Rabu, 12 Oktober 2011

Media: Senjata Terampuh dalam “Soft War”


Media: Senjata Terampuh dalam “Soft War”

Di kota dan di desa sebagian remaja terutama putri ABG berangan-angan dan bercita-cita jadi artis, mengikuti casting dan audisi yang diselenggarakan oleh industri media. Mereka ingin mendapatkan kekayaan, ketenaran dan kecantikan. Mengapa? Jawabannya hanya satu: media.

Media dianggap merupakan sumber informasi, interpretasi yang mempengaruhi pikiran dan sikap manusia, alat pembentuk, penghimpun dan dan penyalur pendapat umum.

Di era reformasi ini, seiring dengan terbukanya pintu kebebasan yang ditandai dengan pembubaran Departemen Penerangan dengan Lembag Sensor-nya, media cetak dan elektronik berbau kekerasan dan porno pun merajalela.

Puluhan bahkan mungkin ratusan media cetak, mengejar keuntungan komersial dengan menampilkan aneka menu seks, mulai dari berita sekaligus rekonstruksi pemerkosaan sampai iklan layanan jasa call premium dengan gambar-gambar yang sangat seronok. Selain media cetak, materi seks dan porno juga ada pada media elektronik seperti ineternet, telivisi, radio, dan film bioskop. 

Bukan rahasia lagi bila sebagian besar pelanggannya menyalurkan fantasi seksual melalui situs-situs porno yang sangat banyak. Acara-acara dangdut di televisi juga terkesan mengandalkan tubuh dan erotisme penari dan penari latar ketimbang suara yang indah dan musik yang harmonis. Sejumlah stasiun telivisi bahkan menjadikan acara semacam wawancara terbuka dengan gay, lesbian dan pelacur sebagai menu andalannya.

Pemirsa kita dijejali dengan iklan-iklan terselubung di balik aneka berita dan ulasan seputar selebriti, mulai dari koleksi pakaian, perkawinan melahirkan sampai perceraiannya. Itu semua ditampilkan dengan ragam kemasan. Ada acara yang mengungkap kehidupan sehari-hari artis, koleksi sepatunya hingga (maaf) toiletnya.

 Ada acara yang mempertemukan artis dengan penggemarnya dengan kencan sehari. Ada yang megajak pemirsa mengirimkan sms langusung kepada artis pujaan. Pendek kata, sistem komunikasi dan informasi kita didominasi oleh fantasi glamour, pemujaan raga dan konsumerisme. Bayangkan kalimat-kalimat yang dipersiapkan dalam iklan, terutama untuk produk kosmetik, akan berusaha membuat setiap pemirsanya, terutama wanita, merasa tidak nyaman dengan penampilannya sedemikian rupa. 

Bayangkan wanita-wanita di desa yang lugu dan miskin, karena marasa dicemooh oleh wanita-wanita cantik, bening dan semampai di iklan, mulai memburu setiap produk pemutih dan pelangsing tanpa memikirkan efeknya dan tanpa menelitii kandungan kimiawinya! Media kapitalis telah menciptakan budaya ‘genit’ yang sangat luas di negeri kita.

Radio juga tidak mau ketinggalan. Perbincangan dengan pendengar yang dipandu oleh pakar seks tentang masalah-masalah seks secara terbuka misalnya dapat kita dengar setiap hari di sejumlah stasiun dengan mengangkat sejumlah tema seks seperti masturbasi dan orgasme. 

Jauh sebelum televisi swasta bermunculan, para produser film Tanah Air lebih mengutamakan keuntungan ketimbang kualitas dan seni, hanya mengandalkan seks dengan judul-judul yang benar-benar amoral. Kini setelah mengalami sedikit kebangkitan, film sinema juga mulai berani menjiplak seni perfilman Barat dengan mengangkat tema-tema Barat seperti homoseksualitas dan hubungan seksual tanpa nikah.

Salah satu corong pornografi adalah iklan, bahkan iklan yang tidak berkaitan sama sekali dengan produk seks seperti jamu dan obat kuat, minuman berenergi, kondom dan sebagainya. Pornografi dapat ditemukan dalam iklan makanan, minuman, kosmetik bahkan mobil dan elektronik.

Lebih dari itu, berita-berita seputar kejahatan di telivisi dan koran di Tanah Air terkesan ‘menstimulasi’ fantasi liar para penikmatnya dengan menayangkan secara live operasi penggerebekan aparat polisi yang over acting layaknya agen FBI dalam film-film Hollywood. 

Yang lebih memprihatinkan lagi, bisa dipastikan bahwa dalam setiap acara berita kriminal, ada sebuah berita kejahatan “spesial”, seperti anarkisme yang mulai ‘dibenarkan’ pembakaran hidup-hidup pencopet di stasiun dan tempat umum lainnya dan kejahatan seksual tak lazim (yang belakangan mulai terasa lumrah); pemerkosaan gadis di bawah umur, pencabulan ayah kandung atas anak atau kakek atas cucu, dan sebagainya.

Pornografi, setuju atau tidak, sangat diminati di Tanah Air. Acara-acara yang menampilkan pornografi mengungguli acara-acara lainnya, apalagi acara agama yang biasanya diperlakukan sekedar ‘selingan’ atau bukan ‘asal ada’ sehingga diletakkan pada tengah malam di saat sebagian orang lelap.

 Kecenderungan masyarakat Indonesia terhadap kekerasan, pornografi dan klenik bisa dianggap cukup spektakuler. Betapa tidak! Berita seputar kekerasan dan kejahatan serta acara dan film-film bertema sadisme, erotisme dan horor ternyata menempati urutan teratas dalam polling-polling.

Di satu sisi, ini adalah indikasi optimistik bagi para kapitalis. Bagi para sosiolog dan agamawan sejati, ini adalah sebuah petaka sosial.

Yang jelas, memori otak kita tentu tidak akan mampu mendowload semua file yang dipantulkan oleh objek dan realitas yang silih berganti di sekitar kita. Bila tidak pandai-pandai menyeleksinya, maka otak kita akan lambat melakukan olah pikiran (berpikir), bahkan kadang mengalami eror. Akibatnya ia perlu di-restart. Bila tidak juga berhasil, harus dihentikan karena mengalami gangguan hardware.

Proses kerja produksi dan reproduksi realitas teve berlangsung melalui 3 tahap. Tahap pertama atau ”reality” berwujud penampilan, pakaian, make up, lingkungan, perilaku, gaya bicara, gerak-gerik, ekspresi, suara dan sebagainya. Tahap kedua atau representation mencakup penggunaan kamera, penyinaran, editing, musik, dan suara untuk membuat ”cerita” yang berbentuk narasi, 

konflik, action, dialog, setting, casting, dan sebagainya. Tahap ketiga atau ideologi merupakan organisasi dari kode-kode ideologi secara koheren dan dapat diterima, seperti individualisme, ras, materialisme, kapitalisme (1987).

Tahapan ini menggambarkan bagaimana suatu realitas fisik/empiris, ”diolah”, diubah dan ditransformasikan menjadi realitas simbolis. Hasilnya, masyarakat percaya bahwa realitas teve bukanlah reproduksi dan atau rekonstruksi dari realitas empiris. Mereka merasa bahwa realitas teve identik dengan realitas empiris. Akibatnya, mereka menyamakan tingkat validitas, kepercayaan dan kebenaran kedua realitas itu.

Ideologi asing muncul tidak semata dikarenakan lembaga penyiaran menyiarkan iklan yang materinya diproduksi oleh perusahaan periklanan negara asing dan menampilkan pemeran dan atau setting negara asing, sebagian produk dan pemain lokal pun menunjukkan hal yang sama.

Iklan teve mempengaruhi konsumen Indonesia menjadi hiperrealitas, yang menganggap sesuatu yang maya menjadi nyata, sesuatu yang palsu menjadi benar; isu lebih dipercaya daripada informasi; rumor dianggap lebih benar daripada kebenaran. Dikhawatirkan, pemirsa tidak dapat lagi membedakan kebenaran dengan kepalsuan, dan antara isu dengan realitas.

Kini tiba saatnya melakukan proteksi dari tsunami budaya pembodohan atas nama kebebasan modernitas dengan membangun sebuah sistem informasi baru.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar