Minggu, 18 Maret 2012

Kalimantan Dalam angka,Populasi





Populasi Kalimantan dalam Angka,

Kalimantan Barat
Dayak 1.875.000 42,58%
Melayu 570.000 12,95%
Sambas 525.000 11,92%
Jawa 450.000 10,22%
Tionghoa 400.000 9,08%
Madura 250.000 5,68%
Bugis 150.000 3,41%
Sunda 55.000 1,25%
Banjar 28.000 0,64%
Lain-lain 100.000 2,27%
TOTAL 4.403.000

Kalimantan Tengah
Dayak 850.000 38,55%
Banjar 500.000 22,68%
Jawa 480.000 21,77%
Madura 80.000 3,63%
Sunda 35.000 1,59%
Tionghoa 15.000 0,68%
Bugis 5.000 0,23%
Lain-lain 240.000 10,88%
TOTAL 2.205.000

Kalimantan Selatan
Banjar 2.580.000 71,07%
Jawa 680.000 18,73%
Bugis 85.000 2,34%
Dayak 65.000 1,79%
Madura 55.000 1,52%
Sunda 30.000 0,83%
Tionghoa 25.000 0,69%
Lain-lain 110.000 3,03%
TOTAL 3.630.000

Kalimantan Timur
Jawa 1.200.000 33,76%
Bugis 550.000 15,47%
Banjar 380.000 10,69%
Dayak 270.000 7,59%
Kutai 255.000 7,17%
Sunda 70.000 1,97%
Madura 50.000 1,41%
Tionghoa 30.000 0,84%
Lain-lain 750.000 21,10%
TOTAL 3.555.000

Seluruh Kalimantan
Banjar 3.488.000 25,29%
Dayak 3.060.000 22,19%
Jawa 2.810.000 20,37%
Bugis 790.000 5,73%
Melayu 570.000 4,13%
Sambas 525.000 3,81%
Tionghoa 470.000 3,41%
Madura 435.000 3,15%
Kutai 255.000 1,85%
Sunda 190.000 1,38%
Lain-lain 1.200.000 8,70%
TOTAL 13.793.000

Sultan Hamid .II,dalam Lensa






Supadio,Bandara dalam wacana




Tetap Rencana, Nama Bandara Supadio Belum Berubah
Minggu, 08 Oktober 2006, 01:46:41 WIB


Rakyat Merdeka. Sampai saat ini penggantian nama Bandar Udara (Bandara) Supadio Pontianak menjadi Bandara Sultan Syarif Abdurrahman, belum pernah terealisasi. Padahal konon DPRD Provinsi Kalbar telah mengeluarkan keputusan mengenai penggantian nama tersebut.

Penggantian nama ini bahkan telah dibicarakan beberapa anggota Koorps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Provinsi Kalbar, di Pendopo Gubernuran beberapa waktu lalu, langsung kepada Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Pembicaraan tersebut berlangsung dengan dihadiri Gubernur Usman Jafar dan Ketua DPRD Provinsi Kalbar Zulfadhli, usai Pembukaan Teknologi Tepat Guna (TTG) di Pontianak yang dibuka langsung orang nomor dua di republik ini tersebut. Mereka menunjukkan Surat Keputusan (SK) Pergantian Nama Bandara yang saat itu diserahkan langsung ke Wapres Jusuf Kalla.

Namun mengenai penggantian nama tersebut, tampaknya harapan untuk mengganti nama Bandara Supadio dengan nama pendiri Kota Pontianak bak menuai angin. Bahkan Syamsul Bachri S, Grand Manager (GM) PT Angkasa Pura II mengisyaratkan beberapa sebab yang menjadikan penggantian nama itu tampaknya akan sulit dilaksanakan.

Meskipun penggantian nama bandara bukan menjadi kewenangan mereka, Syamsul menyebut ketika sebuah bandara telah diberi nama dengan mengacu pada figur atau tokoh, maka akan sulit untuk mengubah kembali nama bandara tersebut.

“Setahu saya, apabila sebuah bandara telah diberi nama sesuai nama orang (figur), walaupun telah dibahas secara berlebihan, sulit itu (merubah namanya),” ujar Syamsul. Namun dia menyebut perubahan nama bandara pada suatu daerah menjadi kewenangan DPRD setempat.

Persoalannya disebutkan Syamsul, saat ini nama bandara terbesar di Provinsi Kalbar tersebut diberikan mengacu pada salah seorang tokoh yang bernama Supadio.

Maka dengan melihat Supadio sebagai nama seorang figur, dia yakin akan sulit untuk mengganti nama Supadio dengan nama lain.

Syamsul mengakui adanya rencana penggantian nama bandara tersebut. Namun dia memaparkan proses penggantian nama jika betul-betul akan direalisasikan, maka akan memakan waktu lama dan sulit untuk diterima begitu saja.

Hanya saja, jika telah diputuskan oleh wakil rakyat dalam penggantian nama tersebut, maka itu telah menjadi kewenangan DPRD. “Persoalannya, jika telah diberi penamaan dengan nama orang, saya pesimis hal itu akan terealisasi,” tandasnya. ote/jpnn