Selasa, 27 Agustus 2013

Romusha dan Bung Karno


Sukarno,dengan latar belakang Romusha yang siap di pekerjakan



Romusha adalah catatan hitam seorang Sukarno. Ribuan bahkan ratusan ribu nyawa rakyat Indonesia yang begitu mencintai Bung Karno, mati dengan cara mengenaskan akibat sistem kerja paksa yang kejam zaman pendudukan Jepang. Ironis, karena justru Bung Karno yang ditugasi Jepang mendata dan “merayu” rakyatnya memasuki ranah kerja paksa yang mengerikan itu.


Bung Karno, dalam biografi yang ditulis Cindy Adams, mengakui itu semua dengan hati remuk. Bung Karno tahu para romusha yang dikirim ke Burma, hampir 99 persen mati. Ada yang mati kelaparan, mati disiksa, mati dipenggal kepalanya, mati di dalam gerbong kereta tertutup yang berisi ribuan romusha. 

Mereka dipaksa bekerja hingga tinggal kulit pembalut tulang.

Inilah pernyataan Bung Karno tentang romusha:
 “Sesungguhnya akulah –Sukarno– yang mengirim mereka kerja paksa. Ya, akulah orangnya. Aku menyuruh mereka berlayar menuju kematian. Ya, ya, ya, ya akulah orangnya. Aku membuat pernyataan untuk menyokong pengerahan romusha Aku bergambar dekat Bogor dengan topi di kepala dan cangkul di tangan untuk menunjukkan betapa mudah dan enaknya menjadi seorang romusha. Dengan para wartawan, juru potret, Gunseikan –Kepala Pemerintahan Militer- dan para pembesar pemerintahan aku membuat perjalanan ke Banten untuk menyaksikan tulang-tulang-kerangka-hidup yang menimbulkan belas, membudak di garis-belakang, itu jauh di dalam tambang batubara dan tambang mas. Mengerikan. Ini membikin hati di dalam seperti diremuk-remuk.”
 — 

Gurindam Melayu,







Sultan Hamid.II, dan Moh Hatta, mengakhiri perjuangan diplomasi keduanya dengan memperoleh pengakuan kedaulatan Republik Indonesia Serikat dari dunia bersama United Nations Commission for Indonesia dari PBB dan delegasi Belanda.



GURINDAM MELAYU,

Negeri kami sipusat dunia
Setidaknya begitulah diberi nama
Sebab mula dan akhir rotasinya
Di negeri kami duduk noktahnya



Kala tanahnya dikuasai durjana
Negeri bertahun dalam kegelapan
Menyamun dan aniaya perilaku rakyatnya
Selayak makhluk tanpa peradaban

Pangeran Nur Alam duduk bertahta
Setelah lumpuhkan tanjung bersiku
Segala penyamun kini tiada
Berganti dengan suku bersuku

Tak Cuma tawar laut dimuara
Danau dan perigi demikian juga
Tak hanya sekedar adat budaya
Sempurna negeri dengan ugama

Adalah cerita sahibul negeri
Kitab tercatat disetiap duli
Sehingga tahta silih berganti
Sentiasa makmur didalam bumi

Tahta ketujuh si elok rupa
Terserlah wajah dengan cahaya
Seperti paduan eropa dan asia
Tetapi sungguh Borneo rumahnya




Menemukan cinta dimanapun berada
Bukanlah sakti, ilmu jua asbabnya
Segala soalan terjawab padanya
Buktikan diri, utama dan bijaksana

Tak hanya dara datang menyukai
Bahakan ratu tak mau menjauhi
Saat Negara kelam bertikai
Sultan baharu selalu menengahi

Bersarang sarang punai diladang
Pamer kicaunya berdendang menari
Sayang disayang dengkipun datang
Dari durjana seberang negeri

Seperti Kabil nan tiada suka
Karena Habil mendapat mulia

Sungguhlah karat merusak sepuhan
Dari indahnya berlaku pelapukan
Dari keemasan menjadi kekusaman
Berubah asalnya kepada keburukan



Apalah guna sepuhan dilakukan
Pabila tampilan tak sesuai harapan

Sungguhlah hebat akibat kedengkian

Dari manusia mengaku tuhan



Sifat diceritera berwajah Sembilan
Merubah rupa sesuai dimaksudkan
Apalah beda gerangan syaithan
Sesuai maksud merubah pandangan

Tuhan disembah sebagai mestinya
Tetapi nafsu juga dipertuhankan
Banyak negeri runtuh ditangannya
Tetapi berlaku tanpa pertanggungjawaban

Cintanya bertepuk sebelah tangan
Kemana-mana berbuat kenistaan



Adalah mahkotanya bersemayam keagungan
Syahdan perilaku tak tunjukkan kewibawaan

Hendak menjadi raja diraja
Tapi berkali lakukan aniaya

Pernahkah terfikir dihari kemudian
Segala tebiat akan dipertanggungjawabkan

Berangkat titah keseluruh negeri
Fatwakan daulah jangan bercerai
Seabad sudah keberadaan sang Rajawali
Takkan sejarahnya hilang berderai