Minggu, 08 Februari 2015

Meluruskan Sejarah Tahta Kadriah.I


Syarif Slamet Yousuf  Alkadrie
Gelar : Pangeran Bendahara

Menyimak pemberitaan di Harian Rakyat Kalbar terbitan 23 November 2014 berjudul “Mengaku Memiliki Darah Gahra Kesultanan, Syarif Toto Alkadrie Sultan Pontianak ke X”. Narasumber dari berita itu Syarif Usman Jafar Almuthahar.
Usman Jafar Almuthahar menceritakan silsilah pewaris tahta (Gahra) dan ahli waris Kesultanan Pontianak, mulai dari Sultan Syarif Toesoef Alkadrie yang memiliki dua anak bernama Syarif Mahmud Alkadrie dan Syarif Muhammad Alkadrie.
Setelah Syarif Toesoef menjadi Sultan, digantikan anaknya bernama Syarif Muhammad Alkadrie menjadi Sultan Pontianak. Di mana Sultan Syarif Muhammad Alkadrie memiliki permaisuri bernama Syarifah Zubaidah Alkadrie dan sembilan selir, berdasarkan cerita Usman Jafar Almuthahar di Harian Rakyat Kalbar.
Dari sepuluh istri Sultan Pontianak saat itu hanya empat istri saja yang memiliki anak, yakni dua anak perempuan dari permaisuri, kemudian dari selir bernama Encik Haji Aminah memiliki empat anak. Sedangkan dari selir bernama Syecha Jamilah Syarwani memiliki enam anak dan dari selir Encik Entin memiliki satu anak.
Menanggapi apa yang disampaikan Syarif Usman Jafar Almunthahar itu, kami dari keluarga besar keturunan dari Almarhumah Encik Haji Aminah yang bergelar Mas Ratu Haji Aminah wajib meluruskan sejarah Kesultanan Pontianak pada masa Allahyarham Maulana As-Sultan As-Syaidis As-Syarif Muhammad Alkadrie, Sultan Kerajaan Pontianak ke VI yang bertahta dari tahun 1895-1944 (karena sejarah adalah fakta yang tidak bisa diubah). Adapun fakta penelusuran sejarah itu sebagai berikut :
  1. Allahyarham Maulana Sultan Syarif Muhammad Alkadrie mempunyai lima permaisuri, disamping lima orang istri lainnya. Kelima orang permaisuri itu (Perspektif Sejarah halaman 139) :
    1. Syarif Talha (Ratu Besar)
    2. Syarif Zubaidah (Ratu Muda)
    3. Syarif Maryam (Ratu Seberang)
    4. Syecha Jamilah (Mas Ratu Syecha)
    5. Encik Haji Aminah (Mas Ratu Haji)
  2. Allahyarham Maulana Sultan Syarif Muhammad Alkadrie yang juga sebagai Khalifah Kerajaan Pontianak pada zamannya, sangat menjunjung tinggi serta melaksanakan akidah dan syariat Islam yang diajarkan Rasulullah SAW. Oleh karena itu, tidak benar bahwa Allahyarham Maulana Sultan Syarif Muhammad Alkadrie mempunyai selir yang dikatakan oleh Syarif Usman Jafar Almuthahar mewakili Syarif Toto Alkadrie.
  3. Dari lima permaisuri Allahyarham Maulana Sultan Syarif Muhammad Alkadrie, hanya Almarhumah Mas Ratu Haji Aminah yang menunaikan rukun Islam yang kelima, karena itu merupakan salah satu syarat untuk Allahyarham Maulana Sultan Syarif Muhammad Alkadrie mempersunting Almarhumah Mas Ratu Haji Aminah sebagai istri.
Dari uraian di atas, kami keluarga besar Almarhumah Mas Ratu Haji Aminah, permaisuri dari Allahyarham Maulana Sultan Syarif Muhammad Alkadrie (Sultan Pontianak ke VI) sangat tersinggung dan terhina atas pencemaran nama baik Almarhumah Mas Ratu Haji Aminah yang disebut sebagai selir dari Allahyarham Maulana Sultan Syarif Muhammad Alkadrie (Sultan Pontianak ke VI).
Oleh karena itu, kami menegaskan kepada Syarif Usman Jafar Almuthahar yang mewakili Syarif Toto Alkadrie meminta maaf melalui media cetak atas pemberitaan yang tidak benar di Harian Rakyat Kalbar edisi Minggu, 23 November 2014 dengan jangka waktu selambat-lambatnya 3 hari terhitung dari terbitnya sanggahan ini.
Apabila dalam jangka waktu yang ditentukan Syarif Usman Jafar Almuthahar mewakili Syarif Toto Alkadrie tidak meminta maaf melalui media cetak, kami keluarga besar Almarhumah Mas Ratu Haji Aminah akan menempuh jalur hukum.
Kami sebagai ahli waris Kesultanan Pontianak (keluarga besar Allahyarham Maulana Sultan Syarif Muhammad Alkadrie dan Mas Ratu Haji Aminah) menyesalkan adanya kemelut yang terjadi di lingkungan keluarga Kesultanan Pontianak yang seharusnya mengikuti tatanan adat istiadat yang mengedepankan musyawarah untuk mencapai mufakat. (*)
Oleh : Syarif Selamat Joesoef Alkadrie 
(Pangeran Bendahara) Majelis Musyawarah Istana Kesultanan Pontianak



Kiri ke kanan : Syarifah Salmah Alkadrie (Ratu Sepuh ), Syarif Mahmud Alkadrie (Pangeran Agung), Maha ratu suri Syecha Jamilah Syarwani,Sultan Syarif Muhammad, Syarif Hamid ( Yang kemudian menjadi Sultan Hamid.II)



Diantara kerajaan atau kesultanan yang kental bernafas Islami di Kalbar, Kesultanan Pontianak memiliki sejarah panjang yang menarik pada deretan Kraton-kraton di Indonesia. Terutama dinasti Alqadri sebagai pemegang tampuk pemerintahan. Namun sebagaimana angle tulisan ini penulis lebih memfokuskan kepada uraian tentang garis keturunannya.
Sultan Syarif Abdurrahman Alqadri sebagai Sultan I Kerajaan Pontianak mempunyai 6 istri dan 66 anak terdiri dari 34 lelaki dan 32 orang perempuan. Dari jumlah tersebut yang menjadi raja dua orang yaitu Sultan Syarif Kasim Alqadri (Sultan II) dari ibunya Utin Cendramidi dan Sultan Syarif Usman Alqadri (Sultan III) dari ibunya Nyai Kusuma Sari. Setelah Sultan Syarif Usman mangkat, maka dinobatkan Sultan yang ke IV yakni Sultan Syarif Hamid Alqadri yang merupakan anak pertama dari perkawinan Sultan Syarif Usman Alqadri dengan Syarifah Zahara.
Sultan yang ke V yakni Sultan Syarif Yusuf Alqadri, adalah anak pertama dari perkawinan Sultan Syarif Hamid Alqadri dengan Syarifah Fatimah yang dinobatkan menjadi Sultan setelah ayahnya wafat. Sedangkan Sultan VI adalah Sultan Syarif Muhammad Alqadri, yang merupakan anak pertama dari perkawinan Sultan Yusuf Alqadri dengan Syarifah Zahra Alqadri dan dilantik sebagai Sultan pada 6 Agustus 1895.
Layak untuk diketahui, di saat Sultan Syarif Yusuf Alqadri sakit-sakitan, sebelum beliau mangkat maka diangkat Pemangku Jabatan Sultan yaitu Syarif Muhammad bin Harun bin Ahmad bin Sultan Syarif Abdurrahman Alqadri yang bergelar Pangeran Laksamana Tua. Jabatan ini dipegangnya sampai Sultan Syarif Yusuf Alqadri mangkat hingga beberapa tahun sambil menunggu Sultan Syarif Muhammad Alqadri dewasa untuk dilantik sebagai Sultan sebagaimana tanggal tersebut di atas. (Lihat grafis masa bertahtanya para Sultan).

Sultan-Sultan Kerajaan Pontianak Yang Bertahta
No
Sultan
Masa Tahta
1Sultan Syarif Abdurrahman Alqadri1 September 1778 -28 Februari 1808
2Sultan Syarif Kasim Alqadri28 Februari 1808-25 Februari 1819
3Sultan Usman Alqadri25 Februari 1819-12 April 1855
4Sultan Hamid Alqadri12 April 1855-22 Agustus 1872
5Sultan Yusuf Alqadri22 Agustus 1872-15 Maret 1895
6Sultan Muhammad Alqadri15 Maret 1895-24 Juni 1944

Siapa Pewaris Tahta Setelah Sultan Muhammad Alqadri? Dari tabel diatas, penulis uraikan secara singkat bahwa Sultan Syarif Muhammad Alqadri saat memangku jabatannya sebagai Sultan VI mempunyai beberapa istri. Dan yang cukup dikenal di masyarakat adalah:
  1. Syarifah Thalhah binti Shaleh bin Muhammad bin Sultan Syarif Usman Alqadri bergelar Maha Seri Ratu Besar. Beliau tidak mempunyai anak, dan wafat pada Jumadil Akhir 1326 H, dimakamkan di Gang Meliau Pontianak.
  2. Syarifah Zubaidah binti Muhammad (Pangeran Laksamana Tua) bin Harun bin Ahmad bin Sultan Syarif Abdurrahman Alqadri, bergelar Ratu Besar atau Ratu Muda, mempunyai dua puteri. Dimakamkan di Gang Meliau Pontianak.
  3. Encik Haji Aminah binti Encik Ajma’in, lahir 14 Rajab 1295 H, bergelar Mas Ratu Haji, mempunyai empat anak, 2 lelaki dan 2 perempuan, wafat 10 April 1930 M, dimakamkan di Gang Meliau Pontianak.
  4. Syarifah Mariam binti Alwi Assegaf, bergelar Ratu Seberang dan tidak mempunyai anak. Wafat 20 Syawwal 1348 H, dimakamkan di Gang Meliau Pontianak.
  5. Syeikhah Jamilah binti Mahmud bin Abdul Hamid bin Mahmud Syarwani, bergelar Maha Ratu Suri, mempunyai empat anak, terdiri dari 2 lelaki dan 2 perempuan. Wafat pada Kamis, 25 Rabiul Akhir 1397 H/14 April 1977, dimakamkan di Batu Layang Pontianak.
Sultan Syarif Muhammad Alqadri dikaruniai empatputra yaitu : (1) Syarif Usman bergelar Pangeran Adipati, (2) Syarif Mahmud bergelar Pangeran Agung, (3) Syarif Abdul Muthalib bergelar Pangeran Muda dan (4) Syarif Hamid. Diantara empat putra Sultan Muhammad ini, yang menjadi Putra Mahkota adalah Syarif Usman (Pangeran Adipati, ibunya bernama Encik Haji Aminah).
Pada tanggal 24 Juni 1944, Sultan Syarif Muhammad Alqadri beserta tiga putranya yaitu Pangeran Adipati, Pangeran Agung, Pangeran Muda ditangkap dan dibunuh Jepang bersama keluarga istana lainnya yang berjumlah lebih kurang 31 orang.
Peristiwa sungkup itu berlanjut pada tanggal 28 Juni 1944 dengan pembunuhan besar-besaran oleh tentara Jepang terhadap para Sultan, Panembahan, para tokoh masyarakat termasuk masyarakat umum di Kalimantan Barat. Jumlah pembantaian massal para cerdik cendikia, ulama, orang-orang terdidik dari berbagai etnis diperkirakan berjumlah sekitar 21.073 jiwa, yang dikenal sebagai Peristiwa Mandor.
Saat peristiwa pembantaian oleh balatentara Nipon itu, Syarif Hamid ditawan oleh Jepang dan dipenjarakan di Batavia dari tahun 1942-1945. Lalu siapa selanjutnya yang menjadi Sultan ke VII atau yang berhak menjadi Sultan VII menggantikan Sultan Syarif Muhammad Alqadri? Ini yang masih menjadi polemik. Dari beberapa sumber menyatakan:
(1). Yang menjadi Sultan VII adalah Sultan Syarif Thaha bin Usman Alqadri (lahir 27 September 1927). Syarif Thaha ini ibunya bernama Syarifah Fatimah bergelar Ratu Anom, yang merupakan anak Sultan Muhammad dari istrinya bernama Syarifah Zubaidah (Ratu Besar/Ratu Muda) binti Muhammad (Pangeran Laksamana Tua) bin Harun bin Ahmad bin Sultan Abdurrahman.
Syarifah Zubaidah mempunyai suami bernama Syarif Usman Alqadri bin Mahmud (bergelar Pangeran Laksamana Muda) bin Sultan Syarif Yusuf Alqadri. Dengan demikian, jalur yang diambil adalah dari garis perempuan, masa bertahta 1944 -1945.
(2). Sultan Hamid II bin Sultan Syarif Muhammad Alqadri, ibunya Syekhah Jamilah (Maha Ratu Suri), lahir 12 Juli 1913, dengan masa bertahta ada yang menyebutkan dari tahun 1945-1950 dan ada juga yang menyatakan 1945-1978.
(3). Ada yang mengemukakan Sultan Syarif Thaha Alqadri sebagai Sultan VII, sedangkan Sultan Hamid II sebagai Sultan VIII.
Dan siapa pula yang berhak untuk menjadi Sultan berikutnya apakah Syarif Abubakar bin Mahmud Alqadri (Pangeran Agung) bin Sultan Muhammad Alqadri yang juga merupakan keponakan dari Sultan Hamid II, ataukah Syarif Toto bin Thaha Alqadri? Dan apa yang menjadi dasar pengangkatan mereka untuk menjadi Sultan?
Hal diatas tentu menjadi sangat menarik untuk ditelaah, dikaji, walaupun bisa jadi tidak mudah diterima oleh semua pihak karena adanya tarik-menarik hubungan ataupun kepentingan. Dan dalam mengkaji hal ini tentu diperlukan pemikiran yang jernih, wawasan yang luas, dan tidak didasarkan kepada nafsu atau egosentris semata. Semua itu juga musti didukung oleh keakuratan data.


(Bersambung/*Dedi Kusnadi-Lembaga Pemerhati Kraton Indonesia)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar