Minggu, 08 Februari 2015

Mendung di Istana Kadriah


Sultan Syarif Abubakar Alkadrie, Raja Pontianak,
Dikawal ketat prajurit dan pendukungnya

Pontianak-RK. Ketegangan yang nyaris menimbulkan bentrok fisik ketika iringan kirab kebesaran Sultan Syarif Abubakar Alkadrie memasuki Istana Kadriah dengan kawalan 150 pengikut dan ratusan personil polisi, akhirnya mencair dengan mediasi Polresta Pontianak, sekira pukul 16.30, Jumat (6/2). Sekitar 300 personil Polresta dan Brimob Polda Kalbar diturunkan mengawal Sultan Pontianak Syarif Abubakar Alkadrie, dari kediaman ke Istana Kadriah, sebagai langkah dan tanggung jawabnya menyelesaikan masalah yang menimpa Kerajaan Pontianak ba’da Ashar sekitar pukul 15.20 Wib.
Sementara dari gerbang, halaman hingga istana sudah dipenuhi ratusan massa yang dipantau Rakyat Kalbar, memadati komplek keraton dengan suasana cukup tegang. Namun, ketika iringan memasuki gerbang terus ke halaman menuju istana, tak satupun massa yang menghadang kirab Sultan. Selain massa pengawal Sultan sekira 150-an orang dengan bendera kerajaan dikawal pedang dan tombak, ratusan polisi membuka jalan. Bahkan hingga di tangga dan kemudian Sultan Syarif Abubakar Alkadrie duduk bersama pengawal di teras istana menghadap keluar, tak satupun yang berani mendekat.
Akhirnya, Sultan menitahkan semua yang tidak berkepentingan dan berada dalam istana sampai halaman yang sudah beberapa hari diduduki, untuk meninggalkan tempat. Tampak Syarif Toto Alkadrie mendatangi Sultan yang kemudian dibawa ke samping karena rada tegang. Selain dua kelompok yang nyaris berhadapan, ratusan masyarakat memadati seluruh jalan menuju gerbang keraton.
Di jajaran apparat keamanan terlihat Dir Sabhara Polda Kalbar Kombes Pol Badya Wijaya, Kapolresta Pontianak Kombes Pol Raden Heru Prakoso, Kasat Brimob Polda Kalbar, sejumlah perwira Polresta seperti Kasat Binmas Polresta Kompol Syarifah Salbiah, Kasat Intel Polresta Kompol Saleh dan lainnya.
Suasana tegang, mencekam, juga mengharukan dirasakan masyarakat masyarakat yang merasa junjungan mereka mengalami kesusahan sehingga kirab diturunkan. Bahkan ada yang berurai air mata menyaksikan apa yang terjadi di Istana Kadriah. “Sudah.. sudah jangan ribut, kita sama-sama keturuan kerajaan,” ujar seoarang perempuan di luar pagar Istana Kadriah.“Allahu Akbar!.. Allahu Akbar!, mengapa jadi seperti ini…..!,” seru perempuan tadi dengan meneteskan air mata karena puluhan tahun merasa istana sejuk saja dan tak pernah terjadi keributan.
Dir Sabhara Polda Kalbar Kombes Pol Badya Wijaya dikonfirmasi Rakyat Kalbarmembenarkan terjadi insiden cekcok mulut antara dua kelompok di Istana Kadriah.”Memang ada insiden kecil, namun sudah aman saat ini,” ujar Badya Wijaya via teleponnya, Jumat (6/2) malam.
Ratusan polisi melakukan pengamanan ketat agar tak terjadi bentrok fisik antara pihak Sultan Kerajaan Pontianak yang bertahta, Syarif Abubakar Alkadrie, dengan pihak Syarif Toto Alqadrie yang berencana akan menjadi Sultan Pontianak. Namun, kasusnya kini masih dalam proses hukum baik di Mahkamah Syariah maupun di Polda Kalbar dan Polresta Pontianak.
Sampai tadi malam, pihak Toto Alkadrie belum berhasil dimintai konfirmasi perihal rencananya akan melaksanakan upacara pelantikan sebagai Sultan Pontianak X. Dan sejauh mana proses hukum yang sudah dijalani kedua pihak. Sementara itu, pihak Istana Kadriah sudah mengambil langkah-langkah agar masalah tersebut diselesaikan secara hukum maupun melalui musyawaran menurut syariah. Karena sudah ada silsilah baku dari keluarga kerajaan yang berlaku turun temurun.
Dihubungi via telepon, Syarif Hasan Basri selaku juru bicara Sultan Syarif Abubakar Alkadrie mengatakan kedua pihak menyerahkannya kepada proses hukum serta mediasi dengan Polresta Pontianak. “Jadi begini yang bisa saya jelaskan. Tadi sore itu Sultan Syarif Abubakar Alkadrie melakukan kirab dari kediaman menuju Istana Kadriah. Nah, kirab ini dilakukan karena ada masalah di istana, yang diduduki secara sepihak,” tutur Hasan Basri yang biasa disapa Boim itu.
Sebagaimana kirab kebesaran Sultan pada kebiasaannya, dikawal dengan semua sanak keluarga, simpatisan sekitar 150-an orang dari berbagai elemen masyarakat maupun etnis termasuk membawa bendera kerajaan, tombak dan pedang. “Sultan kan bukan milik keluarga sendiri. Sultan itu mengayomi seluruh masyarakat, semua elemen, berbagai etnis, yang sangat bersimpati kepada beliau. Jadi wajar kalau diiringi banyak orang,” tutur Boim, yang juga menantu Sultan.
“Begitu Sultan naik tangga istana, lalu menginstruksikan kepada semua orang yang tidak berkepentingan dan tak berhak berada dalam Istana Kadriah, segera meninggalkan tempat. Kemudian membuat formasi lengkap dengan pengawalan duduk menghadap keluar Istana,” lanjutnya.
Selanjutnya, dilakukanlah mediasi sebelum akhirnya Istana Kadriah diserahkan kepada Polresta Pontianak dengan posisi status quo, guna penyelesaian masalah hingga tuntas menurut hukum dan aturan yang berlaku. “Kemudian, pihak Sultan menyepakati mediasi oleh Polresta dengan pihak Syarif Toto. Kami siap mediasi minggu lalu di Polresta tapi pihak Syarif Toto tidak hadir,” jelas Hasan Basri sembari mengatakan perlu coolling down agar suasana bisa disejukkan sehingga proses bisa berjalan.
Karena itulah Sultan menyerahkan Istana Kadriah kepada pihak kepolisian untuk ditetapkan status quo. Ini diperlukan agar tidak ada pihak-pihak tidak berwenang melakukan intervensi dalam bentuk apapun termasuk kekerasan. “Untuk itu Sultan memberikan syarat, agar semua pihak meninggalkan Istana Kadriah. Tidak boleh ada seorang pun berada di istana selain apparat keamanan. Sultan menegaskan, tidak boleh ada kegiatan apa pun di seluruh kawasan Istana termasuk halamannya tanpa izin dari Sultan Pontianak yang sah, sampai semua tuntas secara hokum,” ungkap Hasan Basri.
Untuk itu, Sabtu (7/1) pukul 09.00 hari ini akan digelar mediasi kedua pihak, pihak Sultan Syarif Abubakar Alkadrie dan pihak Syarif Toto Alkadrie bertempat di Polresta. Kesepakatan yang ditelurkan kemarin sore bersama Kasat Binmas Kompol Syarifah Salbiah dan Kasat Intel Kompol Saleh, itu diharapkan ada penyelesaian. “Jadi yang hadir selain kedua pihak, juga para tetua dalam keluarga Kerajaan Pontianak, kemudian Ketua Majelis Kerajaan-kerajaan se Kalbar, dan pihak kepolisian,” kata Syarif Hasan Basri Alkadrie.

Sampai tadi malam, situasi di Istana Kadriah dan sekitarnya berangsur pulih dari ketegangan. Tidak boleh ada yang masuk ke istana tanpa izin apparat keamanan. “Kapolresta yang mensterilkan Istana Kadriah. Beliau melakukan mediasi dengan kedua belah pihak di Mapolsekta Pontianak Timur,”kataKombes Pol Badya Wijaya.
“Polisi bergerak cepat, sehingga tidak ada insiden fisik dan tidak ada korban di kedua pihak. Sultan Syarif Abubakar menyerahkan sepenuhnya kepada Kapolresta Pontianak untuk segera melakukan pengusutan, penyelidikan. Insiden terjadi karena adal klaim sepihak dan akan menobat Syarif Toto Alqadrie sebagai Sultan Pontianak X. Sepanjang sepengetahuan semua orang, merekatidak memiliki dasar hukum dan dasar sejarah,” kata Badya Wijaya.
Laporan:Achmad Mundzirin
Editor: Hamka Saptono


Pontianak-RK. Kepala Kepolisian Resor Kota (Kapolresta) Pontianak Kombes Pol Raden Heru Prakoso tidak mau gegabah mengambil alih Istana Kadriah, yang diserahkan Sultan Syarif Abubakar Alkadrie, menyusul ratusan orang menyerang kraton tersebut, pekan lalu. “Saya tidak punya kewenangan. Dan benar-benar tidak bisa menerima penyerahan Istana itu. Ini masalah internal mereka (kerajaan,red), jadi polisi tidak bisa ikut campur dalam hal ini,” tegas Kapolresta Pontianak Kombes Pol Raden Heru Prakoso kepada Rakyat Kalbar, Rabu (4/2).
Seperti diberitakan, Sultan Syarif Abubakar Alkadrie secara resmi menyerahkan Istana Kadriah kepada Polresta Pontianak untuk di-police line, agar bisa diusut laporan mana yang benar dan laporan palsu perihal penyerangan terhadap dirinya dan keluarga, ketika akan masuk ke ruang Istana Kadriah, Senin (26/1) malam.
Dengan demikian, melalui juru bicaranya, Syarif Hasan Basri Alkadrie, Sultan ingin kasus tersebut diungkap tuntas tanpa keberpihakan dan intervensi pihak manapun. “Dengan demikian Istana Kadriah distatus quokan agar Kepolisian leluasa mengusut kasus penyerangan tersebut,” tutur Syarif Hasan Basri. Ternyata Kpolresta Pontianak tidak berani untuk menstatus quo kan Istana Kadriah, dengan alasan bukan wewenang dirinya untuk mengambil alihnya.
Kombes Pol Raden Heru Prakoso mengatakan kepolisian hanya menjaga Kamtibmas, melakukan proses hukum terhadap orang yang melakukan tindak pidana penyerangan tersebut. “Polisi bukan mengambil atau menerima penyerahan untuk mengambil alih kerajaan,” jelasnya.
Pihak Istana Kadriah melaporkan soal penyerangan, bahwa justru pihaknya dilaporkan yang menyerang bukan sebaliknya. Maksud Syarif Hasan Basri, supaya polisi bisa menyelidiki kasus pidana laporan palsu atau benar, bukan masalah konflik internal Kerajaan Pontianak. “Tidak berhak saya ikut campur, ini urusan internal. Tanyakan kepada pihak kerajaan sebenarnya ada apa ini,” ujar Heru Prakoso.
Menurutnya, Polresta hanya dapat masuk apabila ada unsur tindak pidananya. “Sepanjang tidak ada tindak pidananya, kami tidak bisa masuk,” alasan Raden Heru Prakoso. Kecuali, lanjut Heru Prakoso, pihak kerajaan meminta dirinya atau pihaknya untuk melakukan mediasi atas permasalahan yang ada. “Kalau minta dimediasi, saya akan mediasi, tapi kalau menyerahkan kepada saya Istana itu, untuk distatus quo kan, maaf itu tidak bisa. Sekali lagi polisi tidak turut campur dalam hal itu,” katanya.
Sedangkan mengenai laporan pengerusakan yang dilaporkan pihak Syarif Toto Alqadrie maupun pihak Sultan Syarif Abubakar Alkadrie, tetap diproses pihaknya. “Laporan pengerusakan tetap kita proses. Di mana saat ini kita sedang memeriksa sejumlah saksi,” jelas Kombes Raden Heru Prakoso.
Kasat Reskrim Polresta Pontianak, Kompol Andi Yul Lapawsean, membenarkan pihaknya masih melakukan penyelidikan dan pendalaman laporan yang dibuat oleh pihak Syarif Toto Alqadrie tentang pengerusakan atas insiden beberapa malam yang lalu di Istana Kadriah. “Mengenai laporan itu, masih kita dalami, sedang diselidiki. Masih dalam tahap pemeriksaan saksi-saksi. Apa yang dirusak nanti juga akan kita lihat,” ujar Kompol Andi Yul Lapawsean di kantornya.

Laporan: Achmad Mundzirin
Editor: Hamka Saptono

Tidak ada komentar:

Posting Komentar