakat non-Arab), memenuhi kewajiban sebagai warga negara Indonesia, serta membela kepentingan seluruh rakyat Indonesia.
Ikrar Sumpah Pemuda Indonesia keturunan Arab ini kemudian melahirkan Partai Arab Indonesia (PAI) di tahun 1940 yang setahun kemudian diakui sebagai bagian dari Gabungan Partai-Partai Politik Indonesia (GAPPI) dan menuntut agar Indonesia berparlemen. Persoalan tafadul yang didasarkan pada keturunan di kalangan masyarakat Arab Hadrami di Indonesia ini akhirnya berhasil diakhiri. Tidak ada lagi pertentangan antara ‘Partai Syekh’ dan ‘Partai Sayyid’. Sejak diikrarkannya Sumpah Pemuda Indonesia keturunan Arab, kaum peranakan Arab di Indonesia diharuskan untuk memanggil sesamanya dengan Al-Akh, yang artinya ‘saudara’. Sejak saat itu pula, gelar Sayyid untuk kelompok Alawiyyin tidak lagi populer digunakan lagi di Indonesia.

Meskipun perjuangan PAI untuk tidak lagi mempersoalkan kearaban muwallad Arab di Indonesia, kenyataannya, baik keluarga Arab dari golongan sayyid maupun non-sayyid, tetap jarang menikahkan anak-anak mereka dengan orang pribumi atau ahwal. Mereka tetap menikahkan putera-puteri mereka dengan sesama mereka sendiri yang berketurunan Arab. Hanya sedikit aktivis PAI yang mau menerima orang Indonesia sebagai menantu. Hamid Al-Gadri adalah diantaranya. Meskipun demikian, kini telah terjadi banyak perubahan dimana keluarga Arab Hadrami secara terang-terangan dan berani menikahkan puteri mereka dengan lelaki non-Arab.
Justifikasi dan Penjelasan Historis Eksklusifme Arab Hadrami
Eksklusifme Arab Hadrami menyandarkan diri pada justifikasi agama yang kebanyakan dianut oleh para pengikut Salafi. Seperti contohnya yang saya sebutkan sebelumnya diatas. Tapi ada beberapa pertimbangan lain yang dapat menjelaskan kenapa eksklusifitas ini begitu kenyal dipertahankan oleh komunitas Arab Hadrami:
Pertama, masyarakat Indonesia pada umumnya dibangun di atas fondasi feodalisme yang sangat kuat. Dimana status sosial seseorang lebih banyak dinilai dari given status dibandingkan achieved status. Contohnya, di masyarakat tradisional, orang yang bergelar ‘Raden’ akan cenderung lebih dihormati oleh penduduk setempat karena status kebangsawanannya, meskipun secara riil ia tidak berbuat banyak untuk pembangunan masyarakatnya.


Sama halnya dengan gelar Sayyid, pada masa kolonial Belanda, gelar Sayyid merupakan gelar yang sangat disegani di masyarakat di Indonesia. Selain itu, pemerintah kolonial Belanda memberlakukan hukum yang didasarkan pada latar belakang ras penduduknya, yaitu (1) kelompok Eropa sebagai kelompok tertinggi (2) Timur Asing, diantaranya Cina, Arab, dan India sebagai kelompok tertinggi kedua, dan yang terendah, ialah (3) kelompok pribumi. Sederhananya, mana ada orang yang tadinya berada pada posisi teratas dalam hirarki sosial kemudian mau berubah untuk berada pada posisi terbawah?
Kedua, eksklusifisme kaum Arab di Indonesia sangat berkenaan erat dengan konstruksi ide yang rasis yang dibangun oleh kolonialisme Eropa di Yaman. Eropa yang pada masa kejayaan kolonialnya (1700-1800an) mengklasifikasikan peradaban dunia berdasarkan kategori ras dimana orang kulit putih lebih tinggi dibandingkan orang yang berkulit gelap. John M. Hobson (2005) dalam bukunya yang berjudul The Eastern Origins of Western Civilization menjelaskan bagaimana bangsa Eropa mengklasifikasikan bangsa-bangsa di dunia kepada 3 jenis: (1) ‘Beradab’ (Civilized), (2) ‘Barbar’ (Barbaric), dan (3) ‘Biadab’ (savage). Melalui pembenaran agama (kristen) dan sains (scientific racism) yang mereka buat, bangsa-bangsa non-Eropa dimasukkan kepada kategori kedua dan ketiga (barbar dan biadab). Dan diantara mereka, barangsiapa yang semakin gelap kulitnya, maka ia termasuk pada kategori ras yang paling ‘biadab’.
Jika dikaitkan dengan kasus kolonialisme di Indonesia, dapat dipahami bagaimana masyarakat pribumi yang saat itu secara umum berkulit gelap, dikategorikan oleh Belanda sebagai masyarakat kelas terendah, setelah bangsa Eropa, Arab, dan Cina. Penting untuk dipikirkan secara baik-baik dan kritis mengapa kaum Arab Hadrami dari generasi pertama (sebelum abad ke-18) mempunyai sikap yang berbeda dengan generasi kedua (setelah abad ke-18) berkenaan dengan asimilasi. Dimana yang pertama lebih terbuka dibandingkan yang kedua. Jika dilihat dari rentang waktunya, kaum Arab Hadrami dari generasi kedua melakukan diaspora pada saat Imperium Inggris menguasai Yaman.


Pada awal abad ke-19 Hadramaut sebagai bagian dari Yaman dijajah oleh Imperium Inggris. Inggris adalah salah satu imperium Eropa yang sangat rasis. Inggris melakukan invasi ke wilayah Yaman Selatan (Aden) tepatnya pada awal tahun 1830an dan terus melakukan ekspansi ke seluruh wilayah Yaman hingga akhir abad ke-19. Selama Inggris berkuasa, seluruh warga negara Yaman yang saat itu berada dibawah ‘protektorat’ Inggris harus tunduk kepada sistem hukum yang dibuat dan diterapkan oleh pemerintahan kolonial. Diantara hukum yang diberlakukan ialah klasifikasi warga negara berdasarkan kelas sosial seperti yang dipaparkan oleh Hobson diatas.
Begitupun dalam hubungan sosialnya, perlakuan negara terhadap warga negaranya didasarkan pada kelas sosial yang dimilikinya. Karena kaum Sayyid/Alawiyyin saat itu dikenal sebagai kelompok yang paling elit di tengah masyarakat Yaman, maka mereka menduduki posisi terpenting setelah warga Eropa dalam struktur sosial modern yang dibuat dan diterapkan pemerintahan kolonial.
Dan tradisi kolonial yang rasis ini tentunya mempengaruhi orang-orang Arab yang melakukan diaspora ke berbagai penjuru dunia, termasuk ke Asia Tenggara, khususnya Nusantara. Tradisi ini kemudian disakralkan dan wajib ditaati oleh para pengikutnya, khususnya oleh kaum Sayyid/Alawiyyin. Demikian untuk dijadikan strategi untuk menjaga otentisitas kearaban mereka yang ‘sepaket’ dengan prestise yang terkandung di dalamnya.

Terakhir, Muhammad Hasyim Assagaf (2000) menegaskan bahwa justifikasi agama atas tradisi yang rasis ini sebenarnya tidak jelas asal muasal dalilnya, seperti yang ia kutip dari al-Shan’aani. Di bagian penutup bukunya, Assagaf mengatakan bahwa salah satu penyebabnya bersifat historis: dimana kebiasaan pernikahan tertutup kafa’ah syarifah ini dibentuk oleh sejarah permusuhan antara kaum Alawiyyin (keturunan Ali) dengan kaum Khawarij. Dalam konteks konflik, demi alasan agama dan (juga) keamanan, kelompok Alawiyyin terpaksa melakukan pernikahan terhadap sesama anggota kelompoknya sendiri. Selain itu juga, Assagaf (Assagaf 2000: 274) menyandarkan penjelasannya pada kitabBughyat al-Mustarsydin  yang ditulis oleh Abdurrahman bin Husain al-Masyhur al-Hadrami, bahwa hukum diharamkannya Syarifah untuk menikah dengan non-Sayyid itu baru dipopulerkan melalui berbagai publikasi setelah kaum Sayyid di Mekah pada awal abad ke-20 berdemonstrasi agar pernikahan Syarifah yang menikah dengan non-Sayyid agar di-fasakh-kan (karena prestise kaum Sayyid terancam).
Terlepas dari dinamika ini, kebanyakan warga pribumi sejak dahulu melihat tradisi kaum Arab Hadrami yang hanya menikahkan anggota keluarganya dengan kelompoknya sendiri sebagai sesuatu yang tidak masuk akal dan tidak adil (untuk si wanitanya). Sekarang pun tradisi ini masih dipandang sama oleh masyarakat Indonesia yang bukan keturunan Arab.
Penutup
Ada sedikit kasus yang berbeda terjadi di kalangan Arab Hadrami di Kedah, Malaysia. Sharifah Zaleha binte Syed Hassan, dalam presentasinya di konferensi internasional bertajukThe Yemen-Hadrami in Southeast Asia: Identity Maintenance or Assimilation? di International Islamic University Malaysia (IIUM) 25-26 Agustus 2004, mengatakan bahwa warga keturunan Arab di Kedah kini lebih suka disebut sebagai orang Melayu daripada orang Arab (Hassan 2004).
Tapi sebagaimana yang juga terjadi di belahan lain di Malaysia, di Indonesia banyak kaum Arab Hadrami yang masih dan ingin terus menjaga tradisi otensitas kearabannya/kesayyidannya. Salah satunya yaitu dengan menerapkan tradisi kafa’ah Syarifah dimana pernikahan hanya tertutup bagi kalangan mereka saja. Bagi yang melanggar tradisi ini, biasanya akan diberikan sanksi secara sosial, baik oleh keluarga mereka sendiri maupun kerabat lain.
Akan tetapi kini semakin banyak kaum Arab Hadrami yang telah berani mengubah tradisi ini. Mereka berasimilasi penuh dengan orang-orang non-Arab. Orangtuanya menikahkan putera-puteri mereka dengan orang-orang non-keturunan Arab dan non-Sayyid. Seperti pada tahun 2008 ketika saya pernah mendatangi sebuah undangan pernikahan di Depok, dimana mempelai wanitanya adalah seorang keturunan arab syarifah dan laki-lakinya non-Sayyid.
Jika membaca kembali apa yang dipaparkan oleh Assagaf tentang bagaimana hukuman yang memilukan yang diberikan kepada syarifah yang melanggar tradisi (seperti tidak dianggap sebagai bagian dari keluarga mereka sendiri), dari pengalaman ini saya justru saya menemukan hal yang sebaliknya. Dalam prosesi pernikahan tersebut, saya lihat baik keluarga dari kalangan si mempelai wanita maupun pria, hadir dan larut dalam kebahagiaan menyambut pernikahan putera puteri mereka yang sedang bersanding di pelaminan.
Bagaimanapun juga,  sikap dan pendapat mengenai tradisi  menjaga kemurnian identitas kaum Arab di Indonesia akan selalu beraneka ragam. Dinamikanya akan selalu bersentuhan dengan dimensi sejarah yang berbeda dari masa ke masa. Sekarang, pro dan kontra mengenai asimilasi kaum peranakan Arab Hadrami di Indonesia seperti yang terjadi pada masa Syeikh Syurkati pada tahun 1913 dapat dikatakan sudah hampir tidak terdengar. Namun, dalam kenyataannya, perdebatan ini masih terus terjadi secara internal di kalangan mereka sendiri.
Bibliografi
Affandi, Bisri (1999): Syaikh Ahmad Syurkati (1874-1943), Pembaharu dan Pemurni Islam di Indonesia, Jakarta. Pustaka Al-Kautsar.
Al-Husaini, Al-Hamid (1996). Pembahasan Tuntas Perihal Khilafiyah. Penerbit Yayasan Al-Hamidy.
Alattas, Alwi (2005): Pan-Islamism and Islamic Resurgence in the Netherlands East Indies: The Role of Abdullah ibn Alwi Al-Attas (1840-1928). International Conference Proceeding The YemenHadrami in Southeast Asia: Identity Maintenance or Assimilation? Kuala Lumpur: International Islamic Universiy Malaysia (IIUM).
Al-Kaff, Seggaff bin Ali. 1992. Diraasat fi Nasab as-Saadat banii ‘alawii: Dzuriyyat al-Imam al-Muhajir Ahmad ibn ‘Isaa. Kuala Lumpur: Utusan Printcorp Sdn. Nhd.
Assagaaf, M. Hasyim (2000) Derita Putri-putri Nabi: Studi Historis Kafa’ah Syarifah.Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Ensiklopedi Islam (1994) PT Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta


Hassan, Sharifah Zaleha binte Syed (2004). ‘History and Indigenization of the Arabs in Kedah, Malaysia’. International Conference Proceeding The YemenHadrami in Southeast Asia: Identity Maintenance or Assimilation? Kuala Lumpur: International Islamic Universiy Malaysia (IIUM).
Hisyam, Muhammad (1984) ‘Sayyid Jawi: Studi Kasus Jaringan Sosial di Desa Cikoang Kecamatan Mangara Bombang, Kabupaten Takelar, Sulawesi Selatan.’ Dalam M. Hasyim Assagaf (2000) Derita Putri-Putri Nabi: Studi Historis Kafa’ah Syarifah. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Van den Berg, L.W. C. (1886/2010) Orang Arab di Nusantara. Jakarta: Komunitas Bambu.

Keturunan Arab & Hadrami di Indonesia.II

Sejarah dan Dinamika Diasporanya #2

Aug 11, 2013  

Kaum Keturunan Arab Hadrami di Tegal. Sumber: http://collectie.tropenmuseum.nl/default.aspx?idx=ALL&field=*&search=10005286
Bagian #1 Dinamika Asimilasi Arab Hadrami: Eksklusifme Kaum Sayyid



Kaum Arab Hadrami yang datang ke Nusantara sebelum abad ke-18 telah berasimilasi penuh dengan penduduk lokal. Sebagai produk asimilasinya, banyak anak keturunannya yang menggunakan nama-nama lokal daripada nama-nama Arab. Sedangkan mereka yang datang setelah abad ke-18, lebih sedikit yang melakukan asimilasi. Kaum migran Arab Hadrami yang kebanyakan terdiri dari golongan Sayyid (keturunan Nabi Muhammad SAW) dan Masyaikh (keturunan sahabat Nabi) dari masa ini hanya melakukan pernikahan sesama golongannya sendiri.
Hal ini terutama dilakukan oleh keluarga dari golongan Sayyid/Alawiyyin. Sebagaimana dijelaskan oleh Lodewijk Willem Christiaan Van den Berg (1886/2010) “Anak-anak perempuan seorang Sayyid tidak boleh menikah dengan lelaki yang bukan golongan Sayyid. Kepala suku yang paling kuat sekalipun tidak dapat menikah dengan anak perempuan dari golongan Sayyid dengan tingkatan yang paling rendah. Namun, seorang Sayid dapat menikah dengan siapapun yang ia sukai.”
Bagi kelompok Sayyid yang konservatif, adalah terlarang hukumnya menikahkan puteri-puteri mereka (Syarifah) dengan laki-laki non-Sayyid (Syaikh dan pribumi/ahwal). Sebagaimana yang dijelaskan oleh Muhammad Hisyam (1984), hanya pihak laki-laki sajalah yang dapat meneruskan gelar kesayyidan, bukan Syarifah. Maka dari itu, lelaki sayyid boleh menikah baik dengan wanita sayyid/syarifah atau non-sayyid. Sebaliknya, jika ada wanita sayyid/syarifah yang menikah dengan non-sayyid, akan dianggap sebagai onmere atau pelanggaran. Dan yang syarifah yang melakukan pelanggaran mesti dihukum berat, antara lain (Assagaf 2000: 255-56): “Ia harus pergi dari desa, dianggap mati, dibunuh atau dianggap tidak pernah ada di dunia, serta diputuskan segala hubungan dengan mereka.”


Pendiri Jamiat Kheir
Muhammad Hasyim Assagaf, penulis buku Derita Putri-putri Nabi: Studi Historis Kafa’ah Syarifah selanjutnya menambahkan dari pengalamannya, bagaimana ia menyaksikan berbagai kasus yang memilukan yang terjadi pada syarifah yang melakukan pelanggaran terhadap tradisi ini (Assagaf 2000: 256): “Seorang yang gadis (syarifah) ketahuan berhubungan kasih dengan lelaki bukan sayyid akan digunduli dan dikurung dalam kamar. Ia akan segera dinikahkan dengan seorang pemuda sayyid. Si sayyid biasanya bersedia menikah dengan gadis itu demi membela martabat syarifah.”
Menariknya kaum Sayyid yang berpegang teguh pada tradisi ini sebenarnya mempunyai nenek moyang non-syarifah, dimana para Sayyid yang datang ke Nusantara setelah abad ke-18 tidak membawa wanita-wanita mereka dan kemudian menikahi wanita-wanita pribumi.
Maka dari itu para muwallad Arab Hadrami yang ada di Indonesia sekarang, seperti diantaranya Anies Baswedan (Universitas Paramadina), Habib Rizieq (FPI), Ja’far Umar Thalib (Laskar Jihad), almarhum Munir (KONTRAS), Husein Muhammad (Fahmina dan Rahima) sebenarnya bermoyangkan (beribukan) orang asli Indonesia. Kaum muwallad Arab suka menyebut orang-orang pribumi non-Arab sebagai ahwal (saudara seibu mereka). Namun karena kuatnya tradisi patriarki dalam kultur arab, identitas asli buyut dari garis ibu ini tidak dianggap signifikan dalam silsilah mereka. Buyut ibu lokal demikian hanya dianggap sebagai ‘penerus’ kesayyidan buyut dari garis ayahnya.


Habib Abubakar bin Ali Shahab
Penerus jamiat Kheir

Modernisasi Tradisi dan Konflik Kafa’ah Syarifah: Irsyadi vs. Alawi
Pada akhir abad ke-19, pemikiran pembaharuan Islam Jamaludin Al-Afghani, Muhammad Abduh dan Sayyid Muhammad Rasyid Ridha mempengaruhi banyak sarjana Muslim di dunia. Pembaharuan Islam oleh mereka ini ditujukan untuk membebaskan umat Islam dunia yang saat itu berada dibawah subordinasi bangsa Eropa dari keterbelakangan dan kebodohan intelektual.
Para sarjana Muslim ini menitik beratkan pembaharuannya dalam upaya menyegarkan kembagi ajaran agama Islam, fungsi pendidikan dan mengefektifkan politik pergerakan di tengah masyarakat muslim dunia. Selama ini ajaran para sarjana Muslim ini selalu dikenal sebagai ajaran untuk memberantas praktek bid’ah dan khurafat dalam masyarakat muslim.

Gedung Jamiat Kheir Tempo doeleo

Sayyid Rasyid Ridha dan Muhammad Abduh melakukan gerakan pembaharuannya ini dengan menerbitkan tulisan-tulisan mereka lewat majalah Al-Manar, yang menitik beratkan pada pentingnya pembangunan/perbaikan sistem pendidikan. Karena menurut mereka, hanya melalui pendidikan lah umat muslim dapat terbebaskan dari belenggu keterbalakangan dan kebodohan.
Pendekatan modern ini kemudian diadopsi dan dikembangkan oleh lembaga dan sarjana Muslim yang ada di Indonesia. Antara lain seperti Yayasan Jamiat Khayr yang didirikan oleh Muhammad Al-Fakhir, Idrus bin Ahmad bin Syihabuddin, Muhammad bin Abdullah bin Syihabuddin, dan Sayid Syehan bin Syihab pada tahun 1903 di Batavia (Jakarta).
Yayasan pendidikan yang bergerak di bidang dakwah dan pendidikan Islam ini, sebenarnya ditujukan untuk masyarakat umum, meskipun kebanyakan murid dan anggotanya terdiri dari orang-orang keturunan Arab. Pada tahun 1911, Jamiat Khayr mengundang tiga sarjana muslim terkemuka dari Arab, yaitu Syekh Muhammad Thaib dari Maroko, Syekh Muhammad Abdul Hamid dari Mekah dan yang terakhir, Syekh Ahmad Soorkati dari Sudan. Yang terkahir ini sangat dikenal sebagai sarjana Muslim yang aktif, gigih dan menonjol dalam mendidik kader-kader muslim di Jami’at Khayr dan nantinya, di al-Irsyad al-Islamiyyah.
Syekh Syurkati, sebagai guru di Jami’at Khayr yang tinggi ilmunya, sebelumnya sangat dihormati oleh komunitas Arab Hadrami, khususnya dari kalangan Sayyid/Alawiyyin. Namun keadaan ini kemudian berubah 2 tahun kemudian (1913) ketika di Solo, Syurkati mengeluarkan fatwa yang membolehkan gadis keturunan Alawi (Syarifah) menikah dengan pria bukan keturunan Alawi (non-Sayyid).
Fatwa ini membuat berang banyak kaum Arab-Hadrami dari golongan Sayyid/Alawiyyin di Indonesia. Banyak diantara tokoh Sayyid yang sebelumnya menghormati Syukari berbalik membenci Syurkati. Hal ini terjadi karena fatwa yang dikeluarkan Syurkati sangat bertentangan dengan ijtihad kebanyakan para ulama dari golongan Sayyid/Alawiyyin di tempat asalnya, Hadramaut.

Gedung Jamiat Kheir sekarang di Tanah Abang Jakarta

Sebagaimana yang ditekankan oleh Ibnu Taimiyyah (1328), bahwa bangsa Arab lebih unggul (afdhal) daripada non-Arab (al-‘ajam). Dan diantara bangsa Arab, suku Quraish lah yang paling dimuliakan. Dan diantara suku Quraish, bani Hasyim lah yang paling tinggi. Dan diantara bani Hasyim, (keluarga) Nabi Muhammad lah yang paling utama.
Seggaff bin Ali Al-Kaff (1992: 37) dalam bukunya Diraasat fi Nasab as-Saadat banii ‘Alawii, bahkan mengutip hadis dari At-Tabarani dalam kitab al-Kabir: “Membenci Bani Hasyim dan Ansar adalah kufur dan membenci orang Arab adalah Nifaq.”
Syurkati menolak pemahaman sistem pernikahan yang didasarkan pada kafa’ah nasab seperti yang diyakini kebanyakan kaum Alawiyyin. Menurutnya, Islam sama sekali tidak menerapkan rasialisme dan superioritas kesukuan dalam pernikahan.
Bagi Syurkati, orang Arab tidak lebih tinggi derajatnya daripada orang non-Arab. Hal ini didasarkan pada Al-Qur’an di surat Al-Hujuraat ayat 13 dimana dikatakan bahwa manusia itu diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku untuk saling mengenal (li at-ta’arafuu), dan yang paling mulia diantara mereka adalah yang bertaqwa (at Qaaqum). Selain itu juga ada hadis Nabi SAW yang mengatakan bahwa derajat manusia itu setara seperti gerigi sisir (an-naasu sawaasiyatu ka asnan al-musyth).
Sandaran fatwa Syurkati juga sejalan dengan pendirian Muhammad Hasyim Assagaf (2000) dan mazhab Ahlul Bayt (Syi’ah) yang tidak melarang wanita keturunan Alawi (Syarifah) untuk menikah dengan lelaki non-Alawi (non-Sayyid). Assagaf (2000: 256) mengutip perkataan ulama besar abad 17-18, Sayyid Muhammad bin Ismai’l al-Kahlani al-Shan’aani yang mengatakan bahwa tradisi kafa’ah syarifah bermula dari Imam al-Mutawakkil Ahmad bin Sulaiman (1138-1170M) yang mengharamkan “wanita Fathimah dengan selain lelaki Fathimah”. Menurut al-Shan’aani, larangan tersebut tidak ada landasannya, dan tidaklah Imam Mazhab al-Haadi alaihissalam melarangnya.
Pedasnya penolakan kaum Alawiyyin terhadap fatwa Syurkati yang membolehkan pernikahan antara perempuan Syarifah dengan lelaki non-Sayyid/Alawiyyin menyebabkan pengucilan mereka terhadap Syeikh Syurkati.
Tidak lama setelah itu Syekh Syurkati dan kawan-kawan dekatnya mengundurkan diri dari Jamiat Khayr pada tahun 1913. Kemudian kelompok Arab Hadrami dari kalangan non-Alawiyyin (Masyaikh) memberikan simpati kepada Syekh Syurkati dan membujuknya untuk mengajar di madrasah yang mereka dirikan, yang kemudian pada taun 1914 diberi nama oleh Syurkati, al-Irsyad al-Islamiyyah atau disingkat al-Irsyad.
Madrasah ini dinaungi oleh sebuah yayasan yang bernama Jam’iyat al-Islah aw al-Irsyad al-Arabiyyah. Selanjutnya, para pengikut Syekh Syurkati yang kebanyakan berasal dari golongan Arab Masyaikh dan penduduk setempat ini dikenal dengan sebutan ‘kaum al-Irsyadi’. Sebutan kaum al-Irsyadi ini muncul sebagai oponen dari kaum Alawi atau Sayyid. Dikotomi al-Irsyadi dan al-Alawi ini baru muncul sebagai konsekuensi sengitnya perdebatan, bahkan permusuhan antara kedua kelompok tersebut mengenai fatwa yang dikeluarkan oleh Syurkati di Solo.
Namun tidak semua dari golongan Alawi membenci Syurkati. Sayyid Abdullah bin Alwi Alattas, seorang Intelektual Arab dan pedagang kaya dari golongan Alawiyyin justru tetap menjaga persahabatannya dengan Syurkati, terlepas dari fatwa yang dikeluarkan Syurkati. Sayyid Abdullah bahkan memberikan F 60.000 kepada Yayasan Al-Irsyad ketika awal berdirinya.
 Semangat Perubahan dan Persatuan kaum Arab Hadrami: Partai Arab Indonesia (PAI)

Sejak perpecahan internal di kalangan masyarakat Arab-Hadrami, beberapa upaya persatuan dilakukan oleh berbagai pihak. Baik mereka yang berasal dari golongan Alawi, maupun Irsyadi turut aktif membangun upaya rekonsiliasi. Menurut Bisri Affandi (1999) bahkan Raja Arab Saudi saat itu, Abdul Aziz bin Saud pun pernah ikut turun tangan, namun semua usaha yang pernah ada hanya menemui kegagalan.

Keturunan Arab & Hadrami di Indonesia.I

Sejarah , Dinamika & Diasporanya #1

Jul 2, 2013








Orang Arab Hadrami dari Tegal
Tulisan ini pernah saya buat ketika saya tertarik dengan ‘ilmu nasab’ yang digunakan untuk mencari asal muasal leluhur keluarga saya. Beberapa serpihan sejarah tentang kaum Arab Hadrami ini pernah dibahas dalam konferensi internasional bertajuk ‘The Yemen-Hadramis in Southeast Asia: Identity Maintenance or Assimilation?’ di International Islamic University Malaysia (IIUM) di Kuala Lumpur, pada 26-28 Agustus 2005.
Tulisan ini juga pernah dimuat di blog Community for Middle Eastern Studies (Conformeast) (sekarang R.I.P). Kini saya tambahkan beberapa hal yang sempat terlewatkan di tulisan sebelumnya.

Pendahuluan: Awal Diaspora
L. VanRijck Vorsel dalam bukunya, “Riwayat Kepulauan Hindia Timur” menjelaskan bahwa orang-orang Arab Hadrami (berasal dari Hadramaut, Yaman) datang jauh terlebih dahulu ke wilayah Nusantara dibandingkan orang-orang Belanda. Sebagaimana para pedagang dari Cina, orang-orang Arab telah bermigrasi dan tinggal di kepulauan Jawa, Sumatera, dan Sulawesi.
Setidaknya sejak abad ke-13 M, diperkirakan aktivitas penyebaran ajaran Islam mulai dilakukan oleh berbagai pendatang (kebanyakan pedagang) dari Maghribi, Arabia, Asia Selatan, dan Timur Jauh. Para pendatang ini kebanyakan berasal dari keluarga kelas menengah ke atas yang hendak melakukan perdagangan di kawasan Asia Selatan dan Nusantara. Di saat yang sama mereka menyebarkan keyakinan mereka (Islam) dan mempengaruhi penguasa-penguasa lokal untuk tertarik memeluk Islam.
Meskipun syiar Islam ini dalam beberapa kasus tidak merubah keyakinan penguasa lokal (contohnya Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi dari Kerajaan Padjadjaran, Jawa Barat dan raja-raja Majapahit), para penyiarnya diberikan posisi penting dalam pemerintahan kerajaan lokal. Terlebih lagi, oleh raja-raja Hindu ini mereka diperbolehkan menyebarkan ajaran Islam di wilayah kekuasaannya.
Kedatangan di Nusantara
Perjalanan orang-orang Arab Hadramaut ke wilayah Nusantara dilakukan menggunakan kapal-kapal kayu yang mirip bentuknya dengan perahu pinisi. Bertolak dari pelabuhan Al-Mukalla atau Al-Syhir, mereka kemudian berlayar hingga ke Malabar di India Selatan. Dari India Selatan, mereka kemudian melanjutkan perjalanan ke Sri Langka, ke Melayu Aceh, Malaysia, Singapura, hingga pada akhirnya sebagian besar menetap di Sumatera. Ini sebabnya banyak di Sumatera, seperti di Aceh, Deli, dan Palembang terdapat warga keturunan Arab yang cukup banyak. Sedangkan sebagian rombongan lain meneruskan perjalanan ke wilayah yang lebih jauh seperti Kalimantan, Jawa, dan Sulawesi.
Berdasarkan sebuah catatan sejarah, pada abad ke-9 M di pulau Sela dekat Sulawesi terdapat keluarga Alawiyyin (kaum keturunan Rasulullah SAW & Ali bin Abi Thalib melalui Al-Hasan dan Al-Husain) yang menetap dan beranak pinak hingga wafatnya. Mereka datang ke pulau tersebut karena berusaha untuk melarikan diri dari kejaran Bani Umayyah dan Bani Abbas yang memusuhi mereka faksi politik Ahlul Bait (keluarga Rasulullah SAW). Konon sejak wafatnya Rasulullah, banyak di kalangan sahabat seperti Mu’awiyyah bin Abu Sufyan yang memusuhi Ahlul Bait. Kedua cucu Rasululah, Hasan dan Husain, terbunuh karena konflik politik dengan klan Mu’awiyyah (Bani Umayyah).



Pelabuhan Al-Mukalla di Yaman, salah satu titik awal diaspora Arab Hadrami ke Asia Tenggara.Sumber: http://www.flickriver.com/places/Yemen/Hadramawt/Al+Mukalla/
Karena latar belakang konflik sejarah ini para keturunan Ahlul Bait melakukan hijrah ke berbagai wilayah di Timur Tengah, ada yang ke wilayah Afrika Utara, Persia, dan ada yang ke Arabia Selatan (sekarang Yaman dan Oman). Tempat hijrah yang paling terkenal di wilayah Arabia Selatan ini adalah Hadhramaut. Keturunan Nabi yang melakukan diaspora ke daerah ini antara lain Ahmad bin Isa al-Muhajir. Keturunan Nabi Muhammad yang ada di Asia Tenggara, khususnya Indonesia biasanya bersambung silsilahnya ke Ahmad bin Isa. Di banyak tempat keturunan Nabi Muhammad ini diberi gelar ‘Sayyid’ yang artinya ‘Tuan’. Kaum Sayyid ini kemudian melakukan diaspora ke luar Arabia bersama dengan kaum Arab lainnya yang sebagian dikenal sebagai kaum ‘Masyaikh’. Bersama-sama, mereka disebut sebagai kaum Arab-Hadrami (karena berasal dari Hadhramaut).
Adapun masuknya kaum Arab Hadrami ke Nusantara dalam jumlah yang cukup besar dapat dibagi kepada dua gelombang utama:
Gelombang pertama terjadi pada abad 13, 14 dan 15 M. Orang-orang Arab Hadrami yang datang pada periode ini kebanyakan sudah berasimilasi penuh dengan penduduk pribumi. Mereka terdiri dari kaum laki-laki yang kemudian menikahi wanita-wanita setempat dan mempunyai keturunan yang sangat banyak. Baik itu keturunan yang laki-laki, maupun perempuan, yang pada akhirnya menikahi orang-orang pribumi lainnya. Saking asimilasinya sudah ‘sempurna’, sulit bagi kebanyakan orang untuk bisa menemukan silsilahnya yang bersambung ke mereka. Karena kebanyakan keturunannya, sudah tidak lagi menggunakan nama-nama Arab dan familinya dan menggunakan nama-nama lokal seperti yang ada di Sunda ataupun Jawa.
Tapi silsilah yang bersambung ke kaum Arab Hadrami dari periode ini akan mudah ditemukan bagi mereka yang mempunyai hubungan darah dengan keluarga kerajaan yang ada di Nusantara. Konon kaum Arab-Hadrami pada masa ini banyak yang menikahi puteri-puteri raja setempat agar mendapatkan kekuasaan atau posisi penting di kerajaan. Diantara mereka adalah para wali yang menyebarkan ajaran Islam di berbagai penjuru di Nusantara. Para wali ini kebanyakan adalah kaum Sayyid Alawiyyin keturunan Rasulullah SAW dari Hadramaut.
Diantara para wali ini antara lain Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah, pendiri Kerajaan Cirebon), Sunan Kudus, Sunan Drajat, Sunan Giri (Pendiri Kerajaan Giri), Sunan Bonang, Sunan Ampel (Penasihat penting kerajaan Demak), Maulana Malik Ibrahim, Sunan Waliyullah, Sunan Puger, Sunan Kalimanyat, Sunan Pakuan, Sunan Tembayat, Sunan Pakala Nagka, Sunan Geseng, dan lain-lain.
Sedangkan mengenai Sunan Kalijaga, terdapat dua versi. Ada yang bilang bahwa ia itu keturunan Jawa asli, dan ada juga yang bilang bahwa ia merupakan keturunan Arab yang bersambung pada paman Nabi, Abbas bin Abdul Muthalib. Para wali dan penguasa keturunan Alawiyyin ini memiliki banyak sekali anak, cucu, dan cicit yang keturunannya masih hidup hingga sekarang. Saking banyaknya, banyak orang-orang Indonesia yang tidak sadar atau tidak tahu bahwa mereka masih bagian dari keturunan Alawiyyin diatas.
Beberapa silsilah keluarga kerajaan di Indonesia yang bersambung ke silsilah kaum Arab Harami dari Alawiyyin antara lain Kerajaan Aceh, Kerajaan Deli (dari Al-Mahdeli), Kerajaan Cirebon, Kerajaan Banten, Kerajaan Pontianak (dari raja Syarif Abdu al-Rahman al-Qadri), Kerajaan Sumedanglarang (dari Prabu Geusan Ulun bin Pangeran Santri bin Syekh Muhammad bin Syekh Abdurachman), Kerajaan Mataram, dan Kerajaan Giri.
Gelombang kedua diaspora Arab Hadrami ialah pada abad ke-17, 18, hingga awal abad ke-20 (lebih banyak di akhir dan awal abad ke-19). Berbeda dengan generasi sebelumnya, pada frekuensi yang kedua ini, kedatangan mereka lebih banyak dipacu oleh keinginan untuk berdagang dan mencari tempat tinggal baru. Meskipun disaat yang sama terdapat diantara mereka yang melakukan syiar Islam juga.
Bisri Affandi (1999) dalam bukunya yang berjudul ‘Syaikh Ahmad Syurkati (1874-1943): Pembaharu dan Pemurni Islam di Indonesia’ secara menerangkan bahwa arus migrasi besar-besaran kaum Hadrami ke Nusantara ini disebabkan oleh tiga faktor: (1) faktor kesulitan ekonomi di Hadramaut, (2) faktor mudahnya sarana transportasi karena revolusi industri, dan terakhir (3), faktor kebijakan ekonomi yanhg dikeluarkan pemerintah Belanda yang menjadikan kaum minoritas Arab dan Cina sebagai perantara perdagangan internasional di kawasan Nusantara. Ini alasannya mengapa pada masa kolonialisme Belanda pemerintah kolonial meletakkan orang-orang Arab dan Cina lebih tinggi statusnya dibandingkan kaum pribumi.
Meskipun mempunyai pola integrasi sosial yang sama dengan periode sebelumnya (13-15M) yaitu dengan menikahi wanita-wanita pribumi, kaum Arab Hadrami pada periode kolonial ini lebih eksklusif dimana mereka ingin menjaga ‘keutuhan’ identitas mereka sebagai kaum Arab Hadrami.



Hal ini terutama dilakukan oleh mereka yang bestatus sebagai golongan Sayyid (sekarang lebih dikenal dengan sebutan ‘Habib’). Di tempat asalnya Hadramaut, golongan Sayyid atau Alawiyyin ini menempati kedudukan sosial yang tinggi karena berasal dari keturunan Ahlul Bait. Maka dari itu mereka mengembangkan  tradisi yang disebut ‘Pernikahan Kafa’ah/Syarifah’. Dalam tradisi ini kaum Sayyid melarang anak-anak perempuan mereka (disebut Syarifah) untuk menikahi laki-laki yang bukan dari golongan Sayyid (dengan kata lain: pribumi). Hal ini dijustifikasikan oleh mereka melalui dalil-dalil agama (baca kitab karya Segaff Ali Al-Kaff yang membahas tentang Bani Alawi) yang mengatakan bahwa kedudukan nasab (kafa’ah nasab) wanita Alawiyyin itu sangatlah tinggi dibandingkan laki-laki non-Sayyid. Pasangan yang paling setara, menurut mereka, adalah laki-laki dari golongan Sayyid saja. Contohnya, Imam Syafi’i bahkan mengharamkan pernikahan Syarifah dengan non-Sayyid.
Terlepas dari norma diatas, tradisi pernikahan Syarifah ini ini sering menimbulkan konflik di masyarakat. Sebagaimana yang akan saya jelaskan nanti, konflik yang muncul pertama kali di abad ke-20 ialah mengenai konflik antara Syaikh Akhmad Syurkati yang berbeda pendapat dengan Ulam-ulama Alawiyyin dari Jami’at Khayr tentang halal atau haramnya pernikahan Syarifah dengan non-Sayyid….


Minggu, 07 Februari 2016

Obyek wisata di Singkawang

Woow Nih Dia Wisata Menarik dari Pulau Singkawang




Pulau yang terletak di Kalimantan Barat ini ternyata memiliki banyak tempat wisata yang wajib dikunjungi.Salah satu objek wisata di pulau tersebut adalah Wisata Rindu Alam. 
Rindu alam adalah tempat wisata yang dibuka untuk umum. Lokasinya terletak diantara Gunung Bajau, Gunung kota dan Gunung Pelapis. Hanya berjarak 18 km dari wisata Pasir Panjang dan Palm Beach, objek wisata alam yang sudah sangat terkenal di Kalimantan Barat.

Rindu alam berada pada ketinggian sekitar 400m dari permukaan laut, sehingga jika kita berada di puncak, akan terasa hawa dingin dengan pemandangan alam yang sangat mempesona.






Dari atas puncak tempat wisata Rindu Alam, akan terlihat hamparan laut, pegunungan kota Singkawang dari kejauhan. Secara kasat mata tempat wisata Rindu Alam, pemandangan seperti ini hampir mirip dengan pemandangan di objek wisata Uluwatu, Bali.







Disini terdapat hewan-hewan langka yang dilindungi oleh negara seperti Harimau Putih, Gajah, Singa, Onta, Kuda, orangutan, Rusa, Beruang, aneka burung dan jenis-jenis hewan langka lainnya yan belum pernah Anda saksikan. Lokasinya juga tidak jauh dari objek wisata Rindu Alam karena persis menyatu dengan Rindu Alam dan Sinka Island Park.

Tempat Wisata yang wajib dikunjungi



1. Pantai Pasir Panjang
Pantai Pasir Panjang
Pantai Pasir Panjang
Pantai Pasir Panjang merupakan sebuah pantai dengan pasir putih, warna airnya yang jernih kebiruan, dan terdapat deretan pohon yang ada di sekitarnya. Pantai ini terletak di Kecamatan Tujuhbelas, sekitar 17 km dari Kota Singkawang. Untuk dapat menikmati keindahan Pantai Pasir Panjang anda akan dikenakan tarif Rp 10.000 / orang.


Rasanya tak cukup jika hanya duduk bersantai saja di sini, karena berbagai kegiatan dapat anda lakukan di pantai ini, seperti berenang, berselancar, bermain voli, atau juga memancing. Seru bukan? Selain itu fasilitas di Tempat wisata yang satu ini juga tergolong lengkap, mulai dari restoran, toko souvenir, hotel, cottage, sampai diskotik.


2. Taman Alun-alun Kapuas
Taman Alun-alun Kapuas

Taman Alun-alun Kapuas

Selain menjadi jalur dari transportasi air, Sungai Kapuas juga dimanfa'atkan tepiannya sebagai taman rekreasi keluarga. Tempat wisata ini berada di depan kantor walikota, banyak orang mengunjungi tempat ini pada sa'at sore dan malam hari. Taman rekreasi ini memiliki luas sekitar 3 hektar dengan replika Tugu Khatulistiwa pada salah stu sudutnya. Selain menikmati indah suasana taman, anda juga bisa menyantap aneka kuliner yang dijual di sekitar lokasi.


3. Rumah Betang Radakng
Rumah Betang Radakng

Rumah Betang Radakng

Rumah Betang Radakng adalah replika dari rumah adat suku Dayak Kalimantan Barat dan merupakan tempat wisata andalan pemerintah kota yang pernah meraih rekor, rumah adat terpanjang di Indonesia, karena panjangnya yang mencapai 138 meter, lebar 5 meter, dan tinggi 7 meter. Ciri rumah ini berbentuk rumah panggung panjang. Rumah Betang Radakng terdiri dari 3 bagian, yaitu teras, ruang selasar yang digunakan untuk berkumpulnya seluruh keluarga, dan ruang tidur yang merupakan ruang pribadi tiap kepala keluarga.


4. Aloe Vera Center

Aloe Vera Center

Aloe Vera Center

Aloe Vera Center adalah tempat budidaya tanaman lidah buaya, barada di Jalan Budi Utomo, Pontianak Utara. Anda bisa menuju tempat wisata ini dari terminal Kapuas dengan naik angkot jurusan Siatan Hilir. Di tempat ini, anda bisa menjumpai tanaman lidah buaya yang berukuran raksasa, bisa anda bayangkan, berat setiap pelepahnya mencapai 1,2 kg.


Selain itu, anda juga bisa melihat proses pengolahan tanaman lidah buaya ini menjadi aneka makanan, seperti permen, dodol, dan tepung. Selain diolah menjadi makanan, tanaman ini juga diolah menjadi krim untuk kulit. Untuk oleh-oleh, anda bisa membeli aneka produk olahan tadi untuk teman atau keluarga di rumah.


5. Tugu Khatulistiwa

Tugu Khatulistiwa

Tugu Khatulistiwa

Tugu Khatulistiwa berada sekitar 3 km dari pusat kota Pontianak dan merupakan tugu kebanggaan warga Pontianak. Di Tugu utama terdiri 4 pilar kayu berlian, 2 pilar bagian belakang yang lebih tinggi dari pada pilar bagian depan. Terdapat sebuah tulisan EVENAAR diantara 2 pilar belakang. Di sini terdapat museum yang berisikan informasi tentang garis imajinasi bumi ini. Di sekitar tempat wisata ini banyak toko souvenir yang menjual miniatur Tugu Khatulistiwa. 


6. Sinka Island Park

Sinka Island Park

Sinka Island Park

Sinka Island Park merupakan taman rekreasi terpadu yang letaknya berada di Teluk Ma’jantuh, Singkawang. Di sini terdapat juga kebun binatang, pantai, dan kolam renang. Salah satu tempat wisata yakni Sinka Zoo adalah kebun binatang mini yang memiliki sekitar 200 ekor binatang dari 62 spesies. Untuk masuk di kebun binatang ini anda akan dikenaakan biaya sebesar Rp 10.000.


Jika anda ingin menikmati panorama pantai, anda bisa datang ke Pantai Banjau. Tempat wisata ini tidak cocok untuk berenang, karena tepiannya yang berupa bebatuan. Untuk masuk di kawasan tempat wisata ini anda dikenakan biaya R. 20.000. Jika ingin berenang, anda bisa ke kolam renang yang sudah disediakan.


7. Taman Bukit Bougenville

Taman Bukit Bougenville

Taman Bukit Bougenville

Taman Bukit Bougenville adalah sebuah taman yang didominasi oleh bunga Bougenville dan merupakan sebuah taman yang cukup dikenal di Singkawang. Bougenville, atau yang biasa disebut dengan bunga kertas adalah salah satu tanaman hias terpopuler di dunia. Taman bunga ini berada di Desa Sijangkung, dengan jarak sekitar 6 km dari kota Singkawang. Lokasi taman bunga ini berada di kaki bukit berlatar belakang Gunung Pasi yang dikelilingi areal hutan dan perkebunan. Di taman bunga ini para wisatawan akan disuguhi lebih kurang 46 spesies bunga Bougeville dari dalam negeri ataupun dari luar negeri.


8. Museum Kalimantan Barat

Museum Kalimantan Barat

Museum Kalimantan Barat

Museum yang berada di Kalimantan Barat ini disebut juga sebagai Museum Negeri Pontianak. Tempat wisata bersejarah ini berada di Jalan Jendral Ahmad Yani, Pontianak. Di Museum ini ada pembagian tiga zona yang tga zona tersebut memiliki koleksi yang berbeda-beda. Mulai dari penemuan artefak di Kalimantan barat, benda-benda kerajaan, kerajinan seni dan budaya suku Dayak, hingga koleksi keramik dari Cina.

Di luar bangunan museum ini, akan ada sebuah taman kecil dengan jembatan kayu yang biasanya dijadikan lokasi untuk berfoto pengunjung. Jika Anda ingin berkunjung ke tempat ini, ada baiknya mengetahui jam bukanya yakni setiap hari Selasa - Kamis, jam 08:00 – 16:00 dan Jumat - Minggu, jam 08:00 – 15:00. Nmaun jangan pada hari Senin karena tempat wisata ini tutup.


9. Masjid Jami Pontianak

Masjid Jami Pontianak

Masjid Jami Pontianak

Nama populer masjid ini Masjid Sultan Syarif Abdurrahman. Masjid Jami Pontianak menjadi saksi asal mula kota Pontianak bersama Keraton. Bangunan masjid ini memiliki atap masjid yang bertingkat empat. Sementara di dalamnya juga terdapat empat pilar utama dari kayu belian berdiameter 0,5 meter. Masjid ini mampu menampung hingga 1.500 orang jamaah. Bangunan Masjid Jami Pontianak dibangun dengan gaya rumah panggung. Hal ini untuk menghindari banjir saat Sungai Kapuas meluap.

Masjid Jami Pontianak berlokasi sekitar 200 meter dari Keraton Kadriah. Di dekat masjid, terdapat sebuah pasar tradisional yang tepatnya berada di sebelah kiri pintu masuk masjid. Sehingga Anda bisa menyempatkan untuk mampir berbelanja membeli ikan segar dari sungai Kapuas di pasar tradisional ini.


10. Makam Kesultanan Batu Layang

Makam Kesultanan Batu Layang

Makam Kesultanan Batu Layang

Tempat wisata ini merupakan kompleks tempat pemakaman tujuh sultan Pontianak dan keluarganya. Makam utama disini adalah makam sultan pertama yaitu makam Sultan Syarif Abdurrahman Alqadrie, yang letak makamnya berada di dalam sebuah ruangan tepatnya di tengah kompleks yang berbentuk mirip bunker kecil. Untuk pintu masuk peziarah dibuat rendah, jadi para peziarah harus merunduk ketika memasuki. Hal ini juga sebagai penghormatan pada sultan.

Di luar area kompleks terdapat sebuah gundukan batu berwarna hijau. Batu ini yang sering disebut sebagai batulayang. Tempat kompleks pemakaman ini berada sekitar 2 km dari Tugu Khatulistiwa. Jika Anda ingin kesini, tak perlu mengeluarkan biaya untuk masuk karena tidak dipungut biaya.


11. Keraton Kadriah

Keraton Kadriah

Keraton Kadriah

Keraton Kadriah dibangun tahun 1771 oleh Sultan Syarif Abdurrahman Alqadrie yakni sultan pertama Kesultanan Pontianak. Letak Keraton Kadriah ini berada di Jalan Tritura, Pontianak. Bangunan dari keraton ini didominasi oleh warna kuning dan terbuat dari bahan kayu belian. Kayu belian di Kalimantan terkenal sebagai kayu besi karena kekuatannya.

Di halaman Keraton Kadriah,ada meriam kuno bekas peninggalan Jepang dan Portugis. Di dalam bangunan, terdapat singgasana sultan dan permaisuri, lengkap dengan foto-foto sultan, pakaian sultan dan berbagai koleksi lainnya milik sultan. Ada salah satu koleksi yang unik yaitu sebuah Al Quran yang ditulis dengan tangan Sultan Syarif Abdurrahman Alqadrie.