Rabu, 11 Januari 2012

Syiah dalam Literatur Sunni dan Syiah,Bagian Akhir




(Gambar ilustrasi,Imam Ali,Imam Hasan dan Imam Husein)


105 QS Al-Baqarah : 2

106 QS Al-Anbiya : 107

107 QS Ali Imran : 110

108 QS At-Taubah : 100

109 QS Al-Hasyr : 8

110 Ibid., : 9

111 Ibid., : 10

112 Hilyatul Auliya, III/136-137 oleh Al-Isfahani, Siyar A’lam An-Nubala’ IV/395 oleh Adz-Dzahabi, Fadhail Ash-Shahabah, lembar 19A-19B oleh Ad-daraqutni, jawahirul Iqdain II/449 oleh As-Samhudy Al-Hasaniy.

113 Firaq Asy-Syi’ah, h. 19-20.

114 Ibid., h. 25

115 Ibid., h. 20

116 Ibid., h. 21

117 Ibid., h. 6

118 Firaq Asy-Syi’ah, h. 22

119 Ibid., h. 23

120 Ibid., h. 23

121 Ibid., h. 24-25, vide Tarikh Al-Yaqubi Asy-Syi’i, II/215.

122 maqatil at-Thalibiyyin, h. 119

123 Tarikh Al-Ya’qubi, II/242-242, Muruj Adz-Dzahab, II/64, oleh Al-Mas’udi Asy-Syi’i

124 Al-Mas’udi, III/70

125 Tarikh Khalifah bin Al-Khayyath, 234, Maqatil Ath-Thalibiyyin, 80, Tarikh Al-Mas’udi, II/71

126 Tarikh Al-Ya’qubi, II/245, Al-Ihtijaj, II/291, oleh Ath Thabarsi.

127 Firaq Asy-Syi’ah, h. 26-33

128 Ibid., h. 53

129 Ibid., h. 54

130 Ibid., h. 54

131 Firaq Asy-Syi’ah, h. 58-59

132 Ibid., h. 59

133 Ibid., h. 62

134 Ibid., h. 63

135 Ibid., h. 67-68

136 Firaq Asy-Syi’ah, h. 68-69

137 Ibid., h. 78

138 Ibid., h. 85

139 Ibid.

140 Ibid., h. 88-89

141 Firaq Asy-Syi’ah, h. 91-92

142 Ibid., h. 95

143 Ibid., Firaq Asy-Syi’ah, h. 96-109

144 Kasyful Murad Syarh Tajrid Al-Itiqad, h. 314, oleh Ibnul Muthahhar Al-Hulliy

145 Tarikh Ath-Thabari, V/88, As-Sunnan Al-Kubra, VIII/173 oleh Al-Baihaqi, Minhaj As-Sunnah An-Nabawiyah, VII/406 oleh Ibnu Taimiyah.

146 Al-Muhashshal, h. 575-587

147 Ibid., h. 587

148 Maqalat Al-Islamiyin, I/66-146

149 Nahjul Balaghah, III/7

150 As-Syi’ah wat Tashhih, h. 14-46

151 Tarikh Asy-Syi’ah, h. 206-207, 211.

152 At-Tasyayyu’, h. 60.

153 Al-Muntazham, VII/27 oleh Ibn Al-Jauzi, Al-Bidayah wan Nihayah, XI/240 oleh Ibnu Katsir

154 Tarikh Syi’ah, h. 206-208, 210, juga At-Tasyayyu, h. 71

155 Al-Bidayah wan Nihayah, XI/266

156 Ibid., XI/261

157 At-Tasyayyu’, h. 61

158 Tarikh Asy-Syi’ah, h. 215-216, 219

159 Al-Bidayah wan Nihayah, XIII/196-201, Tarikh Al-Khulafa’, h. 435 oleh As-Suyuthi

160 Tarikh As-Siyasi wal Fikri, h. 270-271 oleh Dr. Abdul Majid Abdul Futuh Badawi

161 As-Syi’ah wat Tashhih, h. 70-71

162 Tarikh Asy-Syi’ah, h. 221-222

163 Asy-Syi’ah At-Tashih, h. 71

164 At-Tasyayyu’, h. 76

165 Ibid., h. 76

166 Syah Abbas Al-Kabir, h. 218 oleh Dr. Badi’ Muhammad Jum’ah

167 Syah Abbas Al-Kabir, h. 250, 252, 254, 267, 270, 271.

168 At-Tasyayyu’, h. 63 dan Asy-Syi’ah wat Tashih, h. 86-87

169 UUD Republik Islam Iran, h. 29

170 Al-I’tisham Bihablillah, h. 43

171 Muqadimmah As-Sunnah wa Makanatuha fit Tasyri’ Al-Islami, h. 9 (khusus catatan kaki no. 1).


Share

Syiah dalam lintasan sejarah,Bagian.III




11. Sesudah wafatnya Al-Hasan bin Ali, Syi’ah serta sahabat-sahabat Al-Hasan bin Ali terpecah ke dalam 14 kelompok, antara lain:



a. Yang berpendapat bahwa Al-Hasan sesungguhnya tidak wafat, sebab ia tidak boleh mati, karena ia belum mempunyai anak yang tampil untuk menjadi imam, karena bumi ini tidak boleh kosong dari imam. Beliaulah Al-Qaim, dan beliau kini sedang ghaib.

b. Yang berpendapat bahwa Al-Hasan memang telah meningal, tetapi karena dia adalah Al-Qaim Al-Mahdi, maka ia tetap hidup sesudah matinya, sesuai dengan makna yang dikandung oleh Al-Qaim itu. Beliau memang tidak berputera, dan beliau juga tidak mewasiatkan tentang kelanjutan masalah imamah ini.

c. Yang berpendapat bahwa Al-Hasan memang telah wafat, dan tidak berputera, maka imamah sesudah beliau adalah Ja’far, saudara Hasan. Kepadanyalah Al-Hasan berwasiat tentang imamah sebelum meninggal.

d. Yang berpendapat bahwa Al-Hasan memang wafat, tidak berputera, dan imam sesudahnya adalah Ja’far, tetapi Ja’far tidak menerima wasiat dari Al-Hasan, melainkan dari ayahnya.

e. Yang berpendapat bahwa Al-Hasan memang telah wafat dan tidak berputera, tetapi imamah tidak ke Ja’far karena moralitasnya, melainkan ke saudaranya yang lain, yaitu Muhammad bin Ali, yang dinilai lebih shaleh dari Ja’far.

f. Yang berpendapat bahwa Al-Hasan memang wafat, tetapi ia mempunyai satu-satunya putera bernama Muhammad yang ketika ayahnya wafat ia baru berumur 5 tahunan, ia disembunyikan oleh ayahnya karena takut terhadap Ja’far, juga terhadap musuh-musuhnya yang lain dan itulah salah satu ghaibahnya, dialah yang ditunjuk oleh Al-Hasan untuk menjadi imam sesudah wafatnya, dialah Al-Qaim.

g. Yang berpendapat bahwa Al-Hasan memang wafat, beliau mempunyai putera yang baru lahir 8 bulan setelah wafatnya, yang diberi nama Muhammad. Mereka mendustakan kelompok sebelumnya karena ada ungkapan dari Imam Abul Hasan Ar-Ridha bahwa kalian akan diuji oleh satu janin yang masih berada di perut ibunya, juga oleh anak yang masih menyusui.

h. Yang berpendapat bahwa Al-Hasan memang wafat, dan ia sama sekali tidak mempunyai putera, sebab mereka telah memuji dan mencarinya ke mana-mana tapi tidak mereka dapatkan. Andaikata pendapat bahwa Al-Hasan adalah wafat dan ia mempunya anak yang disembunyikan itu dibenarkan, maka bisa-bisa setiap orang akan mengklaim bahwa Rasulullah saw telah wafat dengan meninggalkan putera yang disembunyikan, dengan segala implikasinya.

i. Yang berpendapat bahwa Al-Hasan memang wafat, tidak berputera, karenanya tidak ada imam sesudahnya, hal ini menurut mereka logis saja, seperti terputusnya kenabian dengan wafatnya Nabi Muhammad. Maka dengan wafatnya Al-Hasan putus pulalah matarantai imamah.

j. Kelompok yang kebingungan untuk menentukan siapa yang menjadi imam sesudah Al-Hasan. Yang pasti kata mereka Al-Hasan adalah imam, namun kini telah wafat, tetapi siapakah yang melanjutkan imamah sesudahnya? Adakah dari puteranya atau saudara-saudaranya? Mereka tidak bisa memastikan. Mereka tawaquf (berhenti, sehingga jelas permasalahannya, tetapi yang pasti kata mereka, dunia ini tidak akan pernah kosong dari hujjah.

k. Yang berpendapat bahwa Al-Hasan memang telah wafat, dan yang menjadi imam sesudahnya adalah puteranya Muhammad, yang waktu itu masih kecil, dialah Al-Mahdi Al-Muntazhar, yang telah mendapatkan wasiat dari ayahnya, namun terjadi padanya Al-Ghaibah Ash-Shugra dan kemudian Al-Kubra. Inilah pendapat Syi’ah Itsnaa ‘Asyariyah. [143] Menurut Nashi Ath-Thusi tokoh yang disukai oleh Hulagu itu, kelompok Syi’ah Itsnaa ‘Asyariyah kemudian mengkafirkan orang-orang yang memerangi ‘Ali serta memfasikkan orang-orang yang berselisih dengannya. [144] Padahal imam ‘Ali bin Abi Thalib ra ketika ditanya tentang orang-orang yang memerangi beliau, “Adakah mereka itu kafir?” Beliau menjawab: “Tidak, mereka adalah saudara-saudara kita, hanya saja mereka berlaku bughat terhadap kita.” [145]

Fakta sejarah tentang adanya perbedaan bahkan perselisihan internal Syi’ah pada setiap level imam ini, selain disebutkan oleh kalangan Syi’ah (An-Naubakhti) juga disebutkan oeh kalangan Ahlus Sunnah wal Jamah, seperti Fakhruddin Ar-Razi dalam kitabnya Al-Muhashshal. [146]


Sementara itu Dr. Musa Al-Musawi, salah seorang tokoh Syi’ah kontemporer yang kini hidup di Amerika, mempunyai pendekatan lain, sekalipun intinya sama dengan yang diungkapkan oleh Ar-Razi di atas.


B. Syi’ah Pada Masa Daulah Buwaihiyah (321 H – 447 H)

Al-‘Allamah Asy-Syaikh Muhammad Husein Al-Mudhafari, salah seorang ulama Syi’ah, menyebutkan peran penting Dinasti Buwaihi, yang muncul dalam panggung politik dan menjadikan khalifah Bani Abbas sebagai boneka belaka, dalam mengukuhkan dan menyebarkan madzhab Syi’ah. 

Dinasti Buwaihi, menurut penuturan Al-Mudhaffari, memang dilahirkan untuk berkhidmat pada madzhab Syi’ah Itsnaa ‘Asyariyah, mereka melakukan segala upaya untuk memenangkan madzhabnya. Keseluruhan periode pemerintahan dinasti Buwaihi adalah masa usaha keras untuk mensosialisasikan serta mengunggulkan madzhab Syi’ah.

Para penguasa dinasti Buwaihi juga sangat menghormati para ulama Syi’ah dan memberikan bantuan finansial yang besar kepada mereka. Pada masa ini munculnya Asy-Syaikh Al-mufid, tokoh ulama Syi’ah yang paling berpengaruh pada masanya dan sangat dihormati oleh penguasa Daulah Buwaihiyah. [151]

 Dan menurut Adz-Dzahabi, tokoh yang satu ini sering kali menampilkan cercaan dan kutukan terhadap para sahabat.

Menurut Muhammad Al-Bandari, pada masa inilah keempat kitab rujukan utama Syi’ah Itsnaa ‘Asyariyah ditulis, masing-masing oleh Al-Kulainiy (dengan kitabnya Al-Kaafi), Ibnu Babawaih Al-Qumy (dengan kitabnya Man La Yahdhuruhu Al-Faqih), Ath-Thusi (dengan dua kitabnya At-Tahdzib dan Al-Istibshar). [152]

 Pada masa hegemoni dinasti Buwaihiyah inilah, orang-orang Syi’ah menuliskan kutukan terhadap tokoh-tokoh yang mereka nilai telah menzhalimi Ahlul Bait, di pintu-pintu masjid mereka. [153]

Menurut penuturan Al-Mudhaffari, dinasti Buwaihi banyak membuat tradisi baru dalam Syi’ah, seperti memperingati hari Ghadir Khum, pada tanggal 18 Dzulhijjah.

Mereka menjadikan hari itu hari raya yang paling utama, karena menurut mereka pada hari itulah Rasulullah saw mengangkat ‘Ali sebagai washi dan khalifah sesudahnya. Penguasa Dinasti Buwaihi mengagungkan hari itu lebih meriah dari hari-hari raya lainnya, baik dari keindahan berpakaian, kelezatan makanan serta sukacita yang ditampilkan.

Tradisi Buwaihi ini kemudian diikuti oleh penguasa-penguasa Syi’ah lainnya, seperti penguasa Daulah Fathmiyah di Mesir. Tetapi pada hari Asyura, mereka menjadikannya sebagai hari berkabung, keadaan duka cita ini berlaku umum, bahkan penguasa Dinasti Buwaihi seperti Muiz Ad-Daulah Ahmad bin Buwaih misalnya pernah memerintahkan kepada seluruh rakyat termasuk yang Sunni, untuk pada hari Asyura itu menutup toko, tidak melakukan transaksi jual beli di pasar, mengenakan pakaian berkabung, dan para wanitanya meratapi Husein pada hari Asyura tersebut. [154] 

Ketika cercaan dan kutukan terhadap para sahabat menjadi kebiasaan, muncullah salah satu keturunan Husein bin ‘Ali ra, yaitu Al-Hasan bin Daud bin Ali, yang menurut kesaksian Al-Hakim Naishaburi, beliau adalah tokoh terkemuka dari keturunan Ahlul Bait, sekaligus tokoh ulama mereka di Khurasan. Beliau juga dikenal karena banyaknya ibadah, shadaqah, dan kecintaannya terhadap sahabat Rasulullah saw. [156]

Menurut Al-Hakim sepanjang persahabatannya dengan Al-Hasan bin Daud apabila disebutkan nama Utsman ra, ia berkomentar: “Beliau adalah syahid (kemudian ia menangis).” Dan setiap disebut nama Aisyah ra, ia pun berkata: “Beliau adalah Ash-Shiddiqah, putri Ash-Shiddiq, kekasih dari kekasih Allah.” Kemudian ia menangis. Ia wafat tahun 355 H. [156]

C. Syi’ah Pada Masa Kekuasaan Mongol dan Runtuhnya Daulah Abbasiyah

Menurut Al-Mudhaffari, masa-masa kekuasaan Mongol di Iran, yang dimulai oleh Hulagu dan diakhiri oleh Abu Said (650 H – 736 H), adalah termasuk masa keemasan bagi Syi’ah di Iran. Pada masa-masa itu orang-orang Syi’ah mendapatkan kebebasan untuk menghidupi madzhab mereka. 

Pada masa inilah muncul sejumlah ulama Syi’ah seperti ulama-ulama dari keluarga Said, keluarga Thawus, dan Khawaja Nashiruddin Ath-Thusi, yang juga imam dalam filsafat dan ilmu kalam, yang oleh Hulagu diangkat sebagai Menteri Urusan Wakaf.

Pada masa ini juga muncul ulama syi’ah lain yang sangat dekat dengan Sultan Khudabandah, yaitu Ibnu Al-Muthahhar Al-Hulliy (648-726 H) dialah yang menulis kitab Kasyful Murad sebagai ajaran kitab Tajrid Al-I’tiqad tulisan Nashiruddin Ath Thusi.

 Kedekatan tokoh ini kepada Sultan yang Syi’ah itu karena sang Sultan merasa puas dengan fatwa Ibnu Al-Mthahhar Al-Hulliy yang mengatakan bahwa talak tiga yang dijatuhkan oleh Sultan terhadap isterinya itu tidak sah, alias batal.

 Karenanya dibolehkan bagi sang Sultan untuk rujuk kepada isterinya tanpa harus kawin terlebih dahulu dengan yang lainnya. [157]

Ketika Hulagu menyerbu Baghdad, menaklukkannya, menghancurkannya, dan mengakhiri Daulah Abbasiyyah, orang-orang Syi’ah yang tinggal di Al-Hullah dan Dua Masyhad, kesemuanya selamat, berkat terkabulnya permintaan ulama Syi’ah yang diajukan kepada Hulagu, agar keamanan mereka dijamin. [158]

Informasi yang ditulis oleh Al-Mudhaffari tersebut, mengukuhkan kaitan Syi’ah (paling tidak Nashiruddin Ath-Thusi) dengan keruntuhan Baghdad. Sebab, seperti ditulis oleh Rasyiduddin dan Ibnu Katsir,

 Nashiruddin Ath-Thusi inilah yang diangkat sebagai penasehat Hulagu sebelum menyerbu Baghdad dan menghabisi Khalifah terakhir Bani Abbas, Al-Musta’shim pada tahun 656 H, padahal sebelumnya Hulagu pernah ragu untuk menyeru Baghdad karena peringatan dari Husamuddin, penasehatnya yang lain, agar tidak menyeru Baghdad, karena hal itu akan membawa bencana dan celaka bagi Hulagu sendiri.

Keruntuhan Baghdad dan berakhirnya Dinasti Abbasiyah juga melibatkan peran Muhammad bin Ahmad Al-Alqami, salah seorang Syi’ah yang menjadi menteri Al-Musta’shim Al-Abbasi, khalifah terakhir Daulah Abbasiyah, karena ia telah berkhianat terhadap negara dengan memberikan informasi-informasi rahasia kepada Mongol, mendorongnya untuk menyerbu Baghdad dan untuk meruntuhkan Daulah Abbasiyah yang Sunni itu.

Selain itu, agar misi Mongol bisa lebih berhasil, Ibnu Al-Alqami juga mengusulkan kepada Al-Musta’shim untuk mengurangi jumlah tentara dengan dalih penghematan anggaran negara, yang tentu pada gilirannya akan mengurangi juga pertahanan Daulah Abbasiyah. [159]

Kedua tokoh ini (Nashiruddin Ath-Thusi dan Ibnu Al-‘Alqami), ketika Baghdad banjir darah; ketika khalifah, para ulama dan banyak rakyat terbunuh, dan Dinasti Abbasiyah runtuh, jutsru Nashiruddin Ath-Thusi diangkat oleh Hulagu sebagai Menteri Urusan Wakaf dan dibuatkan observatorium di Maraghah, dan Ibnu Al-Alqami tetap bebas menghirup udara segar. [160]

D. Syi’ah Pada Periode Dinasti Ash-Shafawi

Menurut kajian Dr. Musa Al-Musawi, ketika Syi’ah Ismail naik tahta sebagai Syah pertama pada Dinasti Shafawi, pada tahun 907 H, keseluruhan kawasan Iran belum lagi menjadi Syi’ah, hanya beberapa kota yang penghuninya adalah orang-orang Syi’ah, seperti Qum, Qasyan, dan Naishabur. Syah Ismail-lah yang kemudian mengumumkan dekrit Syi’ah sebagai madzhab resmi di Iran. [161]

Dan menurut penuturan Al-Mudhaffari, Syah Ismail memang mempunyai fanatisme yang tinggi untuk menyebarkan madzhab syi’ah ke seluruh penjuru Iran. Ia mengutus delegasi da’i dan para propagandis syi’ah ke negeri-negeri yang akan ditaklukannya, guna mengajak mereka untuk memeluk madzhab Syi’ah, dan Syah ismail bangga dapat melakukan ini semuanya.

 Untuk kepentingan penyebaran Syi’ah ini, Syah Ismail bekerja sama dengan para ulama Syi’ah sehingga berhasillah ia melaksanakan keinginan-keinginannya tanpa ada hambatan-hambatan yang berarti. [162] Tetapi seperti yang dituturkan Dr. Musa Al-Musawi, sering juga Syah Ismail melakukan teror dan mengancam bunuh bagi mereka yang tidak mau memeluk ajaran Syi’ah

Al-Musawi mengisahkan suatu peristiwa unik, yaitu ketika penduduk Isfahan yang menganut paham Al-Khawarij menerima ultimatum Syah Ismail untuk memeluk Syi’ah atau mereka akan dipancung lehernya, orang-orang Khawarij Isfahan itu meminta tempo 40 hari.
[163]

Kisah horor penyebaran Syi’ah ala Syah Ismail juga terjadi dalam penaklukkan Tabriz, ketika Syah Ismail akan memaksa penduduknya untuk pindah ke Syi’ah. Waktu itu ia diingatkan oleh salah seorang penasehatnya agar ia urung menerapkan paksaannya itu, karena dua per tiga penduduk Tabriz adalah Sunni.

 Syah Ismail pun bertitah, “Saya mendapat mandat untuk melakukan ini dan sesungguhnya Allah dan Imam-imam yang ma’shum bersamaku dalam hal ini, aku pun tidak takut kepada siapapun, maka bila aku temukan orang yang menentangku, niscaya akan kupenggal lehernya.” [164]

Sekalipun demikian, pada masa Syah Ismail Ash-Shafawi ini telah terjalin hubungan kerja sama politik keamanan dan ekonomi dengan Barat (Eropa) untuk menghadapi musuh bersama yaitu Daulah turki Utsmani yang Sunni itu.

[165] Hal itu bermula dengan adanya persetujuan Syah Ismail atas pakta militer dengan Portugal yang berisikan bahwa Syah Ismail tidak akan menuntut Portugal untuk mengembalikan pulau Hurmuz dan pelabuhan Kamberun, sementara itu Portugal sepakat untuk membantu syah Ismail Ash-Shafawi melawan Turki Utsmani. [166]

Berdasarkan kajian Dr. Badi’ Muhammad Jum’ah, yang merujuk ke berbagai literatur tentang Iran, baik yang ditulis dalam bahasa persia, Arab maupun Inggris, didapatkan fakta-fakta adanya hubungan kerja sama Dinasti Ash-Shafawi dengan negara-negara Eropa untuk melawan musuh bersama yaitu Turki Utsmani, yang semakin meningkat pada masa Syah Abbas Ash-Shafawi (996-1038 H / 1588-1629 M).

Yang demikian ini karena Syah Abbas sadar sepenuhnya bahwa satu-satunya cara untuk menghadapi dan mengalahkan Turki Utsmani adalah kerja sama di bidang militer dengan Barat. Untuk kepentingan itulah Syah Abbas mengirimkan utusan ke berbagai negara Eropa, antara lain Spanyol, Jerman, Rusia, Inggris dan Belanda, untuk mengajak kerja sama yang saling menguntungkan dengan negara tersebut dalam menghadapi musuh bersama, yaitu Turki Utsmani dengan imbalan Syah Abbas akan memberikan kemudahan bagi misi perdagangan Eropa di Iran dan kawasan sekitarnya.

Syah abbas bahkan juga menghubungi Paus Paulus V dan memintanya untuk mendorong agar raja-raja Eropa yang beragama Kristen itu bersatu-padu dan bekerja sama dengan Iran untuk memusnahkan Daulah Turki Utsmani. Kesempatan ini diperunakan oleh Paus untuk mengirim berbagai surat ke Syah Abbas untuk mengukuhkan posisi orang Kristen di Iran, dan agar mereka selalu dihormati, diisinkan membangun gereja dan melaksanakan pribadatan mereka.

Di antara surat Paus Paulus V ada yang berisi ucapan selamat atas kemenangan Syah Abbas mengalahkan orang-orang Uzbek yang Sunni sambil mendorongnya untuk terus memerangi Turki utsmani, sambil menegaskan kesediaannya untuk mendorong bersatunya raja-raja Nashrani di Eropa untuk bersama-sama menyerbu Turki Utsmani dari arah Barat, sementara Syah abbas menyeru Turki Utsmani dari arah Timur.

Paus juga berjanji untuk mengirimkan ahli-ahli militer dan persenjataannya dalam rangka emperkuat pasukan Iran. Syah Abbas kemudian mendapatkan bantuan delegasi ahli militer Inggris, yang melatih serta memodernkan angkatan perang Iran, mereka juga menjadi supervisor untuk mendirikan pabrik-pabrik senjata di Isfahan, yang memungkinkannya untuk mengalahkan pasukan Turki utsmani di Azarbaijan, bahkan salah seorang delegasi Inggris, yaitu Robert Charles pernah menjadi panglima salah satu pasukan Iran dalam perang melawan pasukan Turki utsmani pada tahun 1013-1014 H.

Syah Abbas juga membuat perjanjian perdagangan dan keamanan dengan pemerintah Belanda, dimana Syah Abbas akan memberikan kemudahan bagi orang-orang Belanda untuk melakukan perniagaan di Iran, memberikan izin kepada mereka untuk mendirikan gereja.

 Mereka pun diberi hak untuk menghukum orang Belanda yang masuk agama Islam dengan menangkapnya, menghukumnya, dan menyita harta-bendanya. Dan di antara permintaan Syah Abbas kepada pemerintah belanda, agar pemerintah Belanda tidak berhubungan politik dan perdagangan dengan Turki Utsmani. [167]

Pada masa Dinasti Shafawi ini muncullah ulama-ulama Syi’ah yang berpengaruh dalam perkembangan Syi’ah, di antaranya yang paling terkenal adalah Muhammad Al-Majlisi (1037-1111 H). Tokoh yang sangat fanatik Syi’ah dan bara’ah terhadap musuh-musuhnya ini sangat dekat dan berpengaruh terhadap kerajaan, bahkan kedua Syah Shafawi, yaitu Syah Sulaiman dan Sultan Husein mempercayakan kepadanya urusan keagamaan dan negara, ia pun mendapatkan dukungan politik dan finansial dari negara.

Al-Majlisi berhasil menulis Ensiklopedi Bihar Al-Anwar dalam 25 jilid yang merupakan himpunan tanpa seleksi dan kritik dari hadits-hadits, kisah-kisah serta peristiwa-peristiwa yang dinisbahkan kepada imam-imam Syi’ah. [168]

E. Khotimah

Demikianlah selayang pandang tentang Syi’ah dalam lintasan sejarah, dan bila sejarah adalah cermin serta ibrah, kiranya kita ummat Islam di Indonesia dan Asia Tenggara yang beraqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah dapat mengambil pelajaran penting dan bermanfaat, sehingga pada era globalisasi dan abad informasi, dengan masih dominannya hegemoni Barat dan Zionisme internasional, kita dapat mengatasinya dengan tetap berpegang pada dua prinsip dasar Islam, yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah, sehingga tetap mmapu memberikan kontribusi positif untuk peradaban dan keselamatan ummat manusia. 

Sebab dalam konteks perkembangan hubungan Sunni-Syi’ah kontemporer, kita disuguhi dengan fenomena revolusi Syi’ah di Iran yang menggulingkan rezim sekuler dalam Dinasti Pahlevi yang Syi’ah juga, pada awalnya revolusi itu mengangkat jargon:



Tidak Barat tidak Timur, (tetapi) Islam, Islam

Tidak Syi’ah, tidak Sunni, (tetapi Islam, Islam


Sebelumnya kita pun tahu, dari Kairo Syekh Mahmud Syalthut dari Al-Azhar pernah memfatwakan kebolehan beribadah dengan madzhab Syi’ah Imamiyah,itsna Assyariah ( Syi"ah 12 Imam)

Syiah dalam lintasan sejarah,bagian.II





Pada periode sesudah wafatnya Al-Husein, Syi’ah terpecah dalam berbagai kelompok antara lain;



a. Kelompok-kelompok yang mengakui bahwa sesudah wafatnya Husein, imamah berlanjut ke putera ‘Ali yang lain, yaitu Muhammad bin Al-Hanafiah, kemudian mereka pun terpecah, ada yang berkeyakinan bahwa Muhammad bin Al-Hanafiah yang disebut Al-Mahdi itu, tidak pernah meninggal. Ada yang berkeyakinan beliau meninggal, dan pelanjutnya sebagai imam adalah puteranya Abu Hasyim. Kelompok ini disebut Al-Hasyimiyah. Kemudian mereka berpecah-belah, ada yang berkeyakinan bahwa Abu Hasyim memberikan wasiat kepada Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Al-Abbas bin Abdul Muthallib, kelompok ini disebut Syi’ah Ar-Rawandiyah. [127]

b. Kelompok yang mengakui bahwa sesudah wafatnya Husein, maka imamah berlanjut ke puteranya yang masih hidup, Ali Asghar Zainal Abidin, yang ibunya bernama Jihansyah, putri Kaisar Persia Yazdajird bin Syahriyar. [128]

c. Kelompok yang mengakui bahwa setelah syahidnya Al-Husein, maka imamah telah selesai (terputus). Sebab, menurut mereka, yang disebut namanya oleh Rasulullah saw sebagai ahlul bait beliau hanyalah tiga orang saja, yaitu ‘Ali, Hasan dan Husein. [129]

d. Kelompok yang menyebut bahwa sesudah syahidnya Al-Husein, imamah berlanjut hanya pada keturunan Al-Hasan maupun Al-Husein. Siapapun di antara mereka yang mengklaim sebagai imam, maka mereka adalah imam yang wajib ditaati. Barangsiapa yang lalai melakukannya, maka ia kafir. Mereka itulah kelompok As-Sarhubiyyah. [130]
04. Sesudah wafatnya Ali Zainal Abidin, muncullah kelompok-kelompok Syi’ah, antara lain:


a. Az-Zaidiyah, pengikut Zaid bin Ali bin Husein yang meyakini sekalipun ‘Ali bin Abi Thalib lebih utama dari Abu Bakar dan Umar, tetapi khilafah keduanya adalah sah. Mereka juga berkeyakinan bahwa imamah dapat diraih oleh siapapun dari keturunan Muhammad saw apabila mereka memperjuangkan hal itu. Setelah syahidnya Zaid, kelompok ini diteruskan oleh putera-puteranya Yahya dan Isa. [131]

b. Kelompok yang mengakui bahwa Imamah sesudah Ali Zainal Abidin, adalah puteranya, Muhammad Al-Baqir. [132]


05. Sesudah wafatnya muhammad Al-Baqir, Syi’ah terpecah lagi dalam tiga kelompok:



a. Kelompok yang mengakui imamahnya Muhammad bin Al-Hasan bin Al-Husein bin ‘Ali bin Abi Thalib yang disebut sebagai Al-Qaim dan Al-Mahdiy. [133]

b. Kelompok yang mengakui bahwa imamah sesudah wafatnya Muhammad Al-Baqir adalah puteranya Ja’far As-Shadiq. [134]

c. Kelompok Al-Mughiriyyah pengikut Al-Mughirah bin Said, yang mengakui Al-Mughirah-lah yang mendapatkan wasiat dari Muhammad Al-Baqir sebagai imam hingga munculnya Al-Mahdi, yaitu Muhammad bin Abdullah bin Al-Hasan bin Al-Hasan.

06. Sesudah wafatnya Ja’far Ash-Shadiq, Syi’ah terpecah lagi dalam 6 kelompok, antara lain:



a. Kelompok yang mengakui bahwa Ja’far Ash-Shadiq adalah Al-Mahdi, beliau tidak meninggal sehingga sukses menjadi pemimpin ummat manusia. Inilah kelompok An-Nawusiyah.

b. Kelompok yang mengakui bahwa imamah sesudah Ja’far adalah puteranya, Islamil. Mereka berkeyakinan bahwa Ismail tidak mati, sehingga berhasil memimpin ummat, dialah sang Al-Qaim. Inilah kelompok Al-Ismailiyah Al-Khalishah. [135]

c. Kelompok yang meyakini bahwa imamah sesudah Ja’far adalah Muhammad bin Ismail bin Ja’far, cucu Ja’far. Menurut kelompok ini wafatnya Ismail pada masa hidup sang ayah, Ja’far, menunjukkan bahwa imam sesudah Ja’far adalah putera Ismail, Muhammad. Apalagi mereka juga berpendapat, bahwa sesudah periode Al-Hasan dan Al-Husein, imamah tidak lagi berputar dari kakak ke adik, melainkan dari ayah ke anak.

Karenanya imamah sesudah Ja’far tidak berpindah dari Ismail ke saudaranya Abdullah atau Musa, melainkan ke puteranya Muhammad yang disebut juga sebagai Al-Mahdiy. Inilah kelompok Al-Mubarakiyah. [136] Termasuk dalam Ismailiyah, kelompok pengikut Abil Khaththab, yang lebih populer dalam sebutan Al-Khaththabiyah, kelompok ini juga dikenal sebagai As-Sab’iyyah karena meyakini bahwa jumlah imam adalah 7 saja. Kelompok ini juga dikenal sebagai Al-Qaramithah.

d. Kelompok yang mengakui bahwa imamah sesudah Ja’far adalah puteranya, Muhammad bin Ja’far, dan kemudian ke anak turunannya. Kelompok ini bernama As-Sumaithiyah, yang dipimpin oleh Yahya bin Abi As-Sumaith.

e. Kelompok yang meyakini bahwa imamah sesudah Ja’far adalah puteranya, Abdullah bin Ja’far al-Afthar, mereka berhujjah dengan hadits yang disampaikan oleh Ja’far Ash-Shadiq bahwa imamah itu adanya pada anak tertua imam, dan Abdullah adalah putra tertua Ja’far dan telah memproklamirkan diri sebagai imam.

Hampir semua Syi’ah dan fuqaha yang meyakini imamah Ja’far, kemudian menurun ke imamah Abdullah. Kelompok ini disebut Al-Afthiyah. Mereka juga berkeyakinan bahwa sesudah Abdullah imamah berlanjut kepada turunannya.

f. Kelompok yang mengakui bahwa sesudah wafatnya Ja’far dan putera tertuanya Abdullah, maka imamah berpindah ke putera Ja’far yang lain, yaitu Musa Al-Kazhim, dan kemudian ke anak turunannya. [137]

07. Sesudah wafatnya Musa Al-Kazhim, Syi’ah terpecah lagi dalam lima kelompok, di antaranya adalah yang meyakini bahwa imamah sesudah Musa Al-Kazhim adalah puteranya Ali Ar-Ridha. [138] Juga meyakini bahwa imamah berhenti sampai tingkat ini saja. Kelompok ini disebut Al-Waqifah.

08. Sesudah wafatnya Ali Ar-Ridha, Syi’ah terpecah lagi dalam berbagai kelompok, di antaranya adalah yang meyakini bahwa sesudah Ali Ar-Ridha, imamah berpindah ke puteranya, Muhammad bin Ali, [139] yang waktu itu belum baligh, ia baru berumur 7 tahun sehingga membuat perpecahan di kalangan pengikutnya. [140]

09. Sesudah wafatnya Muhammad, Syi’ah terpecah lagi dalam beberapa kelompok, antara lain yang meyakini bahwa imamah sesudahnya adalah Ali bin Muhammad. [141]

10. Sesudah wafatnya Ali bin Muhammad, Syi’ah terpecah lagi dalam beberapa kelompok, antara lain yang meyakini bahwa iammah sesudah ‘Ali, berlanjut ke puteranya Al-Hasan bin Ali. [142] Beliaulah imam ke-11 dalam Syi’ah Itsnaa ‘Asyariyah.

Syi’ah Dalam Lintasan Sejarah Bagian.I





Syi’ah Dalam Lintasan Sejarah
Oleh DR. M. Hidayat Nur Wahid Mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera


Syi’ah Dalam Lintasan Sejarah

Oleh DR. M. Hidayat Nur Wahid


Muqaddimah

Al-Qur’an telah dengan jelas menyebut risalahnya sebagai petunjuk bagi orang-orang yang taqwa. [105] dan risalah Nabi Muhammad, penutup para Nabi dan Rasul, sebagai rahmat untuk seluruh alam, [106] dan generasi yang dibina langsung oleh Rasulullah saw sebagai sebaik-baik ummat yang dikeluarkan ke tengah ummat manusia, dengan amar ma’ruf nahi munkar serta iman billah [107], dan Allah pun berfirman:

“Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) baik muhajirin maupun anshar maupun orang-orang yang mengikuti mereka dengan bak,i Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, di dalamnya mereka kekal selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” [108]


Sekalipun demikian, dan sesudah wafatnya Rasulullah saw, sejarah ummat Islam mencatat berbagai firqah (sekte), di antaranya Syi’ah, yang sering meng-klaim madzhabnya sebagai madzhab Ahlul Bait.
 Sementara itu menurut riwayat "Imam Muhammad Al-Baqir" (salah satu tokoh Ahlul Bait), beberapa orang yang mengaku pengikut Ahlul Bait pernah mendatangi ayahnya, Imam Ali Zainal Abidin, mereka mencaci-maki Abu Bakar, Umar dan Utsman ra.


Setelah mereka puas, Ali Zainal Abidin berkata: “Maukah kalian mengkhabariku, adakah kalian ini termasuk kelompok orang-orang Muhajirin yang diusir dari kampung halamannya dan dari harta benda mereka, karena mencari karunia Allah dan Rasul-Nya, dan keridhaan-Nya dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar.” [109]


Mereka menjawab: “Bukan.” Ali Zainal Abidin bertanya lagi: “Adakah kalian orang-orang (Anshar) yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman sebelum kedatangan mereka (kaum Muhajirin), mereka mencintai orang-orang yang hijrah kepada mereka.” [110]


Mereka menajwab: “Bukan.”

Kata Imam Ali Zainal Abidin, “kalau demikian maka aku pun bersaksi bahwa kalian bukanlah orang-orang yang datang sesudah mereka (Al-Muhajirin dan Al-Anshar) yang berdoa: ‘Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami, dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman, Ya Rabb Tuhan kami sesungguhnya Engkau Maha Penyantun, lagi Maha Penyayang’…” Imam Ali Zainal Abidin pun kemudian mengusir mereka. [112]


Kajian ringkas di bawah ini akan memaparkan Syi’ah dalam lintasan sejarah, baik berkaitan dengan masalah Imamah yang merupakan issu dan aqidah terpenting bagi Syi’ah maupun implikasinya dalam bentuk politik, dengan sedapat mungkin merujuk ke kitab-kitab Syi’ah sendiri, dan menguatkannya dengan rujukan dari Ahlus Sunnah wal Jamaah.


A. Syi’ah Hingga ke Masa Ghaibah Al-Kubra (329 H)

Menurut Al-Hasan bin Musa An-Naubakhti, salah seorang tokoh ulama Syi’ah yang hidup pada pertengahan abad ke-3 H hingga awal 4 H, dalam kitab Firaq Asy-Syi’ah, telah terjadi perbedaan dan perselisihan di kalangan firqah-firqah Syi’ah semenjak awal sejarah mereka terutama pada penentuan siapakah yang menjadi “Imam” sekalipun dalam klaim Syi’ah, Imamah adalah pokok keimanan mereka.


Menurut An-Naubakhti perbedaan-perbedaan itu antara lain:

01. Setelah Rasulullah saw wafat, Syi’ah terpecah dalam 3 kelompok, yaitu:



a. Kelompok yang meyakini bahwa ‘Ali adalah Imam yang harus ditaati, dan bukan yang lainnya, berdasarkan nash dari Nabi, beliau ma’shum, terjaga dari segala bentuk kesalahan, yang berwilayah dengannya akan selamat, dan yang memusuhinya kafir dan sesat (dhall), dan imamah ini terus diwarisi oleh keturunannya [113]. Sebagian kelompok ini disebut Al-Jarudiyah. [114]


b. Kelompok yang meyakini bahwa ‘Ali memang yang paling berhak sesudah Rasulullah saw karena keutamaannya, sekalipun demikian mereka membenarkan imamah/khalifah dari abu Bakar dan umar dikarenakan keridhaan serta bai’at ‘Ali terhadap keduanya secara sadar tanpa paksaan. Inilah pemula kelompok Al-Batriyah. [115]


c. Sama dengan pendapat kelompok kedua, hanya saja mereka berpendapat bahwa mentaati imam yang sudah ditetapkan itu hukumnya wajib, maka siapapun yang tidak mentaatinya, dia kafir dan sesat. [116]

Pada masa ini, An-Naubakhti juga menyebutkan munculnya kelompok Khawarij dari kalangan Syi’ah (pasukan pendukung) ‘Ali, mereka ini kemudian mengkafirkan ‘Ali bin Abi Thalib karena melakukan tahkim ar rijal. [117]

Pada periode ini juga, seperti yang akan terlihat dalam peristiwa sejarah, tercatat munculnya Abdullah bin Saba’ dan kelompok Syi’ahnya yang selanjutnya disebut sebagai Syi’ah Saba’iyah.

02. Setelah ‘Ali wafat, Syi’ah terpecah menjadi 3 golongan:

a. Kelompok yang berpendapat ‘Ali tidak mati terbunuh, dan tidak akan mati sehingga ia berhasil memenuhi bumi dengan keadilan. Menurut An-Naubakhti inilah kelompok ghuluw (ekstrim) pertama. Kelompok ini disebut Syi’ah As-Saba’iyah, pimpinannya Abdullah bin Saba’.

Mereka adalah kelompok yang terang-terangan mencaci serta bara-ah terhadap Abu Bakar, Umar dan Utsman serta para sahabat Rasulullah saw. Mereka mengaku bahwa ‘Ali-lah yang menyuruh mereka untuk melakukan hal ini. Ketika dipanggil oleh ‘Ali mereka mengakui perbuatan mereka. Hampir saja ‘Ali memvonis mati terhadap Abdullah bin Saba’. Tetapi karena pertimbangan beberapa orang, sehingga ‘Ali hanya mengusir Abdullah bin Saba’ ke Al-Madain.

Menurut sebagian ahli ilmu dari sahabat ‘Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Saba’ tadinya beragama Yahudi. Ketika masuk Islam, ia mendukung ‘Ali. Menurut An-Naubakhti, Abdullah bin Saba’ adalah orang pertama yang terang-terangan menghidupkan tentang kewajiban imamahnya ‘Ali serta berlepas diri (bara-ah) dari musuh-musuhnya. Menurut An-Naubakhti, Abdullah bin Saba’ yang mantan Yahudi itu, ketika masih beragama Yahudi pernah mempopulerkan pendapat bahwa Yusa’ bin Nun adalah pelanjut Nabi Musa. Maka ketika masuk Islam ia berpendapat bahwa ‘Ali adalah pelanjut Nabi Muhammad. Faktor inilah yang membuat orang menuduh bahwa sumber ajaran (Ar-Rafdhu) Syi’ah berasal dari Yahudi. [118]

Paparan An-Naubakhti ini sekaligus merupakan jawaban terhadap kalangan Syi’ah, serta pendukungnya, yang mengklaim bahwa Abdullah bin Saba’ hanya tokoh fiktif, ciptaan kalangan Ahlus Sunnah, yang sumber utamanya dari Ath-Thabariy melalui satu-satunya jalur Saif bin Umar At-Tamimy.


b. Kelompok yang berpendapat bahwa ‘Ali memang wafat. Dan Imam sesudah beliau adalah puteranya, Muhammad bin Al-Hanafiyah, karena dia dan bukan Hasan atau Husein, yang dipercaya membawa panji ayahnya, ‘Ali dalam peperangan di Basrah. Kelompok ini disebut Al-Kaisaniyyah. [119] Mereka mengkafirkan siapapun yang melangkahi ‘Ali dalam Imamah, juga mengkafirkan Ahlush Shiffin, Ahlul Jamal. Tokoh kelompok ini Al-Mukhtar bin Abi Ubaid Ats-Tsaqafi, mengaku bahwa Jibril pernah menurunkan wahyu kepadanya. [120]


c. Kelompok ketiga berkeyakinan bahwa ‘Ali memang wafat, dan imam sesudahnya adalah puteranya, Al-Hasan. Ketika kemudian Al-Hasan menyerahkan khilafah kepada Mu’awiyah bin Abi Sufyan, mereka memindahkan imamah kepada Al-Husein, sebagian mereka mencela Al-Hasan, bahkan Al-Jarrah bin Sinan Al-Anshari pernah menuduhnya sebagai musyrik, dan membacok pahanya dengan pedang. [121]

Tetapi sebagian Syi’ah berpendapat, bahwa sesudah wafat Al-Hasan, maka yang menjadi imam adalah puteranya, yaitu Al-Hasan bin Al-Hasan yang bergelar Ar-Ridha dari keluarga Muhammad. Beliau ini, menurut Al-Isfahani, bernama Ali bin Husein Zainal Abidin serta Umar bin Hasan dan Zaid bin Hasan adalah cucu-cucu ‘Ali bin Abi Thalib yang menyertai Al-Hussein dalam peristiwa karbala dan selamat dari pembunuhan. [122]

Fakta sejarah ini sekaligus menolak informasi yang menyebutkan bahwa satu-satunya keturunan laki-laki Rasulullah saw atau keturunan laki-laki ‘Ali yang selamat dari pembantaian Karbala hanyalah Ali bin Husein Zainal Abidin saja.
03. Sesudah syahidnya Al-Husein ra dalam peristiwa Karbala, dimana sebelumnya beliau diundang oleh orang-orang di Kufah yang mengaku diri sebagai Syi’ah-nya dan mereka mengaku mempunyai belasan ribu orang yang siap membela Husein [123]

Tetapi ketika Husein akhirnya terkepung oleh pasukan Ubaidillah bin Ziyad tak satu pun orang yang tadinya mengundang beliau, tampil membela, mereka justru cenderung cuci tangan, sehingga menyebabkan syahidnya Imam Husein. Seperti dikisahkan oleh sejarawan syi’ah, Al-Mas’udi, Husein ra sebelum syahid bahkan sempat berdo’a: “Ya Allah turunkanlah keputusan-Mu atas kami dan atas orang-orang yang telah mengundang kami, dengan dalih mereka akan mendukung kami, tetapi knii ternyata mereka membunuhi kami.” [124]



Adapun yang ikut syahid bersama Al-Husein dalam peristiwa ini, antara lain:


a. Putera-putera ‘Ali bin Abi Thalib yang bernama Abu Bakar, Utsman, Abbas.



b. Putera Al-Hasan bin Ali seperti: Abu Bakar.



c. Putera Al-Husein bin Ali seperti: Ali Al-Akbar bin Al-Husein, [125] sehingga ketika jenazah Husein beserta keluarganya yang masih hidup dibawa ke Kufah dan ditangisi oleh orang-orang di Kufah, Ali Al-Asghar bin Husein Zainal Abidin berkomentar, “mereka menangisi kami, padahal bukankah mereka sendiri yang telah membunuh kami.” [126]