Sabtu, 05 Februari 2011

Karbala,(Asyura,)Tragedi Mengerikan dalam sejarah


(gambar ilustrasi:,Pertempuran Karbala,
Imam Husein ditengah musuhnya,Imajiner)

Artikel - Sayidina Husein r.a yang syahid di Karbala

Tragedi gugurnya al-Husein r.a secara mengerikan itu mendorong tokoh-tokoh riwayat dan para penulis sejarah Islam untuk mengadakan penyelidikan.

 Hasil dari penyelidikan dan pengamatan yang mereka lakukan setelah terjadinya peristiwa itu, mereka tuangkan dalam tulisan-tulisan berupa riwayat menceritakan berbagai akibat setelah terjadinya pemenggalan kepala cucu Rasul Allah s.a.w.

Seorang penulis Islam kenamaan, Ibnu Hajar, dalam bukunya berjudul "Ash-Shawa'iqul-Kuhriqah" halaman 116, mengungkapkan bahawa sepeninggalan al-Husein r.a. ternyata tak ada seorang pun yang terlibat dalam pembunuhan itu, yang terhindar dari seksa dunia setimpal dengan perbuatannya. 

Ada yang mati terbunuh, ada yang buta dan ada pula yang secara tiba-tiba mukanya berubah warna menjadi hitam lebam. semuanya itu terjadi dalam waktu tak seberapa lama sejak al-Husein r.a. wafat.

Dalam bukunya yang berjudul "Tahdizibut-Tahdzib" Jilid II halaman 335, Ibnu Hajar juga mengetengahkan kisah an-Numairiy yang berasal dari 'Ubaid bin Jinadah. Kisah tersebut mengungkapkan peristiwa yang dialami seorang tua yang pernah melibatkan diri dalam pembunuhan terhadap al-Husein r.a. 

Orang tua itu membusungkan dadanya hanya kerana merasa terlibat langsung dalam pembunuhan terhadap al-Husein. Dengan bangga ia mengatakan: "Lihatlah, aku tetap selamat... tak ada bencana apapun yang menimpa diriku!" Tak lama setelah ia mengucapkan perkatan tersebut, lampu minyak berada tidak jauh dari tempat duduknya tiba-tiba memudar.

 Dikiranya sumbu lampu itu hampir habis. Ia segera bangkit dari tempat duduknya mendekati lampu untuk berusaha memperbaiki sumbunya. 

Pada saat ia sedang menarik sumbu, api yang semulanya tampak hampir padam tiba-tiba membesar kembali dan membakar jari-jarinya. ia berusaha keras memadamkan api yang menyala di tangannya, tetapi tidak berhasil, bahkan api menjalar ke bagian-bagian tangannya yang berlumuran minyak.

 Dalam keadaan panik ia mencuba memadamkan api dengan memasukkan tangan ke dalam mulut, tetapi malang... api bukan menjadi padam malah menyambar janggutnya yang telah memutih tetapi masih cukup lebat.

 Mukanya terbakar dan ia melolong-lolong kesakitan. Akhirnya api membakar pakaian yang sedang dikenakannya sehingga seluruh tubuhnya turut terbakar. Bagaikan sebuah obor besar ia lari kebirit-birit keluar dari rumah menerjunkan diri ke dalam Sungai al-Furat yang tidak seberapa jauh letaknya. Beberapa saat lamanya ia tidak muncul di atas permukaan air.

 Banyak orang menunggu-nunggu di tepi sungai ingin menyaksikan apa yang sedang terjadi pada diri orang tua itu. Ketika ia muncul di permukaan air, ternyata telah mati dan tubuhnya hangus seperti gumpalan arang.

Kebenaran kisah tersebut diperkuat oleh serajahwan Muslim terkenal, at-Thabariy, dalam bukunya yang berjudul "Dzakha'irul-'Uqba" halaman 145.

Dalam buku yang sama, Ibnu Hajar juga mengemukakan sebuah riwayat tentang pembunuh al-Husein r.a. Peristiwanya terjadi ketika si pembunuh itu menyerahkan kepala cucu Rasul Allah s.a.w. kepada 'Ubaidillah bin Ziyad, penguasa daerah Kufah. Kerana besar harapan akan memperoleh ganjaran istimewa, si pembunuh itu menyerahkan kepala al-Husein r.a. sambil bersyair:

Akan kupenuhi kantongku dengan emas dan perak
Sebagai ganjaran membunuh raja tanpa mahkota
Seorang yang pernah sembahyang pada dua kiblat
Berasal dari keturunan manusia termulia
Akulah pembunuh orang terbaik, ayah bondanya...

Akan tetapi ketika Ibnu Ziyad mendengar bait terakhir dari syair itu, dengan marah ia menukas: "Kalau engkau mengetahui kemuliannya itu, mengapa ia kau bunuh? Tidak, demi Allah, engkau tidak akan mendapat ganjaran baik dari aku. Malah engkau kuikut-sertakan bersama dia!"

Habis mengucap kalimat-kalimat tersebut, Ibnu Ziyad langsung memerintahkan salah seorang pengawal untuk membunuh orang yang baru saja mendendangkan syair dengan harapan akan menerima ganjaran besar.

Ada baiknya juga jika kami kemukakan juga riwayat lain lagi, yang ditulis oleh Ibnu Hajar dalam buku yang sama halaman 119. Peristiwanya terjadi ketika 'Umar bin Sa'ad bersama pasukannya membawa kepala al-Husein r.a. ibnu Hajar menulis sebagai berikut:

"Setiap berhenti di suatu tempat untuk beristirehat, para pengawal kepala al-Husein r.a. selalu menancapkan kepala itu pada ujung tombak. Seorang pendita Nasrani yang bertempat tinggal di sebuah biara yang dilewati rombongan, terkejut melihat sebuah kepala manusia tertancap pada ujung tombak, ia lalu bertanya ingin mengetahui siapakah orang yang dipenggal kepalanya itu. 

Ketika mendapat jawapan bahawa kepala itu adalah kepala al -Husein r.a. putera Siti Fatimah binti Rasul Allah s.a.w. dengan marah ia menyahut: "Alangkah buruk perbuatan kalian!" Saat itu juga ia minta agar kepala al-Husein r.a. boleh disemayamkan semalam di dalam biaranya. "Untuk itu aku sedia membayar 10,000 dinar!", katanya lebih lanjut.

 Tentu saja permintaan pendita itu diterima baik oleh Sa'ad dan rombongannya. Kepala al-Husein r.a. segera dibawa masuk oleh pendita itu ke dalam biara, kemudian dicuci bersih-bersih dan diberi wewangian secukupnya.

 Semalam suntuk kepala itu dipangkunya sambil menangis hingga pagi hari. Keesokan harinya pendita itu langsung menyatakan diri masuk Islam, karena pada malam harinya ia menyaksikan cahaya terang memancar ke langit dari kepala al-Husein r.a. 

Setelah memeluk Islam, ia meninggalkan biaranya dan hingga akhir hidupnya ia merelakan diri bekerja sebagai pembantu Ahlul-Bait... Demikianlah menurut Ibnu Hajar.

 Dengan sekelumit riwayat yang kami kutip dari penulis Islam terkenal itu, terbuktilah bahawa tindakan pembunuhan sewenang-wenang terhadap cucu Rasul Allah s.a.w. mendorong semangat para penulis sejarah untuk mengungkapkan lebih jauh peristiwa yang menyedihkan itu.

[H.M.H. Al Hamid Al Husaini, Al Husain bin Ali r.a: Pahlawan Besar dan Kehidupan Islam pada Zamannya, hlm 373.]

Asyura,10 muharram,dan Peristiwa Karbala,Syahidnya Husein






(Gambar Ilustrasi:
(,Imam Husein bersama putranya,Ali Al Akbar,dalam imajiner)

Artikel :
Mengenang Peristiwa Karbala
 Mengingati 10 Muharam


MUHARAM mempunyai tradisi panjang sebagai bulan suci dalam Islam. Misalnya, pada 16 Muharam, kiblat dialihkan dari Jerusalem (Baitulmaqdis) ke Mekah. Daripada kalangan penganut Syiah, bulan Muharam mempunyai makna khusus sebagai bulan ketika Imam Hussain ibnu Ali, cucu Nabi Muhammad s.a.w. syahid.


Pada 81H/680M, di tempat yang disebut Karbala di pinggir Sungai Eufrat, pasukan Yazid ibnu Muawiyah di bawah komando ibnu Ziyad mengepung Imam Hussain dan rombongannya. Seluruh laki-laki dalam keluarga Hussain kecuali puteranya yang masih kecil, Zainal Abidin, terbunuh. Hussain dipenggal dan tubuhnya dipotong-potong. Kemudian kepala Hussain dibawa kepada Yazid bin Muawiyah.

Ini merupakan fitnah dan tragedi besar yang menyayat hati pernah berlaku dalam sejarah Islam. Peristiwa ini telah melebarkan pintu perpecahan sesama umat Islam. Walaupun penganut fahaman Sunni dan Syiah sama-sama mengakui tragedi pengorbanan Hussain, bagi Syiah, peristiwa ini mempunyai erti khusus sebagai saat kritis dalam sejarah Islam ketika rejim rasmi Islam membunuh satu-satunya cucu Nabi Muhammad yang masih hidup.



Gambar Ilustrasi:
(Ketika Abul fadhil Abbas,mencapai pinggiran sungai Eufrat,dan bermaksud mengambilkan air buat keluarganya yang menunggu di tenda,dengan kehausan yang mencekik leher)

Dalam memperingati kesyahidan Hussain ini, sepuluh hari pertama bulan Muharam merupakan saat kesedihan yang amat mendalam bagi penganut ajaran Syiah. Bagi memperingatinya, penganut Syiah mengadakan majlis ratapan, perarakan umum, dan kegiatan-kegiatan lain. Kemuncak peringatan ini ialah bermula pada tanggal 10 Muharam di mana Hussain terbunuh yang dikenali pula sebagai hari Asyura.

Tujuan kegiatan ini adalah untuk mengingatkan peristiwa Karbala secara eksistensi dan dramatis bagi merangsang mengalir keluarnya air mata kesedihan para penganutnya. Air mata ini sebagai tanda kesedihan dan ratapan atas kesyahidan Imam Hussain.

Di seluruh dunia Islam, terdapat berbagai-bagai acara yang dihubungkan dengan kedukaan penganut Syiah pada 10 Muharam ini. Di Iran, pada malam kesepuluh bulan Muharam atau lebih dikenali malam Asyura, hampir seluruh masyarakat kota Teheran, turun ke jalan untuk mengadakan perarakan mengingati tragedi Karbala, Mereka membaca syair-syair tentang Imam Hussain dengan diiringi paluan gendang sebagai tanda kesedihan.

Gambar ilustrasi:
(Suasana sholat terakhir ditengah pertempuran Karbala)


Pada 1 hingga 10 Muharam hampir semua penduduk di kota Teheran berpakaian hitam tanda dukacita. Walaupun mereka masih melakukan aktiviti kerja. Bukan hanya pakaian mereka sahaja, tetapi kota-kota besar di Iran kebanyakannya dihiasi dengan sepanduk-sepanduk berwarna hitam dengan tulisan "Hussain bithatu minni waman idha'aha laqod adhani", "al-Hassan wal al-Hussain syababun Ahlil jannah," "Anal Hussain As misbahulda wa safinatunnajah." (Hussain adalah darah dagingku barang siapa yang menyakiti bererti menyakitiku, Hassan dan Hussain adalah penghulu para pemuda syurga, Hussain adalah pelita penerang dan perahu penyelamat.)


gambar Ilustrasi,:
(Ketika Imam Husein memeluk jasad putranya,yang syahid dipangkuanya)

Sepuluh Muhharam dalam bahasa Arab disebut 'Asyura'. Tradisi memperingati hari Asyura ini juga dilakukan di beberapa daerah di Nusantara seperti di Sumatera Barat, Bingkulu, Sulawesi Selatan, dan Jawa. Ada sedikit persamaan antara masyarakat Jawa di Indonesia dengan negara kita di mana sempena memperingati hari Asyura masyarakat Islam mempersiapkan makanan khusus yang disebut sebagai bubur suro.

Tradisi ini wujud di Indonesia walaupun dikatakan masuk dan berkembangnya ajaran Syiah di negara tersebut daripada perspektif sejarah memang masih kontroversi dan menimbulkan polemik.


Kini sejauh manakah dikatakan tragedi Karbala yang terjadi pada zaman Hussain telah berulang kembali dalam sejarah kehidupan manusia? Dari segi realiti, ia berlaku dalam waktu dan bentuk yang berbeza.

Kesamaannya ia adalah satu tragedi yang telah merosak dan menghancurkan sendi-sendi keadilan dan kemanusiaan antara sesama manusia. Ia telah membunuh sifat-sifat rohani manusia, yang seharusnya dapat membawa manusia kepada jalan kebenaran.

Hari ini kita dapat menyaksikan peristiwa Karbala dalam bentuk yang lain. Sejarah mencatat bagaimana berlaku peristiwa pembunuhan beramai-ramai ke atas umat Islam seperti yang berlaku di Bosnia, Ambon, Indonesia, Palestin, Iraq dan selatan Thailand, selatan Filipina, Kashmir, India dan Chechnya. Dalam hal ini umat Islam seolah-olah sudah kehilangan maruah dan harga diri. Mereka terpaksa lari dari tanah air mereka sendiri kerana indentiti keislaman mereka. Walhal bumi Allah ini adalah sama. Sesiapa pun berhak tinggal di mana sahaja. Allah tidak memandang wilayah di mana pun untuk tempat tinggal seseorang Muslim.

Kekuasaan dan keserakahan nafsu jahat telah menghantui dan menjadi orientasi golongan yang melakukan pembunuhan tersebut. Betapa tidak bagaimana seorang ayah dibunuh di depan keluarganya, seorang anak kecil ditembak sewenang-wenangnya. Malah umat Islam yang sedang bersujud kepada Ilahi juga dihujani dengan peluru daripada umat Islam sendiri. Apa pun alasannya, atas nama adat atau pembelaan, jelas ini merupakan tragedi kemanusiaan yang paling menyayat hati.

Dengan cara ini manusia telah turun darjatnya melebihi binatang. Kerana binatang membunuh, hanyalah untuk memenuhi kelangsungan hidupnya, manusia membunuh untuk kepentingan syahwat kekuasaan dan keserakahan. Lalu apa yang sedang terjadi dengan manusia sekarang ini, ketika manusia dengan begitu mudahnya melimpahkan darah sesamanya? Apakah mereka sudah kehilangan nilai kemanusiaan? Mereka dengan begitu mudah menindas sesama manusia. Imam Hussain telah mengorbankan dirinya untuk suatu nilai yang agung, yakni nilai kebenaran yang diredai Allah. Ketika manusia berbunuh-bunuhan dengan begitu mudahnya apakah ini sebagai petanda manusia sekarang ini kembali menjadi primitif?

Sesungguhnya Islam hadir sebagai suatu agama pembebasan. Agama yang membebaskan manusia daripada segala bentuk penindasan sesama manusia. Suatu agama yang menghargai nilai-nilai kemanusiaan. Dalam hal ini tidak ada manusia yang lebih tinggi antara manusia lain kerana identiti kesukuan dan peradaban ekonomi. Islam hadir memberi persamaan hak-hak kemanusiaan. Tidak ada suku yang lebih mulia, tidak ada orang yang lebih mulia kerana etnik dan kekayaan. Kemajmukan bukanlah untuk saling bersengketa tetapi untuk saling mengenali antara satu sama lain.

Peristiwa Karbala adalah perjuangan untuk menegakkan cita-cita ajaran Islam bersama kemanusiaan sejagat. Imam Hussain telah mengingatkan kita bahawa menegakkan yang hak itu bukanlah dengan menunggu kehadiran Imam Mahdi. Tetapi kita sebagai kaum Muslim, diingatkan untuk merebut hak kebenaran itu. Kebenaran tidak akan mengalahkan kebatilan, jika kebenaran itu tidak diperjuangkan.

Dari sekarang umat Islam harus memperjuangkan kebenaran dan hak-hak kaum Muslim di seluruh muka bumi Allah ini.

Hadist Tsaqalain (Wa sunnati,atau,Wa Itrati ahl baiti??)





(Gambar Ilustrasi,Mesjid Sultan abdurrahman,Pontianak timur)

Artikel - Hadis Tsaqalain - Fatwa Mufti Mazhab Syafi'i

Fatwa Al-Alim Al-Alamah Assayyid Al-Habib Hasan Bin Ali Bin Hasyim Bin Ahmad Bin Alwy Ba'agil Al-Alawy
(Mufti Mazhab Syafi'i di Makkah Al-Mukarramah Wafat Tahun 1335 H.)

Jawaban Mengenai Hadits,
"Aku tinggalkan pada kalian Ats-tsaqalain (dua pusaka), yaitu Kitabullah (Alqur'an) dan Keluargaku (yaitu) Ahli Baitku".

Saya pernah ditanya mengenai hadits, "Aku tinggalkan pada kalian dua perkara yang kalian tidak akan sesat setelah (berpegang teguh kepada) keduanya; kitabullah (Alqur'an) dan ........" apakah -kata penanya itu-hadits tsb shahih jika ditambah dengan kata-kata (akhirnya) 'itraty wa ahli baity (keluargaku yaitu ahli Baitku) atau mungkin yang benar, wasunnaty (dan sunnahku). Dia berharap agar dapat menjelaskan sanad hadits tsb.

Sebenarnya, hadits yang tsabit dan shahih adalah hadits yang berakhir dengan wa ahli baity. Sedang yang berakhir dengan kata-kata wa sunnaty itu bathil (salah) dari sisi matan dan sanadnya.
 Berikut penjelasan mengenai sanad hadits tsb.

Hadits tsb diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam shahihnya
 (IV: 1873 no. 2408 cetakan Abdul-Baqy) dari Sayyidina Zaid bin Arqam r.a.

 Dia berkata, "Suatu hari Rasulullah saw. Pernah berdiri dihadapan kami seraya berkhutbah disuatu tempat (kebun) kosong diantara Makkah dan Madinah. Beliau saw memuji Allah SWT dan menyanjung-Nya. Lalu menasehati dan mengingatkan (ummatnya). Kemudian bersabda, "Amma ba'du (adapun sesudah itu), ingatlah wahai sekalian manusia, sesunguhnya aku ini hanya manusia biasa, hampir-hampir (sebentar lagi) akan datang utusan Tuhanku (yang akan memanggilku ke Hadhrat-Nya), maka akupun (pasti) mengabulkannya. Dan aku akan meninggalkan pada kalian dua pusaka. Pertama, Kitabullah itu dan peganglah teguh-teguh." Beliau saw. Memerintahkan untuk berpegang teguh pada Al-Qur'an sebagai Kitabullah dan mendorong untuk mengamalkannya. Kemudian beliau saw bersabda, "Dan Ahli Baitku (keluargaku)"

Itulah Lafadh atau redaksi Imam Muslim. Dan diantara perawi lain yang meriwayatkan dengan redaksi seperti itu ialah Al-Darimy dalam Sunan-nya (II : 431 - 432) dengan isnad shahih seperti (terangnya) matahari. Ada juga perawi lain yang meriwayatkan hadits tsb seperti redaksi Imam Muslim itu.

Sedang riwayat Imam Turmudzi terdapat kata-kata, wa 'itraty ahli baity (dan keturunanku [yaitu] ahli baitku [keluarga rumahku])." Dalam Sunan Turmidzi (V: 663 no. 3788), Rasulullah saw. Bersabda,
"Sesungguhnya aku meninggalkan pada kalian apa yang jika kalian pegang (erat-erat) pasti kalian tidak akan sesat sudah aku (tiada). Salah satunya lebih agung dari pada yang lainnya, (yaitu) Kitabullah. Dia merupakan tali yang memanjang dari langit ke bumi. Dan keturunanku (yaitu) ahli baitku. Kedua pusaka itu tidak akan berpisah sehingga keduanya dapat mendatangkan haudh-telaga-kepadaku. Perhatikanlah (berhati-hatilah dan pikirkanlah) bagaimana kalian memperlakukan mereka sepeninggalku."
Hadits shahih.

Adapun kata-kata wa sunnaty (dan sunnahku), saya tidak meragukan ke-maudhu'-annya karena ke-dha'if-an sanadnya, dan faktor-faktor lainnya yang sangat mempengaruhi kelemahannya.

Berikut ini isnad dan matan Hadits tsb.

Imam Al-Hakim meriwayatkan hadits tsb dalam Al-Mustadrak (I :93) dengan isnad dari Ibnu Abi Uwais dari ayahnya, dari Tsaur bin Zaid Al-Daily, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas.
 Diantaranya dalam sanad hadits tsb terdapat Ibn Abi Uwais dan ayahnya. Al-Hafidh Al-Mizzy dalam Tahdzib Al-Kamil (III : 127), mengenai biografi Al-Ibn-Ibn Abi Uwais - dan aku akan mengutip perkataan orang yang mencelanya, berkata Muawiyah bin Shalih dari Yahya bin Mu'in, "Abu Uwais dan putranya itu (keduanya) dha'if (lemah)." Dan dari Yahya ibn Mu'in juga, Ibn Abi Uwais dan ayahnya (suka) mencuri hadits." Dan dari Yahya juga, "Dia itu suka mengacaukan (hafalan) hadits (mukhallith) dan suka berbohong, dia tidak mengapa (dalam hadits)."

Tetapi menurut Abi Hatim, Ibn Abi Uwas itu tempat kejujuran (mahalluhu ash-shidq), dia terbukti lengah (dilengahkan / dibiarkan orang) (mughaffal). Imam Nasa'iy menilai dia dha'if (lemah). Dan masih menurut Imam Nasa'iy dalam kesempatan lain, dia tidak tsiqah. Menurut Abu Al-Qasim Al-Alka'iy, "Imam Nasa'iy sangat jelek menilainya sampai ke derajad matruk (Ibn Abi Uwais itu ditinggalkan orang)".

Menurut komentar Abu Ahmad binAdy, "Ibn Abi Uwais itu meriwayatkan dari pamannya (khal­nya) (yaitu) Malik yaitu berupa beberapa hadits gharib yang tidak diikuti oleh seorangpun (dari periwayat lain) (tidak ada mutaba'ah-nya).

Al-Hafizh Ibn Hajar dalam muqaddimah Al-Fath Al-Bary (hlm. 391 terbitan Dar Al-Ma'rifah) mengenai Ibn Abi Uwais mengatakan, "atas dasar itu hadits dia -Ibn Abi Uwais-tidak dapat dipakai sebagai hujjah selain yang terdapat dalam As-shahih, karena celain yang dilakukan Imam Nasa'iy dan lain-lainnya .....".

Al-Hafizh Sayyid Ahmad bin As-Shadiq dalam Fath Al-Mulk Al-Aly (hlm 15) mengatakan, "Berkata Salamah bin Syabib, "Aku pernah mendengar Ismail bin Abi Uwais mengatakan, "Mungkin Aku membuat hadits (adhu'u al-hadits) untuk penduduk Madinah jika mereka berselisih pendapat mengenai sesuatu diantara mereka."

Jadi, dia-Ibn Abi Uwais - dituduh suka membuat hadits (maudhu'), dan Ibn Mu'in menilainya sebagai pembohong. Dan haditsnya yang mengandung kata-kata wa sunnaty tidak terdapat dalam salah satu dari Shahihain.

Adapun mengenai ayahnya, Abu Hatim Ar-Razy mengatakan, sebagaimana disebutkan didalam kitab anaknya Al-Jarh wa At-Ta'dil (V: 92), "Ditulis haditsnya, tetapi tidak dapat dijadikan hujjah, dan dia tidak kuat."

Dalam sumber yang sama, Ibn Abi Hatim mengutip dari Ibn Mu'in bahwa dia berkata dalam kitab Al-Jarh wa Ta'dil tsb, "Abu Uwais itu tidak tsiqah."

Menurut saya, sanad yang dimasuki atau dicampuri oleh dua orang yang telah kami paparkan itu tidak dapat menjadi shahih kecuali jika ada unta yang dapat masuk ke lubang jarum (mustahil). Apalagi jika telah terbukti bahwa apa yang telah mereka bawa dan datangkan itu bertentangan dengan hadits tsabit dan shahih. Pikirkanlah itu, semoga Allah memberikan hidayah pada kita semua.

Imam Al-Hakim telah mengakui ke dha'if-an hadits tsb, sehingga dia tidak menshahihkannya dalam Al-Mustadrak. Dia hanya menarik (mencarikan) syahid atau saksi penguat bagi hadits tsb, tetapi tetap saja lemah (wahin) dan isnadnya jatuh (saqith), sehingga tampaklah betapa sangat lemahnya hadits tsb.

Kami telah membuktikan bahwa Ibn Abi Uwais dan ayahnya sungguh - sungguh, salah satu diantara keduanya telah mencuri (membuat) hadits. (Sehingga haditsnya disebut maudhu', dibuat-buat).

Al-Hakim meriwayatkan (I : 93) hadits tsb, dia berkata, " saya telah menemukan syahid atau saksi penguat bagi hadits tsb dari hadits Abi Hurairah". Kemudian diriwayatkan dengan sanadnya melaui (jalan) Al-Dhaby: Telah menghaditskan kepada kami Shalih bin Musa At-Thalhy dari Abdul Aziz bi Rafi' dari Abu Shalih dari Abu Hurairah - secara marfu' (Rasulullah saw bersabda),
"Sesungguhnya aku meninggalkan pada kamu sekalian dua perkara yang kalian tidak akan sesat setelah keduanya. Kitabullah dan Sunnahku. Keduanya tidak akan berpisah sehingga keduanya mendatangkan (mengembalikan) telaga (haudh) kepadaku".

Menurut saya (Sayyid Hasan) hadits tsb juga maudhu' (dibuat-buat).
 Disini yang dibicarakan atau yang dikomentari hanya satu orang yaitu Shaleh bin Musa Al-Thalhy. Berikut ini penilaian para imam pakar hadits dari kalangan Kibar Al-Huffazh (penghafal terkenal) yang mencela Shaleh bin Musa Al-Thalhy sebagaimana terdapat dalam kitab Tahdzib Al-Kamal (XIII : 96),"Berkata Yahya bin Mu'in, "Laisa bi-syai'in (riwayat [hadits] tsb bukan apa-apa)." Abu Hatim Ar-Razy berkata, "Dha'if Al-Hadits (Haditsnya dha'if)."

Dia sangat mengingkari hadits dan banyak kemungkaran terhadap perawi yang tsiqah. Menurut penilaian Imam Nasa'iy, haditsnya tidak perlu ditulis. Atau pada kesempatan yang lain Imam Nasa'iy berkata, "Dia itu matruk al-hadits (haditsnya matruk / ditinggalkan)."

Al-Hafizh Ibn Hajar Al-Asqalany dalam Tahdzib At-Tahdzib (IV: 355) menyebutkan, "Ibn Hibban berkata bahwa Shaleh bin Musa meriwayatkan dari tsiqat apa yang tidak menyerupai hadits itsbat (yang kuat) sehingga yang mendengarkannya bersaksi bahwa riwayat tsb ma'mulah (diamalkan) atau maqbulah (diterima) tetapi tidak dapat dipakai untuk ber-hujjah.

Abu Nu'aim berkata : "Dia itu matruk al-hadits, sering meriwayatkan hadits-hadits munkar."

Al-Hafizh dalam At-Taqrib juga menghukuminya sebagai rawi matruk (yang harus ditinggalkan) (Tarjamah 2891). Demikian pula Al-Dzahaby dalam Kasyif (2412), yang menyebutkan bahwa dia wahin (lemah). Menurut Al-Dzahaby dalam Al-Mizan (II: 302), hadits riwayat Shaleh bin Musa tsb termasuk kemungkaran yang dilakukannya.

Imam Malik menyebut hadits tsb dalam Al-Muwaththa' (I : 899 no. 3) tanpa sanad (jadi tidak ada asal-usulnya hadits itu / la aslu -pen). Tetapi hal itu tidak ada artinya, karena mengenai kelemahannya telah jelas.

Al-Hafizh Ibn Abdilbar dalam At-Tahmid (XXIV : 331) menyebutkan sanad ketiga mengenai hadits dha'if tsb, "Dan telah menghaditskan kepada kami Abdurrahman bin Yahya, dia berkata, "telah menghaditskan kepada kami Ahmad bin Sa'id, dia berkata, "telah menghaditskan kepada kami Muhammad ibn Ibrahim Al-Daibaly, dia berkata, "telah menghaditskan kepada kami Ali bin Zaid Al-Faraidhy, dia berkata, "telah mengahaditskan kepada kami Al-Haniny dari Katsir bin Abdullah bin Amr bin Auf, dari ayahnya, dari kakeknya (mengenai hadits tsb)".

Sekarang kita akan memperbincangkan satu illat atau penyakit saja, yaitu Katsir bin Abdullah yang terdapat dalam isnad hadits tsb. Menurut Imam Syfi'iy Rahimahullah Ta'ala - dia adalah salah satu punggung kebohongan. Sedang menurut Abu Dawud Rahimahullah Ta'ala, "dia adalah salah satu pembohong."

Ibn Hibban berkata, "Dia meriwayatkan dari ayahnya, dari kakeknya suatu nuskhah (teks) yang maudhu' (dibuat-buat) yang tidak halal atau tidak pantas untuk dicantumkan didalam berbagai kitab dan tidak perlu diriwayatkan kecuali untuk (sisi) ta'ajjub (aneh karena keberaniannya dalam berbohong -pen).

Menurut penilaian Imam Nasa'iy dan Al-Darulquthny, dia matruk al-hadits (haditsnya ditinggalkan orang). Imam Ahmad berkata, "dia itu pengingkar hadits, dia tidak (mempunyai peran) apa-apa." Demikian pula menurut peniliaan Yahya bin Mu'in, bahwa dia tidak (bukan) apa-apa, (tidak ada apa-apanya), (bukan orang penting).

Saya (Sayyid Hasan bin Ali) berpendapat, sungguh salah jika Al-Hafizh Ibn Hajar Rahimahullah Ta'ala - dalam Taqrib menilainya sebagai dha'if saja, kemudian dia berkata, "sungguh berlebihan jika ada orang yang menuduh sebagai pembohong." Menurut saya (Sayyid Hasan), hal itu sama sekali tidak salah dan tidak berlebihan. 

Karena, seperti terlihat dari peniliaan para imam atau pakar hadits, dia memang pendusta. Bukankah Al-Dzahaby juga telah menilai dia (dalam Al-Kasyif) sebagai wahin (lemah). Dan memang dia demikian. Haditsnya maudhu'. Hadits tsb tidak cocok untuk diikuti (mutaba'ah) dan tidak perlu dicarikan syahid (saksi penguatnya). Bahkan harus dijauhi. Allah-lah yang memberi taufiq kepada kita semua.

Menurut Tuan Mutanaqidh - penentang atau sang kontroversial - dalam Dha'ifatih (IV : 361), hadits shahih dan tsabit (kuat) yang menyebutkan, "Wa 'itraty ahli baity (Dan keturunanku yaitu ahli baitku) menjadi syahid (saksi) atas (kebenaran dan keshahihan) hadits yang mengandung wa sunnaty (dan sunnahku). Yang demikian itu menurut saya (Sayyid Hasan bin Ali) termasuk yang layak untuk ditertawakan saja.

 Hanya Allah yang memberi hidayah kepada kita semua. Tanbih / Peringatan dari Alhabib Assayyid Hasan bin Ali. Sabda Rasulullah saw., "Itraty Ahli Baity (Keturunanku [yaitu] ahli baitku atau keluargaku), maksudnya adalah istri-istrinya (?), keturunannya (dzurriyah-nya), dan yang lebih istimewa adalah Sayyidah Fathimah, Sayyidina Ali r a. - semoga Allah memuliakannya di surga, Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husain a.s, dan semoga mereka mendapat ke ridaan-Nya.

Dalilnya adalah sabda Nabi Muhammad saw. Dalam sebuah hadits shahih dan tsabit. Diriwayatkan oleh Siti Aisyah r a. Dalam shahih Muslim (IV : 1883 no. 2424) dari Umar bin Abu Salamah, anak tiri Rasulullah saw., sebagaimana dicantumkan dalam At-Turmudzi (V:663).

 Redaksinya dari beliau - Rahimahullah Ta'ala - dan lain-lainnya dengan isnad-isnad shahih. Dia berkata, "Ayat berikut ini turun kepada nabi saw., Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu - hai ahli bait - dan membersihkan sebersih bersihnya (QS. Al-Ahzab: 33)." 

Ayat tsb turun kepada Nabi saw di rumah Ummu Salamah r a. Lalu Nabi Muhammad saw memanggil Sayyida Fathimah r a, Hasan dan Husain. Lalu Raulullah saw menutipi mereka dengan kiswah (baju, kain) sedang Imam Ali ra. - wa karrama wajhah - ada dibelakang punggungnya (Nabi saw). Beliau saw pun menutupi dengan pakaian (kiswah).

Kemudian beliau saw bersabda, "Allahumma (ya Allah), mereka itu ahli baitku, maka hilangkanlah dosa (kekejian dan kekotoran) dari mereka dan sucikanlah mereka sesuci­sucinya (bersihkanlah mereka sebersih-bersihnya)." Ummu Salamah r a berkata, "Dan (apakah) aku beserta mereka wahai Rasulullah ?" Beliau bersabda, "Engkau mempunyai tempat tersendiri, dan engkau menuju kepada kebaikan."

Siapa yang membatasi Ahli Bait Rasulullah saw hanya pada istri-istrinya saja, maka sungguh keliru. Karena hal itu bertentangan dengan ijmak dan sunnah yang shahih.

Dengan penjelasan tsb, jelas bahwa hadits, Kitabullah wa 'Itraty (Kitabullah dan keturunanku) adalah hadits shahih dan tsabit yang terdapat pada shahih Muslim. Kata-kata kitabullah wa sunnaty (kitab Allah dan Sunnahku) itu bathil - dari sisi isnad - dan tidak shahih.

 Maka saya menganjurkan kepada para khatib, imam dan mubaligh untuk segera meninggalkan pengucapan hadits-hadits yang tidak diriwayatkan dari Nabi Muhammad saw. Dan hendaknya mereka juga tidak segan-segan untuk mengungkapkan hadits shahih dari Nabi Muhammad saw yang terdapat dalam Shahih Muslim, yang antara lain menyebutkan, "Kitabullah wa Itraty ahli baity atau wa ahli baity".

Kamipun pesan kepada para penuntut ilmu (santri dan pelajar pada umumnya) untuk mempelajari ilmu hadits. Dan hendaklah mereka juga mau menyediakan waktu untuk mengenali hadits yang shahih dan dha'if sekaligus.

Allah SWT memfirmankan yang Hak dan benar. Dia menunjuki manusia dan makhluk-Nya ke jalan yang lurus dan benar. Alhamdulillahi Rabbil 'Alamin.

(Dikutip dari kitab Shahih Shifat Shalat An-Naby [Shalat Bersama Nabi saw] karya Sayyid Hasan bin Ali Ba'Agil - Pustaka Hidayah - Bandung).

Pengurus Ba"alawy di Malaysia( Rabithah Alawiyah Malaysia)Asyraaf



(Istana Maziah di Malaysia)


Jawatankuasa Persatuan Tahun 2006

DYMM Tuanku Pemangku Raja Perlis Tuanku Syed Faizuddin Ibni Syed Sirajuddin Jamalullail
Penaung / Penasihat

Prof. Madya Syed Omar bin Syed Mohamad As-Saggaf AMN - Penang
Presiden

Dato Syed Abu Bakar bin Syed Abdullah Al-Idrus - Terengganu
Naib Presiden

Tuan Syed Mohd Shaiful bin Syed Abdul Aziz Jamalullail - Perlis
Setiausaha Agung

Tuan Syed Mohd Karimy bin Syed Uthman Benyahya - Kuala Lumpur
Pen. Setiausaha Agung

Tuan Syed Ahmad bin Syed Abu Bakar Al-Mahsyoor - Kedah
Bendahari Agung

Tuan Syed Ahmad Fuad bin Syed Zain Benyahya
Pemeriksa kira-kira 1

Tuan Syed Yusof bin Syed Agil Al-Aidid
Pemeriksa kira-kira 2

AJK
Tuan Syed Nasaruddin bin Syed Hadi Al-Baity - Pekan
Tuan Syed Akil bin Syed Abdul Rahman Benyahya - Kuantan
Tuan Syed Mohd bin Syed Omar Al-Hasyimi - Perlis
Tuan Syed Mohamed bin Syed Abu Bakar Ben Sheikh Abu Bakar - Johor Baharu
Tunku Mohsinuddin bin Tunku Mohd Jamil Benshahab - Negeri Sembilan
Tuan Sayed Mohd Al-Bakir bin Tuan Taupik Al-Idrus - Terengganu
Tuan Syed Firdaus bin Syed Kadim Benshahab - Kedah
Tuan Syed Abdul Rahman bin Syed Hussain Al-Kherid - Kuantan
Tuan Syed Mokhtar bin Syed Ahmad Baragbah - Kedah
Tuan Syed Mohamad bin Syed Shaikh As-Saggaf - Perlis

Kata Pengantar untuk Ba"alawy



(Syarifah Pontianak,didepan pintu Istana Kadriah,dalam suatu acara)



(Profesor Sayyid Umar assegaf,AMN,ketua Rabithah Alawiyah Malaysia)






Akhwani & Akhwati...Assalamua'laikum…

Ana bersyukur kepada Allah dengan berkat dan kurnianya, pihak Asyraaf dapat terbitkan "Buletin" ini. Ini ialah kerana Asyraaf baru saja ditubuhkan, namun dengan kebangkitan syababnya maka dapat menjalankan aktiviti dengan pesatnya termasuklah mewujudkan WEBSITE ini.

Ini juga bertujuan mengingatkan kepada keluarga "Asyraaf (Ba-Alawi)" betapa pentingnya tugas serta tanggungjawab yang pernah dipikul oleh datuk nenek kita yang terdahulu untuk membuat kebajikan dan menyebarkan Islam diseluruh Nusantara ini. Kini tibalah giliran kita meneruskan usaha yang pernah dilakukan oleh mereka.

Pesanan dari ana "Berbuatlah kebaikan sepertimana Allah menjadikan kita sebaik kejadian"

Kita menubuhkan ASYRAAF ini, bukan bertujuan membanggakan keturunan atau meniup semangat perkauman atau mahu berlumba dengan sesiapa, tetapi ianya bertujuan untuk menghidupkan kembali warisan kebajikan yang pernah dilakukan oleh nenek moyang kita yang terdahulu. Kita mahu memupuk kembali Alawiyyin kita yang tercicir dalam arus kemodenan ini untuk membuat kebajikan semula.

Nonek moyang kita dahulu terkenal dengan kegigihan, kesabaran dalam apa jua keadaan dan yaqin dengan taqdir Allah. Dengan sifat rendah diri, tawadduk, alim, ringan tulang dan berakhlak mulia maka mereka disenangi oleh masyarakat. Jika ada masalah dalam kampung, masyarakat mahu mereka menyelesaikan hinggakan lembu hilang pun orang bertanyakan mereka hatta anak menangis malam pun merekalah tempat mengadu. Tidak hairanlah kalau dulu raja-raja ditanah melayu ini mengambil penasihatnya dari kalangan Ba-Alawi. Maka secara rasionalnya nenek moyang kita menurut apa yang dibawa oleh Rasulullah saw.

Mereka bukannya semua pendakwah yang berceramah di merata-rata tetapi kebanyakan mereka berdakwah melalui akhlak-akhlak yang baik selaras dengan kehendak Islam, maka masyarakat ketika itu amat mengasihi mereka. Apa jadi dengan Ba-Alawi hari ini?.... dimana nilai-nilai murni dalam berakhlak..? Ramai antara kita telah meninggalkan akhlak dan amalan Ba-Alawi, ini mengakibatkan Ba-Alawi dicemuh masyarakat dan tidak dihormati.

Kita boleh perhatikan kesan-kesan kebajikan Ba-Alawi terdahulu yang masih tersergam hingga ke hari ini seperti, Madrasah Al-Junid (Singapura), Madrasah Alawiyyah (Perlis), Madrasah Al-Saggaf (Singapura), Madrasah Al-Attas (Johor), Madrasah Al-Mashor (P.Pinang) dan banyak lagi madrasah dan wakaf-wakaf lain yang mereka bina atas hasil titik peluh mereka. Dengan wujudnya madrasah tersebut, ramai ulama sudah terhasil dari usaha kebajikan mereka. Merekalah pencetus kelahiran ulama-ulama di alam melayu ini.

Oleh sebab itu kita memerlukan suatu Persatuan bagi menghidupkan kembali warisan Ba-Alawi yang sudah terpinggir. Dengan rasa penuh keinsafan, ana menyeru para Alawiyyin sekalian, "marilah kita bersatu dibawah PERSATUAN KEBAJIKAN ASYRAAF MALAYSIA (ASYRAAF)". Semoga usaha yang kita lakukan ini akan diredhoi oleh Allah swt.

Ana mohon pada Allah supaya WEBSITE ini diberkati dan memberi manafaat kepada kita semua. Semoga Allah menjadikan usaha-usaha syabab sekalian semata-mata untuk mencari keredhoanNya di dunia dan diakhirat. Kepada Allah sebaik-baik tempat bergantung dan kepada Allah kita memohon rahmat.

Ana sudahi ucapan aluan ini dengan mengucapkan "Jazzakumullahkhairan" kepada sekalian yang memberi sokongan kepada mewujudkan Persatuan Kebajikan Asyraaf ini.

Wassalam..

Prof. Madya Syed Omar As-Saggaf, AMN

Nama Gelar alawiyyin dari Garis Husein bin Ali






(Al Imam As Syahid Husein bin Ali,Penghulu surga,gambar Imajiner)



Senarai Qabilah Al-Husseini
GELAR KELUARGA ALAWIYIN
Abu-Futhaim ,Al-Abu-Namaiy ,Al-Adani
Al-Aidid ,Al-Aidrus, Al-AlHamid-Inat
Al-Al-Qadri, Al-Albar ,Al-Alkaff
Al-Asseggaf, Al-Assery ,Al-Asysyathri
Al-Attas ,Al-Auhaj ,Al-Ba'Bud
Al-Ba-Barik, Al-Ba-'Aqil, Al-Bafaqih
Al-Bafaraj, Al-Bahar, Al-Baharun
Al-Bahsein, Al-Balghoits, Al-Banahsan
Al-Baragbah ,Al-Barrum, Al-Basuroh
Al-Basyeban ,Al-Bayti, Al-Bin-Aqil
Al-Bin-Jindan, Al-Bin-Sahil, Al-Bin-Semith
Al-Bin-Thahir ,Al-Bin-Yahya,, Al-Fad'Aq
Al-Habsyi, Al-Haddad, Al-Haddar
Al-Hadi , Al-Hinduan ,Al-Hiyyid
Al-Jamalullail, Al-Jufri ,Al-Junaid
Al-Junaid-Akhdo, Al-Khaneman, Al-Kherrid
Al-Khumur ,Al-Madihij, Al-Mahjub
Al-Masyhur ,Al-Marzaq ,Al-Maula-Dawillah
Al-Maulakhailah, Aal-Al-Mudhar, Al-Munawwar
Al-Mugebel, Al-Musawa, Al-Musyaiyakh
Al-Muthahhar, Al-Nadzir, Al-Rakhilah
Al-Shafi, Al-Shalabiyyah, Al-Syahab
Al-Syaikh Abi Bakar ,Al-Zahir Basymeleh
Bilfaqih, Shahib Marbad Alwi Ammil Faqih,
Ali bin Muhammad Shahib Marbad ,Al-Faqih Al-Muqaddam ,Al-Ustadz Al-A'dzham
Asadullah Fi Ardhihi Aal-A'yun Aal-Battah
Aal-Ibrahim ,Aal-Barakat, Aal-Basri
Aal-Babathinah ,Aal-Albiedh ,Al-Turobi
Aal-Bajahdab Jadid , Al-Jannah
Aal-Aljailani, Aal-Bahusein, Aal-Alkhuun
Aal Al-Dzi'bu, Aal-Alrukhailah ,Aal-Basakutah
Al-Sakran, Aal-Bin Sumaithan ,Aal-Syabsyabah
Aal-Alsyili, Aal-Syahabuddin , Aal-Syaikhon Dan Aal Bin Syaikhon
Shahib Al-Hamra', Shahib Al-Huthoh, Shahib Al-Syi'ib
Shahib Qasam ,Shahib Maryamah, Aal Al-Shafi, Al-Jufri
Aal Al-Shafi, Al-Saqqaf, Aal-Thaha, Aal-Azhamat Khan
Aal-Ba'alawi, Aal-Ali Lala ,Aal-Ba'umar
Al-Ghazali, Aal Al-Ghusnu, Aal Al-Ghamri
Aal Al-Ghaidhi, Al-Fardy, Aal-Quthban
Aal-Qori', Al-Muhdhar, Aal-Maknun
Aal Al-Maqaddy, Aal-Muthahhar ,Al-Nahwi
Aal Bahasyim,

Allawiyyin(Ba"alawy)/sayyid/syarif,dalam lintasan sejarah


(Imam Ali Bin Abi Thalib,
Karamalah Wajhah,Leluhur Alawiyin Seluruh Dunia)


Risalah kecil ini adalah usaha seorang insan kerdil untuk memberi sedikit maklumat mengenai Ba'alawi.lni ialah kerana ramai keturunan Ba'alawi dewasa ini yang mempunyai sedikit sekali, malah ada yang langsung tiada mempunyai pengetahuan, mengenai asal usul mereka. Saya amat berharap bahawa risalah yang cetek ini dapat menyingkap serba sedikit tentang asal usul Ba'alawi, serta menaruh harapan agar ia dapat mencetuskan minat lalu mendorong golongan Sadah daripada keturunan Ba'alawi untuk mengenali susur galur mereka secara lebih dekat lagi. Alangkah baiknya kalau risalah inidapat disebar luas bagi menemui seramai keturunan Alawi yang mungkin. Semoga usaha ini diberkati Allah swt.
Jaafar bin Abu Bakar Al 'Aydarus



Ba'alawi - Siapakah Mereka?

Ba'alawi ialah gelaran yang diberi kepada mereka yang bersusur-galur daripada Alawi bin Ubaidullah bin Ahmad bin Isa Al-Muhajir Ahmad bin Isa Al-Muhajir(1) telah meninggalkan Basrah di Iraq bersama keluarga dan pengikut-pengikutnya pada tahun 317H/929M untuk berhijrah ke Hadhramaut di Yaman Selatan. Cucu Ahmad bin Isa yang bernama Alawi, merupakan orang pertama yang dilahirkan di Hadralmaut. Oleh itu anak-cucu Alawi digelar Ba'alawi(2), yang bermakna Keturunan Alawi.
Panggilan Ba'alawi juga ialah bertujuan memisahkan kumpulan keluarga ini daripada cabang-cabang keluarga yang lain yang berketurunan daripada Nabi Muhammad s.a.w. Ba'alawi juga dikenali dengan kata-nama Saiyid (Sadah bagi bilangan lebih daripada seorang). Keluarga yang bermula di Hadhramaut ini, telah berkembang dan membiak, dan pada hari ini ramai di antara mereka menetap disegenap pelusuk Nusantara, India dan Afrika.

Ahmad bin Isa Al-Muhajir Ilallah

Dalam abad ke-10 Masehi, keadaan huru-hara mula menyelubungi dan menggugat empayar Abbasiyah yang berpusat di Iraq itu. Kerajaan tersebut kian bergolak menuju keambang keruntuhan. Kewibawaan Abbasiyah semakin terancam dengan berlakunya pemberontakan demi pemberontakan dan ini menjejaskan ketenteraman awam. Keadaan sebegini telah membawa padah kepada keturunan Nabi Muhammad s.a.w yang dikenali dengan gelaran Sadah itu.

 Pada umumnya ummt Islam menghormati serta menaruh perasaan kasih sayang terhadap Sadah. lni bukan semata-mata kerana mereka ini keturunan Nabi Muhammad s.a.w, tetapi juga kerana mereka melambang pekerti yang luhur, keilmuan yang tinggi dan wara'. Kedudukan yang istimewa dimata umat Islam ini telah menimbulkan perasaan cemburu dan syak wasangka terhadap Sadah dikalangan pemerintah. Mereka juga khuatir kalau-kalau Sadah akan menggugat dan merebut kuasa daripada kerajaan Abbasiyah.


Dengan tercetusnya pemeberontakan demi pemberontakan terhadap pemerintah, kewibawaan Abbasiyah pun menjadi semakin tercabar dan lemah. Keadaan ini juga turut mengancam kedudukan golongan Sadah, kerana mereka sering dikaitkan dengan setiap kekacauan yang tercetus. Dari masa ke masa golongan Sadah menjadi sasaran pemerintah. Ramai diantara mereka yang ditangkap dan dibunuh berdasarkan apa saja alasan .Namun majoriti Sadah bersikap sabar dan menjauhkan diri dari kelompok yang menimbulkan kekacauan. Daripada pengalaman yang lalu golongan tersebut yakin bahawa penglibatan diri di dalam politik akan berakhir dengan kekecewaan.


Ahmad bin Isa al-Muhajir meninggalkan Kota Basrah bersama seramai 70 orang, yang terdiri dari ahli-ahli keluarga dan pengikut-pengikut beliau. Pada mulanya kumpulan Al-Muhajir ini pergi ke Madinatul Munawwarah dan tinggal di sana selama setahun. Pada tahun berikutnya setelah menunaikan fardhu Haji, Ahmad bin Isa Al-Muhajir dan rombongan meninggalkan Kota Madinah menuju ke Yaman. Mereka singgah di Al Jubail di Lembah Dau'an, kemudian di Al-Hajrain, dan seterusnya menetap di suatu tempat, yang benama Al Husaisah(3).

 Ahmad bin Isa Al Muhajir Ilallah wafat pada tahun 345.H/956 M.


Permulaan di Hadhralmaut

Ahmad bin Isa memilih Hadhramaut untuk berhijrah, meskipun Hadhramaut merupakan suatu kawasan tandus dan kering kontang di Selatan Yaman. Kawasan tersebut pada zaman itu, dikatakan terputus daripada dunia luar. Tentunya banyak persoalan yang timbul tentang mengapa Ahmad bin Isa memilih kawasan sebegini untuk berhijrah.

 Pada zahirnya, pemilihan kawasan tersebut mungkin didorong oleh hasrat beliau untuk hidup di dalam keadaan aman bersama keluarga dan pengikutnya, atau keazaman beliau untuk membina sekelompok masyarakat baru di suatu kawasan baru bersesesuaian dengan kehendak syiar Islam yang didokongi oleh golongan Sadah selama ini. Akan tetapi sebelum sampai ke Hadhramaut Ahmad bin Isa dan rombongan terlebih dahulu berada di Madinah, tempat yang tenang dan aman lagi sesuai bagi tujuan beribadah dan membina ummah.

 Namun daripada Madinah beliau dan rombongan bertolak ke Al-Husaisah. Malah di Al-Husaisah Ahmad bin Isa telah pun membeli kebun buah-buahan yang luas. Akan tetapi pada akhirnya beliau memilih Hadhramaut sebagai tempat berhijrah. Sebagai seorang Imam Mujtahid mungkin keputusan yang dibuat beliau itu didorong oleh perkara yang diluar pengetahuan kita, Wallahualam.

Penghijrahan Ahmad bin Isa Al Muhajir ke Hadhramaut bukanlah bermakna berakhirnya ranjau dan rintangan. Di awal penghijrahan beliau, Ahmad bin Isa Al-Muhajir, bersua dengan ancaman daripada golongan Mazhab Ibhadiah(4) yang mempengaruhi kawasan tersebut.

 Namun setelah gagal untuk mencapai persefahaman dan perdamaian dengan pihak Ibhadiah, Ahmad bin Isa Al-Muhajir terpaksa mengangkat senjata menentang mereka. Berbanding dengan kaum Ibhadiah, bilangan pengikut Ahmad bin Isa Al-Muhajir adalah kecil.

 Akan tetapi semangat kental dan kecekalan, yang ditunjukkan oleh Al-Muhajir dalam menentang kaum Ibhadiah ini telah menarik perhatian dan simpati penduduk-penduduk Jubail dan Wadi Dau'an yang bertindak menyokong Al-Muhajir. Dengan sokongan penduduk-penduduk tersebut kaum Ibhadiah dapat di singkirkan dari bumi Hadramaut.

Cara hidup yang dianjurkan oleh Ahmad bin Isa Al-Muhajir, iaitu kehidupan harian yang berdasarkan Al Qur'an dan Sunnah itu, senang -diterima oleh masyarakat tempatan. Lambat laun cara ini menjadi norma hidup di dalam masyarakat tempatan. Malah beberapa tokoh terkemuka di kalangan Ba'alawi yang menjalani hidup sepertimana para sahabat di zaman Rasulullah s.a.w, mempunyai pengaruh yang positif ke atas masyarakat Hadhramaut. Tokoh-tokoh berkenaan lebih dikenali dengan panggilan Salaf.(5)

Walaupun persekitaran baru mereka masih tidak sunyi dengan keadaan huru-hara, masyarakat Ba' Alawi masih boleh menjalankan kehidupan yang aman tenteram. Sebenarnya ini adalah sesuatu yang merupakan cara hidup yang lumrah bagi keturunan Rasulullah s.a.w daripada Hassan dan Hussain

. Mereka sentiasa dihormati dan disanjung tinggi di seluruh pelusuk Dunia Islam, lebih-lebih lagi di Hadhramaut. Kehormatan yang diterima ini serba sedikit berpunca daripada amalan golongan Ba'alawi yang berjalan tanpa membawa sebarang senjata, sepertimana yang dianjurkan oleh datuk mereka, Ahmad bin Isa Al-Muhajir. Tambahan pula golongan ini dihormati dan disanjung oleh kerana mereka merupakan golongan yang berilmu lagi wara'.

Apabila Ahmad bin Isa Al-Muhajir serta rombongan (seramai kurang lebih 70 orang ahli keluarga dan pengikut) meninggalkan Basrah , mereka membawa bersama mereka harta kekayaan yang banyak. Dengan harta ini mereka dapat memperolehi tanah yang luas yang digunakan untuk pertanian.

 Dan sewajarnyalah yang menjadi kegiatan utama golongan Ba'alawi di Hadhramaut ini ialah pertanian. Sementara itu mereka juga bebas untuk beribadah dan membina masyarakat berdasakan ajaran Al-Qur'an dan Sunnah.

Fasa Perkembangan Ba'alawi

Perasaan golongan Ba'alawi terhadap kampung halaman mereka di Basrah masih kuat dan menebal, walaupun mereka telah memilih untuk membina penghidupan baru di Hadramaut. Oleh itu tidak hairanlan sekiranya didapati ramai dikalangan Ba'alawi yang selalu berulang alik di antara Hadhramaut dan Basrah untuk menziarahi sanak saudara yang masih berada di Basrah.

 Hubungan diantara Ba'alawi dengan Basrah berterusan. Masa kini masih terdapat keturunan saudara Al-Muhajir, iaitu Muhammad bin Isa di sekitar Basrah.

Salah suatu ciri hidup golongan Ba'alawi ialah mereka ingin bebas bergerak dan tidak suka terkongkong di suatu daerah sahaja. Tambahan pula, di tempat seperti Hadhramaut peluang untuk mencari rezeki terlalu terhad. Ini menyebabkan individu mahupun kumpulan Ba'alawi sanggup berpindah memulakan hidup ditempat-tempat yang lain seperti Yaman, Syam (Syria), dan Iraq.

 Tambahan pula Hadhralmaut merupakan tempat yang tidak mempunyai pemerintahan yang stabil, dan oleh itu tidak sunyi daripada tercetusnya perbalahan dan pergaduhan di antara kabilah-kabilah yang menjadi penghuni tetap di kawasan tersebut.

Sejarah perkembangan Ba'alawi, mengikut pandangan Sayid Ahmad bin Muhammad Assyathiri(6) boleh dibahagikan kepada empat fasa, setiap fasa mempunyai cirinya yang tersendiri. Perkembangan ini adalah bergolak di sekitar beberapa tokoh Ba'alawi, serta juga pengalaman jatuh bangunnya mereka dalam menempuhi kehidupan yang sering berubah itu.

 Namun begitu, golongan Ba'alawi masih berpegang teguh kepada keperibadian mereka, dan perkara yang mempegaruhi kecekalan golongan ini ialah istiqamah kepada ajaran AlQur'an dan Sunnah. Fasa perkembangan Ba 'Alawi boleh dihuraikan seperti berikut:

Fasa Pertama

Fasa ini bermula dengan zaman Ahmad bin Isa Al-Muhajir dan berakhir dengan Al-Faqih Muqaddam Muhammad bin Ali(7) iaitu jangka masa di antara abad ke-3 hingga abad ke-7 Hijrah. Pada zaman tersebut pemimpin dan tokoh-tokoh Ba'alawi dikenali dengan gelaran Imam.

 Tokoh-tokoh pada masa itu digelar dengan panggilan Imam Mujtahid, iaitu mereka yang tidak terikat dengan mana-mana mazhab. Tokoh-tokoh terkemuka pada masa itu ialah keturunan daripada Ubaidullah bin Ahmad bin Isa AlMuhajir, melalui 3 orang putera beliau, iaitu Bashri, Jadid dan Alawi.

 Namun begitu, keturunan Bashri dan Jadid tidak berhayat panjang. Mereka hanya dapat mempelopori dan mengembangkan penyebaran ilmu hinggalah ke tahun 620an H/1223M. Keturunan Bashri dan Jadid yang terkemuka ialah Imam Salim bin Bashri (wafat pada 604H/1208M) dan Imam Abu Hassan Ali bin Muhammad bin Jadid (wafat pada 620H/1223M).

 Tradisi pengajian Ilmu, bagaimanapun di teruskan oleh keturunan Alawi, dan yang lebih terkenal di antara mereka ialah Imam Muhammad bin Ali bin Alawi. Beliau lebih dikenali dengan gelaran Sahib Marbat (wafat pada 556H/1161M).

 Tradisi keilmuan,(8) ini juga diteruskan oleh dua orang putera Sahib Marbat, iaitu Imam Alwi dan Imam Ali, dan oleh putera Imam Ali, iaitu Al-Faqih Muqaddam Muhammad bin Ali, serta tokoh-tokoh yang datang kemudian daripada mereka.

Fasa Ke-Dua

Zaman yang dikenali sebagai fasa ke-dua ialah di antara abad ke-7 hingga abad ke-11 Hijrah. Pada zaman tersebut tokoh-tokoh Ba'alawi yang terkemuka disebut dengan nama As-Syaikh. Zaman ini bertepatan dengan era Al-Faqih Muqaddam Muhammad hingga ke zaman sebelum Habib Al-Qutub Abdullah bin Alawi Al-Haddad.

 Di antara ulama-ulama yang terkemuka di zaman ini ialah Al-Faqih Muqaddam Muhammad bin Ali (wafat pada 653H/1255M),As-Saqqaf(9) (wafat 819H/1416M), Al-Mahdar(10) (wafat 833H/1429M), Al-'Aidarus(11) (wafat 865H/1460M), dan Zain Al-Abidin Al-'Aidarus(12) (l041H/1631M). Pada ketika tersebut bilangan Ba'alawi sudah menjadi bertambah ramai dan mereka mulai dikenali dengan nama kabilah masing-masing seperti As-Saqqaf, Al-Mahdar, Al-'Aidarus, Al-Habisyi, Al-Junid, Jamalullail dan banyak lagi.

Fasa Ke-Tiga

Zaman yang dikenali sebagai fasa ke-tiga ialah di antara abad ke-11 dan abad ke-14 Hijrah. Pada zaman tersebut tokoh-tokoh Ba 'alawi dikenali dengan panggjlan Al-Habib. Ulama-ulama yang terkemuka pada zaman ini ialah Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad (wafatI132H/1717M), Habib Ahmad bin Zain Al-Habsyi, Habib Hassan bin Salleh Al-Bahr, dan Habib Abdurrrahman Bilfagih (wafat 1163H/1749M) dan beberapa orang tokoh yang lain.

 Pada masa ini juga keturunan keluarga Ba'alawi terus membiak. Keadaan ini membawa kepada migrasi (perpindahan keluar) yang begitu pesat. Pada abad ke-11 dan ke-12 berlaku penghijrahan keIndia(13), Timur Jauh (Far East), Afrika Timur dan Hijjaz, sementara di abad ke-13 berlaku pula penghijrahan ke Asia Tenggara (terutama ke Indonesia dan Malaysia).

 Kaum Ba' Alawi mewarisi semangat suka merantau. Mereka juga tidak gemar diri mereka terkongkong di suatu kawasan. Namun begitu Ba'alawi juga merupakan golongan yang senang menyesuaikan diri dengan penduduk tempatan dimana sahaja mereka merantau. Akan tetapi, seberapa jauhnya mereka daripada Hadhramaut, hubungan erat dengan kampung halaman induk masih dikekalkan. Mereka yang menjalinkan perhubungan melalui perkahwinan dengan penduduk tempatan dan masih menghantarkan anak-anak mereka ke Hadhramaut, terutama ke Tarim, untuk menuntut ilmu secara tradisi yang diasaskan oleh pelopor-pelopor Ba'alawi.

Perubahan Yang Ketara

Pada penghujung fasa ke-tiga didalam Sejarah Ba'alawi, perubahan ke arah kemunduran dikalangan Ba'alawi di seberang laut dapat dikesan. Walaupun tradisi pulang ke Hadhramaut untuk menziarahi keluarga masih diamalkan, ramai pula di antara mereka yang telah bermastautin di India dan Asia Tenggara, mula menampakkan proses asimilasi dengan masyarakat tempatan, iaitu menerima dan menyerap budaya dan tradisi persekitaran.

Sementara golongan Ba 'alawi pada mulanya menjauhkan diri daripada kegiatan politik melainkan perkara-perkara yang menyentuh kebajikan dan ketenteraman umum, mereka yang terkemudian mula mencebur diri dengan politik. Ada di antara golongan Ba'alawi yang mempunyai hubungan rapat dengan raja-raja dan penguasa tempatan, dan telah menggunakan pengaruh mereka.

 Pernah diceritakan bahawa tokoh- tokoh Al-Mahdar, Al-'Aidarus, Jamalullail dan Al-Haddad, mempunyai hubungan yang intim dengan pihak istana, sehinggakan raja-raja. sentiasa merujuk kepada mereka untuk mendapatnasihat(14). Budi pekerti yang luhur, disiplin diri dan didikan yang menjadi tradisi dikalangan Ba'alawi adalah faktor utama meyebabkan mereka dihormati dan disanjungi, sementara ciri peribadi istimewa sebilangan mereka membolehkan mereka diterima sebagai pemimpin masyarakat tempatan.

 Ada pula dikalangan mereka yang berkahwin dengan ahli keluarga diraja, dan pada akhirnya mereka diangkat menjadi raja, contohnya, Syahab di Siak dan Jamalulail di Perlis. Beberapa kesultanan juga diasaskan oleh tokoh- tokoh Ba'alawi. Sebagai contoh, Al-'Aidarus menubuhkan kerajaan di Surat (India), dan di Kubu (Kalimantan), Al-Qadri dan Bin Syaikh Abu Bakar di Kepulauan Comoros, AlQadri di Pontianak (Kalimantan) dan Balfagih di Filipina.

Fasa Ke-Empat

Zaman yang dikenali dengan Fasa ke-empat ini ialah di antara abad ke-14 Hijrah hinggalah dewasa ini. Perubahan yang bermula dipenghujung Fasa ketiga menjadi semakin ketara di zaman ini. Dalam beberapa aspek hidup, golongan Ba'alawi telah menempuh keruntuhan dari segi pegangan moral dan etika yang diasaskan oleh pelopor-pelopor di Hadhramaut dahulu.

 Zaman ini bertepatan dengan kemunduran Dunia Islam keseluruhannya, akibat dilanda budaya Barat. Golongan muda Ba'alawi, terutama mereka yang bermastautin di tanah jajahan Inggeris dan Belanda mula meninggalkan pendidikan tradisional berasaskan Al-Qur'an dan Sunnah, dan memilih pendidikan Barat.

Walaupun masih terdapat tokoh-tokoh Ulama Ba'alawi dikalangan mereka, namun bilangan mereka adalah terlalu sedikit berbanding dengan masyarakat Ba'alawi amnya. Keadaan sedemikian telah menghakiskan status Ba'alawi keseluruhannya.

Ba'alawi Masa Kini

Keturunan Alawi bin Ubaidullah bin Ahmad bin Isa Al-Muhajir pada masa kini membiak dengan banyaknya. Mereka bemastautin di sebahagian besar pelusuk dunia. Mereka ialah keturunan kelompok-kelompok Ba'alawi yang keluar dari Hadhramaut.

 Mereka dikenali dengan berbagai gelaran seperti Syed atau Saiyid, seperti di Indonesia dan di Malaysia. Mereka juga dikenali dengan nama Habeeb seperti di India, Sidi, Syarif, Tuanku, Engku, Wan dan beberapa panggilan lagi. Namun begitu disebabkan beberapa faktor ramai pula keturunan Ba'alawi yang telah kehilangan identiti mereka.

 Kebanyakkan dari golongan ini menganggap mereka sebagai orang tempatan dengan mengamalkan budaya tempatan dan melupakan budaya datuk nenek mereka. Ramai pula keturunan Ba'alawi yang berakar umbi di tempat-tempat yang mereka tinggal kini, sejak datuk nenek mereka berhijrah seawal-awal abad ke-15 Masehi dahulu. Mereka tidak lagi mengenali asal-usul mereka, dan perhubungan mereka dengan negeri Ibunda telah begitu lama terputus.

Walaupun ramai ahli keluarga Ba'alawi yang telah hilang identiti, namun ramai pula yang masih berpegang teguh dengan asal-usul mereka dan mengambil berat tentang silsilah keluarga. Mereka juga masih menjalin hubungan dengan saudara mara di Hadramaut.

 Golongan ini terdiri daripada anak cucu mereka yang keluar merantau dalam abad ke-18 dan ke-19. Ramai daripada mereka terutama anak cucu Ba'alawi yang berhijrah terkemudian dan tinggal di kawasan-kawasan berhampiran pelabuhan. Mereka masih berpegang teguh dengan beberapa tradisi Ba'alawi, dan ada yang masih fasih berbahasa Arab.

 Oleh itu, sayogianya kita bertemu dengan kelompok keturunan Ba'alawi yang masih berpegang dengan tradisi dan amalan datuk nenek mereka, maka kita akan bersua dengan amalan seperti membaca Maulid Diba'ii, Ratib Haddad, Ratib Al 'Attas dan lain-lain lagi.

 Seperkara yang menggembira dan menggalakkan ialah bahawa mereka daripada golongan ini giat menghidupkan kembali dan mengembang tradisi ini di kalangan keturunan Ba'alawi yang sudah jauh terpisah daripada kelompok asal.

 Ini dilakukan dengan menarik dan menggalakkan mereka menghadiri majlis Ta'lim atau Rohah, sekaligus mengukuhkan silaturrahim diantara mereka. Namun begitu masih ramai lagi daripada keturunan Ba 'alawi yang hanyut di bawa arus kemodenan dan kejahilan, dan belum lagi terdedah kepada amalan murni Ba'alawi. Mereka ini amat perlu mendapat perhatian.

Seorang ulama besar yang wafat di Jakarta, iaitu Habib Muhammad bin Abdurrahman Bin Syahab, pemah melahirkan harapan agar generasi-generasi yang datang kemudian dari keturunan 'Alawi akan memegang teguh kepada agama Islam, mejaga pusaka nenek-moyang, dan jangan sampai tenggelam ke dalam peradaban Barat(15).

 Marilah kita sama-sama berdo'a agar Allah s.w.t memberi taufik dan hidayah semoga mereka yang terpisah ini akan jua balik ke pangkal jalan mengenali diri dan asal usul mereka, serta menghargai warisan mereka yang sebenarnya. Sesuai dengan hadith(16) Rasulullah s.a.w mengenai pentingnya mempelajari tentang nasab, kita menaruh harapan yang mereka juga akan mengambil berat tentang nasab masing-masing.

(Disusun semula oleh: Karimy Uthman Benyahya)

[1]Ahmad bin Isa bin Muhammad An-Naqib bin Ali 'Uraidhi bin Jaafar As-Sadiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Hussain bin Ali dan Saiyidatina Fatimah Azzaharah binti Saiyidina Muhammad saw.

[2]Ba'alawi juga dikenali dengan nama Bani Alawi.

[3]Al-Husaisah terletak diantara Saiwon dan Tarim tetapi dewasa ini tempat tersebut telah tertimbus dibawah timbunan padang pasir.

[4]Ibhadiah adalah pecahan daripada golongan kaum Khawarij di bawah pimpinan Abdullah bin Ibhad. Kumpulan ini telah beberapa kali memberontak menentang Khalifah Umayyah. Pemberontakan yang terkenal ialah pemberontakan yang diketuai oleh Abdullah bin Yahaya pada tahun 129 Hijrah. Kaum Ibhadiah seterusnya meluaskan pengaruh mereka ke Oman, Yaman dan Hadhramaut.

[5]Panggilan Salaf, pada umumnya, adalah ditujukan kepada mereka yang hidup di dalam abad pertama hingga ke-3 Hijrah, atau lebih tepat lagi ditujukan kepada para sahabat Nabi saw., Tabi'in dan Tabi'it-tabiin. Walau bagaimana pun para ulama Hadhralmaut menggunakan panggilan Salaf ke atas ulama-ulama terawal mereka yang soleh.

[6]Ba'alawi juga dikenali dengan nama Bani Alawi.

[7]Al-Faqih Muqaddam Muhammad bin Ali ialah personaliti Sadah yang menumpukan khusus kepada ilmu Tasauf di dalam abad ke-13 Masehi. Beliaulah yang bertanggung- jawab mewajibkan golongan Sadah meninggalkan senjata dan memberi tumpuan sepenuhnya kepada agama dan akhlak. Setelah itu ciri utama yang mempengaruhi pemikiran dan cara hidup golongan Sadah ini ialah Ilmu Tasawuf. Penulis-penulis dari golongan Sadah banyak menumpukan karya mereka dalam bentuk puisi. sama ada berbentuk agama mahupun sekular, dan juga kepada sejarah keturunan (silsilah) - Wadi Hadhramaut and The Walled City of Shibam, karya Ronald Lewcock, dan dipetik daripada cetakan UNESCO 1986.

[8]Dalam jangka masa inilah Ba'alawi menerima Mazhab Syafi'ie sebagai anutan dan merekalah yang seterusnya bertanggung-jawab menyebarkan ajaran Imam Syafi'ie ke negeri-negeri di pesisiran pantai Lautan Hindi. -ibid.

[9]Abdurrahman As-Saqqaf bin Muhammad Mawla Dawilah, yang lebih dikenali dengan gelaran As-Saqqaf (bermakna atap) oleh kerana keilmuan agama beliau begitu mendalam sehingga apabila dibandingkan dengan tokoh-tokoh yang lain, 'alimnya umpama atap dengan lantai. As-Saqqaf adalah seorang hartawan akan tetapi kekayaan beliau tidak menghalang dirinya menjadi seorang yang wara'. Beliau membelanjakan sebahagian besar hartanya untuk tujuan agama. Beliau membina 10 buah masjid dan telah memperuntukkan waqaf bagi membiayai perjalanan masjid tersebut.

[10]Umar Al-Mahdar bin Abdurrahman As-Saqqaf, ialah seorang ulama yang terkenal dengan sifat dermawan beliau. Rumah beliau sentiasa dipenuhi dengan tetamu-tetamu yang berkunjung untuk bertanya mengenai hal agama ataupun hal duniawi. Beliau juga dikenali sebagai seorang yang menanggung sara hidup beberapa keluarga yang susah. Beliau membina tiga buah masjid.

[11]Abdullah bin Abi Bakar As-Sakran bin Abdurrahman As-Saqqaf masyhur dengan gelaran Al-'Aidarus. Beliau baru menjangkau usia 10 tahun apabila ayah beliau meninggal dunia. Oleh itu beliau dipelihara oleh paman beliau iaitu Al-Mahdar yang sekali gus menjadi guru beliau. Abdullah dididik oleh paman beliau didalam ilmu Syariat, Tasawuf dan Bahasa Arab. Semasa wafatnya Al-Mahdar Al-'Aidarus baru berusia 25 tahun. Jemaah Ba' Alawi sebulat suara bersetuju untuk melantik Imam Muhammad bin Hassan Jamalullail sebagai naqib baru menggantikan Al-Mahdar , akan tetapi Imam Muhammad Jamalullail menolak. Sebaliknya Imam Muhammad meminta Al' Aidarus dilantik sebagai naqib. Abdullah Al-'Aidarus adalah seorang ulama' berkaliber tinggi. Beliau bertanggungjawab menyebar luas ilmu dan dakwah, tekun mengisi waktu beliau dengan ibadah. Beliau juga menyalurkan hartanya untuk kepentingan umum. Di dalam buku Almasyra' Arrawiyfi Manaqib Assadah Al-kiram Bani Alawiy,beliau disebutkan bahawa, " dalam kedermawanannya bagaikan seorang amir, namun dalam dalam tawaddu' bagaikan seorang fakir ". Beliau sangat senang menampakkan nikmat Allah ke atas dirinya dengan mengenakan pakaian indah, kenderaan rang megah dan rumah kediaman yang mewah.

[12]Ali Zainal-Abidin bin Abdullah bin Syeikh Al-'Aidarus adalah seorang Imam yang terkenal dalam berbagai ilmu. Guru utamanya ialah ayahnya sendiri. Beliau bertindak sebagai murid dan pelayan ayahnya, dan tidak pernah berpisah dengan ayahnya selama ayahnya masih hidup. Setelah ayahnya wafat, Zain Al-Abidin menggantikan ayahnya sebagai naqib. Beljau mencurahkan sepenuh tenaga dan pemikiran untuk kepentingan umum dan Ba'alawi khususnya. Beliau dihormati oleh Sultan-sultan di Yaman, dan dalam menjalankan urusan pentadbiran, mereka merujuk kepada beliau sebelum membuat apa-apa keputusan. Ini menyebabkan Zain Al-Abidin mempunyai ramai musuh. Akan tetapi kebijaksanaan beliau dalam mengendalikan musuh-musuh tersebut dapat menawan hatI mereka, yang pada akhirnya musuh bertukar menjadi sahabat. Selain daripada mempunyai pengetahuan dan kewibawaan yang tinggi di dalam ilmu Syari'at, Tasawuf dan Bahasa Arab, beliau juga mempunyai pengetahuan dan kemahiran yang mendalam dalam bidang pertanian yang diajarkan kepada ramai. Diakhir hayatnya, beliau juga terkenal sebagai seorang tabib yang berwibawa.

[13]Dalam tahun 1930-an adalah dianggarkan bahawa sekurang-kurangnya 13,000 orang daripada keturunan Ba'alawi berada di Hyderabad, India. Ramai di antara mereka menjadi anggota dan pegawai tentera Nizam Hyderabad (Nizam's Arabian Regiment). Sumber dipetik daripada buku "Hadramaut -Some of Its Mysteries Unveiled oleh D. Van Der Meulen dan H. Von Wissmann.

[14]Muhanunad bin Ahmad As-Syathiri, didalam buku beliau, Sirah As-Salaf Min Bani Alawiy Al-Hussainiyin, untuk membuktikan perkara ini, telah meriwayatkan bahawa Sultan Badr bin Thuwairiq pernah menzahirkan hasrat baginda untuk turun daripada takhta dan menyerahkan kuasa dan pemerintahan kepada Al-Imam Hussain bin Syaikh Abu Bakar bin Salim (wafat l044H/1635M).

 Akan tetapi Imam Hussain secara bijaksana menolak dan meyakinkan baginda supaya terus memerintah, serta berjanji memberi segala bantuan dan nasihat kepada baginda.

[15]Lihat Soal Jawab Agama Islam oleh Prof Dr. Hamka. penerbitan Pustaka Melayu Baru, Kuala Lumpur. 1978. ms 58

[16]Bersabda Rasulullah s.a.w : "Pelajarilah olehmu tentang nasab-nasab kamu agar dapat terjalin dengannya tali persaudaraan kamu. Sesungguhnya menjalin tali persaudaraan itu akan membawa kecintaan terhadap keluarga, menambah harta, dan memanjangkan umur". Diriwayatkan oleh Ahmad dalam musnadnya. Tarmizi dan Al-Hakim.