Rabu, 11 Januari 2012

Syi’ah Dalam Lintasan Sejarah Bagian.I





Syi’ah Dalam Lintasan Sejarah
Oleh DR. M. Hidayat Nur Wahid Mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera


Syi’ah Dalam Lintasan Sejarah

Oleh DR. M. Hidayat Nur Wahid


Muqaddimah

Al-Qur’an telah dengan jelas menyebut risalahnya sebagai petunjuk bagi orang-orang yang taqwa. [105] dan risalah Nabi Muhammad, penutup para Nabi dan Rasul, sebagai rahmat untuk seluruh alam, [106] dan generasi yang dibina langsung oleh Rasulullah saw sebagai sebaik-baik ummat yang dikeluarkan ke tengah ummat manusia, dengan amar ma’ruf nahi munkar serta iman billah [107], dan Allah pun berfirman:

“Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) baik muhajirin maupun anshar maupun orang-orang yang mengikuti mereka dengan bak,i Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, di dalamnya mereka kekal selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” [108]


Sekalipun demikian, dan sesudah wafatnya Rasulullah saw, sejarah ummat Islam mencatat berbagai firqah (sekte), di antaranya Syi’ah, yang sering meng-klaim madzhabnya sebagai madzhab Ahlul Bait.
 Sementara itu menurut riwayat "Imam Muhammad Al-Baqir" (salah satu tokoh Ahlul Bait), beberapa orang yang mengaku pengikut Ahlul Bait pernah mendatangi ayahnya, Imam Ali Zainal Abidin, mereka mencaci-maki Abu Bakar, Umar dan Utsman ra.


Setelah mereka puas, Ali Zainal Abidin berkata: “Maukah kalian mengkhabariku, adakah kalian ini termasuk kelompok orang-orang Muhajirin yang diusir dari kampung halamannya dan dari harta benda mereka, karena mencari karunia Allah dan Rasul-Nya, dan keridhaan-Nya dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar.” [109]


Mereka menjawab: “Bukan.” Ali Zainal Abidin bertanya lagi: “Adakah kalian orang-orang (Anshar) yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman sebelum kedatangan mereka (kaum Muhajirin), mereka mencintai orang-orang yang hijrah kepada mereka.” [110]


Mereka menajwab: “Bukan.”

Kata Imam Ali Zainal Abidin, “kalau demikian maka aku pun bersaksi bahwa kalian bukanlah orang-orang yang datang sesudah mereka (Al-Muhajirin dan Al-Anshar) yang berdoa: ‘Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami, dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman, Ya Rabb Tuhan kami sesungguhnya Engkau Maha Penyantun, lagi Maha Penyayang’…” Imam Ali Zainal Abidin pun kemudian mengusir mereka. [112]


Kajian ringkas di bawah ini akan memaparkan Syi’ah dalam lintasan sejarah, baik berkaitan dengan masalah Imamah yang merupakan issu dan aqidah terpenting bagi Syi’ah maupun implikasinya dalam bentuk politik, dengan sedapat mungkin merujuk ke kitab-kitab Syi’ah sendiri, dan menguatkannya dengan rujukan dari Ahlus Sunnah wal Jamaah.


A. Syi’ah Hingga ke Masa Ghaibah Al-Kubra (329 H)

Menurut Al-Hasan bin Musa An-Naubakhti, salah seorang tokoh ulama Syi’ah yang hidup pada pertengahan abad ke-3 H hingga awal 4 H, dalam kitab Firaq Asy-Syi’ah, telah terjadi perbedaan dan perselisihan di kalangan firqah-firqah Syi’ah semenjak awal sejarah mereka terutama pada penentuan siapakah yang menjadi “Imam” sekalipun dalam klaim Syi’ah, Imamah adalah pokok keimanan mereka.


Menurut An-Naubakhti perbedaan-perbedaan itu antara lain:

01. Setelah Rasulullah saw wafat, Syi’ah terpecah dalam 3 kelompok, yaitu:



a. Kelompok yang meyakini bahwa ‘Ali adalah Imam yang harus ditaati, dan bukan yang lainnya, berdasarkan nash dari Nabi, beliau ma’shum, terjaga dari segala bentuk kesalahan, yang berwilayah dengannya akan selamat, dan yang memusuhinya kafir dan sesat (dhall), dan imamah ini terus diwarisi oleh keturunannya [113]. Sebagian kelompok ini disebut Al-Jarudiyah. [114]


b. Kelompok yang meyakini bahwa ‘Ali memang yang paling berhak sesudah Rasulullah saw karena keutamaannya, sekalipun demikian mereka membenarkan imamah/khalifah dari abu Bakar dan umar dikarenakan keridhaan serta bai’at ‘Ali terhadap keduanya secara sadar tanpa paksaan. Inilah pemula kelompok Al-Batriyah. [115]


c. Sama dengan pendapat kelompok kedua, hanya saja mereka berpendapat bahwa mentaati imam yang sudah ditetapkan itu hukumnya wajib, maka siapapun yang tidak mentaatinya, dia kafir dan sesat. [116]

Pada masa ini, An-Naubakhti juga menyebutkan munculnya kelompok Khawarij dari kalangan Syi’ah (pasukan pendukung) ‘Ali, mereka ini kemudian mengkafirkan ‘Ali bin Abi Thalib karena melakukan tahkim ar rijal. [117]

Pada periode ini juga, seperti yang akan terlihat dalam peristiwa sejarah, tercatat munculnya Abdullah bin Saba’ dan kelompok Syi’ahnya yang selanjutnya disebut sebagai Syi’ah Saba’iyah.

02. Setelah ‘Ali wafat, Syi’ah terpecah menjadi 3 golongan:

a. Kelompok yang berpendapat ‘Ali tidak mati terbunuh, dan tidak akan mati sehingga ia berhasil memenuhi bumi dengan keadilan. Menurut An-Naubakhti inilah kelompok ghuluw (ekstrim) pertama. Kelompok ini disebut Syi’ah As-Saba’iyah, pimpinannya Abdullah bin Saba’.

Mereka adalah kelompok yang terang-terangan mencaci serta bara-ah terhadap Abu Bakar, Umar dan Utsman serta para sahabat Rasulullah saw. Mereka mengaku bahwa ‘Ali-lah yang menyuruh mereka untuk melakukan hal ini. Ketika dipanggil oleh ‘Ali mereka mengakui perbuatan mereka. Hampir saja ‘Ali memvonis mati terhadap Abdullah bin Saba’. Tetapi karena pertimbangan beberapa orang, sehingga ‘Ali hanya mengusir Abdullah bin Saba’ ke Al-Madain.

Menurut sebagian ahli ilmu dari sahabat ‘Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Saba’ tadinya beragama Yahudi. Ketika masuk Islam, ia mendukung ‘Ali. Menurut An-Naubakhti, Abdullah bin Saba’ adalah orang pertama yang terang-terangan menghidupkan tentang kewajiban imamahnya ‘Ali serta berlepas diri (bara-ah) dari musuh-musuhnya. Menurut An-Naubakhti, Abdullah bin Saba’ yang mantan Yahudi itu, ketika masih beragama Yahudi pernah mempopulerkan pendapat bahwa Yusa’ bin Nun adalah pelanjut Nabi Musa. Maka ketika masuk Islam ia berpendapat bahwa ‘Ali adalah pelanjut Nabi Muhammad. Faktor inilah yang membuat orang menuduh bahwa sumber ajaran (Ar-Rafdhu) Syi’ah berasal dari Yahudi. [118]

Paparan An-Naubakhti ini sekaligus merupakan jawaban terhadap kalangan Syi’ah, serta pendukungnya, yang mengklaim bahwa Abdullah bin Saba’ hanya tokoh fiktif, ciptaan kalangan Ahlus Sunnah, yang sumber utamanya dari Ath-Thabariy melalui satu-satunya jalur Saif bin Umar At-Tamimy.


b. Kelompok yang berpendapat bahwa ‘Ali memang wafat. Dan Imam sesudah beliau adalah puteranya, Muhammad bin Al-Hanafiyah, karena dia dan bukan Hasan atau Husein, yang dipercaya membawa panji ayahnya, ‘Ali dalam peperangan di Basrah. Kelompok ini disebut Al-Kaisaniyyah. [119] Mereka mengkafirkan siapapun yang melangkahi ‘Ali dalam Imamah, juga mengkafirkan Ahlush Shiffin, Ahlul Jamal. Tokoh kelompok ini Al-Mukhtar bin Abi Ubaid Ats-Tsaqafi, mengaku bahwa Jibril pernah menurunkan wahyu kepadanya. [120]


c. Kelompok ketiga berkeyakinan bahwa ‘Ali memang wafat, dan imam sesudahnya adalah puteranya, Al-Hasan. Ketika kemudian Al-Hasan menyerahkan khilafah kepada Mu’awiyah bin Abi Sufyan, mereka memindahkan imamah kepada Al-Husein, sebagian mereka mencela Al-Hasan, bahkan Al-Jarrah bin Sinan Al-Anshari pernah menuduhnya sebagai musyrik, dan membacok pahanya dengan pedang. [121]

Tetapi sebagian Syi’ah berpendapat, bahwa sesudah wafat Al-Hasan, maka yang menjadi imam adalah puteranya, yaitu Al-Hasan bin Al-Hasan yang bergelar Ar-Ridha dari keluarga Muhammad. Beliau ini, menurut Al-Isfahani, bernama Ali bin Husein Zainal Abidin serta Umar bin Hasan dan Zaid bin Hasan adalah cucu-cucu ‘Ali bin Abi Thalib yang menyertai Al-Hussein dalam peristiwa karbala dan selamat dari pembunuhan. [122]

Fakta sejarah ini sekaligus menolak informasi yang menyebutkan bahwa satu-satunya keturunan laki-laki Rasulullah saw atau keturunan laki-laki ‘Ali yang selamat dari pembantaian Karbala hanyalah Ali bin Husein Zainal Abidin saja.
03. Sesudah syahidnya Al-Husein ra dalam peristiwa Karbala, dimana sebelumnya beliau diundang oleh orang-orang di Kufah yang mengaku diri sebagai Syi’ah-nya dan mereka mengaku mempunyai belasan ribu orang yang siap membela Husein [123]

Tetapi ketika Husein akhirnya terkepung oleh pasukan Ubaidillah bin Ziyad tak satu pun orang yang tadinya mengundang beliau, tampil membela, mereka justru cenderung cuci tangan, sehingga menyebabkan syahidnya Imam Husein. Seperti dikisahkan oleh sejarawan syi’ah, Al-Mas’udi, Husein ra sebelum syahid bahkan sempat berdo’a: “Ya Allah turunkanlah keputusan-Mu atas kami dan atas orang-orang yang telah mengundang kami, dengan dalih mereka akan mendukung kami, tetapi knii ternyata mereka membunuhi kami.” [124]



Adapun yang ikut syahid bersama Al-Husein dalam peristiwa ini, antara lain:


a. Putera-putera ‘Ali bin Abi Thalib yang bernama Abu Bakar, Utsman, Abbas.



b. Putera Al-Hasan bin Ali seperti: Abu Bakar.



c. Putera Al-Husein bin Ali seperti: Ali Al-Akbar bin Al-Husein, [125] sehingga ketika jenazah Husein beserta keluarganya yang masih hidup dibawa ke Kufah dan ditangisi oleh orang-orang di Kufah, Ali Al-Asghar bin Husein Zainal Abidin berkomentar, “mereka menangisi kami, padahal bukankah mereka sendiri yang telah membunuh kami.” [126]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar