Rabu, 12 Oktober 2011

Epistemologi.II





Epistemologi: Prinsip “Hudhur”, Moyang Semua Pengetahuan (2)
Posted on 10/10/2011 by Muhsin Labib
This entry is part 1 of 4 in the series Epistemologi

Epistemologi

* Epistemologi: Prinsip “Hudhur”, Moyang Semua Pengetahuan (2)
* Epistemologi: Ambiguitas Antara “Tahu” dan “Ada” (1)
* Epistemologi: Prinsip Badahah, Moyang Semua Pengetahuan Hushuli (4)
* Epistemologi: Prinsip ‘Badahah’, Moyang Semua Pengetahuan ‘Hushuli’ (3)

Dr. Muhsin Labib

Dr. Muhsin Labib

Alfabet eipstemologi Islam dimulai dari “prinsip kehadiran” (ashalat al-hudhur). Tanpa itu, agnosisme dan skpetisisme serta relativisme (dalam pengetahuan) menjadi nasib yang tak terelakkan.

Ilmu hudhûrî telah dikenal sebagai salah satu ciri khas filsafat Islam. Sejak awal kali diketengahkan oleh al-Farabi dan Ibnu Sina dan Surhawardî. Yang berperan penting dalam pengembangan jenis ilmu ini adalah Mollâ Shadrâ.

Pada era pasca Molla Sahdra, ilmu hudhûrî yang terus dikaji akhirnya didefiniskan secara beragam. Paling tidak, ada enam definisi untuk ilmu huduri , di samping tentunya definisi yang ia ajukan sendiri. Dan hingga kini, menurut Hasan Moallemi, definisi yang diberikan Mohammad Taqî Meshbah Yazdî lebih diterima dan menjadi postulat kajian-kajian seputar ilmu hudhûrî.

Epistemologi Sadrian melandaskan hierarki pengetahuan pada prinsip hudhûr (kehadiran), sebagai infrasturkur yang menjamin tidak meniscayakan akibat tasalsul (continuum ad infinitum). Epistemologi metafisis ini menegaskan bahwa pengetahuan setiap orang tentang dirinya sebagai maujud pelaku persepsi adalah pengetahuan yang tak dapat disangkal. ‘Aku’ dan ego yang melakukan pencerapan dan pemikiran, yang dengan penyaksian batinnya (شهود / syuhûd) sadar akan dirinya sendiri, tanpa sarana pengindraan, percobaan, (perolehan) bentuk-bentuk ataupun konsep-konsep mental. Dengan kata lain, diri itu sendiri adalah pengetahuan. Dan dalam pengetahuan serta kesadaran ini, pengetahuan dan subjek dan objek sama sekali tidak dapat dipilah-pilah. Seperti telah disebutkan sebelumnya, ‘kemanunggalan subjek dan objek pengetahuan’ adalah instanta (instance / mishdâq) paling sempurna dari ‘kehadiran objek pengetahuan pada subjek pengetahu’.

Saking validnya, pengetahuan ini merupakan sesuatu yang tidak bisa dianalisis dan diuraikan (dalam konsep-konsep), tidak seperti proposisi ‘aku adalah…(i am)’ atau ‘aku ada (i exist)’ yang tersusun dari dua konsep (aku + ada), karena ia mendahului konsep apapun.

Dengan demikian, pengertian ‘pengetahuan tentang diri sendiri’ ialah kesadaran yang bersifat intuitif ( وجدانيّة ), sederhana dan langsung tentang jiwa (atau ruh) kita sendiri. Pengetahuan dan kesadaran ini merupakan peri keadaan esensial jiwa.

Terhadap keraguan tentang akurasi pengetahuan hushûlî, Mohammad Taqî Meshbâh Yazdî mengakui bahwa sebelum bentuk dan kosep terbukti benar-benar sesuai dengan objek yang dipersepsi, kepastian akan kesahihan persepsi tidak akan pernah didapatkan. Tetapi, menurutnya, dalam hal objek atau sesuatu yang dipersepsi hadir tanpa perantaraan atau bahkan manunggal dengan eksistensi pelaku persepsi, kekeliruan tidaklah dapat dibayangkan. Artinya, pertanyaan apakah pengetahuan subjek telah sesuai dengan objek yang diketahui, tidaklah relevan karena dalam kasus ini subjek pengetahuan identik dengan objek yang diketahui.

Dengan paparan itu, Mohammad Taqî Meshbâh Yazdî ingin menjawab mengapa dan bagaimana sebagian pengetahuan hushuli mengalami kekeliruan. Umpamanya, ada orang merasa lapar dan menyangka bahwa dia memerlukan makanan, padahal selera makan itu sebetulnya tidak nyata dan dia tidak memerlukan makanan. Menurutnya, hal demikian terjadi lantaran rasa tertentu yang ditangkapnya melalui pengetahuan hudhûrî yang tidak mungkin keliru itu telah diikuti dengan tafsiran mental yang membandingkan rasa tersebut dengan beberapa rasa terdahulu yang diduga berasal dari kebutuhan pada makanan. Hanya saja, perbandingan itu ternyata tidak benar dan karenanya muncul kekeliruan yang bermula dari tafsiran mental atas penyebab rasa tersebut.

Meski mengganggap tidak mungkin salah, Mohammad Taqî Meshbâh Yazdî menganggap pengetahuan hudhûrî tidaklah seragam. Hal itu karena ia memperlakukan pengetahuan hudhûrî sebagai maujud. Berdasarkan prinsip tasykîk al-wujûd yang diterimanya, Mohammad Taqî Meshbâh Yazdî tidak menolak gradulitas pengetahuan hudhûrî, yang berarti ia juga mempunyai tingkat kelemahan dan kedahsyatan (syiddah wa dhu`f) yang bervariasi. Ia mencontohkannya orang sakit yang menderita dan mempersepsi rasa sakitnya melalui pengetahuan (hudhûrî) melihat temannya dan mengalihkan perhatiannya pada si teman, maka persepsinya akan rasa sakit itu akan membuyar. Menurutnya, penyebab rendahnya derajat pengetahuan hudhûrî adalah kurangnya perhatian. Sebaliknya, dalam kesendirian, terutama di malam hari manakala tidak ada lagi objek yang dapat diperhatikannya, sakit itu akan terasa lebih dahsyat. Sebab dari kedahsyatan rasa sakit itu tiada lain daripada perhatiannya yang utuh.

Perbedaan derajat pengetahuan hudhûrî bisa berdampak pada tafsiran-tafsiran mental yang terkait dengannya. Umpamanya, meskipun sangat rendah, manusia selalu mengetahui hudhûrî tentang jatidirinya. Hanya saja, akibat rendahnya derajat pengetahuan hudhûrî tentang diri itu, orang sering membayangkan bahwa jatidirinya identik dengan tubuhnya. Ujung-ujungnya, ia akan menyimpulkan bahwa hakikat dirinya tak lebih dari tubuh dan gejala-gejala material yang membalutnya. Namun, seiring peningkatan derajat pengetahuan hudhuri dan penyempurnaan substansi dirinya, kekeliruan semacam itu berkurang bahkan tidak lagi terjadi. (Bersambung)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar