Minggu, 09 Oktober 2011

Mewaspadai teologi Horor







Mewaspadai ‘Teologi Horor’ (1)
Posted on 27/09/2011 by Muhsin Labib
This entry is part 1 of 3 in the series Mewaspadai ‘Teologi Horor’

Mewaspadai ‘Teologi Horor’


* Mewaspadai ‘Teologi Horor’ (1)
* Mewaspadai ‘Teologi Horor’ (2)
* Mewaspadai ‘Teologi Horor’ (3)

Dr. Muhsin Labib

Dr. Muhsin Labib

Air mata kita yang mengalir, karena meratapi tragedi tsunami di Aceh gempa di Nias belum juga mengering, tiba-tiba kita dikejutkan oleh sebuah peritiwa peledakan di Poso yang menewaskan lebih dari 20 orang dan melukai lainnya. Berbagai macam reaksi dan kecaman muncul. Seperti biasanya, peristiwa yang terjadi di sebuah pasar yang berdekatan dengan rumah ibadah itupun dikaitkan dengan konflik SARA yang beberapa bulan lalu sempat mencekam kawasan itu. Jelas, aksi teror ini jelas dilakukan oleh musuh semua agama atau paling tidak dilakukan orang yang mengatasnamakan agama secara sadar atau tidak. Syukurlah, semua pemuka agama berinisiatif untuk mengecamnya dan membersihkan agamanya masing-masing dari vandalisme ini. Setelah dikejutkan oleh kekerasaan terhadap kelompok yang berbeda agama, beberapa waktu lalu, kita dikejutkan lagi oleh aksi kekerasan terhadap kelompok minoritas dalam Islam, Ahmadiyah di Parung, Depok. Peristiwa ini sungguh menyesakkan dada. Sungguh ironis, di negara yang menjadikan demokrasi sebagai sistem yang menjamin kekebebasan berpendapat dan beragama, malah terjadi pemaksaan pandangan keagamaan tertentu terhadap anggota masyarakat lain yang berbeda agama maupun aliran. Tentu, fenomena ini menimbulkan kegelisahan dan kekhawatiran di kalangan minoritas agama dan minoritas aliran dalam setiap agama, terutama Islam.

Meski demikian, tak pelak lagi-lagi tema ‘kekerasan atas nama agama’ mencuat ke permukaan. Mungkin sudah banyak analisis yang dikemukakan oleh para ahli tentang kekerasan, namun hampir semuanya menolak kaitan kekerasan dengan teologi. Penulis berusaha untuk menyingkap relasi kekerasan dengan skripturalisme dalam tubuh Islam untuk dijadikan sebagai sebuah hipotesa sederhana.

Pengertian, Cara dan Tujuannya

Sosiolog dan kriminolog terkenal asal Norwegia, Johan Galtung, mendefiniskan ‘kekerasan’ sebagai “serangan atau penyalahgunaan fisik terhadap seseorang atau binatang; atau serangan, penghancuran, perusakan yang sangat keras, kasar, kejam, dan ganas atas milik atau sesuatu yang secara potensial dapat menjadi milik seseorang” .

Menurutnya, kekerasan meliputi semua bentuk tindakan yang dapat menghalangi seseorang untuk “merealisasikan potensi diri-nya” (self-realization) dan “mengembangkan pribadinya”(personal growth), yang merupakan jenis hak dan nilai manusia yang paling asasi.

Secara umum, dari bentuk dan karakter para pelakunya, kekerasan dapat dibagi ke sejumlah dimensi, antara lain:

1. Kekerasan fisiologis (fisikal), yaitu agresi terhadap sasaran fisik demi mematuhi pemimpin, atau karena perspesi yang diyakini sebagai mulia, seperti pengemboman yang mengakibatkan tewas, luka dan kerusakan bangunan serta sarana umum. Tujuannya ada kalanya bersifat psikologis, seperti balas dendam, fisiologis seperti pembakaran hutan karena akan dijadikan lahan kembali, dan ada kalanya bersifat, dan ada kalanya bersifat idealogis bahkan teologis, seperti terikat baiat, menguji kepatuhan kepada pemimpin yang diagungkan dan sebagainya.
2. Kekerasan psikologis, yaitu agresi terhadap jiwa dan mental sasaran demi balas dendam dan lainnya, seperti ancaman via telepon, surat kaleng, penyekapan dan sebagainya yang menimbulkan trauma, kepanikan dan ketakutan. Tujuannya juga bisa psikilogis, seperti balas dendam, bisa bersifat fisiologis seperti mendapatkan imbalan harta, dan bisa pula bersifat ideologis dan teologis seperti kepatuhan atau keterikatan pada sebuah baiat yang telah disakralkan dan dipastikan sebagai ‘satu-satunya jalan yang benar’
3. Kekerasan intelektual, yaitu agresi dengan menggunakan argument, retorika dan analisis, seperti konspirasi, pembunuhan karakter dan pengaburan fakta melalui retorika, menacari celah-celah hukum bagi penjahat, rekayasa dan pembentukan opini tandingan dengan sarana media dan sebagainya. Tujuannnya juga bervariasi, kadang fisiologis, kadang psikologis dan kadang –bahkan sering- bersifat ideologis dan teologis.
4. Kekerasan teologis-keagamaan, yaitu agresi terhadap sasaran tertentu dengan pembenaran agama atau mazhab demi mencapai tujuan yang diyakini sebagai sebuah ‘kepatuhan’, pendangkalan arti jihad, amar makruf, perang suci, penyesatan terhadap kelompok agama tertentu melalui provokasi selebaran atau dari mulut ke mulut yang bertujuan mendiskerditkan kelompok agama dan mazhab tertentu berdasarkan pemahaman sepihak terhadap dalil dan teks tertentu.
5. Kekerasan ekonomi, yaitu tindakan pengahancuran terhadap sasaran plural bahkan tidak tertentu dengan menggunakan cara korupsi, penyuapan, nepotisme, tender palsu, pemerasan, kolusi, monopoli, dan sebagainya Biasanya tujuannya bersifat fisiolois (baca: harta).
6. Kekerasan kriminial, yaitu agresi yang telah dapat dikenai sanksi undang-undang dan hokum postif, seperti pemerkosaan terhadap aktivitas illegal oleh aparat kotor, penggunaan psikotropika, perampokan, pengoplosan minyak solar dan sebagainya. Ada kalanya tujuan pelakunya bersifat psikologis, meski kadang pula tujuannya bersifat akumulatif dan kolektif.
7. Kekerasan politik, yaitu agresi terhadap orang atau kelompok lain demi mecapai tujuan kekuasaan dan demi mempertahankan kekuasaan, seperti pembodohan dengan janji-janji palsu melalui kampanye, mengalihkan perhatian masyarakat dari sebuah skandal korupsi, memonopoli interpterasi undang-undang, menyuap agar diloloskan sebagai kandidat bupati, dan sebagainya.

Sasaran-sasaran Kekerasan

Dalam artikel lainnya yang lebih mutahir, Galtung membedakan delapan jenis tindak kekerasan berdasarkan objek-objeknya yang berbeda-beda:

1. Kekerasan terhadap alam yang ia sebut sebagai ecological crimes;
2. Kekerasan terhadap diri sendiri, seperti stres, bunuh diri, alkoholisme dan sejenisnya;
3. Kekerasan terhadap keluarga, seperti “child abuse” dan “woman abuse”, yang dilakukan melalui pengungkapan fisik maupun verbal;
4. Kekerasan terhadap individu, seperti pencurian, perampokan, pemerkosaan dan pembunuhan;
5. Kekerasan terhadap organisasi yang dalam pengungkapannya dapat berupa korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan;
6. Kekerasan terhadap kelompok, meliputi berbagai bentuk kekerasan antar kelompok, antar kelas dan antar bangsa;
7. Kekerasan terhadap masyarakat, berupa perang dan penindasan antar bangsa atau negara;
8. Kekerasan terhadap dunia lain, berupa kekerasan antar planet.

Galtung memasukkan kekerasan ketiga sampai keenam, dalam sistem pencatatan dan pelaporan nasional, dikenal sebagai tindak kejahatan.

Kekerasan yang lebih keji adalah yang tidak memilih sasaran tertentu, karena yang menjadi sasaran utama bukanlah korban yang tewas atau yang terluka, namun pihak lain yang akan terganggu oleh jatuhnya korban. Umumnya, pelaku telah didoktrinasi bahwa ‘perjuangan akan memakan korban’ yang dijadikan sebagai justifikasi. Karena itu, peledakan di rumah ibadah, pasar dan tempat umum atau penyanderaan warga sipil tergolong kekerasan yang acak dan tidak dapat dideteksi oleh aparat intelejen, apalagi tidak didukung dengan SDM yang handal dan fasilitas yang memadai.

Pelaku dan Sumber Kekerasan

Lalu, darimanakah datangnya kekerasan? Filosof Thomas Hobbes melihat kekerasan sebagai produk dari “keadaan alamiah” manusia sebagai “homo homini lupus”. Ia mengungkapkan bahwa manusia berkarakter srigala. Sedangkan Jean Jaques Rousseau yang melihat kekerasan tersembunyi dalam rantai peradaban manusia. Peradaban inilah yang membentuknya menjadi binatang saling menyerang sesamanya. Mulla Sadra membagi manusia dalam tiga dimensi; ruh sebagai entitas abstrak yang tidak memiliki kekurangan, jiwa sebagai entitas semi material dan immaterial yang berposisi interval dengan sifatnya yang fluktuatif, dan raga sebagai entitas material murni yang memiliki segala kecenderungan-kecenderungan bendawi. Bila jiwa mengikuti sistem raga, maka, ia akan mencari kesenangan, kenyaman, kebabasan dan kerakusan sebagai tujuan kesempurnaannya. Namun, bila jiwa mengikuti sistem ruh, maka ia akan mencari kebenaran, kebaikan, kepatutan, keindahan dan kesempurnaan. (bersambung)

Epistimologi Ambiguitas by DR.Muhsin Labib







Epistemologi: Ambiguitas Antara “Tahu” dan “Ada” (1)


Posted on 09/10/2011 by Muhsin Labib
This entry is part 1 of 1 in the series Epistemologi


Epistemologi

* Epistemologi: Ambiguitas Antara “Tahu” dan “Ada” (1)

Dr. Muhsin Labib

Dr. Muhsin Labib

Pengetahuan menjadi penting untuk dibicarakan, karena ia adalah gerbang semua keyakinan, teori dan pendapat serta pikiran dalam benak kita Karenanya, uraian singkat tentang epistemologi sangat diperlukan. Sedemikian pentingnya “tahu” sehingga pemahaman tentang Tuhan pun mesti melewati gerbangnya

Apakah ‘tahu itu? Apakah pengetahuan itu? Apakah subjek pengetahu itu? Apakah objek yang diketahui itu? Berapakah macam pengetahuan? Apakah alat pengetahuan itu? Mungkinkah manusia memperoleh pengetahuan? Bagaimana membedakan antara pengetahuan yang benar dan tidak benar? Apa hubungan antara pengetahuan yang benar dan keyakinan? Pertanyaan-pertanyaan ini sangat perlu untuk dijawab.

Pertama-tama, istilah “pengetahuan” yang digunakan dalam konteks ini bersifat umum, bukan hanya terbatas pada pengetahuan yang kini lebih sering disebut dengan “ilmu pengetahuan” dan “sain”, namun “knowledge” dan “ma’rifah”.

Jika seseorang mengklaim “tahu” atau “berpengetahuan” dan berkata: “Saya tahu bahwa besok hujan akan turun’, maka syarat-syarat apakah yang semestinya telah dipenuhinya, sehingga kita dapat menganggapnya berhak mengaku dirinya berpengetahuan atau mengetahui?

Salah satu keunggulan epistemologi adalah ke-badîhî-annya. Epistemologi tidak perlu meminjam aksioma-aksioma luar untuk semua pokok bahasannya, karena semuanya dapat dijelaskan semata-mata dengan landasan-landasan asasi yang swanyata (self-evident atau البديهيّات الاوّليّة / badîhiyyât awwaliyyah).

Bila segenap solusi atas masalah-masalah ontologi dan ilmu-ilmu lain yang dicapai melalui metode-metode rasional bergantung pada kesanggupan akal untuk itu, maka bukankah itu berarti bahwa filsafat pertama (metafisika) juga membutuhkan epistemologi untuk menyediakan aksioma-aksioma dasar bagi filsafat, padahal sebelumnya dikatakan bahwa filsafat (ontologi) tidak membutuhkan pada ilmu lain, sebagaimana disepakati dalam tradisi filsafat Hawzah? Ia memberikan jawaban sebagai berikut.

Pertama, premis-premis yang secara langsung dibutuhkan oleh metafisika sesunggunya merupakan penyataan-pernyataan swabukti (self-evident) yang sama sekali tidak memerlukan dalil baru. Semua wacana yang tertera mengenainya dalam logika dan filsafat sebetulnya lebih merupakan ulasan ketimbang pembuktian, yakni berfungsi untuk menggugah perhatian kita pada kebenaran yang dapat ditangkap oleh akal manusia tanpa pembuktian sedikitpun. Alasan untuk membahas penyataan-pernyataan semacam ini dalam ilmu-ilmu tertentu tidak lain karena adanya pelbagai miskonsepsi yang pada gilirannya menjadi keraguan-keraguan seperti dalam kasus prinsip kemustahilan kontradiksi. Miskonsepsi seputar kemustahilan kontradiksi telah menggiring sebagian untuk tidak saja mengkhayalkannya sebagai suatu hal yang mungkin adanya, melainkan menganggapnya sebagai gejala dalam semua kejadian!

Keragu-raguan tentang nilai pengetahuan rasional pada dasarnya berasal dari kesalah-pahaman serupa. Dan untuk membongkar keragu-raguan dan menepis kesalahpahaman tersebut kita mesti mendiskusikannya. Tindakan memasukkan penyataan-pernyataan swabukti dalam pembahasan logika dan epistemologi pada hakikatnya merupakan sebentuk penyimpangan, ikut-ikutan dan tenggang rasa kepada kelompok yang mengidap kebimbangan. Soalnya, apabila ada orang yang benar-benar tidak menerima nilai pengetahuan rasional, meskipun tanpa sadar, bagaimana mungkin kita beradu nalar dengannya melalui pembuktian rasional?! Padahal, toh argumen-argumen yang mereka ajukan untuk membangkitkan keragu-raguan itupun sebetulnya juga berwatak rasional.

Kedua, kebutuhan filsafat pada prinsip-prinsip logika dan epistemologi pada dasarnya untuk melipatgandakan pengetahuan, atau secara teknis disebut “penerapan pengetahuan untuk menambah pengetahuan”, bukan untuk meneguhkan kebenaran dan validitasnya. Orang yang belum teracuni oleh keragu-raguan mengenai nilai pengetahuan rasional bisa bernalar (to reason) untuk mencapai kesimpulan tentang hampir semua hal, tanpa sadar bahwa penalarannya telah sesuai dengan prinsip-prinsip logika atau cocok dengan bentuk pertama dari silogisme Aristotelian dan syarat-syarat yang mengaturnya. Orang inipun belum tentu tahu akan adanya akal yang berfungsi mengenali premis-premis dan menerima validitas kesimpulan yang membuntutinya.

Pada sisi lain, sebagian orang yang mau menolak rasionalisme dan metafisika bisa saja menggunakan penalaran tanpa menyadari bahwa dia telah menggunakan sejumlah premis rasional dalam metafisika. Dan ada pula orang yang mau menolak kaidah-kaidah logika (rules of logic) dengan bersandar pula pada kaidah-kaidah logika. Bahkan, ada juga yang secara gegabah dan tanpa sadar mementahkan prinsip non-kontradiksi dengan menggunakan prinsip non-kontradiksi. Dan apabila kepada orang-orang dungu ini kita katakan, “penalaran anda ini sekaligus sahih dan tidak sahih”, maka mereka segera saja akan tersinggung dan merasa tercemooh.

Menurut Muhammad Taqi Mishbah Yazdi, kebergantungan penalaran filosofis pada prinsip-prinsip logika dan epistemologi sesungguhnya berbeda dengan kebergantungan sains lain pada prinsip-prinsip utamanya. Soalnya, kebergantungan penalaran filosofis pada prinsip-prinsip logika hanya bersifat sekunder, persis dengan kebergantungan prinsip-prinsip sains pada sains itu sendiri. Yakni, kebutuhan dalam rangka rekonfirmasi atas konfirmasi (kebenaran) hukum-hukum dan prinsip-prinsip yang mengantur di atasnya. Hal itu mirip dengan contoh proposisi-proposisi swabukti (self-evident propositions) yang membutuhkan pada prinsip kemustahilan kontradiksi. Sungguh jelas, kebergantungan proposisi-proposisi swabukti pada prinsip non-kontradiksi tidak sama dengan pola kebergantungan proposisi-proposisi nazhariyyah (speculative propositions) pada proposisi-proposisi swabukti. Bila tidak demikian, hilanglah perbedaan antara proposisi-proposisi swabukti dan proposisi-proposisi duga-sangka. Jadi, paling kurang kita mesti menerima satu proposisi swabukti sebagai nyata-nyata swabukti, yaitu prinsip non-kontradiksi. 1

Dalam skema filsafat Mullâ Shadrâ, epsitemologi tidak berdiri sejajar dengan ontologi. Malah, epistemologi cenderung diperlakukan sebagai “sisipan” ontologi yang tak punya otonomi dan independensi sama sekali. Epistemologi, paling tidak, hanya diposisikan sebagai salah satu akses atau jalan masuk ke dalam misteri ada (ontos)—yang selanjutnya tidak memiliki fungsi apa-apa. 2

Aroma epistemologi Mullâ Shadrâ sebenarnya ada dalam pandangan-pandangan Muhammad Taqî Misbâh Yazdî. Pengetahuan billa diperlakukan sebagai entitas (maujud), maka ia merupakan bagian dari ontologi, dan karenanya ia tidak perlu dipisahkan.

Mullâ Shadrâ mula-mula memperlakukan ilmu sebagai sebuah entitas atau maujud sehinga ‘mengetahui’ bukan transfer data dari objek ke subjek melalui sensasi (ihsâs), melainkan bersatunya objek dan subjek dengan modus “berpindahnya sesuatu kepada sesuatu yang lain”. 3

Namun, Muhammad Taqî Misbâh Yazdî seakan menyadari kesulitan yang akan dihadapi tatakala seseorang tidak mungkin serta merta memasuki ranah ontologi (ada) tanpa melalui ‘tahu’, meski nantinya ‘tahu’ ternyata, bila dianalisis secara eksistensial, meruipakan bagianb dari mujarradât. Karena itu, Muhammad Taqî Mishbâh Yazdî rela berbeda dengan Mullâ Shadrâ dan Thabâthabâ’î dengan tetap memulai pembahasan filsafat dari pengetahuan (al-`ilm) sebelum `al- wujûd.

Muhammad Taqî Misbâh Yazdî mendukung pendapat Mullâ Hadi Sabzawari yang menolak definisi Mullâ Shadrâ tentang al-‘ilm sebagai hudhur mujarradin ladâ mujjarad entitas abstrak pada diri entitas abstrak lain). Karena, menurutnya, pengetahuan sesuatu yang memiliki esksistensi termulia (Tuhan) mampu mengenali entitas-entitas non-abstrak secara langsung, tanpa medium entitas-entitas abstrak lainnya. 4

Penolakan ini juga secara implisit diekspresikan melalui penyusunan bab-bab pembahasan dalam buku Âmûzesy-e Falsafeh. Karyanya itu dimulai dengan pembahasan khusus epistemologi. Ini dapat diartikan bahwa ia lebih mendahulukan ‘tahu’ ketimbang ‘ada’.

Terbukti, pengetahuan hadir dalam epistemologi juga hadir dalam ontologi. Ilmu (hushûli) menjadi tema epistemologi karena Muhammad Taqî Misbâh Yazdî menganggap ‘tahu’ mendahului ‘ada’, namun ilmu juga masuk dalam tema ontologi karena Muhammad Taqî Misbâh Yazdî menganggap ilmu (hudhûrî) sebagai maujud abstrak.

Ketidaktegasan Muhammad Taqî Misbâh Yazdî mengambil posisi sebagai peripatetis-rasionalis atau transendentalis membuatnya memasukkan pengetahuan dalam dua epistemologi dan ontologi.. Padahal epsietmologi dikhususkan sebagai bidang yang membahas pengetahuan dan tema-tema konsep lainnya.Wallahu a’lam. (Bersambung)

Catatan Kaki:

1. Muhammad Taqî Mishbâh Yazdî, Âmûzesy-e Falsafe ↩
2. Lalu Martin Heidegger (1889-1976) membalikkan lagi arah perjalanan filsafat kepada ontologi yang dibedakan dengan onto-teologi (ontologi semu yang sebenarnya adalah teologi implisit Kristiani). Justru epistemologi, dalam terang ontologi fundamental (lawan dari ontologi tradisional) yang dirumuskan Heidegger, cenderung menjadi rezim pengetahuan yang menangkap lalu memasung, mengosongkan, dan mereduksi “ada” yang kongkrit, riil, dan timbul-tenggelam sepanjang sejarah. Sebelum semua persoalan “tahu” (epistemologi) dikemukakan, kata Heidegger, semestinya penyelidikan difokuskan lebih dulu pada “ada” yang mengajukan persoalan itu sendiri. Eksistensi yang diposisikan Kant sebagai subordinat esensi manusia, justru dipandang Heidegger sebagai esensi manusia itu sendiri lewat diktumnya “esensi da sein terletak pada eksistensinya” (bdk. Martin Heidegger, Sein und Zeit, Max Niemeyer, Tubingen; 1953, paragraph 9, hal. 42). Alhasil, menurut hemat penulis, pada mulanya filsafat Islam tidak mengenal pencabangan ini, setidaknya sampai abad ke-19. Baru belakangan ini, akibat interaksi yang semakin intensif dengan pemikiran Barat dan mulai banyaknya peminat filsafat Islam yang dididik dalam tradisi filsafat Barat, beberapa pemikir menerapkannya dalam dikursus dan sejarah filsafat Islam. ↩
3. Mullâ Shadrâ, al-Asfâr al-Arba’ah, vol. 6, hal. 151, Beirut: Dar at-Turats al-Arabi, 1981. M. Fana’ee Eshkevari, Elm-e Huzhuri, hal 19, Qum: The Imam Khomeini Education and Research Institute, hal.21. ↩
4. Mullâ Shadrâ, al-Asfâr al-Arba’ah, vol. 3, hal. 285. ↩

kata kata hikmah Imam Ali




"Hai dunia, hai dunia! Menjauhlah dari ku. Mengapa engkau datang kepada ku? Adakah engkau sangat mengnginkan ku? Engkau tak mungkin mendapat kesempatan untuk mempesona ku. Tipulah orang lain. Aku tak ada urusan dengan mu. Aku telah menceraikan mu tiga kali, yang sesudahnya tak ada rujuk lagi. Kehidupan mu singkat, kepentingan mu kecil, kegemaran mu sederhana, Sayang! Bekal sedikit, jalan panjang, perjalanan jauh, dan tujuan sukar dicapai" (Imam Ali)

"Apabila anda diberi hormat, balaslah dengan hormat yang lebih baik. Apabila tangan bantuan diulurkan kepada anda, buatlah kebaikan yang lebih baik sebagai balasan, kendatipun keutamaannya tetap berada pada si pemula" (Imam Ali)

"Kekayaan adalah sumber hawa nafsu" (Imam Ali)

"Jika seseorangan beramal karena Allah, mata hatinya terbuka lebar. Jika engkau waspada terhadap hatimu dan tidak mengizinkan selain Allah di dalamnya, maka engkau akan dapat melihat apa yang orang lain tidak dapat melihatnya dan mendengar apa-apa yang orang lain tidak dapat mendengarnya"

"Sesungguhnya atas setiap perkara kebaikan ada hakekatnya, dan adalam setiap masalah yang benar, ada cahaya" (Imam Ali)

"Aku kuatir pada zaman, rodanya menggilas iman. Keyakinan hanya tinggal pemikiran yg tak berbekas dlm perbuatan. Banyak org baik tapi tak berakal, ada yg berakal tp tak beriman. Ada lidah fasih tp berhati lalai, ada yg khusyuk namun sibuk dlm kesendirian. Ada ahli ibadah tp mewarisi ke sombongan iblis. Ada ahli maksiat rendah hati bagaikan sufi. Ada yg bnyk tertawa hingga hatinya berkarat, ada y...g bnyk menangis krn kufur nikmat. Ada yg murah senyum tp hatinya mengumpat, ada yg berhati tulus tp wajahnya cemberut. Ada yg berlisan bijak tp tak memberi teladan. Ada pelacur yg tampil jadi figur. Ada org punya ilmu tp tak paham, ada yg paham tp tak menjalankan. Ada yg pintar tp membodohi, ada yg bodoh tak tahu diri. Ada yg beragama tp tak berakhlak, ada yg berakhlak tp tak ber Tuhan