Rabu, 04 Maret 2015

Korban Kebiadaban Jepang di Istana Kadriah


Oleh; H.A.Halim R

“Suratkabar Borneo Sinbun yang diterbitkan Pemerintah Bala Tentara Jepang  pada 1 Sitigatu 2604 (1 Juli 1944) diberitakan, telah dilakukan hukuman mati pada 28 Rokugatu (28 Juni 1944) terhadap sejumlah tokoh dan warga Kalbar. Mereka dituduh hendak memberontak, melawan Pemerintah Jepang dan mendirikan Negara Borneo Barat yang merdeka.”

TERCANTUM 48 nama korban di situ, yang sesungguhnya adalah raja-raja di Kalbar, cerdik cendekia, tokoh-tokoh politik, pengusaha, baik lelaki maupun wanita,  dari berbagai etnik dan agama.

Di antara mereka tercantumlah nama Syarief Muhammad Alqadrie (74 th) yang bukan lain adalah Sultan Pontianak.

Bagaimana peristiwa penangkapan Sultan Muhammad tatkala itu, kita ikuti kisah yang dibeberkan oleh Ratu Perbu Wijaya (kini: almh) dan Ratu Anom Bendahara (kini: almh). Keduanya putri Sultan Muhammad Alqadrie. Wawancara dilakukan penulis pada awal Juni 1977.
Ratu Perbu Wijaya dan Ratu Anom Bendahara berusia sekitar 33 th dan 30 tahun ketika Jepang  masuk dan menduduki Kalbar pada tahun 1942.

Adapun jumlah putra-putri Sultan Muhammad seluruhnya 10 orang, yaitu: Syarief Hamid Alqadrie, Syarifah Maryam Alqadrie glr (gelar) Ratu Laksamana Negara, Syarifah Hadijah Alqadrie glr Ratu Perbu Wijaya, Syarifah Fatimah Alqadrie glr Ratu Anom Bendahara, Syarifah Safiah Alqadrie glr Ratu Cikre, Syarifah Maimunah Alqadrie glr Ratu Kusuma, Syarif Usman Alqadrie glr Pangeran Adipati, Syarief Mahmud Alqadri glr Pangeran Agung, Syarief Abdul Muthalib Alqadrie glr Pangeran Muda, dan Tengku Mahmud.

Sedangan menantu-menantunya adalah: Syarief Hamid Alqadrie (suami: Syarifah Maryam), Syarif Yusuf Alqadrie (suami: Syarifah Hadijah), Syarief  Usman Alqadrie (suami: Syarifah Fatimah), Syarief Ibrahim Alqadrie (Suami: Syarifah Safiah), Syarief Umar Alqadrie (suami: Syarifah Maimunah).

Pada penangkapan tanggal 24 Januari 1944, Sultan Muhammad telah diambil bersama seluruh anak laki-lakinya, kecuali Syarif Hamid. Juga semua menantunya, kecuali Syarief Ibrahim. Ditambah lagi dengan sejumlah keluarga dekat, baik yang bertempat tinggal di dalam lingkungan tembok Istana Qadriyah, maupun yang tinggal di luar tembok istana.



PKKAJ (Persatuan Keluarga Korban Agresi Jepang) Kalbar mencatat ada 60 korban yang berasal dari keluarga Istana Qadriyah Pontianak.

 Selanjutnya, inilah penuturan Ratu Perbu Wijaya dan Ratu Anom Bendahara:
Pada subuh 24 Januari 1944, sekitar jam 03.00 tiba-tiba saja suasana yang mencekam dan mencemaskan terjadi di dalam lingkungan tembok Istana Qadriyah, Kampung Dalam – Pontianak.
Diperkirakan tidak kurang dari 15 lusin tentara Jepang telah mengadakan stelling. Mereka berpencar di seluruh rumah yang didiami keluarga Alqadrie dengan senapan berbayonet terhunus.
Dari celah-celah lantai rumah yang bertiang tinggi, kelihatan bayonet diacung-acungkan. Kemudian setelah itu, pintu-pintu rumah digedor. Beberapa orang kempeitai masuk, membawa lampu senter. Di tangannya tergenggam sebuah daftar “les hitam” berikut foto dari calon-calon korban. Seluruh penghuni rumah dikumpulkan, dipilih mana yang termasuk ke dalam daftar tersebut.
Muka para calon korban diikat dengan sembarang apa yang bisa. Apakah itu taplak meja, atau karung atau gorden. Tangan diikat ke belakang.
Di antara penghuni Istana Qadriyah ada yang bermaksud untuk meloloskan diri lewat pintu belakang. Tapi ternyata di sana pun telah berjaga-jaga tentara Jepang.
Sultan Muhammad Alqadrie yang pada ketika itu baru saja selesai makan sehabis salat, diberitahu tentang apa yang sedang terjadi. Namun Sultan tampak tenang-tenang saja, bahkan berkata, ”Tidak apa-apa, Jepang sedang mencari orang-orangnya……..”
Mungkin sesungguhnya kalimat itu masih akan berlanjut, tetapi keburu muncul tentara Jepang yang langsung menangkapnya. Semula Sultan akan diperlakukan juga seperti korban-korban lainnya, yaitu mata ditutup dan tangan diikat ke belakang. Tapi Sultan Muhammad menolak, dan dengan berwibawa berkata, ”Sayatidak akan lari!”

Di rumah yang lain, di samping istana, Ratu Anom Bendahara sempat menerima pukulan-pukulan senter di kepalanya karena menentang perlakuan Jepang terhadap suami dan keluarganya yang lain.
Di rumah-rumah keluarga Alqadrie itu, Jepang bukan hanya telah mengambil manusia, tapi juga barang-barang perhiasan berharga. Untuk maksud itu mereka telah mengobrak-abrik seluruh isi rumah. Dari tingkat dua Istana Qadriyah tampak barang-barang perhiasan seperti emas, intan dan berlian diturunkan dengan menggunakan tali. Termasuk di situ alat-alat senjata yang bertatahkan berlian, bahkan dua buah mahkota emas tulen. (Apa yang masih terlihat pada masa kini, hanyalah duplikat yang terbuat dari perak bersepuh emas – pen.).
Orang-orang yang berhasil diambil dari rumahnya masing-masing itu dikumpulkan dekat tiang bendera, di halaman istana. Pada dada mereka disematkan secarik kertas atau kain sebagai tanda. Kemudian orang-orang itu diseberangkan dengan motor air yang dikenal dengan sebutan “motor sungkup”.

Hingga sore hari Istana Qadriyah masih diblokir oleh tentara Jepang. Selain mencari orang-orang yang belum ditemukan, juga mencari barang-barang berharga. Untuk mencari yang disebut terkahir ini, kiranya cukup memakan waktu.
Salah seorang putra Sultan Muhammad yang berhasil meloloskan diri adalah Syarif Abdul Muthalib glr Pangeran muda. Ketika penangkapan berlangsung, ia berhasil mengelabui tentara Jepang.

Karena tak berhasil menemukannya, Jepang membuat janji bohong. Jika Pangeran Muda menyerahkan diri, maka Sultan Muhammad akan dipulangkan. Atas desakan saudara-saudara perempuannya yang menginginkan Sultan segera dikembalikan, pun atas kehendak sendiri akhirnya Pangeran Muda menyerahkan diri.“Selamat tinggal……,” kiranya itulah kalimat perpisahan dan menjadi kalimat terakhir yang terdengar dari mulut Pangeran Muda. Sungguh memilukan.
Selesai penangkapan itu, tanggal 7 Maret 1944 kembali Jepang menangkap lagi seorang keluarga Qadriyah yaitu Syarifah Maimunah glr Ratu Kusuma.Berikutnya Syarief Ibrahim Alkadri, menantu Sultan Muhammad. Namun yang terakhir ini dipulangkan setelah ditahan selama sebulan.



Belum puas dengan apa yang telah diperolehnya, selama lebih kurang 6 bulan setelah penangkapan, tentara Jepang selalu saja datang ke istana. Mereka datang seolah-olah membawa pesan dari warga Istana Qadriyah yang telah ditahan, minta kirimkan ini dan itu. Apa boleh buat, pesan itu terpaksa dipenuhi.
Pesan yang benar dari sekian banyak pesan, mungkin hanyalah permintaan Sultan Muhammad, agar dikirimkan sebuah kelambu kasa, permadani, kipas dan tasbih. Dan kedatangan tentara-tentara Jepang itu, seakan mau berbaik-baik. Mereka menghibur dengan kata-kata, ”Jangan susah, anak-istri, Nippon jaga baik-baik…..”
Terhadap anak kecil, mereka sangat baik. Suka menggendong dan mengajak bermain-main. Oleh kalangan istana, hal seperti itu diduga sebagai ingin mengetahui rahasia dari mulut anak-anak yang polos.
Pada waktu itu Jepang juga mengeluarkan pengumuman, agar semua barang berharga seperti emas, intan, berlian, diserahkan kepada pemerintah Jepang.
Disebutkan bahwa barang-barang itu sangat diperlukan untuk membuat bom atom guna menghancurkan kekuatan orang Eropa. Tak ketinggalan, disebarkan pula isu, bahwa Nippon memiliki peralatan untuk mengetahui barang-barang yang disembunyikan. Sampai pun dikatakan, bahwa di segenap pojok dan tiang Istana Qadriyah, Jepang telah memasang alat-alat untuk menangkap pembicaraan penghuninya! Sehingga perasaan duka yang dirasakan oleh keluarga Alqadrie semakin bertambah berat dengan rasa was-was dan khawatir selalu. Belum lagi, di mana para ratu diharuskan bekerja kasar seperti mencangkul kebun di seberang, yaitu di kawasan Sungai Bangkong.


 Terpaksa para ratu mengenakan caping lebar untuk menahan sengatan matahari. Pun mengenakan sepatu yang terbuat dari karet mentah (rubber sheet). Mana lagi keadaan negeri bak “padang tekukur”. Beli apa-apa harus antre dan menggunakan kupon. Kalau beras habis, terpaksa makan lempeng sagu. Kalau pun ingin makan mie, terpaksa harus membuat sendiri dari cendawan hutan.
Tanggal 1 Juli 1944, berita yang dilansir oleh suratkabar Borneo Sinbun, membuat kalangan keluarga Istana Qadriyah menjadi gempar! Berita tersebut sampai juga ke istana, kendati ada pula usaha untuk menutup-nutupinya.

Tak dapat dikatakan, betapa kedukaan telah menyelubungi seluruh keluarga Alqadrie. Sampai-sampai tak dimiliki lagi air mata untuk diteteskan. Kering dalam kehampaan rasa.
Setelah kekuasaan Jepang di Indonesia runtuh pada tahun 1945, Ratu Perbu Wijaya, Ratu Anom Bendahara bersama keluarga korban lainnya, datang keMandor untuk menyaksikan tempat di mana Jepang telah melakukan pembantaian. Yang datang ke sana bukan hanya keluarga Istana Qadriyah, tapi juga masyarakat lainnya. Kepergian ke Mandor diantar oleh anggota tentara sekutu, bersama beberapa orang Jepang yang diborgol sebagai penunjuk jalan.

Apa yang ditemui, tak lain tulang-belulang yang sudah terpisah-pisah, berserakan di sana-sini. Tak dapat lagi dikenal identitasnya. Betapa luluh hati menyaksikan pemandangan serupa itu, tak kuasa kata-kata mengungkapkannya.

Sedangkan mayat Sultan Muhammad Alqadrie ditemukan pada tahun 1945 itu juga, atas petunjuk seorang hukuman yang ikut menyiapkan tempat penguburannya.
Tempat penguburan Sultan Muhammad itu lokasinya berada di belakang Kompleks Susteran, kini Jalan Arif Rahman Hakim – Pontianak.

Waktu digali, tampak mayat masih dalam keadaan utuh, terbungkus kelambu kasa dan permadani. Di tangannya masih terlilit tasbih, sedang di bahu kirinya terletak gigi palsu. Kipas yang biasa dipakai Sultan, juga ditemukan dalam gulungan kelambu kasa.

Waktu dikeluarkan dari bungkusan kelambu kasa dan permadani, tampak sebelah tangannya tertekuk ke atas. Kemudian mayat tersebut dibawa ke RSU Sungai Jawi Pontianak, diperiksa oleh dr. Soedarso. Selanjutnya, setelah itu, lalu dibawa pulang ke Istana Qadriyah.
Ketika dimandikan kulit terkelupas, tampak daging tubuh masih memerah segar. Tidak ditemukan bagian-bagian tubuh yang cacat, seperti terpotong ataupun patah. Pun tak ditemukan bekas penganiayaan seperti bekas pukulan ataupun tembakan.  Kuku jari tangan dan kaki masih lengkap.
Apakah penyebab beliau wafat?
Adakah beliau wafat karena sakit?
Hasil visum dari RSU Sungai Jawi – Pontianak  tidak pernah diungkapkan, sehingga penyebab wafatnya Sultan Muhammad pun menjadi sebuah misteri.
   
Menurut dugaan kalangan Istana Qadriyah, kemungkinan almarhum belum lama meninggal. Kendati ditangkap sudah lebih kurang setahun. Akhirnya, dengan upacara kebesaran, jenazah almarhum Sultan Syarief Muhammad Alqadrie dimakamkan di Pemakaman Raja-Raja Pontianak, di Batu Layang.

  Mengenai mayat korban lain yang berasal dari Istana Qadriyah, tetap tidak ditemukan. Apakah berada di Mandor ataukah di tempat lain, tidak diketahui dengan jelas…… ***

*Penulis salah satu wartawan senior di Kalbar.










 *Catatan Redaksi:  
Ratu Perbu Wijaya tersebutlah yang memberikan TITAH PENOBATAN pada Syarief Abubakar Alqadrie gelar Pangeran Mas Perdana Agung sebagai Sultan Pontianak pada tgl.22 Dzulkaedah 1424 Hijriah, bersamaan dengan 15 Januari 2004 Miladiyah, berdasarkah silsilah dan Penetapan Departemen Agama Republik Indonesia cq. Pengadilan Agama / Mahkamah Syar’iyah di Pontianak, No.118/1978 tgl.11 Juli 1978.
  *Telusuri Artikel terkait lainnya di kategori ‘Peristiwa’, ‘Hukrim’ dan ‘Interaksi’