Rabu, 11 Januari 2012

Syiah dalam lintasan sejarah,Bagian.III




11. Sesudah wafatnya Al-Hasan bin Ali, Syi’ah serta sahabat-sahabat Al-Hasan bin Ali terpecah ke dalam 14 kelompok, antara lain:



a. Yang berpendapat bahwa Al-Hasan sesungguhnya tidak wafat, sebab ia tidak boleh mati, karena ia belum mempunyai anak yang tampil untuk menjadi imam, karena bumi ini tidak boleh kosong dari imam. Beliaulah Al-Qaim, dan beliau kini sedang ghaib.

b. Yang berpendapat bahwa Al-Hasan memang telah meningal, tetapi karena dia adalah Al-Qaim Al-Mahdi, maka ia tetap hidup sesudah matinya, sesuai dengan makna yang dikandung oleh Al-Qaim itu. Beliau memang tidak berputera, dan beliau juga tidak mewasiatkan tentang kelanjutan masalah imamah ini.

c. Yang berpendapat bahwa Al-Hasan memang telah wafat, dan tidak berputera, maka imamah sesudah beliau adalah Ja’far, saudara Hasan. Kepadanyalah Al-Hasan berwasiat tentang imamah sebelum meninggal.

d. Yang berpendapat bahwa Al-Hasan memang wafat, tidak berputera, dan imam sesudahnya adalah Ja’far, tetapi Ja’far tidak menerima wasiat dari Al-Hasan, melainkan dari ayahnya.

e. Yang berpendapat bahwa Al-Hasan memang telah wafat dan tidak berputera, tetapi imamah tidak ke Ja’far karena moralitasnya, melainkan ke saudaranya yang lain, yaitu Muhammad bin Ali, yang dinilai lebih shaleh dari Ja’far.

f. Yang berpendapat bahwa Al-Hasan memang wafat, tetapi ia mempunyai satu-satunya putera bernama Muhammad yang ketika ayahnya wafat ia baru berumur 5 tahunan, ia disembunyikan oleh ayahnya karena takut terhadap Ja’far, juga terhadap musuh-musuhnya yang lain dan itulah salah satu ghaibahnya, dialah yang ditunjuk oleh Al-Hasan untuk menjadi imam sesudah wafatnya, dialah Al-Qaim.

g. Yang berpendapat bahwa Al-Hasan memang wafat, beliau mempunyai putera yang baru lahir 8 bulan setelah wafatnya, yang diberi nama Muhammad. Mereka mendustakan kelompok sebelumnya karena ada ungkapan dari Imam Abul Hasan Ar-Ridha bahwa kalian akan diuji oleh satu janin yang masih berada di perut ibunya, juga oleh anak yang masih menyusui.

h. Yang berpendapat bahwa Al-Hasan memang wafat, dan ia sama sekali tidak mempunyai putera, sebab mereka telah memuji dan mencarinya ke mana-mana tapi tidak mereka dapatkan. Andaikata pendapat bahwa Al-Hasan adalah wafat dan ia mempunya anak yang disembunyikan itu dibenarkan, maka bisa-bisa setiap orang akan mengklaim bahwa Rasulullah saw telah wafat dengan meninggalkan putera yang disembunyikan, dengan segala implikasinya.

i. Yang berpendapat bahwa Al-Hasan memang wafat, tidak berputera, karenanya tidak ada imam sesudahnya, hal ini menurut mereka logis saja, seperti terputusnya kenabian dengan wafatnya Nabi Muhammad. Maka dengan wafatnya Al-Hasan putus pulalah matarantai imamah.

j. Kelompok yang kebingungan untuk menentukan siapa yang menjadi imam sesudah Al-Hasan. Yang pasti kata mereka Al-Hasan adalah imam, namun kini telah wafat, tetapi siapakah yang melanjutkan imamah sesudahnya? Adakah dari puteranya atau saudara-saudaranya? Mereka tidak bisa memastikan. Mereka tawaquf (berhenti, sehingga jelas permasalahannya, tetapi yang pasti kata mereka, dunia ini tidak akan pernah kosong dari hujjah.

k. Yang berpendapat bahwa Al-Hasan memang telah wafat, dan yang menjadi imam sesudahnya adalah puteranya Muhammad, yang waktu itu masih kecil, dialah Al-Mahdi Al-Muntazhar, yang telah mendapatkan wasiat dari ayahnya, namun terjadi padanya Al-Ghaibah Ash-Shugra dan kemudian Al-Kubra. Inilah pendapat Syi’ah Itsnaa ‘Asyariyah. [143] Menurut Nashi Ath-Thusi tokoh yang disukai oleh Hulagu itu, kelompok Syi’ah Itsnaa ‘Asyariyah kemudian mengkafirkan orang-orang yang memerangi ‘Ali serta memfasikkan orang-orang yang berselisih dengannya. [144] Padahal imam ‘Ali bin Abi Thalib ra ketika ditanya tentang orang-orang yang memerangi beliau, “Adakah mereka itu kafir?” Beliau menjawab: “Tidak, mereka adalah saudara-saudara kita, hanya saja mereka berlaku bughat terhadap kita.” [145]

Fakta sejarah tentang adanya perbedaan bahkan perselisihan internal Syi’ah pada setiap level imam ini, selain disebutkan oleh kalangan Syi’ah (An-Naubakhti) juga disebutkan oeh kalangan Ahlus Sunnah wal Jamah, seperti Fakhruddin Ar-Razi dalam kitabnya Al-Muhashshal. [146]


Sementara itu Dr. Musa Al-Musawi, salah seorang tokoh Syi’ah kontemporer yang kini hidup di Amerika, mempunyai pendekatan lain, sekalipun intinya sama dengan yang diungkapkan oleh Ar-Razi di atas.


B. Syi’ah Pada Masa Daulah Buwaihiyah (321 H – 447 H)

Al-‘Allamah Asy-Syaikh Muhammad Husein Al-Mudhafari, salah seorang ulama Syi’ah, menyebutkan peran penting Dinasti Buwaihi, yang muncul dalam panggung politik dan menjadikan khalifah Bani Abbas sebagai boneka belaka, dalam mengukuhkan dan menyebarkan madzhab Syi’ah. 

Dinasti Buwaihi, menurut penuturan Al-Mudhaffari, memang dilahirkan untuk berkhidmat pada madzhab Syi’ah Itsnaa ‘Asyariyah, mereka melakukan segala upaya untuk memenangkan madzhabnya. Keseluruhan periode pemerintahan dinasti Buwaihi adalah masa usaha keras untuk mensosialisasikan serta mengunggulkan madzhab Syi’ah.

Para penguasa dinasti Buwaihi juga sangat menghormati para ulama Syi’ah dan memberikan bantuan finansial yang besar kepada mereka. Pada masa ini munculnya Asy-Syaikh Al-mufid, tokoh ulama Syi’ah yang paling berpengaruh pada masanya dan sangat dihormati oleh penguasa Daulah Buwaihiyah. [151]

 Dan menurut Adz-Dzahabi, tokoh yang satu ini sering kali menampilkan cercaan dan kutukan terhadap para sahabat.

Menurut Muhammad Al-Bandari, pada masa inilah keempat kitab rujukan utama Syi’ah Itsnaa ‘Asyariyah ditulis, masing-masing oleh Al-Kulainiy (dengan kitabnya Al-Kaafi), Ibnu Babawaih Al-Qumy (dengan kitabnya Man La Yahdhuruhu Al-Faqih), Ath-Thusi (dengan dua kitabnya At-Tahdzib dan Al-Istibshar). [152]

 Pada masa hegemoni dinasti Buwaihiyah inilah, orang-orang Syi’ah menuliskan kutukan terhadap tokoh-tokoh yang mereka nilai telah menzhalimi Ahlul Bait, di pintu-pintu masjid mereka. [153]

Menurut penuturan Al-Mudhaffari, dinasti Buwaihi banyak membuat tradisi baru dalam Syi’ah, seperti memperingati hari Ghadir Khum, pada tanggal 18 Dzulhijjah.

Mereka menjadikan hari itu hari raya yang paling utama, karena menurut mereka pada hari itulah Rasulullah saw mengangkat ‘Ali sebagai washi dan khalifah sesudahnya. Penguasa Dinasti Buwaihi mengagungkan hari itu lebih meriah dari hari-hari raya lainnya, baik dari keindahan berpakaian, kelezatan makanan serta sukacita yang ditampilkan.

Tradisi Buwaihi ini kemudian diikuti oleh penguasa-penguasa Syi’ah lainnya, seperti penguasa Daulah Fathmiyah di Mesir. Tetapi pada hari Asyura, mereka menjadikannya sebagai hari berkabung, keadaan duka cita ini berlaku umum, bahkan penguasa Dinasti Buwaihi seperti Muiz Ad-Daulah Ahmad bin Buwaih misalnya pernah memerintahkan kepada seluruh rakyat termasuk yang Sunni, untuk pada hari Asyura itu menutup toko, tidak melakukan transaksi jual beli di pasar, mengenakan pakaian berkabung, dan para wanitanya meratapi Husein pada hari Asyura tersebut. [154] 

Ketika cercaan dan kutukan terhadap para sahabat menjadi kebiasaan, muncullah salah satu keturunan Husein bin ‘Ali ra, yaitu Al-Hasan bin Daud bin Ali, yang menurut kesaksian Al-Hakim Naishaburi, beliau adalah tokoh terkemuka dari keturunan Ahlul Bait, sekaligus tokoh ulama mereka di Khurasan. Beliau juga dikenal karena banyaknya ibadah, shadaqah, dan kecintaannya terhadap sahabat Rasulullah saw. [156]

Menurut Al-Hakim sepanjang persahabatannya dengan Al-Hasan bin Daud apabila disebutkan nama Utsman ra, ia berkomentar: “Beliau adalah syahid (kemudian ia menangis).” Dan setiap disebut nama Aisyah ra, ia pun berkata: “Beliau adalah Ash-Shiddiqah, putri Ash-Shiddiq, kekasih dari kekasih Allah.” Kemudian ia menangis. Ia wafat tahun 355 H. [156]

C. Syi’ah Pada Masa Kekuasaan Mongol dan Runtuhnya Daulah Abbasiyah

Menurut Al-Mudhaffari, masa-masa kekuasaan Mongol di Iran, yang dimulai oleh Hulagu dan diakhiri oleh Abu Said (650 H – 736 H), adalah termasuk masa keemasan bagi Syi’ah di Iran. Pada masa-masa itu orang-orang Syi’ah mendapatkan kebebasan untuk menghidupi madzhab mereka. 

Pada masa inilah muncul sejumlah ulama Syi’ah seperti ulama-ulama dari keluarga Said, keluarga Thawus, dan Khawaja Nashiruddin Ath-Thusi, yang juga imam dalam filsafat dan ilmu kalam, yang oleh Hulagu diangkat sebagai Menteri Urusan Wakaf.

Pada masa ini juga muncul ulama syi’ah lain yang sangat dekat dengan Sultan Khudabandah, yaitu Ibnu Al-Muthahhar Al-Hulliy (648-726 H) dialah yang menulis kitab Kasyful Murad sebagai ajaran kitab Tajrid Al-I’tiqad tulisan Nashiruddin Ath Thusi.

 Kedekatan tokoh ini kepada Sultan yang Syi’ah itu karena sang Sultan merasa puas dengan fatwa Ibnu Al-Mthahhar Al-Hulliy yang mengatakan bahwa talak tiga yang dijatuhkan oleh Sultan terhadap isterinya itu tidak sah, alias batal.

 Karenanya dibolehkan bagi sang Sultan untuk rujuk kepada isterinya tanpa harus kawin terlebih dahulu dengan yang lainnya. [157]

Ketika Hulagu menyerbu Baghdad, menaklukkannya, menghancurkannya, dan mengakhiri Daulah Abbasiyyah, orang-orang Syi’ah yang tinggal di Al-Hullah dan Dua Masyhad, kesemuanya selamat, berkat terkabulnya permintaan ulama Syi’ah yang diajukan kepada Hulagu, agar keamanan mereka dijamin. [158]

Informasi yang ditulis oleh Al-Mudhaffari tersebut, mengukuhkan kaitan Syi’ah (paling tidak Nashiruddin Ath-Thusi) dengan keruntuhan Baghdad. Sebab, seperti ditulis oleh Rasyiduddin dan Ibnu Katsir,

 Nashiruddin Ath-Thusi inilah yang diangkat sebagai penasehat Hulagu sebelum menyerbu Baghdad dan menghabisi Khalifah terakhir Bani Abbas, Al-Musta’shim pada tahun 656 H, padahal sebelumnya Hulagu pernah ragu untuk menyeru Baghdad karena peringatan dari Husamuddin, penasehatnya yang lain, agar tidak menyeru Baghdad, karena hal itu akan membawa bencana dan celaka bagi Hulagu sendiri.

Keruntuhan Baghdad dan berakhirnya Dinasti Abbasiyah juga melibatkan peran Muhammad bin Ahmad Al-Alqami, salah seorang Syi’ah yang menjadi menteri Al-Musta’shim Al-Abbasi, khalifah terakhir Daulah Abbasiyah, karena ia telah berkhianat terhadap negara dengan memberikan informasi-informasi rahasia kepada Mongol, mendorongnya untuk menyerbu Baghdad dan untuk meruntuhkan Daulah Abbasiyah yang Sunni itu.

Selain itu, agar misi Mongol bisa lebih berhasil, Ibnu Al-Alqami juga mengusulkan kepada Al-Musta’shim untuk mengurangi jumlah tentara dengan dalih penghematan anggaran negara, yang tentu pada gilirannya akan mengurangi juga pertahanan Daulah Abbasiyah. [159]

Kedua tokoh ini (Nashiruddin Ath-Thusi dan Ibnu Al-‘Alqami), ketika Baghdad banjir darah; ketika khalifah, para ulama dan banyak rakyat terbunuh, dan Dinasti Abbasiyah runtuh, jutsru Nashiruddin Ath-Thusi diangkat oleh Hulagu sebagai Menteri Urusan Wakaf dan dibuatkan observatorium di Maraghah, dan Ibnu Al-Alqami tetap bebas menghirup udara segar. [160]

D. Syi’ah Pada Periode Dinasti Ash-Shafawi

Menurut kajian Dr. Musa Al-Musawi, ketika Syi’ah Ismail naik tahta sebagai Syah pertama pada Dinasti Shafawi, pada tahun 907 H, keseluruhan kawasan Iran belum lagi menjadi Syi’ah, hanya beberapa kota yang penghuninya adalah orang-orang Syi’ah, seperti Qum, Qasyan, dan Naishabur. Syah Ismail-lah yang kemudian mengumumkan dekrit Syi’ah sebagai madzhab resmi di Iran. [161]

Dan menurut penuturan Al-Mudhaffari, Syah Ismail memang mempunyai fanatisme yang tinggi untuk menyebarkan madzhab syi’ah ke seluruh penjuru Iran. Ia mengutus delegasi da’i dan para propagandis syi’ah ke negeri-negeri yang akan ditaklukannya, guna mengajak mereka untuk memeluk madzhab Syi’ah, dan Syah ismail bangga dapat melakukan ini semuanya.

 Untuk kepentingan penyebaran Syi’ah ini, Syah Ismail bekerja sama dengan para ulama Syi’ah sehingga berhasillah ia melaksanakan keinginan-keinginannya tanpa ada hambatan-hambatan yang berarti. [162] Tetapi seperti yang dituturkan Dr. Musa Al-Musawi, sering juga Syah Ismail melakukan teror dan mengancam bunuh bagi mereka yang tidak mau memeluk ajaran Syi’ah

Al-Musawi mengisahkan suatu peristiwa unik, yaitu ketika penduduk Isfahan yang menganut paham Al-Khawarij menerima ultimatum Syah Ismail untuk memeluk Syi’ah atau mereka akan dipancung lehernya, orang-orang Khawarij Isfahan itu meminta tempo 40 hari.
[163]

Kisah horor penyebaran Syi’ah ala Syah Ismail juga terjadi dalam penaklukkan Tabriz, ketika Syah Ismail akan memaksa penduduknya untuk pindah ke Syi’ah. Waktu itu ia diingatkan oleh salah seorang penasehatnya agar ia urung menerapkan paksaannya itu, karena dua per tiga penduduk Tabriz adalah Sunni.

 Syah Ismail pun bertitah, “Saya mendapat mandat untuk melakukan ini dan sesungguhnya Allah dan Imam-imam yang ma’shum bersamaku dalam hal ini, aku pun tidak takut kepada siapapun, maka bila aku temukan orang yang menentangku, niscaya akan kupenggal lehernya.” [164]

Sekalipun demikian, pada masa Syah Ismail Ash-Shafawi ini telah terjalin hubungan kerja sama politik keamanan dan ekonomi dengan Barat (Eropa) untuk menghadapi musuh bersama yaitu Daulah turki Utsmani yang Sunni itu.

[165] Hal itu bermula dengan adanya persetujuan Syah Ismail atas pakta militer dengan Portugal yang berisikan bahwa Syah Ismail tidak akan menuntut Portugal untuk mengembalikan pulau Hurmuz dan pelabuhan Kamberun, sementara itu Portugal sepakat untuk membantu syah Ismail Ash-Shafawi melawan Turki Utsmani. [166]

Berdasarkan kajian Dr. Badi’ Muhammad Jum’ah, yang merujuk ke berbagai literatur tentang Iran, baik yang ditulis dalam bahasa persia, Arab maupun Inggris, didapatkan fakta-fakta adanya hubungan kerja sama Dinasti Ash-Shafawi dengan negara-negara Eropa untuk melawan musuh bersama yaitu Turki Utsmani, yang semakin meningkat pada masa Syah Abbas Ash-Shafawi (996-1038 H / 1588-1629 M).

Yang demikian ini karena Syah Abbas sadar sepenuhnya bahwa satu-satunya cara untuk menghadapi dan mengalahkan Turki Utsmani adalah kerja sama di bidang militer dengan Barat. Untuk kepentingan itulah Syah Abbas mengirimkan utusan ke berbagai negara Eropa, antara lain Spanyol, Jerman, Rusia, Inggris dan Belanda, untuk mengajak kerja sama yang saling menguntungkan dengan negara tersebut dalam menghadapi musuh bersama, yaitu Turki Utsmani dengan imbalan Syah Abbas akan memberikan kemudahan bagi misi perdagangan Eropa di Iran dan kawasan sekitarnya.

Syah abbas bahkan juga menghubungi Paus Paulus V dan memintanya untuk mendorong agar raja-raja Eropa yang beragama Kristen itu bersatu-padu dan bekerja sama dengan Iran untuk memusnahkan Daulah Turki Utsmani. Kesempatan ini diperunakan oleh Paus untuk mengirim berbagai surat ke Syah Abbas untuk mengukuhkan posisi orang Kristen di Iran, dan agar mereka selalu dihormati, diisinkan membangun gereja dan melaksanakan pribadatan mereka.

Di antara surat Paus Paulus V ada yang berisi ucapan selamat atas kemenangan Syah Abbas mengalahkan orang-orang Uzbek yang Sunni sambil mendorongnya untuk terus memerangi Turki utsmani, sambil menegaskan kesediaannya untuk mendorong bersatunya raja-raja Nashrani di Eropa untuk bersama-sama menyerbu Turki Utsmani dari arah Barat, sementara Syah abbas menyeru Turki Utsmani dari arah Timur.

Paus juga berjanji untuk mengirimkan ahli-ahli militer dan persenjataannya dalam rangka emperkuat pasukan Iran. Syah Abbas kemudian mendapatkan bantuan delegasi ahli militer Inggris, yang melatih serta memodernkan angkatan perang Iran, mereka juga menjadi supervisor untuk mendirikan pabrik-pabrik senjata di Isfahan, yang memungkinkannya untuk mengalahkan pasukan Turki utsmani di Azarbaijan, bahkan salah seorang delegasi Inggris, yaitu Robert Charles pernah menjadi panglima salah satu pasukan Iran dalam perang melawan pasukan Turki utsmani pada tahun 1013-1014 H.

Syah Abbas juga membuat perjanjian perdagangan dan keamanan dengan pemerintah Belanda, dimana Syah Abbas akan memberikan kemudahan bagi orang-orang Belanda untuk melakukan perniagaan di Iran, memberikan izin kepada mereka untuk mendirikan gereja.

 Mereka pun diberi hak untuk menghukum orang Belanda yang masuk agama Islam dengan menangkapnya, menghukumnya, dan menyita harta-bendanya. Dan di antara permintaan Syah Abbas kepada pemerintah belanda, agar pemerintah Belanda tidak berhubungan politik dan perdagangan dengan Turki Utsmani. [167]

Pada masa Dinasti Shafawi ini muncullah ulama-ulama Syi’ah yang berpengaruh dalam perkembangan Syi’ah, di antaranya yang paling terkenal adalah Muhammad Al-Majlisi (1037-1111 H). Tokoh yang sangat fanatik Syi’ah dan bara’ah terhadap musuh-musuhnya ini sangat dekat dan berpengaruh terhadap kerajaan, bahkan kedua Syah Shafawi, yaitu Syah Sulaiman dan Sultan Husein mempercayakan kepadanya urusan keagamaan dan negara, ia pun mendapatkan dukungan politik dan finansial dari negara.

Al-Majlisi berhasil menulis Ensiklopedi Bihar Al-Anwar dalam 25 jilid yang merupakan himpunan tanpa seleksi dan kritik dari hadits-hadits, kisah-kisah serta peristiwa-peristiwa yang dinisbahkan kepada imam-imam Syi’ah. [168]

E. Khotimah

Demikianlah selayang pandang tentang Syi’ah dalam lintasan sejarah, dan bila sejarah adalah cermin serta ibrah, kiranya kita ummat Islam di Indonesia dan Asia Tenggara yang beraqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah dapat mengambil pelajaran penting dan bermanfaat, sehingga pada era globalisasi dan abad informasi, dengan masih dominannya hegemoni Barat dan Zionisme internasional, kita dapat mengatasinya dengan tetap berpegang pada dua prinsip dasar Islam, yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah, sehingga tetap mmapu memberikan kontribusi positif untuk peradaban dan keselamatan ummat manusia. 

Sebab dalam konteks perkembangan hubungan Sunni-Syi’ah kontemporer, kita disuguhi dengan fenomena revolusi Syi’ah di Iran yang menggulingkan rezim sekuler dalam Dinasti Pahlevi yang Syi’ah juga, pada awalnya revolusi itu mengangkat jargon:



Tidak Barat tidak Timur, (tetapi) Islam, Islam

Tidak Syi’ah, tidak Sunni, (tetapi Islam, Islam


Sebelumnya kita pun tahu, dari Kairo Syekh Mahmud Syalthut dari Al-Azhar pernah memfatwakan kebolehan beribadah dengan madzhab Syi’ah Imamiyah,itsna Assyariah ( Syi"ah 12 Imam)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar