Rabu, 07 November 2012

Prabowo Subianto,Catatan Pinggir



*** Catatan Mengenai Hari Pahlawan dan 
       Sikap Bangsa Indonesia Terhadap Penjajahan Asing ***

Sahabatku sekalian yang saya hormati dan saya cintai dimanapun engkau berada. 

Sebentar lagi kita akan memperingati hari pahlawan. 67 tahun yang lalu, pada tanggal 10 November dan kurang lebih 10 hari sesudahnya berkobar suatu pertempuran dahsyat di Surabaya, Jawa Timur - suatu kota yang sekarang kita kenal sebagai kota pahlawan.

Sahabatku, kalau kita membaca mengenai sejarah hari-hari tersebut, kita dapat larut dalam suatu kekaguman dan kebanggaan bahwa pada awal berdirinya negara kita, pada saat Republik Indonesia belum memiliki apa apa, rakyat Indonesia terutama arek-arek Suroboyo memilih untuk tidak tunduk kepada ancaman dan ultimatum bangsa asing.

Pada saat itu, tentara Inggris mengeluarkan ultimatum kepada rakyat Surabaya. Kalau dalam waktu yang ditentukan oleh Inggris (satu kali dua puluh empat jam) para pemuda Surabaya tidak meletakkan senjata dan meninggalkan Surabaya, maka tentara Inggris akan menggempur Surabaya dengan tembakan dari kapal perang dan pesawat udara.

Kita bisa bayangkan, ultimatum ini diberikan oleh tentara yang baru memenangkan perang dunia kedua. Namun kakek-kakek kita, pada usia mereka yang sangat muda, tidak gentar bahkan tidak bergeming. Mereka menolak ultimatum yang congkak dan arogan tersebut. Mereka menjawab dengan teriakan “Allahuakbar” dan pekikan “merdeka atau mati”. Mereka memilih melawan penjajah asing daripada tunduk, daripada menyerah, daripada berlutut di hadapan kekuatan congkak dan arogan.

Kita sungguh pantas untuk kagum dan hormat kepada generasi tersebut. Kepada mereka, arek-arek Suroboyo. Kita yang selalu diejek oleh bangsa-bangsa asing sebagai bangsa yang lemah, bangsa yang bodoh, bangsa yang malas, ternyata pernah tidak tunduk kepada ancaman, kepada intimidasi, kepada kekuatan asing.

Pada tanggal 10 November dan hari hari berikutnya, tentara Inggris menggempur Surabaya. Akibatnya, puluhan ribu orang kita gugur dan tewas. Tetapi arek-arek Suroboyo, para pejuang kita tidak menyerah. Walaupun banyak yang jatuh berguguran, walaupun mayat bertebaran di jalan-jalan dan di kali-kali Surabaya, pejuang-pejuang kita, pemuda-pemuda kita, didukung oleh seluruh rakyat Surabaya, tidak menyerah, tidak tunduk, tidak berlutut.

Sahabatku, kadang kadang dengan berlalunya tahun demi tahun, kita cendung lupa dengan jasa-jasa para pendahulu kita. Kadang-kadang, kita lupa dengan sejarah kita sendiri, ragu dengan jati diri kita sendiri.

Apa memang benar, kita bangsa yang lemah? Apa memang benar, kita bangsa yang kalah? Apa memang benar, kita bangsa yang malas, yang tidak mampu menghadapi bangsa lain?

Mungkin kita akan tercengang, mungkin kita akan kaget melihat betapa gagahnya para pendahulu kita. Bahwa dalam sejarah Indonesia, sepanjang ratusan tahun, selalu muncul pemimpin-pemimpin tangguh, pendekar pendekar pembela rakyat dan keadilan, tokoh-tokoh pejuang yang berani melawan penjajahan dan dominasi bangsa lain.

Bangsa yang kuat, dan bangsa yang besar, adalah bangsa yang tidak melupakan sejarahnya sendiri. Saya mengajak sahabat sekalian, terutama adik-adik yang masih muda, untuk belajar dan sadar akan sejarah bangsa Indonesia. Bahwa dalam sejarah nusantara, pernah ada peradaban peradaban yang besar. Pernah ada Sriwijaya, Mataram, Majapahit, dan sekian lagi kerajaan yang tangguh dan tersohor. Begitu banyak pendekar bangsa yang telah menunjukkan keberaniannya, ketangguhannya sepanjang sejarah. Rata rata mereka adalah tokoh tokoh yang berani, jujur, tanpa pamrih dalam membela keadilan dan kebenaran.

Sahabatku, di alam dan suasana negara kita saat ini, kita patut bersyukur dengan apa yang sudah kita capai sebagai bangsa. Janganlah kita tidak mensyukuri pemberian Tuhan Yang Maha Besar dan Maha Kuasa kepada bangsa dan negara kita. Saya juga mengajak sahabat sekalian, marilah kita juga menghormati pendahulu-pendahulu kita, pemimpin-pemimpin kita, yang dengan penuh kelebihan dan kekurangan, yang telah berhasil menjaga keutuhan NKRI sampai saat ini.

Semua pemimpin kita, semua Presiden kita, sampai saat ini adalah manusia-manusia yang memiliki kelebihan dan kekurangan. Tetapi kita yakini mereka memiliki hasrat untuk senantiasa menjaga keutuhan, kedaulatan dan kehormatan bangsa Indonesia.

Sahabatku, kita kadang kadang terlalu menaruh harapan kepada satu, dua atau tiga orang. Dan kalau ada hal-hal yang kurang baik, kita condong selalu menyalahkan satu, dua, tiga orang tersebut. Padahal kita harus menyadari, keberhasilan suatu bangsa membutuhkan peran serta banyak elemen, banyak komponen, dan banyak pribadi-pribadi yang tangguh dan bertanggung jawab.

Saya selalu ingat adagium yang berbunyi, "kalau orang baik diam semua, yang berkuasa adalah orang orang yang tidak baik".

Sahabatku, kalau dulu penjajahan datang dengan fisik secara brutal, kondisi sekarang mungkin lebih sulit. Penjajahan sering tidak terlihat. Tidak membawa tentara, tidak membawa kapal perang - walau di ujungnya ancaman itu selalu ada. Intimidasi, penekanan, dominasi, dan penguasaan bentuknya mungkin lain sekarang. Para penjajah menyogok pejabat-pejabat kita, mempengaruhi para intelektual kita, mengadu domba suku-suku kita dan agama-agama kita ala politik divide et impera.

Ini semua masih terus berlaku. Mereka yang tidak mau belajar sejarah akan dihukum oleh sejarah, dengan mengulangi kesalahan yang sama yang dilakukan oleh pendahulunya. Kita harus ingat akan hal tersebut. 

Karena itu saya prihatin kalau mendengar orang-orang pintar sekarang, meremehkan kata-kata seperti nasionalisme. Sungguh menyedihkan kalau ada tokoh masyarakat yang mengatakan nasionalisme itu tidak perlu lagi di jaman sekarang. Ada juga orang-orang pintar, bahkan saya pernah dengar seorang doktor mengatakan bahwa sekarang perbatasan sudah tidak berlaku. Saya geleng-geleng kepala, alangkah naifnya doktor tersebut. Kenapa Ia begitu mudah terbuai oleh ajaran-ajaran, dan pandangan-pandangan yang dikeluarkan oleh pihak-pihak yang saat ini sedang mendominasi dunia.

Kita akui, bahwa ada peradaban-peradaban yang sekarang mendominasi dunia. Kita juga perlu belajar dari mereka. Mereka juga banyak keberhasilan . Kita dalam hati memang kagum kepada keberhasilan mereka. Kita ingin negara kita dan rakyat kita meniru, menyusul serta mengejar pencapaian-pencapaian mereka.

Tetapi hendaknya janganlah kita terlalu naif, sifat manusia (human nature) tidak jauh berbeda. Maka itu selalulah kita rajin belajar sejarah. Teknologi boleh berubah, ilmu sains terus berkembang, kerumitan peradaban terus bertambah, tetapi sifat manusia, human nature, tidak berubah. Hasrat satu kaum untuk mendominasi kaum lain, hasrat satu bangsa untuk ingin menekan bangsa lain, tidak atau belum hilang. Sifat keserakahan, sifat ingin berkuasa dan menjajah orang lain dan bangsa lain masih tetap bertahan di dunia kita. Kadang-kadang caranya lebih santun, dibungkus dengan bahasa dan teknik yang lebih halus. Tetapi diujungnya kepentingan diri dan kepentingan bangsanya akan selalu menjadi motivasi utama dalam menjalankan hubungan dengan bangsa atau pihak lain.

Karena itu saya merasa sungguh aneh, bangsa bangsa lain boleh patriotik, boleh nasionalis, boleh mengutamakan kepentingan nasional mereka. Kalau bangsa Indonesia, kok tidak boleh?

Saya juga merasa sedih, di saat bangsa bangsa lain begitu gencar membangun peradaban mereka dengan memperbaiki teknologi mereka, industri mereka, pendidikan mereka, prasarana infrastruktur mereka, kita masih saja ribut dengan hal hal yang tidak mendasar. Pertikaian kecil dengan cepat menjalar menjadi perkelahian antara suku. Kalau sudah terjadi, saat ada korban yang meninggal, baru kita saling mencari kesalahan. Banyak kalangan orang pintar selalu mencela dan mencari kelemahan aparat pemerintah dan aparat keamanan. Sebaliknya banyak pribadi dalam pemerintahan dan institusi keamanan sering tidak sungguh sungguh mementingkan kepentingan nasional dan kepentingan rakyat dalam menjalankan kebijakan publik.

Sahabatku, sekarang kita mulai terasa betapa pentingnya ada pemerintahan yang bersih. Dengan pemerintahan yang tidak bersih, tidak efisien, kebocoran kekayaan negara terlalu besar. Dengan kebocoran yang terlalu besar, akhirnya jasa-jasa yang paling dasar, yang dibutuhkan oleh suatu negara moderen tidak bisa tersedia. Kebutuhan air bersih saja untuk rakyat banyak tidak bisa disediakan oleh pemerintah di banyak tempat di Republik kita.

Apakah kita heran kalau terjadi pertikaian dan kerusuhan antara suku dan antara desa, bisa cepat menjalar menjadi kerusuhan yang menghilangkan banyak nyawa? Karena terus terang saja sering aparat pemerintahan tidak dapat menunjukkan kehadirannya di banyak tempat di Indonesia. Reaksi pemerintah sering terlambat karena memang sistim yang dibangun oleh suasana demokrasi liberal ala menyontek dari barat telah menambah ketidakefisienan dan tidak efektifnya pemerintahan kita.

Sahabatku, sudah bertahun tahun saya mengatakan bahwa di Indonesia ini terdapat paradoks, terhadap kondisi janggal. Sudah sejak delapan tahun saya ungkapkan keadaan yang saya namakan “paradoks Indonesia”, bangsa yang kata tetapi rakyatnya miskin. Menurut pendapat saya, kemiskinan ini tidak perlu terjadi apabila para pemimpin yang menguasai pemerintahan melakukan kebijakan kebijakan yang berdasarkan kepentingan nasional dan kepentingan rakyat serta didasarkan atas akal sehat.

Sebagai contoh: baru saja dalam harian Kompas hari Jumat tanggal 2 November 2012, halaman 34, kita kembali diingatkan bahwa bangsa kita mengalami kerugian besar dari lapangan gas di Tangguh, Teluk Bintuni, Papua Barat. Di lapangan tersebut, gas kita yang dikelola oleh perusahaan asing, dipatok oleh mereka dengan harga US$ 3,35. Sedangkan gas yang sama, yang dari lapangan gas Bontang, yang pabriknya dikelola oleh Pertamina, bisa dijual dengan harga US$ 20 per mmbtu.

Menurut hitungan pakar energi saudara Kurtubi, kerugian yang dialami oleh negara kita akibat pengelolaan SDA oleh asing sangat besar, sampai ribuan triliun rupiah. Kalau kita pelajari masalah kebijakan di bidang energi, kita kadang merasa sedih, mengapa ada suatu pemerintah yang tidak berani berpihak kepada bangsanya sendiri. Kita dapat bayangkan seandainya lapangan Tangguh dikuasai oleh PT Pertamina, perusahaan kita sendiri, betapa banyak keuntungan yang dapat dinikmati oleh putra dan putri Indonesia.

Contoh lain, saya baru saja berbicara dengan seorang pejabat Pemda yang baru saja dipilih oleh rakyat. Ia bercerita kepada saya, bahwa hampir semua anggaran proyek dari APBD di daerahnya bocor antara 40 sampai 50 persen. Ia berkeyakinan bahwa hal ini terjadi di semua Pemda di seluruh Indonesia, bahkan di APBN kita.

Kalau rata rata setiap APBD pemerintahan kabupaten dan kota adalah Rp. 1 triliun, berarti APBD seluruh kabupaten dan kota berkisar di angka Rp. 500 triliun. Kalau kita bisa hemat dan menutup kebocoran 20 persen saja, maka kita bisa memiliki uang tunai Rp. 100 triliun. Kemudian kalau kita bisa menghemat APBN kita 20 persen saja, berarti kita bisa menghemat sekitar Rp. 300 triliun. Dari penghematan kebocoran saja kita bisa menghemat Rp. 400 triliun setiap tahun.

Saya juga sudah membaca laporan Bank Dunia baru mengenai laporan penerimaan pajak berbagai negara, sebagai perbandingan dari produk domestik bruto suatu negara (nilai semua jasa dan produk yang dihasilkan oleh suatu negara).

Saat ini, penerimaan pajak negara kita adalah 11 persen dari PDB kita yang Rp. 7.427 triliun, atau kurang lebih Rp. 873 triliun. Sebagai perbandingan, penerimaan pajak Singapura adalah 22 persen dari PDB mereka. Thailand 16 persen dari PDB. Zambia, sebuah negara di Afrika, penerimaan pajaknya adalah 16 persen dari PDB mereka. 

Bayangkan saudara-saudaraku, berarti kinerja pemerintahan kita kalah dengan kinerjanya Zambia. Seandainya kita bisa memperbaiki kinerja kita agar sama dengan Zambia, maka penerimaan kita bisa bertambah Rp. 500 triliun tanpa investasi baru. Bayangkan kalau kita bisa mengurangi kebocoran kita, kita bisa menambahkan Rp. 900 triliun setiap tahun ke kas negara kita.

Artinya, setiap tahun bisa memiliki tambahan Rp. 900 triliun untuk menambah puluhan juta hektar lahan baru, eksplorasi minyak dan gas di bawah laut yang belum tersentuh, bangun sekolah, rumah sakit, yang baik. Kita bisa, dalam satu generasi, menghilangkan kemiskinan di Indonesia. Hakim, jaksa, PNS, bisa kita tingkatkan taraf hidupnya agar mereka tidak perlu korupsi. Angkatan bersenjata kita bisa jadi moderen dan mampu menjaga kedaulatan dan wibawa negara kita. Kita bisa membuat tidak ada seorang pun dari suku manapun yang merasa tertinggal.

Kita bisa menjadi negara besar. Kuncinya ada di pemerintahan yang bersih, pemimpin-pemimpin yang bersih. Inilah perjuangan kita.

Saya ingatkan kembali, kalau orang orang baik diam, kita akan selalu ditindas oleh bangsa lain. Kalau saudara-saudara sekalian tidak mau terlibat di politik, saudara membiarkan elit oligarki yang selalu berbohong, yang bertutur kata manis namun hatinya menipu rakyat.

Sahabatku, inilah masalah bangsa kita saat ini. Menurut saya inilah makna dari renungan kita menjelang 10 November 2012, hari pahlawan kita.

Kita harus bertanya kepada diri kita sendiri, apakah jasad para pemuda, para pejuang, para rakyat Indonesia di seluruh nusantara hanya akan menjadi tulang tidak berarti, atau menjadi inspirasi bagi gerakan kita kedepan.

Jangan sampai, sahabatku yang bergabung di forum ini tidak tahu perjuangan i Gusti Ngurah Rai, Ignasius Slamet Riyadi, Wolter Mongindisi, bung Tomo, Pak Dirman. Jangan sampai nama Diponegoro, nama Gajah Mada, nama Untung Suropati, tinggal menjadi nama jalan dan nama taman di kota kota Indonesia.

Sahabatku, marilah kita sejenak berpikir tentang hal ini. Terima kasih anda sudah terus bersama saya di forum ini. Saya merasa sangat dihormati. Sekarang sudah mendekati 1,4 juta para sahabat saya di forum ini. Semoga komunikasi kita bermanfaat bagi bangsa dan rakyat yang kita cintai.

Wassalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh. Salam sejahtera bagi kita semua. Shalom Shanti Shanti Om. Selamat berjuang. Semoga Tuhan yang Maha Besar menyertai kita semua.

Bojong Koneng, 5 November 2012

Sahabatmu,

Prabowo Subianto

Tidak ada komentar:

Posting Komentar