Selasa, 29 Mei 2012

harta Qarun Alqadrie di Pulau lombok,(bagian kedua)





(Dua Relawan Lombok, Sayyid Fuad Alkaf, dan Sayyid Thaufik Alkadrie)



(Habib Saleh Jamalullail, Ampenan)




(Habib Badri Alkadrie, Desa Pengkores, usia 85 tahun (2012)



(Habib Jafar Alkadrie, Desa Pengkores  ( usia 56 tahun, thn.2012)



(Penulis bersama Thaufiq alqadrie, diatas Pemakaman Sekar Bela,) 

Makam disini sebagian besar tanpa Nisan diatasnya, terutama yang diyakini sebagai makam jasad dari Sayyid Abubakar alqadrie, Nenek moyang sebagian besar Alqadrie yang ada di Pulau Lombok.


Habib Ali Habsyi,  Lombok Tengah,  NTB



Habib Ali Alqadrie, Sekarbela, Lombok  NTB  (2012)



Riwayat Sayyid Abubakar Makam Jeranjang, Lombok Barat,

 Mataram, Nusa Tenggara Barat, 

dan  2000 (Dua ribu jiwa) Alqadrie di Pulau Lombok, 


Konon menurut Riwayat Versi lain,

Abubakar sebetulnya adalah putra Sultan Abdurrahman Pontianak, beliau adalah Pangeran Syarif Abubakar bergelar Pangeran Laksamana, sebab beliau menguasai ilmu pelayaran sangat baik. Pada Masa Pemerintahan Saudaranya, Sultan Usman, sebagai Raja yang duduk di tahta istana Kadriah di Pontianak, dimana zaman itu pengaruh kekuasaan Belanda/VOC, sangat dominan diseluruh wilayah jajahan Hindia Belanda, atau Nusantara ini.

Konon setelah dilantik dengan resmi, Sultan Usman dipaksa menanda tangani perjanjian dengan VOC, hal mana dalam perjanjian tersebut, banyak sekali hak hak kesultanan yang dirugikan dan dikebiri oleh Penjajah, tentu saja hal tersebut memicu kemarahan keluarga besar kesultanan pontianak, salah satunya adalah Pangeran Laksamana Abubakar.

Beliau berbeda pendapat dengan saudaranya Sultan Usman, oleh karena itu, Belanda lalu menangkap dan membuangya ke pulau Sumba, dibagian timur kepulauan indonesia, sekarang masuk wilayah Nusa Tenggara Timur.

Versi lain mengatakan, beliau memang dengan kesadaran sendiri, keluar dari Kesultanan, dan memilih Sumba sebagai markasnya, untuk menggerakkan perlawanan terhadap Belanda.

Alkisah, beliau menetap disana, sebagian mengatakan bahwa beliau meninggalkan keluarga dan anak istrinya di pontianak, sebagian lagi mengatakan, beliau membawa serta mereka semua, tentu saja hal ini harus dikaji lebih jauh dan lebih teliti lagi.

Bukti sejarah adalah, di tanah Sumba dan Waingapu, ditemukan banyak keturunan Alqadrie, termasuk tokoh yang menonjol adalah,  Al Habib As Sayyid Abdurrahman Alqadrie, yang makamnya di temukan di Waingapu, dan sangat di hormati penduduk setempat.

Syahdan setelah sekian lama di Sumba, atau Nusa tenggara Timur, beliau lalu berlayar Ke Sumbawa, untuk menyebarkan ajaran Islam yang diyakininya, dan berbaur dengan masyarakat setempat.

Dikatakan bahwa di sumbawa beliau menikahi wanita setempat, dan memperoleh keturunan, yang sampai saat ini banyak ditemukan di sumbawa Besar, dan sumbawa barat, yang sekarang menjadi Kabupaten Sumbawa barat, dengan ibu kotanya :  TALIWANG.

saya sempat menemui Sayyid Fathi Alqadrie, beliau bermukim di pinggiran kota Taliwang, jalan yang mengarah ke Labuan balad, bersama istri beliau yang seorang Notaris cukup dihormati disitu. Negeri Indah yang belum terjamah ini, menyimpan potensi besar yang luar biasa. Tanahnya mengandung cadangan emas yang lebih besar dari Prefort, kemana saja digali, ditemukan kangdungan emas disana.

Selain itu, panorama alam yang luar biasa indahnya. Eksotis, dengan bentangan pantai berpasir putih, air laut biru jernih, gugusan pulau kosong, bukit padas dan kapur, menghiasi keindahan alamnya, luar biasa.

Alkisah, setelah beberapa lama menetap di sumbawa, Pangeran Laksamana, melanjutkan pelayaranya ke seberang, yaitu pulau lombok, sekitar abad ke 18, atau akhir abad itu.

Disini beliau menetap di desa sekar bela, sambil menyebarkan agama Islam, dan dawahnya.

Raja anak agung merasa terusik dengan kedatangan beliau, yang nota bene adalah seorang Pangeran dari kerajaan lain, yang cukup di hormati dan disegani oleh banyak negeri.

Pangeran laksama Abubakar lalu menikahi wanita setempat, dan dikarunia dua orang Putra, diberi nama ALI dan ALWI. sebagian pendapat mengatakan bahwa ALI dan ALWI adalah saudara kembar, sebagian mengatakan mereka kakak beradik, dua saudara kandung, satu ayah dan satu ibu.

Setelah pangeran laksamana Abubakar terbunuh, kedua kakak beradik ini disembunyikan ibunya, dan disuruh keluar dari Sekar bela, karena khawatir akan dibunuh juga oleh Raja Anak agung pada masa itu yang berkuasa di tanah Selaparang, Pulau lombok.

Menurut penulis, mungkin Mitos seputar Abubakar sebagai anak kecil yang ditinggalkan di pinggir pantai, ada hubungannya dengan kedua kakak beradik ini. Bukan ayahnya yang ditemukan masih kecil, tapi kedua putranya ini. (tapi ini hanya analisa penulis saja  ) , kebenaranya, perlu penelitian lebih lanjut dan mendalam.

Dari kedua kakak beradik inilah, keturunan alqadrie berkembang di Pulau Lombok, Ali menurunkan banyak keturunan yang menetap di desa Sekar Bela, sedangkan Alwi menurunkan banyak keturunan di daerah desa Kopang, Pengkores, perbatasan Lombok Timur dengan lombok Tengah.

hanya saja , mereka tidak banyak mengerti nasab mereka, dan siapa mereka. hal inilah menyebabkan sebagian para sayyid yang ada di indonesia, menganggap mereka bukan bagian dari keluarga besar Alawiyin yang hijrah dan menetap di bumi nusantara ini. Termasuk Rabithah Alawiyah jakarta, dan Al Maktab Addaimi sekalipun, masih menemukan banyak kendala dalam memastikan siapa mereka sebenarnya???

Saya sempat bersilaturrahmi dengan beberapa tokoh tua mereka, diantaranya:

01.Habib ABDURRAHMAN Alqadrie, usia sekitar 65 tahun, bergelar Tuan Guru Sayyid ABDURRAHMAN Alqadrie, yang saya temui dirumah beliau di Desa Labu Api,  sekitar 15 Km dari pusat Kota, arah ke Pelabuhan lembar di Lombok Barat. dirumah sederhanaa beliau, tergantung foto yang berbingkai rapi, foto kenangan beliau bersama Emha Ainun najib dan Sultan Syarif Abubakar Alqadrie, Sultan pontianak,yang masih memangku tahta kesultanan kadriah, sejak dinobatkan pada tahun :2004 silam , hinggga tulisan ini dibuat.(Mei 2012)

02. Habib Sayyid Ali bin Hasan Alqadrie, keturunan Ali, yang menetap di desa Sekar Bela, masih wilayah kota mataram, Lombok. Saat ditemui, usia beliau sekitar 70 atau 75 tahun, (Mei 2012)
beliau menyambut saya dengan mata berbinar, dan memeluk saya dengan pelukan seorang ayah, yang merindukan anaknya, karena beliau sudah diberi tahu oleh putranya, Umar Alqadrie, bahwa saya datang dari Pontianak. dari sini saya diantar ke makam keramat, Sekar bela, yang tanpa nisan, sebagian tertutup semak belukar, dimana dipercayai bahwa jasad Abubakar atau Pangeran Laksamana Sayyid Abubakar Alqadrie, dimakamkan.

03. Habib Sayyid Badri Alqadrie,usia 90 tahun, saya temui di Desa Kopang, pengkores lombok tengah. Beliau merupakan sesepuh Alqadrie disini, sebagai orang tertua.

04. Habib Sayyid Ja"far Alqadrie, usia 56 tahun, biasa dipanggil Abah, di desa Pengkores, kopang Lombok Tengah, disinilah tempat penulis bermalam. Beliau termasuk tokoh yang sangat dihormati oleh masyarakat sekitar tempat ini. Disamping rumah beliau, ada mesjid yang cukup bagus, baru selesai dibangun, tempat beliau mengajar mengaji, anak anak penduduk terdekat, yang berjumlah sekitar 60 anak, setiap habis sholat Magrib sampai sholat Isya.

Dengan segala kesederhanaan, beliau memperlakukan saya lebih dari seorang saudara. Ketika menjelang berpisah, saya memeluk beliau dengan dada sesak dipenuhi keharuan, ternyata, banyak saudara saya yang tidak pernah menginjakkan kaki di tanah leluhurnya. banyak keluarga saya yang dihina dan difitnah, ditanah yang jauh dari Istana nya. Ahh, betapa beruntungnya saya yang pada masa kecil, sempat bermain main di Istana Kadriah,

05.Habib Sayyid hamid Alqadrie, usia 70 tahun, beliau menetap dan menikmati masa tuanya di Desa Sayang - sayang, kota mataram. Meskipun bukan berasal dari keturunan habib Husein bin Ahmad Alqadrie, tapi beliau menerima saya dengan tangan terbuka.

Bahkan beliau meminta mantu keponakanya, Sayyid Thaufiq Alqadrie, untuk mendampingi saya dan mengantarkan kemana saja, guna memenuhi keingin tahuan saya yang begitu besar, terhadap 2000 jiwa Alqadrie, yang tak bisa mengurus buku nasabnya, karena ketidak tahuan mereka, dan terbatasnya data di Rabithah.

06. Habib Sayyid Ali Al Habsy, usia sekitar 50 atau 60 tahun,saya temui dirumah beliau, yang kebetulan saat ini ( Mei 2012) masih menjabat sebagai ketua Rabithah wilayah nusa tenggara barat. kami berdialogh dengan santai, hingga tak terasa waktu menunjukkan pukul 4 sore, sebelum berpamitan, beliau sempat berpesan : "Rabithah memang membutuhkan banyak orang yang mau  peduli, dan mau berbuat, serta turun ke bawah dengan spontan dan tanpa pamrih,!" kata beliau kepada kami.

07. Habib Sayyid Saleh jamalullail, usia sekitar 60 atau 65 tahun, saya temui di Ampenan. Beliau bercerita, bahwa beliau pun termasuk orang yang setengah mati, ketika mengurus nasabnya. Sampai membutuhkan waktu sekitar 3 tahun, mencari banyak referensi, bertanya kesana kemari, dan mengalami trauma Phisikis , karena sulitnya membuktikan bahwa baliau juga Alawiyin , Saadah, keturunan Sayyid, yang kebetulan lahir dan besar di Pulau lombok, bukan di Pulau Jawa.

Mungkin sudah saatnya Rabithah menurunkan team statistik, memperbaharui catatan catatan, mencari sambungan mata rantai nasab yang belum tersambung, dan mengubah cara bekerja dengan aktif jemput bola, bukan hanya menunggu permohonan masuk seperti selama ini , dan terpaku pada catatan yang dulu dirapikan pada tahun, 1936.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar