Jumat, 25 Oktober 2013

Prabowo Buka Suara






Merdeka.com - Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Prabowo Subianto angkat bicara terkait isu kudeta dan anti-etnis Tionghoa saat menjadi Pangkostrad dengan 33 batalyon. Prabowo menegaskan tudingan itu hanya fitnah karena sebagai prajurit TNI, dirinya takut dengan UUD 1945.

"Saya waktu itu Pangkostrad dengan 33 batalyon, nyatanya apakah saya kudeta? Itu tidak akan saya lakukan karena sebagai prajurit sapta marga saya takut terhadap konstitusi UUD 1945," kata Prabowo dalam keterangan persnya yang diterima merdeka.com, Minggu (20/10).

Menanggapi isu tersebut, mantan Danjen Kopassus itu hanya diam. Dia menilai, waktu dan sejarah yang akan mengungkap kebenaran tersebut. "Saya lebih memilih diam menanggapi fitnah itu, biarlah waktu dan sejarah yang akan membuktikan. 'Becik ketitik ala ketara'," jelas Prabowo.

Diterpa fitnah, Prabowo mengibaratkan dirinya sebagai Bapak Pembangunan RRC, Deng Xiao Ping. Deng Xiao Ping pernah difitnah 3 kali, dipecat 3 kali dan dipenjara 3 kali sebelum memimpin kebangkitan China. Prabowo mengaku dirinya sebagai Deng Xiao Ping-nya Indonesia, meskipun dituduh dan difitnah tetapi bisa membawa kebangkitan rakyat Indonesia.

"Kalau saya kan hanya 1 kali dipecat, Alhamdulillah. Dan saya ingin menjadi Deng Xiao Ping-nya Indonesia," harapnya.

Seperti diketahui, mantan Presiden RI, BJ Habibie kembali menceritakan lagi alasan pencopotan Prabowo dari jabatan Pangkostrad. Pada 22 Mei 1998, tepat sehari setelah Soeharto lengser, gejolak politik dan ekonomi sama sekali tidak terkendali.

Habibie dituntut untuk segera menyelesaikan permasalahan tersebut, salah satunya dengan membentuk kabinet baru. Berbagai masukan datang silih berganti termasuk dari Pangkostrad, yang saat itu dijabat Prabowo. "Dia (Prabowo) datang malam ngopi-ngopi. Saya dengarkan pendapatnya saya laksanakan menurut saya," ujar Habibie.

Beberapa saat sebelum diumumkannya kabinet, panglima ABRI Jenderal Wiranto melaporkan pada Habibie ada pergerakan yang mengkhawatirkan.

"Ada Wiranto dia bilang pasukan Kostrad masuk ke Jakarta, pesawat sudah masuk ke bandara. Perintahkan semua kembali ke pangkalan. Kalau mereka tidak kembali ke pangkalan kita bisa kayak di Mesir, Myanmar, seperti sekarang," terang Habibie semalam di gedung Gedung Pusat perfilman Usmar Ismail, Jakarta, Kamis (29/8).

Lantas, Habibie memerintah Wiranto untuk mencopot Pangkostrad, Prabowo.


Merdeka.com - Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Prabowo Subianto merasa miris dengan keadaan kebanyakan petani di Indonesia yang banyak tertimpa masalah tempat tinggal dan terlilit utang rentenir. Padahal menurutnya, Indonesia merupakan negara agraris yang kaya.

"Kami mendukung Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) untuk merintis bank tani dan nelayan, untuk menyediakan kredit murah bagi petani dan nelayan," kata Prabowo dalam keterangan tertulis kepada wartawan, Selasa (8/10).

Prabowo menuturkan, Indonesia harus menjadi tuan rumah di negeri sendiri dan mengolah kekayaan alamnya sendiri. Dia juga menyindir para koruptor yang menggadaikan negerinya demi uang.

"Oleh karena itu, kita harus mampu mengolah kekayaan alam sendiri. Kita harus jadi tuan di rumah sendiri. Elit bangsa ini tidak pintar menjaga kekayaan kita. Bahkan banyak pemimpin yang mudah disogok dan dibeli dengan uang," jelas Prabowo.

Menurut Prabowo, solusi untuk masalah tersebut adalah dengan membentuk bank khusus petani dan nelayan. Bank yang mampu memberikan petani dan nelayan kemudahan dalam memenuhi hajat hidup mereka.

"Kita adalah negara yang sangat kaya, namun ironisnya masih banyak rakyat yang terjerat dalam utang rentenir yang memiskinkan," jelas dia.

Sebagai penyemangat, Prabowo akan menjadi nasabah pertama dalam memberikan modal kepada bank khusus petani dan nelayan.

"Jika kelak bank tani ini berdiri, saya siap menjadi salah satu nasabah dan memberikan modal pertama," kata Prabowo.
Merdeka.com - 
Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto prihatin dengan sistem ekonomi di Indonesia. Menurutnya, sistem yang dipakai saat ini adalah sistem ekonomi neoliberal.

"Mereka yang saat ini dipercaya oleh rakyat untuk merencanakan dan menjalankan kebijakan ekonomi bangsa telah memercayai dan menjalankan paham ekonomi yang keliru," kata Prabowo saat kuliah umum dalam wisuda STKIP Persatuan Islam, di Bandung, seperti dilansir dari Antara, Minggu (13/10).

Prabowo mengatakan, sistem ekonomi neoliberal menjadi salah satu penyebab bangsa Indonesia hanya kebagian menjadi kuli dan pelayan di negara sendiri. Akibat sistem ekonomi yang salah itu, kekayaan Indonesia dibawa lari ke luar negeri.

Menurut dia, fenomena larinya kekayaan bangsa itu merupakan sesuatu yang diterima dan dimaklumi oleh para ekonom penganut paham neoliberal. Oleh karena itu, ia berharap, putra dan putri Indonesia mampu menyelesaikan pendidikan tinggi.

Dia menginginkan para wisudawan tidak takut untuk mempelajari data, angka, dan fakta-fakta terutama yang berkaitan dengan ekonomi. "Para sarjana harus memiliki kemampuan untuk membaca dan berbicara dalam bahasa asing agar dapat belajar dari pengalaman dan tidak mengulang kesalahan bangsa lain," ucapnya

Merdeka.com - Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto memberikan kuliah umum dalam wisuda Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Persatuan Islam, Bandung. Dalam pidatonya, Prabowo menyampaikan kepada para sarjana dan pimpinan STKIP Persatuan Islam bahwa sistem ekonomi neoliberal yang dijalankan oleh pemerintah sejak reformasi 1998 telah banyak merugikan bangsa Indonesia.

"Mereka yang saat ini dipercaya oleh rakyat untuk merencanakan dan menjalankan kebijakan ekonomi bangsa telah mempercayai dan menjalankan paham ekonomi yang keliru," jelas Prabowo dalam keterangan tertulis yang diterima merdeka.com, Senin (14/10).

Menurut dia, klaim pemerintah bahwa ekonomi terus berkembang karena menggunakan presentasi yang penuh dengan data-data dan grafik yang bersumber dari data pemerintah sendiri. Nyatanya, lanjut dia, kekayaan bangsa Indonesia yang ada selama ini lari ke luar negeri karena sistem ekonomi seperti sekarang.

Mantan Danjen Kopassus ini menilai, fenomena larinya kekayaan bangsa ke luar negeri adalah suatu hal yang diterima dan dimaklumi oleh para ekonom penganut paham neoliberal.

"Sistem ekonomi neoliberal adalah sebab mengapa bangsa Indonesia hanya kebagian menjadi kuli dan pelayan di negaranya sendiri," imbuhnya.

Prabowo menyatakan, jika anak-anak Indonesia yang mampu menyelesaikan pendidikan tinggi adalah harapan bangsa. Dia berharap agar mereka tidak takut untuk mempelajari data, angka dan fakta, terutama yang berkaitan dengan ekonomi.