Senin, 31 Januari 2011

Kalimantan Barat,dalam lintasan sejarah,Kerajaan Mempawah





Gusti Mohammad Thaufieq Aqamaddin Panembahan Mempawah

Pengalaman mencekam juga dialami H Jimmi Mohamad Ibrahim (Alm). Bedanya, Jimmi tak sempat merasakan kerja paksa mencangkul kebun sebagaimana dialami Ratu Perbu Wijaya dan Ratu Anom Bendahara. Sebab ketika terjadi penculikan oleh serdadu jepang itu, Jimmi masih kanak-kanak, duduk di kelas IV Jokio-ko Gakko atau Sekolah Dasar. Terakhir Jimmi adalah Ketua DPR Propinsi Kalbar dan sebelumnya sebagai wakil Gubernur dan pernah pula sebagai Sekda Kalbar. Ia adalah putra Raja Mempawah Mohammad Taoefik Aqamaddin yang juga korban penyungkupan.

Sejak bersekolah di zaman pemerintahan Belanda, Jimmi sudah indekos di rumah orang Belanda kenalan ayahnya. Waktu zaman Jepang ia kos di rumah kenalan ayahnya bernama panangian harahap seorang penilik sekolah. Ketika itulah ia menyaksikan penangkapan oleh serdadu Jepang terhadap penghuni rumah tempat dia indekos, semalam menjelang berlangsungnya konferensi kerja Nissinkai di Pontianak yang diselenggarakan pemerintah Jepang.

Waktu itu, ungkap Jimmi, sekitar pukul 2 dinihari, dia kaget dibangunkan serdadu Jepang yang memegang senapan, lengkap dengan sangkur terhunus. Rupanya serdadu Jepang tengah mengadakan penggeledahan. Semua penghuni dikumpulkan di ruang tengah. Seorang serdadu membuka daftar, lalu memanggil nama Panangian Harahap dan Goesti Djafar Panembahan tayan seorang peserta konferensi yang menumpang menginap di situ. Kepala para tawanan itu ditutup dengan kain hitam, tangan diikat ke belakang. Pada tangan yang terikat itu dicantelkan kertas bertuliskan huruf kanji. Keduanya digiring naik ke truk yang berttutup terpal.

Pagi-pagi sekali Jimmi disuruh istri Panangian, Nurlela Panangian yang kemudian diciduk juga, ke rumah di Jalan Sikishima-dori yang di zaman Belanda sebagai Palmenlaan atau jalan Merdeka sekarang, di rumah yang tidak jauh dari kediaman keluarga Panangian. Jimmi disuruh memberitahu kepada ayahnya perihal kejadian itu. Seperti juga para raja lainnya, Mohammad Taoefik telah datang ke Pontianak dari Mempawah. Jimmi melihat ayahnya saat itu tengah sarapan bersama Sultan Sambas Mohammad Ibrahim Tsafioeddin. Kedua orang tua ini segera berkemas menuju kantor syuutizityo setelah mendengar penuturan Jimmi.

Menjelang mahgrib, kenang Jimmi, ayahnya pulang sendiri berjalan kaki. Ayahnya tampak letih sekali, kata Thaoefik sultan Sambas dan raja lain sudah ditangkap Jepang ketika konferensi berlangsung. Jimmi tidak bertanya mengapa ayahnya tidak ikut ditangkap. Waktu itu kabarnya Sultan Pontianak pun dibolehkan pulang.

Dua bulan kemudian, dua serdadu Jepang datang ke istana Mempawah, sekitar 67 kilometer utara Pontianak, untuk menjemput Panembahan Mempawah ini. Mereka datang mengendarai mobil sedan. Ketika itu Thaoefik sedang makan. Sikap serdadu itu cukup menghormati panembahan, terbukti dengan membolehkannya menyelesaikan santap siangnya. Menurut para penjemput itu, Dokoh sebutan raja tersebut, akan dibawa oleh mereka ke Pontianak untuk menghadap syutizi.

Mata ayahnya tidak ditutup, kata Jimmi. Bahkan ayahnya boleh membawa koper. Serdadu itu membantu mengangkat koper ke mobil. Dan sejak itu sang ayahpun tidak pernah pulang, kisah Jimmi. Setelah panembahan diciduk, di istana Amantubillah Mempawah dipasang plakat berbunyi Warui Hitto, artinya Orang jahat. Istana dinyatakan tertutup dan tidak boleh menerima tamu. Dan di hari tuanya Jimmi menuturkan, dirinya baru tahu perihal penangkapan itu setelah ia duduk di kelas VI. Menjelang Jepang jatuh dihajar Sekutu, sekitar Juli 1945 Jimmi yang telah bergelar Pangeran Mohammad dibawa oleh serdadu Jepang ke Mempawah untuk dilantik sebagai panembahan menggantikan ayahnya. Kepadanya juga diberikan sertifikat. Waktu penobatan, panembahan muda itu tinggal membacakan pidato yang dibuatkan Jepang. Belakangan Jimmi baru tahu bahwa tindakan itu dilakukan Jepang karena sudah tahu bakal jatuh. Mengenai sang ayah, sampai belakangan tidak diketahui di mana kuburnya. Jimmi yang kini sudah almarhum kurang yakin kalau ayahnya ada di pemakaman masal Mandor.
Tambahkan keterangan gambar
Gusti Mohammad Thaufieq Aqamaddin Panembahan Mempawah Pengalaman mencekam juga dialami H Jimmi Mohamad Ibrahim (Alm). Bedanya, Jimmi tak sempat merasakan kerja paksa mencangkul kebun sebagaimana dialami Ratu Perbu Wijaya dan Ratu Anom Bendahara. Sebab ketika terjadi penculikan oleh serdadu jepang itu, Jimmi masih kanak-kanak, duduk di kelas IV Jokio-ko Gakko atau Sekolah Dasar. Terakhir Jimmi adalah Ketua DPR Propinsi Kalbar dan sebelumnya sebagai wakil Gubernur dan pernah pula sebagai Sekda Kalbar. Ia adalah putra Raja Mempawah Mohammad Taoefik Aqamaddin yang juga korban penyungkupan. Sejak bersekolah di zaman pemerintahan Belanda, Jimmi sudah indekos di rumah orang Belanda kenalan ayahnya. Waktu zaman Jepang ia kos di rumah kenalan ayahnya bernama panangian harahap seorang penilik sekolah. Ketika itulah ia menyaksikan penangkapan oleh serdadu Jepang terhadap penghuni rumah tempat dia indekos, semalam menjelang berlangsungnya konferensi kerja Nissinkai di Pontianak yang diselenggarakan pemerintah Jepang. Waktu itu, ungkap Jimmi, sekitar pukul 2 dinihari, dia kaget dibangunkan serdadu Jepang yang memegang senapan, lengkap dengan sangkur terhunus. Rupanya serdadu Jepang tengah mengadakan penggeledahan. Semua penghuni dikumpulkan di ruang tengah. Seorang serdadu membuka daftar, lalu memanggil nama Panangian Harahap dan Goesti Djafar Panembahan tayan seorang peserta konferensi yang menumpang menginap di situ. Kepala para tawanan itu ditutup dengan kain hitam, tangan diikat ke belakang. Pada tangan yang terikat itu dicantelkan kertas bertuliskan huruf kanji. Keduanya digiring naik ke truk yang berttutup terpal. Pagi-pagi sekali Jimmi disuruh istri Panangian, Nurlela Panangian yang kemudian diciduk juga, ke rumah di Jalan Sikishima-dori yang di zaman Belanda sebagai Palmenlaan atau jalan Merdeka sekarang, di rumah yang tidak jauh dari kediaman keluarga Panangian. Jimmi disuruh memberitahu kepada ayahnya perihal kejadian itu. Seperti juga para raja lainnya, Mohammad Taoefik telah datang ke Pontianak dari Mempawah. Jimmi melihat ayahnya saat itu tengah sarapan bersama Sultan Sambas Mohammad Ibrahim Tsafioeddin. Kedua orang tua ini segera berkemas menuju kantor syuutizityo setelah mendengar penuturan Jimmi. Menjelang mahgrib, kenang Jimmi, ayahnya pulang sendiri berjalan kaki. Ayahnya tampak letih sekali, kata Thaoefik sultan Sambas dan raja lain sudah ditangkap Jepang ketika konferensi berlangsung. Jimmi tidak bertanya mengapa ayahnya tidak ikut ditangkap. Waktu itu kabarnya Sultan Pontianak pun dibolehkan pulang. Dua bulan kemudian, dua serdadu Jepang datang ke istana Mempawah, sekitar 67 kilometer utara Pontianak, untuk menjemput Panembahan Mempawah ini. Mereka datang mengendarai mobil sedan. Ketika itu Thaoefik sedang makan. Sikap serdadu itu cukup menghormati panembahan, terbukti dengan membolehkannya menyelesaikan santap siangnya. Menurut para penjemput itu, Dokoh sebutan raja tersebut, akan dibawa oleh mereka ke Pontianak untuk menghadap syutizi. Mata ayahnya tidak ditutup, kata Jimmi. Bahkan ayahnya boleh membawa koper. Serdadu itu membantu mengangkat koper ke mobil. Dan sejak itu sang ayahpun tidak pernah pulang, kisah Jimmi. Setelah panembahan diciduk, di istana Amantubillah Mempawah dipasang plakat berbunyi Warui Hitto, artinya Orang jahat. Istana dinyatakan tertutup dan tidak boleh menerima tamu. Dan di hari tuanya Jimmi menuturkan, dirinya baru tahu perihal penangkapan itu setelah ia duduk di kelas VI. Menjelang Jepang jatuh dihajar Sekutu, sekitar Juli 1945 Jimmi yang telah bergelar Pangeran Mohammad dibawa oleh serdadu Jepang ke Mempawah untuk dilantik sebagai panembahan menggantikan ayahnya. Kepadanya juga diberikan sertifikat. Waktu penobatan, panembahan muda itu tinggal membacakan pidato yang dibuatkan Jepang. Belakangan Jimmi baru tahu bahwa tindakan itu dilakukan Jepang karena sudah tahu bakal jatuh. Mengenai sang ayah, sampai belakangan tidak diketahui di mana kuburnya. Jimmi yang kini sudah almarhum kurang yakin kalau ayahnya ada di pemakaman masal Mandor.
(Dari FB Max yususf Alkadrie)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar