Rabu, 11 Januari 2012

Syiah dalam lintasan sejarah,bagian.II





Pada periode sesudah wafatnya Al-Husein, Syi’ah terpecah dalam berbagai kelompok antara lain;



a. Kelompok-kelompok yang mengakui bahwa sesudah wafatnya Husein, imamah berlanjut ke putera ‘Ali yang lain, yaitu Muhammad bin Al-Hanafiah, kemudian mereka pun terpecah, ada yang berkeyakinan bahwa Muhammad bin Al-Hanafiah yang disebut Al-Mahdi itu, tidak pernah meninggal. Ada yang berkeyakinan beliau meninggal, dan pelanjutnya sebagai imam adalah puteranya Abu Hasyim. Kelompok ini disebut Al-Hasyimiyah. Kemudian mereka berpecah-belah, ada yang berkeyakinan bahwa Abu Hasyim memberikan wasiat kepada Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Al-Abbas bin Abdul Muthallib, kelompok ini disebut Syi’ah Ar-Rawandiyah. [127]

b. Kelompok yang mengakui bahwa sesudah wafatnya Husein, maka imamah berlanjut ke puteranya yang masih hidup, Ali Asghar Zainal Abidin, yang ibunya bernama Jihansyah, putri Kaisar Persia Yazdajird bin Syahriyar. [128]

c. Kelompok yang mengakui bahwa setelah syahidnya Al-Husein, maka imamah telah selesai (terputus). Sebab, menurut mereka, yang disebut namanya oleh Rasulullah saw sebagai ahlul bait beliau hanyalah tiga orang saja, yaitu ‘Ali, Hasan dan Husein. [129]

d. Kelompok yang menyebut bahwa sesudah syahidnya Al-Husein, imamah berlanjut hanya pada keturunan Al-Hasan maupun Al-Husein. Siapapun di antara mereka yang mengklaim sebagai imam, maka mereka adalah imam yang wajib ditaati. Barangsiapa yang lalai melakukannya, maka ia kafir. Mereka itulah kelompok As-Sarhubiyyah. [130]
04. Sesudah wafatnya Ali Zainal Abidin, muncullah kelompok-kelompok Syi’ah, antara lain:


a. Az-Zaidiyah, pengikut Zaid bin Ali bin Husein yang meyakini sekalipun ‘Ali bin Abi Thalib lebih utama dari Abu Bakar dan Umar, tetapi khilafah keduanya adalah sah. Mereka juga berkeyakinan bahwa imamah dapat diraih oleh siapapun dari keturunan Muhammad saw apabila mereka memperjuangkan hal itu. Setelah syahidnya Zaid, kelompok ini diteruskan oleh putera-puteranya Yahya dan Isa. [131]

b. Kelompok yang mengakui bahwa Imamah sesudah Ali Zainal Abidin, adalah puteranya, Muhammad Al-Baqir. [132]


05. Sesudah wafatnya muhammad Al-Baqir, Syi’ah terpecah lagi dalam tiga kelompok:



a. Kelompok yang mengakui imamahnya Muhammad bin Al-Hasan bin Al-Husein bin ‘Ali bin Abi Thalib yang disebut sebagai Al-Qaim dan Al-Mahdiy. [133]

b. Kelompok yang mengakui bahwa imamah sesudah wafatnya Muhammad Al-Baqir adalah puteranya Ja’far As-Shadiq. [134]

c. Kelompok Al-Mughiriyyah pengikut Al-Mughirah bin Said, yang mengakui Al-Mughirah-lah yang mendapatkan wasiat dari Muhammad Al-Baqir sebagai imam hingga munculnya Al-Mahdi, yaitu Muhammad bin Abdullah bin Al-Hasan bin Al-Hasan.

06. Sesudah wafatnya Ja’far Ash-Shadiq, Syi’ah terpecah lagi dalam 6 kelompok, antara lain:



a. Kelompok yang mengakui bahwa Ja’far Ash-Shadiq adalah Al-Mahdi, beliau tidak meninggal sehingga sukses menjadi pemimpin ummat manusia. Inilah kelompok An-Nawusiyah.

b. Kelompok yang mengakui bahwa imamah sesudah Ja’far adalah puteranya, Islamil. Mereka berkeyakinan bahwa Ismail tidak mati, sehingga berhasil memimpin ummat, dialah sang Al-Qaim. Inilah kelompok Al-Ismailiyah Al-Khalishah. [135]

c. Kelompok yang meyakini bahwa imamah sesudah Ja’far adalah Muhammad bin Ismail bin Ja’far, cucu Ja’far. Menurut kelompok ini wafatnya Ismail pada masa hidup sang ayah, Ja’far, menunjukkan bahwa imam sesudah Ja’far adalah putera Ismail, Muhammad. Apalagi mereka juga berpendapat, bahwa sesudah periode Al-Hasan dan Al-Husein, imamah tidak lagi berputar dari kakak ke adik, melainkan dari ayah ke anak.

Karenanya imamah sesudah Ja’far tidak berpindah dari Ismail ke saudaranya Abdullah atau Musa, melainkan ke puteranya Muhammad yang disebut juga sebagai Al-Mahdiy. Inilah kelompok Al-Mubarakiyah. [136] Termasuk dalam Ismailiyah, kelompok pengikut Abil Khaththab, yang lebih populer dalam sebutan Al-Khaththabiyah, kelompok ini juga dikenal sebagai As-Sab’iyyah karena meyakini bahwa jumlah imam adalah 7 saja. Kelompok ini juga dikenal sebagai Al-Qaramithah.

d. Kelompok yang mengakui bahwa imamah sesudah Ja’far adalah puteranya, Muhammad bin Ja’far, dan kemudian ke anak turunannya. Kelompok ini bernama As-Sumaithiyah, yang dipimpin oleh Yahya bin Abi As-Sumaith.

e. Kelompok yang meyakini bahwa imamah sesudah Ja’far adalah puteranya, Abdullah bin Ja’far al-Afthar, mereka berhujjah dengan hadits yang disampaikan oleh Ja’far Ash-Shadiq bahwa imamah itu adanya pada anak tertua imam, dan Abdullah adalah putra tertua Ja’far dan telah memproklamirkan diri sebagai imam.

Hampir semua Syi’ah dan fuqaha yang meyakini imamah Ja’far, kemudian menurun ke imamah Abdullah. Kelompok ini disebut Al-Afthiyah. Mereka juga berkeyakinan bahwa sesudah Abdullah imamah berlanjut kepada turunannya.

f. Kelompok yang mengakui bahwa sesudah wafatnya Ja’far dan putera tertuanya Abdullah, maka imamah berpindah ke putera Ja’far yang lain, yaitu Musa Al-Kazhim, dan kemudian ke anak turunannya. [137]

07. Sesudah wafatnya Musa Al-Kazhim, Syi’ah terpecah lagi dalam lima kelompok, di antaranya adalah yang meyakini bahwa imamah sesudah Musa Al-Kazhim adalah puteranya Ali Ar-Ridha. [138] Juga meyakini bahwa imamah berhenti sampai tingkat ini saja. Kelompok ini disebut Al-Waqifah.

08. Sesudah wafatnya Ali Ar-Ridha, Syi’ah terpecah lagi dalam berbagai kelompok, di antaranya adalah yang meyakini bahwa sesudah Ali Ar-Ridha, imamah berpindah ke puteranya, Muhammad bin Ali, [139] yang waktu itu belum baligh, ia baru berumur 7 tahun sehingga membuat perpecahan di kalangan pengikutnya. [140]

09. Sesudah wafatnya Muhammad, Syi’ah terpecah lagi dalam beberapa kelompok, antara lain yang meyakini bahwa imamah sesudahnya adalah Ali bin Muhammad. [141]

10. Sesudah wafatnya Ali bin Muhammad, Syi’ah terpecah lagi dalam beberapa kelompok, antara lain yang meyakini bahwa iammah sesudah ‘Ali, berlanjut ke puteranya Al-Hasan bin Ali. [142] Beliaulah imam ke-11 dalam Syi’ah Itsnaa ‘Asyariyah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar