Rabu, 12 Oktober 2011

Antara Perbuatan baik dan Amal Saleh


Antara Perbuatan baik dan Amal Saleh
Posted on 06/10/2011 by Muhsin Labib


Antara Perbuatan baik dan Amal SalehSegala hal yang berhubungan dengan perbuatan tidak bisa dilepaskan dari tauhid. Sedangkan tauhid itu sendiri bukan hanya suatu keyakinan yang ada dalam benak, wacana, atau yang berupa konsep-konsep yang tertanam dalam pikiran tapi tauhid itu adalah totalitas keyakinan sekaligus perbuatan.

Seseorang tidak bisa dinilai bertauhid hanya dari keyakinannya saja. Bagaimana caranya menilai seseorang telah bertauhid atau tidak, apa alat yang bisa mengukur keyakinan? Tanpa implementasi atau pembuktian secara aktual maka orang tidak bisa dinilai bertauhid atau tidak karena itulah aspek aktualisasi perbuatan menjadi tolok ukur yang sangat penting. Inilah yang sering kita katakan iman dan amal. Dalam teks suci Al Quran dua kata itu hampir tidak bisa terpisahkan.

Iman dari aspek rasional adalah Tauhid. Kalau ingin ditelusuri lebih jauh maka konsep keyakinan-keyakinan lain adalah buah dari Tauhid. Tauhid adalah salah satu unsur utama dalam iman. Lalu apa iman itu? iman adalah produk dari dua unsur utama yaitu keyakinan yang dihasilkan dari penalaran yang falid atau rasionalitas dan keterikatan emosional atau cinta. Tanpa dua hal ini iman tak terwujud.

Bila kita hanya memiliki salah satu, misal keterikatan rasional maka kita hanya memiliki pengetahuan. Karena itu tidak semua orang yang memiliki kemampuan argumentasi tentang Tuhan atau pengetahuan tentang Tuhan memiliki iman. Sebaliknya, bila kita hanya memiliki keterikatan emosional tanpa didasari keterikatan rasional maka yang terjadi adalah hubungan “cinta tapi tidak kenal” padahal cinta adalah hasil dari kenal. Karena itu ada istilah “tak kenal maka tak sayang”.

Bila seseorang ingin mencintai Nabi maka dia harus punya konsep rasional tentang kenabian. Konsep rasional selalu berhubungan dengan “apa” sedangkan konsep emosional berbungan dengan “siapa”. Karena itu, setelah terpuaskan secara rasional tentang konsep kenabian maka langkah berikutnya adalah cinta kepada sang Nabi. Bila dua hal itu telah bergabung maka buah berikutnya yang muncul adalah ketaatan. Allah berfirman, “kalau kau cinta kepada Allah maka ikuti Aku.” Buah dari cinta adalah mengikuti.

Konsep rasional selalu berhubungan dengan ‘apa’ sedangkan konsep emosional berbungan dengan ‘siapa’ – Dr. Muhsin Labib

Cinta juga menghadirkan benci. Tentu saja benci kepada yang bertentangan. Dalam Al Quran disebutkan orang-orang yang beriman itu sekaligus kufur kepada toghut. Jadi orang yang mencintai Allah pasti benci kepada yang bertentangan kepada Allah. Sebaliknya, orang yang kufur kepada Allah pasti beriman kepada toghut.

Setelah Iman, unsur yang kedua yaitu amal. Apa fungsi amal? Yaitu sebagai pembuktian rasionalitas dan cinta. Amal juga bisa dikatakan ketaatan. Amal itu artinya perbuatan atau aksi. Karena itu orang yang tidak melakukan amal disebut pasifitas. Semua hal pasifitas adalah keburukan, mengapa? Karena tidak ada aksi. Dalam filsafat Islam, perbuatan buruk itu berarti tidak berbuat. Keburukan sendiri berarti ketiadaan. Jadi kalau Anda tidak berbuat baik maka Anda berbuat keburukan.

Pertanyaannya, apakah sama perbuatan baik dan amal saleh? Sebab jika hanya perbuatan baik kita sering melihat orang-orang nonmuslim atau bahkan yang tidak beragama melakukan perbuatan baik yang jauh lebih besar. Mereka bekerja menjadi relawan-relawan kemanusian di peperangan, pemberantasan kemiskinan, dan di tempat-tempat lain. Sebaliknya, umat Muslim terlihat individualis dan mementingkan diri sendiri. Disinilah muncul dilema. Apakah mereka yang berbuat baik itu dan berguna bagi orang lain itu dianggap sia-sia dan tidak ada nilainya.

Di dalam Al Quran yang ditekankan adalah amal saleh bukan perbuatan baik. Sekarang kita lihat apakah perbuatan baik orang yang tidak beriman seperti menolong orang lain yang didasarkan pada kasihan, iba, ingin menghilangkan rasa bersalah, melepaskan beban diri, itu bisa dianggap amal saleh? Itu tidak dianggap amal saleh. Perbuatan baik orang yang tidak beriman itu hanya berimplikasi pada apresiasi orang, agar orang mengingat jasanya, hilangnya rasa bersalah, ketentraman, penilaian orang lain, atau bahkan sebagai investasi.

Perbuatan baik itu memiliki tingkatan hewani dan insani. Rasa iba dan kasihan ada dalam tingkatan hewani. Buaya melindungi anaknya dengan mempertaruhkan nyawanya. Karena itu bila seorang ayah memberi makan anaknya bukan hal luar biasa. Sedangkan dalam level insani manusia memiliki rasa kemanusiaan. Dalam diri manusia bila dia tidak membantu orang lain maka dirinya akan terganggu; dia merasa tertekan, depresi, stress dan sebagainya. Karena itu perbuatan baik muncul didasari dari kepentingan dirinya sendiri (ego). Dengan kata lain setiap manusia ingin menyenangkan dirinya sendiri. Itulah alasan manusia berbuat baik.

Hal ini berbeda dengan orang yang menolong orang lain yang didasarkan pada iman, cinta, dan ketaatan kepada Allah. Ia melakukan perbuatan menolong di luar dari rasa kasihan, iba, dan rasa bersalah yang bersandar pada kepentingan pribadi melainkan dari perintah Allah. Orang itu mentaati Allah dengan mengeluarkan hartanya. Ia taat atas risalah yang mengatakan bahwa di dalam hartamu ada hak orang lain. Jadi, amal saleh adalah semua perbuatan baik yang didasarkan pada iman.

Rasulullah bersabda, “Jangan kau gugurkan pahala-pahala sedekah karena kau mengintimidasi, membuat malu, membuat tidak nyaman, orang yang kau berikan sedekah.” Itu artinya, orang yang beramal saleh itu tidak meminta imbalan atau menganggapnya investasi yang bisa diminta kembali bila suatu saat berada dalam keadaan yang sama. Karena itu pula dianjurkan agar orang beriman itu tidak mengungkit-ungkit dan segera melupakan perbuatan baiknya.

Menyerahkan zakat, khumus, infak, sedekah adalah amal saleh karena perbuatan ini dilandasi iman. Orang-orang yang mengeluarkan hartanya dengan cara tersebut sudah meyakini bahwa harta itu bukan miliknya.

Selanjutnya, amal saleh akan lebih bermakna apabila dilakukan terorganisir. Karena itu pemberian zakat, khumus, infak, dan sedekah kepada lembaga amil sangatlah penting untuk melegitimasi perbuatan baik menjadi amal saleh.

Pemberian harta yang disalurkan kepada lembaga Amil berfungsi meminimalisasi pamrih atau riya. Hal ini disebabkan pemberi tidak mengetahui kepada siapa uang itu disalurkan. Sebaliknya, si penerima juga tidak tahu siapa yang memberikan. Dengan begitu, si penerima terhindar dari rasa malu. Inilah arti penting lembaga amil yaitu menjamin keikhlasan dan menghormati si penerima.

Karena itu lembaga amil bukanlah lembaga penerima sumbangan tapi lembaga yang bekerja untuk mengorganisir penyaluran harta. Lembaga ini hanya sekadar membantu agar penyaluran harta tidak salah. Agar pula hak dan kewajiban pemberi tidak lenyap. Sebab bila si pemberi itu salah memberikan harta maka dia tetap punya tanggungan untuk menyerahkan kepada yang berhak. Dan apabila sampai batas waktu yang ditentukan tidak dikeluarkan maka orang tersebut dianggap memakan harta orang lain. Orang beriman harus terimakasih atas kehadiran lembaga amil karena telah membantu membebaskan tanggung jawabnya.

Bagi si pemberi, jangan sekali-kali menganggap pemberian harta kepada lembaga amil adalah sumbangan karena harta itu memang hak orang lain. Dan bagi lembaga, ketika diberikan uang tidak perlu mengucapkan terimakasih karena uang itu adalah harta yang memang harus disalurkan kepada orang yang berhak.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar