Minggu, 26 Februari 2012

Dekonstruksi indonesia,sebuah pemikiran,




Negara kita adalah negara besar,dengan bentangan ribuan pulau,suku,bangsa,dan etnis,dperkaya aneka bahasa,dan kebudayaan.Negara kita juga dibekali dengan kekayaan yang luar biasa besarnya,hasil alam,hutan,tambang,bahan galian,hamparan pertanian dan persawahan,kekayaan laut,tak salah kalau sebagian bangsa lain menganggap negara kita adalah surga di bumi,ironisnya,penduduk yang menghuni negara kaya ini,hidup dalam kemiskinan dan kekurangan,sebagian masih ditemukan kelaparan,ketiadaan listrik,ketiadaan sarana pendidikan,bahkan di pusat pemerintahan,kota jakarta,masih ditemukan para gelandangan dan pengemis,manusia gerobak,orang yang hidup dibawah jembatan layang,diantara deru lalu lintas kendaraan dan mobil mewah,dan dilewati hampir setiap hari oleh mereka yang dinamakan pejabat negara,lalu apakah yang salah?

UUD dasar mewasiatkan :
"Bumi dan Kekayaan alam dikuasai oleh negara,dan digunakan sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat"
"Fakir miskin dan anak yatim,serta orang terlantar,dipelihara oleh negara"

mungkin kita tidak harus mencari siapa yang salah,tapi apa yang salah?
Kesalahan terbesar adalah perlakuan segelintir orang,pejabat publik,para wakil rakyat yang sibuk cari fee proyek,para koruptor,dan orang -orang yang lupa,bahwa besok kita akan mati dan meninggalkan semua yang kita dapat dengan cara yang tidak halal tersebut,dan kita akan ditanya apa yang telah kita lakukan semasa hidup.

Beberapa langkah memperbaiki negara ini,
Step.I
1.Ubah undang undang Korupsi dengan hukuman yang memiliki efek jera,dan hukum sosial,
2.Siapkan pulau kosong yang akan digunakan sebagai pusat rehabilitasi para koruptor

step.II
1.Buat Undang Undang korupsi dengan usulan dari bawah,langsung dari masyarakat,dirumuskan,dan diserahkan kepada para anggota dewan yang benar benar masih memiliki hati nurani,dengan suatu dewan pengawas dari rakyat,agar undang undang tersebut bisa terwujud dengan benar,dan bukan atas hasil bargaining power atau bargaining politik,
2.Bebaskan para koruptor yang sudah menerima vonis tetap,dengan catatan,mereka sudah mengembalikan apa yang mereka korupsi kepada kas negara,(rehabilitasi)

Step.III
1.Terapkan Undang Undang Baru tersebut,efektif pada saat diundangkan,dan akan menjerat mereka yang melakukan tindak pidana korupsi,terhitung mulai undang undang tersebut diundangkan,
2.Para terpidana korupsi ditempatkan pada satu pulau khusus,mirip transmigrasi dulu di jaman orde baru,dengan diberikan lahan dan rumah sederhana,agar mereka produktif dan berkesadaran untuk kembali membangun bangsa dan negara tempat dimana mereka lahir ini,sebagai manusia baru.

pada saat seseorang koruptor ditetapkan sebagai tersangka,maka ia harus melepas semua predikat dan jabatanya,sebagai pejabat publik dan atau sebagai wakil rakyat,dengan dukungan media yang gencar,agar punya efek psikologis,efektif membuat jera,dan mereka yang akan korup berikutnya,berfikir seribu kali untuk dibuang kesebuah pulau khusus,dengan penjagaan ekstra ketat,mirip ALCATRAZ,menjadi petani biasa,tanpa dukungan sinyal Hp,jauh dari keramaian,jauh dari Mall,jauh dari kerabat,sanak saudara,family,kolega,dan jaringan nya.

Sabtu, 11 Februari 2012

meriam karbit,suatu tradisi unik kota pontianak,



(Proses Pembuatan Meriam Karbit)

(Meriam Karbit dalam baliho)


(Tradisi Perang Meriam Karbit)

(Meriam Karbit,sebuah tradisi unik masyarakat Pontianak,Tepian kapuas)

Meriam Karbit
Tradisi Malam Lebaran di Kota Pontianak

Seperti tahun-tahun sebelumnya, menjelang Hari Raya Idul Fitri sebagian warga Kota Pontianak kerap memadati tepian Sungai Kapuas. Maksud kedatangan mereka tidak lain adalah untuk menyaksikan permainan rakyat meriam karbit. Seperti apa permainan meriam karbit itu?


Dilihat dari aspek sejarah, pPermainan meriam karbit memiliki pertalian erat dengan sejarah berdirinya kota Pontianak. Saat itu, Sultan Sayyid Syarif Abdurrahman Alkadri, pendiri Kota Pontianak, yang juga sultan pertama Kesultanan Pontianak, menembakkan meriam ke arah daratan. Tujuannya adalah untuk mengusir hantu kuntilanak yang konon saat itu banyak bergentayangan di daratan.

Untuk mengenang peristiwa bersejarah itu, warga masyarakat Kota Pontianak, khususnya yang tinggal di tepian Sungai Kapuas membuat meriam-meriaman berbahan batang kayu gelondongan besar. Meriam dari kayu itu kemudian di beri karbit (CaC2) dan di sundut dengan nyala api di salah satu sudutnya. Tradisi unik ini bisa di jumpai mulai pekan ke dua bulan Ramadhan.

Meriam karbit wujudya bukan seperti meriam dari besi. Meriam ini terbuat dari kayu besar yang berdiameter kurang lebih 50 cm - 100 cm, dengan panjang antara 4 - 7 meter. Pada salah satu bagiannya, tepatnya di tengah meriam, di beri lubang. Cara mainnya mudah. Sebelum di sulut, meriam terlebih dahulu diisi dengan air dengan jumlah tertentu. Kemudian, didalamnya dimasukkan karbit.

Karbit yang bereaksi dengan air akan menghasilkan gas yang jika disulut dengan api akan mengakibatkan ledakan. Untuk satu kali permainan paling tidak dibutuhkan sekitar 3-5 ons karbit. Suara ledakan yang di hasilkannya mampu menggoyangkan bangunan di sekitarnya. Pada beberapa kasus, pernah terjadi pecah pada rumah. Kondisi ini terjadi jika jarak antara meriam dengan rumah terlalu dekat.

Secara teoritis, ledakan yang di timbulkan meriam karbit di karenakan adanya konsentrasi gas di tempat yang sempit. Gas yang di hasilkan karbit memiliki sifat mudah terbakar. Akumulasi gas dalam jumlah besar dapat di peroleh dalam waktu relative singkat melalui pencampuran air dengan karbit. “Karbit memiliki rumus kimia CaC2. 

CO2 yang terkandung dalam karbit dapat terlepas jika karbit terkena air. Jika gas CO2 berkumpul dan terakumulasi dalam ruang sempit (dalam meriam), maka gas akan mudah terbakar jika terkena api,” jelas Dekan Fakultas MIPA, DR. Thamrin Usman, DEA.

Efek ledakan akan semakin dasyat jika jumlah karbit dan air mengunakan perbandingan 2:1. Secara hitungan sederhana, untuk menghasilkan gas CO2 yang besar, 0,8 ons karbit harus di campur dengan 35cc air. Selain menggunakan karbit, ledakan juga bisa di timbulkan melalui pemanpatan gas LPG (Liquefied Petroleum Gas). Cara kerjanya sederhana, yakni gas LPG di mampatkan dalam ruang sempit. Setelah padat, gas LPG kemudian di sulut dengan api. Hasilnya, sebuah ledakan besar pun akan terjadi.

Seperti apa meriam karbit tempo dulu? Wujud meriam karbit dari tahun ketahun menurut Anwar, warga Kampung Bansir, terus mengalami evolusi. 

Dulu, meriam karbit dibuat dari bahan batang kelapa atau batang pohon pinang. Seiring dengan berlakunya masa keemasan industri kayu, batang kelapa serta batang pohon pinang pun diganti dengan kayu gelondongan. Bunyi yang di hasilkan pun di jamin memekakkan gendang telinga.

Untuk memperoleh kayu yang berkualitas, kata Anwar, kayu hendaknya di rendam di dalam lumpur yang ada di dasar Sungai Kapuas. Tujuannya adalah membunuh serangga yang memakan kayu. Setelah sekian tahun di penamkan di dalam lumpur, kayu kemudian di naikkan ke atas panggung nibung. “Proses penaikkan kayu ini terbilang sulit. Untuk meringankan kerja, biasanya kayu di naikkan saat air sedang pasang,” terangnya.

Jika telah di rangkai sedemikian rupa, suara dentuman dari meriam karbit berbahan kayu ini sangatlah keras. Gelegar suaranya terdengar sampai dengan 4-5 kilometer dari panggung. Tak jarang suaranya menimbulkan gema yang berulang.

Bagi warga yang gemar akan tantangan, mereka dapat meraakan sensasi yang luar biasa saat menyulut meriam karnit. Dentuman suaranya yang menggemuruh mampu mengguncangkan gertak dan panggung kayu nibung yang dibangun di tepian Sungai Kapuas. Aksi ini jelas memacu kerja jantung.

Pesona permainan rakyat meriam karbit ini jelas memiliki nilai pesona budaya yang menarik. Menurut H Martias, Ketua MPI (Masyarakat Pariwisata Indonesia) Kalbar, tidak sedikit wisatawan nusantara dan mancanegara yang terpesona dengan permainan meriam karbit di kota Pontianak. 

Bagi para wisatawan, permainan seperti itu jelas merupakan sesuatu yang langka. Besar kemungkinan, atraksi meriam karbit hanya ada di Kota Pontianak, Kalbar. “Kami dari MPI sangat berharap jika permainan rakyat meriam karbit ini dapat di gelar setiap tahun. Tentunya jauh hari sebelumnya diikuti dengan promo wisata,” sarannya.** Diisi SIM BUDPAR PROV KALBAR

Rabu, 08 Februari 2012

Rancangan Lambang Negara,Garuda Pancasila,










Surat Kabar yang terbit dalam rangka haul sultan Hamid.II




Riwayat dan kelahiran sultan hamid.II





DAFTAR RIWAYAT HIDUP SULTAN HAMID II

Allahyarham Sultan Hamid II

Nama Lengkap: Sultan Syarif Hamid Alkadrie

Nama Panggilan: Sultan Hamid II

Nama Kecil: Max

Tempat/Tanggal Lahir: Pontianak, 12 Juli 1913

Orang Tua:
Ayah: Sultan Syarif Muhammad Alkadrie
Ibu: Shaikha Jamila Sharwari

Istri: Ratu Mas Makhota Didi /Dina (Didi) van Delden

Anak:
Syarifah Zahra Alkadrie/Edith Denise Corry Alkadrie
Syarif Yusuf Alkadrie/Max Nico Alkadrie

PENDIDIKAN:

- ELS (Europeesche Lagere School) di Sukabumi, Pontianak, Yogyakarta, dan Bandung
ELS adalah Sekolah Dasar/Sekolah Rendah pada jaman Hindia Belanda

- HBS (Hogere Burger School) di Bandung Satu Tahun
HBS adalah Sekolah Lanjutan Tingkat Menengah pada jaman Hindia Belanda

- THS (Technische Hooge School), Fakultas: de Faculteit van Technische Wetenschap, Jurusan: de afdeeling der Weg en Waterbouw, di Bandung, Angkatan Pertama, Tahun 1932
THS adalah Perguruan Tinggi pada Jaman Hindia Belanda, sekarang disebut Institut Teknologi Bandung (ITB) yaitu merupakan sebuah perguruan tinggi negeri yang berkedudukan di Kota Bandung.

- KMA (Koninklijke Militaire Academie)/Akademi Militer Belanda di Breda, Belanda, Tahun 1933 s/d 1936, Letnan Dua Infantri KNIL (Koninklijke Nederlands(ch)-Indische Leger)/Kesatuan Tentara Hindia Belanda


JABATAN/KARIR:

- Letnan Dua Infantri KNIL (Koninklijke Nederlands(ch) -Indische Leger)/Kesatuan Tentara Hindia Belanda, Tahun 1936

- Sultan Pontianak ke-VII (Kesultanan Kadriah Pontianak), 29 Oktober 1945

- Mayor Jendral (Generaal-Majoor) KNIL (Koninklijke Nederlands(ch)-Indische Leger)/Kesatuan Tentara Hindia Belanda, Tahun 1946

- Ajudan Istimewa Ratu Kerajaan Belanda (Adjudant in Buitengewone Dienst van HM Koningin der Nederlanden), Tahun 1946

- Kepala Daerah Istimewa Kalimantan Barat (DIKB) Tahun 1947 s/d 1950

- Ketua BFO (Bijeenkomst voor Federaale Overleg)/Majelis Permusyawaratan Federal, Tahun 1948

- Ketua Delegasi BFO (Bijeenkomst voor Federaale Overleg)/Majelis Permusyawaratan Federal pada Konferensi Meja Bundar (KMB)/Ronde Tafel Conferentie, di Den Haag, Belanda, Tahun 1949

- Menteri Negara Zonder Portofolio, Kabinet Hatta/Kabinet Republik Indonesia Serikat (RIS), Tahun 1949 s/d 1950

- Anggota Panitia Lencana Negara Indonesia, Tahun 1950

- Perancang Lambang Negara Republik Indonesia, berbentuk Rajawali Garuda Pancasila, Tahun 1950

- Anggota Partai Masyumi, Tahun 1960

- Presiden Komisaris PT. Indonesia Air Transport, Tahun 1967 s/d 1978

Karya : - Lambang Negara Republik Indonesia
 (Rajawali Garuda Pancasila)
Sebagai: Pencipta/Perancang
Wafat : - Jakarta, 30 Maret 1978
Dimakamkan di Pemakaman Kesultanan Pontianak di Batu Layang
dengan Upacara Kebesaran Kesultanan Pontianak

Minggu, 05 Februari 2012

Sultan Hamid.II,Mengapa ia dipersalahkan?


(Foto Sultan hamid.II,Sultan Pontianak)


Senin, 30 Januari 2012
Pemulihan Nama Baik Sultan Hamid II (1)
Tesis Anshari Dimyati yang Teruji
Hanafi Mohan

Bagian.I
ISTIMEWA
Ribuan orang menyaksikan “persidangan tak adil” Sultan Hamid II di Lapangan Banteng-Jakarta, 8 April 1953
“Teruntuk Pemimpin Negeri Khatulistiwaku; Allahyarham Tuanku Sultan Syarif Hamid Al-Qadrie (Sultan Hamid II), ku persembahkan pembelaanku untukmu”.

Begitulah yang dinyatakan oleh Anshari Dimyati, mahasiswa Magister Hukum Universitas Indonesia menjelang Sidang Terbuka untuk mempertahankan tesisnya pada hari Selasa, 24 Januari 2012 di Pascasarjana Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Salemba, Jakarta.

Tesis berjudul “Delik Terhadap Keamanan Negara (Makar) di Indonesia; (Suatu Analisis Yuridis Normatif pada Studi Kasus Sultan Hamid II)” tersebut, telah diujikan di hadapan Dewan Penguji: Prof Dr jur Andi Hamzah SH, Prof Mardjono Reksodiputro SH MA, dan Dr Surastini Fitriasih SH MH.

Pada teks sejarah negara bernama “Indonesia”, namanya tertulis dengan tinta merah, ia seorang yang tidak nasionalis, dia pengkhianat bangsa. Mungkinkah sultan yang sangat mencintai rakyatnya itu ternyata seorang pengkhianat bangsa? Mungkinkah sultan yang sangat mencintai negerinya itu lahirnya bukan seorang nasionalis? Andaikan ditayangkan sebuah film berjudul “Sejarah Indonesia”, ia merupakan pemeran antagonisnya (lebih tepatnya distereotipekan sebagai pemeran antagonis). Hingga kini, film tersebut masih ditayangkan di bioskop-bioskop yang ada di negara bernama “Indonesia”.

Memanglah hebat film yang satu ini, karena daya biusnya sangat dahsyat. Para penonton takkan sadar kalau mereka lahirnya sedang terbius dengan jalan cerita film yang mereka tonton itu, sedangkan di sisi lain tebersit pesan suatu propaganda dalam film tersebut.

Alkisah, di tengah hiruk-pikuknya kehidupan kenegaraan, pada tahun 1950 terjadi “Pemberontakan Westerling” di Negara Pasundan (kini Jawa Barat). Peristiwa tersebut menyeret keterlibatan seorang politikus ternama asal Negeri Pontianak-Borneo Barat, bernama Sultan Hamid II yang dituduh sebagai “pemimpin dan/atau pengatur” pemberontakan tersebut.

Tak pelak lagi, Sultan Pontianak terakhir ini pun pada tanggal 5 April 1950 ditangkap. Tuduhan yang dialamatkan kepada Sultan Hamid II, yaitu keterlibatannya (keterkaitannya) dengan pemberontakan APRA (Angkatan Perang Ratu Adil) atau de RAPI (Ratu Adil Persatuan Indonesia) yang dipimpin oleh Kapten Raymond Westerling di Bandung pada tanggal 23 Januari 1950, serta mempunyai “niatan” untuk menyerbu sidang Dewan Menteri RIS (Republik Indonesia Serikat) yang niat tersebut kemudian beliau batalkan.

Alih-alih tak terdapat sebuah fakta yang membuktikan tuduhan kepadanya di pengadilan, Sultan Hamid II tetap saja divonis bersalah dengan ganjaran hukuman 10 tahun penjara (dipotong masa tahanan 3 tahun). (bersambung)

Bagian.II

Rabu, 1 Februari 2012
Pemulihan Nama Baik Sultan Hamid II (2)
Tak Terbukti Bersalah di Mata Hukum
Setelah konsep federalisme ditolak sebagian besar politisi nasional kala itu, Sultan Hamid II kembali ditangkap karena berkawan dengan orang-orang Partai Masyumi.

Pada tahun 1950 terjadi “Pemberontakan Westerling” di Negara Pasundan (kini Jawa Barat). Peristiwa tersebut menyeret keterlibatan seorang politikus ternama asal Negeri Pontianak-Borneo Barat bernama Sultan Hamid II yang dituduh sebagai “pemimpin dan/atau pengatur” pemberontakan tersebut.

Tak pelak lagi, Sultan Pontianak terakhir ini pun pada tanggal 5 April 1950 ditangkap. Tuduhan yang dialamatkan kepada Sultan Hamid II yaitu keterlibatannya (keterkaitannya) dengan pemberontakan APRA (Angkatan Perang Ratu Adil) atau de RAPI (Ratu Adil Persatuan Indonesia) yang dipimpin Kapten Raymond Westerling di Bandung pada 23 Januari 1950, serta mempunyai “niatan” untuk menyerbu sidang Dewan Menteri RIS (Republik Indonesia Serikat) yang niat tersebut kemudian beliau batalkan.

Alih-alih tak terdapat sebuah fakta yang membuktikan tuduhan kepadanya di pengadilan, Sultan Hamid II tetap saja divonis bersalah dengan ganjaran hukuman 10 tahun penjara (dipotong masa tahanan 3 tahun).

Kala mendapatkan kedaulatan pascakolonialisme (KMB 1949), Indonesia menapaki transisi pendewasaan politiknya. Namun konfigurasi hukum yang diusung tak serta-merta dapat diandalkan. Dalam kasus Sultan Hamid II ini dapat dilihat bahwa Indonesia sebagai negara yang dengan kepentingan politiknya menghukum seseorang hanya karena niatnya melakukan pembunuhan, yang malahan kemudian niat tersebut dibatalkan. Adakah lagi negara lain (selain negara ini) yang menghukum niat seseorang (apalagi kemudian niat itu urung dilaksanakan)? Mungkin hanya negara ini yang seperti itu.

“Dalam memperjuangkan kemerdekaan bagi nusa dan bangsa, timbullah keyakinan saya, bahwa bentuk federalisme itulah yang paling baik bagi negara kita,” begitulah pernyataan Sultan Hamid II pada pleidooi kasusnya yang dibacakannya di hadapan mahkamah pengadilan.

Barangkali cita-citanya mengenai bentuk negara federal inilah satu-satunya “dosa” dirinya di negara yang katanya ber-Bhineka Tunggal Ika ini, karena memang kesalahan lainnya yang dituduhkan kepadanya nyata-nyata tak terbukti di pengadilan. Sedangkan di sisi lain, penafsiran absolut dari kebhinekaan tersebut adalah persatuan (federalism), bukan kesatuan (unitarism). Dengan mengusung cita-cita mulia tersebut, segenap jiwa dan raga telah diabdikannya kepada negerinya tercinta. Karena cita-citanya yang mulia itu pula dirinya kemudian dinistakan oleh negara kesatuan ini.

Tak habis sampai di sini saja fitnah dan tuduhan yang tak berdasar seperti itu ditimpakan kepadanya. Setelah menjalani masa hukuman penjara selama sepuluh tahun, pada tahun 1958, Sultan Hamid II dikeluarkan dari penjara.

Selang beberapa lama menghirup udara bebas, pada Maret 1962 ia kembali ditangkap. Penangkapan tersebut juga dilakukan terhadap Sutan Sjahrir, Ide Anak Agung Gde Agung, dan Subadio Sastrosatomo, pun beberapa pemimpin Masyumi (Prawoto Mangkusasmito, Yunan Nasution, Isa Anshary, dan Mohammad Roem) juga ditangkap.

Fitnah dan tuduhan yang ditimpakan kepada para tokoh tersebut yaitu konspirasi untuk melakukan tindakan subversif terhadap negara (para tokoh ini ditangkap dan dihukum penjara tanpa adanya proses pengadilan).

Sultan Hamid II wafat di Jakarta, 30 Maret 1978, yaitu sekitar 12 tahun setelah bebas dari kurungan rezim Orde Lama-Soekarno. Ia dimakamkan dengan upacara kebesaran Kesultanan Pontianak di Pemakaman Batu Layang Pontianak (Pemakaman Keluarga Kesultanan Pontianak). Sultan Pontianak VII ini wafat tanpa menunjuk pengganti.

Sultan Hamid II adalah sosok pejuang dan pemimpin yang visioner. Ia tak hanya memikirkan suatu konsep negara yang pada zamannya dianggap paling relevan oleh sebagian pihak, melainkan konsep fundamental yang jauh ke depanlah gagasannya itu. Sultan Hamid II bercita-cita menyejahterakan rakyatnya di Negeri Borneo Barat yang kuat, mandiri, serta sejahtera dalam bernegara.

Ia akan selalu berada di hati putra-putri Borneo Barat, walaupun sejarah menistakannya. Namanya akan selalu harum semerbak di memori kolektif anak negeri yang berpikiran sehat, walau kuasa kegelapan membenamkannya.

Rasa sesak di dada, bercampur dengan keharuan yang begitu rupa membuat penulis menggeletar, ketika mendengar pernyataan Anshari Dimyati pada sidang tesisnya yang dengan lantang ia menyebutkan bahwa Sultan Hamid II tidak bersalah secara hukum. Namun, marwah Pemimpin Borneo Barat itu tak serta-merta dapat dikembalikan.

“Penelitian berdasarkan Analisis Yuridis Normatif udah dipertahankan dan dapat dipertanggongjawabkan. Tapi satu agé’ langkah kite sebagai Putera Borneo Barat, Peninjauan Kembali (PK) di Mahkamah Agung (MA) mao’ tak mao’ haros dilakukan, karene itulah satu-satunye care kite untok meruntohkan Putosan Kasus Sultan Hamid II di taon 1950-1953, dan mengembalikan name baék beliau,” tegas Anshari Dimyati dengan Bahasa Melayu-nya yang kental usai sidang tesisnya. Demi pergulatan ingatan melawan lupa, rangkaian sejarah patut dibongkar kembali. (selesai)