Sabtu, 26 Oktober 2013

Tan Malaka

Tan Malaka

 idealisme tanpa kompromi sang bapak bangsa



Merdeka.com - Jelang Pemilu 2014 konstalasi politik Tanah Air mulai memanas. Masing-masing partai dan elite politik mulai melancarkan manuvernya untuk meraih kursi kekuasaan di negeri yang katanya kaya raya akan sumber daya alam ini.


Tak jarang intrik buruk, saling serang antar-mereka dilakukan. Politik saling ungkap keburukan pun terjadi. Tujuannya satu, untuk menjatuhkan lawan di mata rakyat sehingga memiliki citra negatif dan tidak dipilih rakyat di 2014.

Bermodal kata 'demi rakyat' di media, kampanye dan mimbar bebas di tengah publik, para politikus itu menebar janji politik kepada rakyat. Dari kemiskinan, pengangguran, pendidikan dan segudang persoalan lainnya dijanjikan mereka akan diberantas. Semua itu hanya untuk menempati empuknya kursi kekuasaan.

Namun, ketika berkuasa, kemiskinan, anak putus sekolah, pengangguran tetap tak terselesaikan. Rakyat masih ada yang kelaparan, hingga makan nasi aking. Bahkan sampai-sampai aset negara pun tergadai dijual ke asing.

Sementara para pejabat yang dipilih banyak yang ditangkap KPK karena terlibat korupsi. Miris, itulah kondisi Indonesia. Para pejabat di negeri ini seakan tak pernah belajar dari para pejuang dahulu yang dengan susah payah memerdekakan negeri ini.

Dulu kita pernah memiliki seorang Bapak Bangsa yang memiliki idealisme tanpa kompromi demi Indonesia. Idealisme tak bisa dibeli atau ditukar dengan apapun. Dia adalah Ibrahim Sutan DatukTan Malaka atau yang akrab dipanggil Tan Malaka.

Pria kelahiran Pandang Gadang, Suliki, Sumatera Barat, 2 Juni 1897 itu lah yang pertama kali menulis konsep kemerdekaan Indonesia lewat bukunya 'Naar de Republiek Indonesia' (Menuju Indonesia Merdeka) pada 1925. Setelah itu baru Hatta menulis 'Indonesia Vrije' (Indonesia Merdeka) sebagai pledoi di depan pengadilan Den Haag pada 1928, kemudian Soekarno menulis 'Menuju Indonesia Merdeka' pada 1933

Buku itu kemudian dilarang beredar, dimiliki dan dibaca oleh pihak kolonial. Buku Tan Malaka itu lah yang kemudian menginspirasi para pemuda untuk segera memerdekakan Republik. Bahkan,Soekarno pun menjadikan buku itu sebagai bacaan wajibnya kala itu.

Atas hal itu, Muhammad Yamin menjuluki Tan Malaka sebagai 'Bapak Republik Indonesia'. Sementara, Soekarno menjulukinya sebagai 'orang yang mahir dalam revolusi.' Tan Malakaadalah seorang yang telah melukiskan revolusi Indonesia dengan bergelora.

Pria yang kenyang keluar masuk penjara di luar negeri dan pulau Jawa karena pemikirannya itu tak pernah lelah berusaha melepaskan Indonesia dari kolonialisme Belanda dan Jepang saat itu. Baginya Indonesia harus menjadi negara yang merdeka, mandiri. Namun, hal itu harus direbut bukan atas pemberian. Hal itu di kemudian hari yang membuat Tan Malaka bersilang pendapat dengan Soekarno dan Hatta.

Tan Malaka kecewa karena Soekarno-Hatta yang kala itu dikenal sebagai motor gerakan kemerdekaan Indonesia lebih memilih jalan 'damai' dan bernegosiasi dengan Belanda dan Jepang. Bagi Tan Malaka kemerdekaan harus direbut bukan diberikan. Menurutnya, kaum pribumi adalah pemilik dari Tanah Airnya. Jadi tak pantas jika harus menghamba kepada pihak kolonial untuk meminta kemerdekaan. Perundingan baru bisa dilakukan setelah kemerdekaan di raih.

Tan Malaka adalah sosok yang seakan dilupakan oleh bangsanya sendiri. Di era rezim Soekarno,Tan Malaka dimusuhi. Bahkan pada Kabinet Sjahrir Tan Malaka dipenjarakan hingga 2,5 tahun tanpa pengadilan.

Di era Soeharto, semua yang menyangkut Tan Malaka seakan dihilangkan. Hal itu dikarenakan ideologi komunis yang dianut Tan Malaka saat itu menjadi musuh rezim Soeharto. Padahal, walaupun Tan Malaka adalah seorang komunis, dia adalah seorang yang nasionalis dan beragama. Hal ini terbukti dari sejumlah pemikirannya. Tan Malaka yang sejak muda itu sudah hapal Alquran itu bahkan pernah berucap "Di depan Tuhan saya adalah seorang muslim."

Tan Malaka adalah putra bangsa yang cerdas dan memiliki idealisme. Dia tak mau bangsanya diinjak-injak negara lain dan meminta-minta kepada penjajah untuk kemerdekaan yang merupakan hak alami Tanah Airnya. Tan Malaka tak gila publikasi dan popularitas seperti politikus saat ini. Meski hasil karya pemikirannya banyak dijadikan rujukan dan inspirasi banyak orang di eranya, tak banyak orang yang mengenal rupa dan bagaimana wujud dari seorang Tan Malaka.

Untuk mencukupi kebutuhan hidupnya kala itu, Tan Malaka bekerja dari menjadi guru matematika, bahasa Inggris hingga tukang jahit. Padahal jika dia bermental 'penjahat' dan memiliki idealisme palsu, tak sulit untuk mendapat pundi kekayaan saat itu lewat bekerja sama dengan pihak kolonial. Namun hal itu tidak dilakukannya. Baginya perjuangan kemerdekaan Indonesia menjadi nomor satu. Membebaskan rakyat dan kaum proletariat dari penindasan kolonial adalah iman utama.


Sungguh sosok yang sangat pantas dijadikan teladan bagi para elite dan politikus Tanah Air saat ini
.

Pemulung Miskin yang kaya hati

Saat seorang pemulung lebih jujur dari para pejabat Indonesia

Reporter : Ramadhian Fadillah | Sabtu, 26 Oktober 2013 05:47
448
Share Detail
Saat seorang pemulung lebih jujur dari para pejabat Indonesia
Manusia gerobak. ©2013 Merdeka.com/M. Luthfi Rahman
Merdeka.com - Atta Verin, seorang warga Bandung, menceritakan kisah seorang pemulung jujur yang ditemuinya di Jl Cicalengka Raya, Antapani. Pemulung itu menggedor-gedor pintu gerbang sebuah rumah berjam-jam. Ada sebuah tas plastik di tangannya.

"Keresek ini berisi dua potong baju bagus baru beli masih ada bandrolnya dan kereseknya masih di-hekter. Saya pemulung, tuh gerobak saya. Keresek ini ada di tempat sampah rumah ini, tapi saya tidak bisa mengambilnya. Yang punya rumah ini pasti sudah salah membuang keresek ini. Mungkin dikira sampah, padahal ini baju baru!" kata Verin menirukan ucapan pemulung itu.

Verin terharu. Lalu membantunya menggedor-gedor pagar rumah itu. Tapi setelah 5 menit tak ada yang membukakan pintu. Tidak ada orang di rumah itu.

"Lemparkan saja kereseknya di dalam halamannya, usul saya. Tapi dia bilang jangan, nanti ada yang ngambil! Kasihan yang punya-nya, ini baju baru banget, Neng!" kata Verin, Pembina Pramuka yang baru mendapatkan Messengers of Peace Heroes Award di Arab Saudi ini saat berbincang dengan merdeka.com, Jumat (25/10).

Verin berkenalan dengan pemulung tersebut. Dia mengaku bernama Nengsih. Tetapi lebih dikenal sebagai Ecih Keresek. Kejujuran Nengsih suatu hal yang langka. Kemiskinan tidak membuat Nengsih menjadi pencuri.

Ironisnya, di Indonesia justru para pejabat yang terus mencuri uang rakyat. Dari tingkat kepala desa hingga pejabat setaraf menteri.

Kemarin Kejaksaan Negeri Jakarta Timur menahan Lurah Pulogadung Tema Yuliman. Dia diduga korupsi dana kelurahan hingga Rp 620 juta, termasuk pengadaan tong sampah, posyandu, bahkan tanaman hias. Sebelumnya Lurah Ceger Fanda Fadly Lubis lebih dulu ditangkap Kejari dengan modus yang sama. Dana gerakan sayang ibu saja ditilep.

Di tingkat yang lebih tinggi daftar korupsi makin beragam. Kasus Hambalang, Simulator SIM, mafia pajak, sampai impor daging sapi juga tak lepas dari permainan kotor. Di Indonesia, rasanya apa saja dikorupsi. Bibit ikan lele, baju koko, kain sarung, hingga Alquran, tega dikorupsi juga.

Sosiolog UIN Syarif Hidayatullah Musni Umar pernah mengungkapkan kekecewaannya saat semua hal di Indonesia tak lepas dari korupsi.

"Ini luar biasa memprihatinkan. Korupsi sudah masuk ke semua lini," ujar Sosiolog UIN Syarif Hidayatullah, Musni Umar kepada merdeka.com beberapa waktu lalu.

Musni tidak habis pikir bagaimana bisa untuk hal keagamaan saja, pejabat melakukan korupsi. Menurutnya hal-hal semacam ini membuat masyarakat Indonesia kehilangan harapan. Hukum dan ekonomi di Indonesia memang tidak pernah memihak orang kecil.

Maka kisah seperti Ecih Keresek atau Mak Yati, si pemulung yang berkurban, menjadi teladan yang langka. Di tengah para penipu yang mencuri uang rakyat, justru rakyat kecil yang memberikan teladan.

Tak malukah para pejabat?

Mungkin tidak, karena mereka sibuk nikah siri dengan penyanyi dangdut. Atau tertangkap KPK saat sedang berduaan dengan wanita cantik di hotel setelah menerima uang suap. Tak jauh dari sana, kaum miskin meratap kelaparan.

Maka terpujilah Mohammad Hatta , Wapres yang hidup sederhana. Jenderal Hoegeng yang melemparkan barang suap ke luar rumah. Atau Mohammad Natsir, sang perdana menteri dengan jas bertambal. Membaca kisah mereka bak mendengar kisah di negeri dongeng. Teladan kejujuran yang langka.

Pada siapa rakyat kecil kini bisa berharap?