Senin, 30 Juli 2012

Pameran Sejarah Lambang Negara Garuda Bertempat di Gedung Pancasila, Kementrian Luar Negeri RI, Jakarta…






(Foto foto dokumentasi )


“…NRMnews - JAKARTA, Jangan mengaku orang Indonesia bila belum melihat Garuda Pancasila, sosoknya yang gagah selalu hadir dalam ruang-ruang kelas, ruang-ruang kantor dan di mana saja di seluruh penjuru Tanah Air Indonesia.

Garuda Pancasila adalah lambang Negara Kesatuan Republik Indonesia. Oleh karena itu dalam rangkaian Peringatan HUT Kemerdekaan RI dan HUT Kementrian Luar Negeri RI ke 67 tahun 2012, Kementrian Luar Negeri RI mengadakan kegiatan pameran yang bertemakan “ Sejarah Lambang Negara Garuda ”.

Acara tersebut di gelar di Gedung Pancasila, Kementrian Luar Negeri RI, Jakarta. Pameran dilaksanakan dari tanggal 19 Juli – 14 Agustus 2012, pada setiap hari Selasa, Rabu dan Kamis, pukul 09.00 – 14.00 Wib.

Dalam sambutan pembuka Dirjen A.M. Fachir menyatakan selain dalam rangka peringatan
HUT Kemerdekaan RI dan HUT Kemlu, pameran Sejarah Lambang Negara Garuda ini juga dimaksudkan sebagai Open House Gedung Pancasila kepada khalayak umum.

“…Koleksi Pameran Sejarah Lambang Negara Garuda Bertempat di Gedung Pancasila, Kementrian Luar Negeri RI, Jakarta….” Foto By : Red NRMnews

Di mana Gedung Pancasila merupakan Gedung bersejarah yang menjadi bagian penting dari berdirinya Negara Republik Indonesia ini.

Agar khalayak umum pun mengetahui bagaimana sejarah Gedung Pancasila ini, bagaimana Pancasila sebagai dasar negara lahir di gedung ini, juga dengan UUD 1945.

Pameran menampilkan 20 panel proses perancangan lambang negara, biografi para perancang lambang negara antara lain Ki Hajar Dewantara, Sultan Hamid II, Muhammad Yasin, M. Natsir, M.A. Pellaupessy dan Poerbatjaraka.

Selama pameran berlangsung, juga akan diputar film dokumenter mengenai proses awal perancangan lambang negara. Dalam kesempatan ini acara pembukaan dihadiri pula oleh berbagai kalangan mulai dari Sejarawan, akademisi, mahasiswa, pelajar, instansi-instansi pemerintah hingga media massa.

( Oleh : Red NRMnews / Santi Widianti )

Kerajaan Saudi dan sejarahnya



(Syarif Husein bin Ali,Penggerak Revolusi Ottoman,Kemerdekaan Arab)




(Bendera dan simbol kerajaan Saudi Arabia,Hejaz dan Najadz)



Kerajaan Arab Saudi terdiri dari tempat-tempat suci Mekkah dan Madinah. Kedua kota adalah fokus politik pertama dari Dunia Muslim. Periode dari empat khalifah pertama setelah kematian Muhammad dikenal sebagai Al-Khulafa 'ar-Rasyidin: yang Rasyidin atau "benar dipandu" Khilafah.

Di bawah khalifah Rasyidin, dan, dari 661, penerus Umayyah mereka, orang-orang Arab dengan cepat memperluas wilayah di bawah kendali Muslim di luar Saudi.

Dalam hitungan dekade tentara Muslim berhasil  mengalahkan tentara Bizantium dan menghancurkan Kekaisaran Persia, perang besar menaklukkan wilayah dari semenanjung Iberia ke India. Fokus politik dunia Muslim kemudian bergeser ke wilayah yang baru ditaklukkan.

Dari abad ke-10 (dan, pada kenyataannya, sampai abad ke-20) Sharif Hashimiah dari Mekkah merupakan negara di bagian yang paling maju di wilayah ini,disebut  Hijaz.Domain mereka awalnya hanya terdiri kota-kota suci Mekkah dan Madinah tetapi dalam abad ke-13 itu diperluas untuk mencakup seluruh Hijaz.

Meskipun, Sharif dieksekusi pada otoritas kali paling independen, mereka biasanya tunduk pada kekuasaan raja dari salah satu kerajaan besar Islam dari waktu. Pada abad pertengahan, ini termasuk Abbasiyah di Baghdad, dan Fatimiyah, Ayyubiyah dan Mamluk Mesir.

Dimulai dengan akuisisi Selim I dari Madinah dan Mekah pada tahun 1517, Ottoman, pada abad ke-16, ditambahkan ke Kekaisaran mereka daerah Hijaz dan Asir sepanjang Laut Merah dan Al Hasa wilayah di pantai Teluk Persia.

Tingkat kontrol atas tanah ini berbeda-beda selama empat abad berikutnya dengan kekuatan fluktuasi atau kelemahan dari otoritas pusat Kekaisaran.

Di Hijaz, para Sharif Mekkah sebagian besar meninggalkan wilayah mereka (walaupun ada sering menjadi gubernur Ottoman dan garnisun di Mekah).


Pada awal abad 20, Kekaisaran Ottoman terus mengontrol atau memiliki kekuasaan raja (meskipun nominal) atas sebagian semenanjung dengan Sharif Mekkah memerintah Hijaz.

Pada tahun 1916, dengan dorongan dan dukungan dari Inggris (yang melawan Ottoman di Perang Dunia I), Hussein bin Ali dari Hijaz memimpin pemberontakan pan-Arab terhadap Kekaisaran Ottoman dengan tujuan mengamankan kemerdekaan Arab dan menciptakan sebuah single terpadu negara Arab yang mencakup wilayah Arab dari Aleppo di Suriah ke Aden di Yaman.

Setelah runtuhnya Ottoman kekuasaan negeri  Hijaz dan najd terpecah menjadi dua kekuasaaan.yang independen dan berdiri sendiri.Syarif Husein bin Ali dinobatkan  sebagai raja di Hijaz,sedangkan wilayah Najd dikuasai oleh Ibnu Saud,yang memang sedang menunggu titik lengah Hijaz untuk kemudian menguasainya,dengan dukungan diam-diam dari Kantor Luar Negeri Inggris.
Syarif Husein adalah penguasa resmi dan sah negeri Hijaz,sebelum kemudian di aneksasi oleh Ibnu Saud dengan dukungan pemikiran Muhammad ibnu Abdul wahab,berfaham wahabiyah.

 Ibnu Saud, atau Abdul Azis ,yang berkuasa sebagai raja  di dataran tinggi Najd,melancarkan aneksasi terhadap Hijaz pada tahun 1925 dan menetapkan anaknya sendiri, Faysal bin Abdul-Aziz Al Saud, sebagai gubernur Hijaz.Pada 10 Januari 1926 Abdul Aziz menyatakan dirinya sebagai Raja Hijaz dan, kemudian, pada tanggal 27 Januari 1927 meegaskan juga dirinya sebagai penguasa Najd,sejak itu Ibnu Saud menguasai Hijaz dan Najd. Sebelum bergelar raja,penguasa hijaz dan Najd biasanya disebut :"Sultan"

 Dengan Perjanjian Jeddah, ditandatangani pada 20 Mei 1927, Inggris mengakui kemerdekaan wilayah Abdul Aziz (kemudian dikenal sebagai Kerajaan Hejaz dan Najd).

Pada tahun 1932, kedua kerajaan Hijaz dan Najd disatukan sebagai "Kerajaan Arab Saudi"

Kamis, 19 Juli 2012

Menjadi ‘Tangan Allah’





Menjadi ‘Tangan Allah’
Posted on April 2, 2012 by MuhsinLabib

Suatu hari seorang Badui Arab datang kepada Husain bin Ali, cucu Nabi Saw.

“Aku memiliki hutang yang aku tidak dapat bayar. Aku datang kepada Anda untuk meminta bantuan karena aku telah mendengar kemuliaan dan kepemurahan Anda,” katanya sesaat setelah mengucapkan salam.

Al-Husain tersenyum lalu balik bertanya, “Aku akan mengajukan tiga pertanyaan kepadamu. Jika kau dapat menjawab pertanyaan pertama, aku akan memberikan uang untuk membayar sepertiga hutangmu. Jika kau menjawab pertanyaan kedua, aku akan memberikan sepertiga yang lainnya. Jika kau dapat menjawab ketiga pertanyaan dengan benar, aku akan memberikan uang yang kau perlukan untuk membayar semua hutangmu.”

Orang Badui itu risau. “Wahai pemimpinku, Anda adalah orang yang sangat berilmu dan aku adalah seorang dungu di hadapan anda,” katanya galau.

“Aku mendengar dari datukku, bahwa kebaikan harus dilakukan kepada seseorang berdasarkan pemahamannya terhadap agama dan kewajiban-kewajibannya kepada Allah,” ujar Al-Husain.

Badui itu berkata, “Bertanyalah, Aku akan memberitahu apa yang aku ketahui. Jika aku tidak memiliki jawaban, aku akan belajar dari Anda dan mengingat jawabannya sebagai bekal masa depanku,”

“Baiklah. Di antara seluruh perbuatan yang baik, manakah yang terbaik?”

“Beriman kepada Allah dan beriman kepada Tauhid-Nya,” sahutnya spontan.

“Apa yang dapat menyelamatkan manusia dari kebinasaan?” tanya beliau lagi.

“Bersandar kepada Allah dan mempercayakan kepada-Nya,” jawabnya mantap.

“Apa yang memberikan manusia kemuliaan?” tanya beliau.

“Ilmu dan sifat pemaaf (atas kesalahan-kesalahan orang lain),” jawabnya

“Jika dia tidak memiliki pengetahuan?”

“Harta dan sifat pemurah.”

“Bagaimana jika dia juga tidak memilikinya?’

“Semoga petir menyambar dan membakarnya, karena dia layak mendapatkannya!” tukasnya.

Imam tersenyum seraya menyerahkan kepada badui itu sejumlah uang yang melampaui biaya melunasi hutangnya. Sebelum berpisah, Imam menghadiahkan cincin kepadanya.

Pembaca yang berpuasa,

Tauhid dan keyakinan akan keberadaan Zat Adi Kodrati adalah tanda masuk ke dalam ruang ketulusan dan kebeningan yang bebas dari polusi pamrih dan debu takabur. Hanya orang yang percaya akan Tuhan Maha Penyiksa-lah yang tidak melakukan dosa terutama di bulan Ramadhan. Dengan Tauhid, kita dapat mencegah diri untuk tidak melakukan tindakan aniaya terhadap diri sendiri dan orang lain. Mana mungkin seseorang berani melakukan perbuatan dosa bila ia yakin bahwa semua perbuatannya akan diaudit oleh Yang Maha Adil…

Pembaca tercerahkan,

Sering kali kita tidak melakukan perbuatan berdasarkan klasifikasi urgensi dan kewajibannya. Kadang kita melakukan sejumlah perbuatan yang menurut kita sangat penting, padahal menurut urutan syariat, ada yang lebih wajib untuk kita lakukan.

Kita kadang karena kasihan dan iba, meminjam uang untuk kita pinjamkan atau kita sumbangkan kepadanya, padahal boleh jadi, kita akan menyusahkan orang yang meminjamkan uang itu saat kita tidak mampu melunasi hutang itu. Membantu orang apalagi teman yang sedang kesulitan selama baik dan terpuji, namun kita mesti sadar bahwa Allah akan meminta pertanggungjawaban sesuai dengan potensi dan kemampuan yang telah diberikannya.

Beruntunglah orang yang berhasil menyandingkan pengetahuan dan toleransi dan memaafkan. Ia mulia karena dengan pengetahuan dan kesabarannya, menerima ragam manusia dengan aneka karakter, kebiasaan, cara komunikasi, latar belakang dan kecenderungan. Ia menjadi mulia karena mengorbankan egonya demi orang lain yang lebih awam dari dirinya. Itulah pengorbanan yang layak ditebus dengan hamparan karunia, limpahan pahala dan sentuhan kasih Allah.

Beruntunglah orang yang mampu menggabungkan kekayaan dengan kedermaan. Kekayaan yang dimilikinya tidak dipandangnya sebagai keberuntungan namun jalan beribadah dan lorong rezeki Allah untuk orang lain.

Ia berderai tangis saat hartanya berkurang bahkan lenyap oleh serbuan para fakir miskin. Ia tersenyum bukan karena menikmati rasa ‘pahlawan’, namun karena terharu bahagia saat dinobatkan sebagai ‘Tangan Allah’ yang mengantarkan sesuap nasi, secercah senyum dan sebaris harapan akan masa depan yang lebih baik di negeri kita yang sedang meratap ini.