Senin, 31 Januari 2011

Ali Zain Al Abidin Al jufry,tokoh Ulama muda di Jeddah



(Syarifah pontianak,ditangga Depan istana Kadriah ,dalam suatu acara)




(Habib Ali Zain Al Abidin Al Jufry,tokoh Muda dari jeddah,saudi arabia)

Biografi
ALI Zain Al-Abidin AL-JuFRI
PENDIRI DAN DIREKTUR JENDERAL YAYASAN TABAH
WAKIL DEKAN DARI Mustapha DAR AL-UNTUK STUDI ISLAM

Kelahiran
ALI Zain Al-Abidin AL-JIFRI

Habib Ali lahir di kota Jeddah di Kerajaan Arab Saudi sebelum fajar pada AH Jumat 20 Safar 1391 (16 April 1971), dari orang tua yang keduanya keturunan Imam Hussein bin Ali,

Garis keturunan

Ali Zain al-Abidin bin bin Abdul-Rahman bin Ali bin Muhammad bin Alawi bin Ali bin Alawi bin Ali bin Alawi bin Ahmed Abdul-Rahman al-Arsha Mawlah bin Muhammad bin Abdullah al -Tarisi bin al-Khawas bin Alawi bin Abu Bakar al-Jifri bin Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Ahmed bin al-Faqih al-Muqaddam Muhammad bin Ali dari Murbat Sahab Muhammad bin Ali Khali `Qassam bin bin Alawi bin Muhammad bin Alawi bin Ubaidullah dari ila Ahmed al-Muhajir Allah (trans: orang yang melakukan eksodus ke hadirat Ilahi) bin bin Isa bin Muhammad al-Naqib Ali al -Uraidhi bin Ja'far bin al-Sadiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zain al-Abidin Hussein (cucu dari Rasulullah berkat Tuhan & saw) bin Ali bin Abu Taleb, semoga Allah memuliakan wajah-Nya, suami dari putri al-Zahra Fatimah dari Rasulullah berkat Tuhan & saw.

ibu mulia Nya Marumah anak anak Hassan bin Alawi bin Hassan bin Alawi Ali al-Jufri.
Latar Belakang Pendidikan

Ia mulai mengambil pengetahuan dari masa kanak-kanaknya dari guru pertama, bagus ibunya-bibi sarjana dan MahaMengetahui putri Safiah Allah bin Alawi dari Hassan al-Jifri, ia memiliki pengaruh besar atas dirinya dan arah ia mengambil dalam pengejaran pengetahuan dan spiritualitas.

Sebagai kelanjutan dari metodologi otentik menerima Suci Pengetahuan, dan pelancongan di jalan spiritual, melalui rantai yang tak terputus master, sepanjang perjalanan kembali ke Rasulullah saw semoga Tuhan memberkati dia dan keluarganya dan memberi mereka kedamaian, metodologi yang pelestarian dan pemeliharaan yang, lembah Hadramaut dan kota Tarim yang terkenal, karya ini dilanjutkan di lingkungan intelektual di Hijaz yang menjadi titik pertemuan untuk Sarjana Sekolah Hadramaut ketika mereka diasingkan dari Selatan Yaman selama Komunis Peraturan; ia menerima pendidikan di Ilmu Suci dan Ilmu Spiritual pelancongan di tangan Cendekiawan dan Spiritual Pendidik, di antaranya:

* The Scholar dan Pendidik Spiritual Habib Abdul Qadir Bin Ahmad al-maupun ulama mereka lainnya di Jeddah. Dengan siapa ia mempelajari Otentik Kompilasi Hadis Bukhari dan Muslim, serta Kebangkitan Ilmu Agama Imam Ghazali dan teks penting lainnya. Dia terus belajar langsung di bawah gurunya dari usia 10 sampai ia berusia 21 tahun.
* The Scholar dan Spiritual Pendidik Habib Ahmad Mashhur Bin Taha Al-Haddad penulis buku terkenal. Di antara buku-buku yang belajar di bawah guru ini adalah: 'The Klarifikasi Pengetahuan Rahasia diketahui mereka Dibawa Dekat ke Hadirat Ilahi'.
* The Scholar dan Guru Muhammad Bin Alawi al-Maliki al-Hasani, Master Hadis Dua Tempat Kudus Kudus. Di bawah siapa ia belajar Hadis Terminologi, Prinsip Hukum dan Biografi Nabi.
* The Scholar dan Pendidik Al-Habib al-Attas Habshi.
* The Scholar Habib Abu Bakar al-Mashhur al-ADANI, penulis berbagai karya.
* The Scholar Syekh Ba Syekh-Muhammad.
* Dia terdaftar di College Studi Islam di Sana'a Yaman dari 1412 AH/1991 M, sampai 1414 AD AH/1993. Selama waktu ini ia diberi kesempatan untuk belajar langsung di bawah Habib Muhammad Bin Hadaar Abdullah al-yang berada di hari-hari terakhirnya, jadi dia pergi ke Habib Pusat Belajar di Kota Baeda di Yaman. Ia selama ini fase yang ia mulai bergerak dari studi teoritis dengan karya panggilan kepada Allah, karena ia mendapatkan banyak manfaat dari metodologi almarhum Habib Muhammad Al-Hadaar pengetahuan tentang hidup, dan membuat dampak realitasnya.
* Selama fase hubungan antara dia dan Cendekia Besar & Pendidik Habib Umar Bin Muhammad Bin Salem Bin Hafiz, (yang merupakan salah satu orang terkemuka di Habib Muhammad Al-Hadaar Centre Pembelajaran) diperkuat Dia kemudian pergi ke Kota Sheher untuk bisa bersamanya.
* Ia menetap di Tarim dalam Persahabatan dari Habib Umar Bin Muhammad Bin Hafiz 1993-2003.

Atas
Profesional Latar Belakang

* AH/2005 1426 - sekarang: Direktur Jenderal Tabah Foundation.
* AH/2003 1424 - sekarang: Anggota Dewan Direktur Dar Al-Mustafa Studi Islam di Tarim.
* 1428 H / 2007 - sekarang: aktif anggota The Royal Aal al-Bayt Yayasan Pemikiran Islam di Amman, Yordania.
* 1428 H / 2007 - sekarang: Sekretaris Jenderal Dewan Pengawas untuk Awards Mahabbah Al.
* 1424 AH / 2003 - sekarang: Anggota Dewan Pembina Akademi Eropa untuk Budaya Islam dan Sains di Brussels, Belgia.
* AH/1997 1418 - Sekarang: Mengunjungi Dosen (program musim panas) di Dar Al-Mustafa Studi Islam di Tarim.

Atas
Prestasi

* Pendiri Yayasan Tabah - sebuah organisasi yang mengirimkan adalah "pembaharuan wacana Islam kontemporer agar sesuai dengan kebutuhan kemanusiaan" melalui tiga divisi: Penelitian, Proyek, dan Media.
* Memproduksi Media Package untuk kuliah unik berjudul "Jadi bahwa Agama Tidak Menjadi Game 'yang ditangani dengan beberapa dari krisis dan kesengsaraan dunia kontemporer yang merupakan akibat langsung dari orang yang mengambil keuntungan dari agama untuk ambisi mereka sendiri terbatas , kuliah itu baik analisis dan klarifikasi.
* Membantu perumusan Surat Terbuka untuk Paus Benediktus XVI setelah ceramah serangan nya tentang Islam dan Nabi Semoga Tuhan memberkati dia & Beri dia Perdamaian, dia juga salah satu dari 38 ulama yang penandatangan surat yang mulia dan intelektual dalam yang secara dalam konteks dialog konstruktif.
* Kontribusi dalam mengelola proyek sejarah "A Common Word" Dokumen yang ditandatangani oleh 138 Cendekiawan Muslim, ulama yang mewakili berbagai sekte dan aliran pemikiran serta negara-negara. Dokumen ini dikirim kepada Pemimpin Kristen di seluruh dunia, dan menerima reaksi besar dan positif dari pihak Kristen.
* Membantu perumusan dari 'Deklarasi oleh Muslim Tokoh Agama yang dikeluarkan oleh 42 ulama dan Wewenang Islam siapa ia anggota dan yang dalam membalas Kartun ofensif oleh koran Denmark.
* Pendirian Perusahaan Pedoman Media 'dan majalah di Inggris.
* Pendiri Dewan Pengawas untuk 'Academy Eropa untuk Budaya Islam dan Ilmu Pengetahuan' di Brussels, Belgia.
* Pendiri 'Noor Pusat untuk Pelestarian / Renovasi, Dokumentasi dan Mengedit dari mushaf' di Tarim, Yaman.
* Pengawasan berdirinya Sekolah dan Pusat Pembelajaran dalam dan di luar Yaman untuk penyebaran metodologi otentik untuk penyebaran pengetahuan, pendidikan dan pelatihan rohani.

Atas
Kegiatan dan Perjalanan

Dia telah memberikan kelas untuk mengajar, bimbingan, nasehat, untuk membangunkan orang untuk tanggung jawab mereka, dan untuk memanggil orang-orang kepada Allah dalam banyak negara, ia mulai pada tahun 1412 AH/1991 AD di kota-kota dan desa-desa Yaman. Ia memulai perjalanan luar negeri di 1414 AD AH/1993 yang masih terus hari ini, dan yang telah memasukkan negara-negara berikut:

* Negara-negara Arab: UAE, Yordania, Bahrain, Saudi Arabia, Sudan, Suriah, Oman, Qatar, Kuwait, Libanon, Libya, Mesir, Maroko, Mauritania, Kepulauan Komoro, dan Djibouti.
* Negara-negara Asia: Indonesia, Malaysia, Singapura, India, Bangladesh, dan Sri Lanka.
* Negara-negara Afrika: Kenya, dan Tanzania.
* Negara-negara Eropa: Inggris, Jerman, Perancis, Belgia, Belanda, Irlandia, Denmark, Bosnia & Herzegovina, dan Turki.
* USA: 3 perjalanan yang pertama yang pada tahun 1419 AH/1998 AD, yang kedua adalah in1422 AH/2001 AD, dan ketiga yang di tahun 1423 AH/2002 AD, disamping itu ia juga mengunjungi Kanada.

Atas
Eksternal Kuliah

Telah menyampaikan sejumlah ceramah yang menjadi perhatian umat manusia pada umumnya di seluruh dunia termasuk:

* Kuliah di Universitas Santa Clara.
* Kuliah di Universitas San Diego.
* Kuliah di University of Miami.
* Kuliah di Universitas USC California Selatan di LA
* Kuliah di S.O.A.S di London.
* Dua Kuliah di Pusat Konferensi Wembley di London.
* Sejumlah kuliah sebagai bagian dari Radikal Proyek Jalan Tengah di bagian yang berbeda dari Inggris.
* Sebuah presentasi di House of Lords di London.
* Hampir 300 kuliah dan serangkaian sesi pada kaset, CD, dan DVD.

Atas
Konferensi dan Forum

Berpartisipasi dalam berikut ini:

* Konferensi pada A Common Word di London dan Cambridge 12-15 Oktober 2008.
* Konferensi pada A Common Word di Universitas Yale bersama dengan Universitas Princeton dan Georgetown 24-31 Juli 2008.
* Konferensi Pusat Global untuk Pembaruan dan Bimbingan diadakan di Nouakchott, Mauritania Maret 2008.
* Konferensi Jalan Tengah di Amman, Yordania 2007.
* Konferensi Hakim di Amman, Yordania 2007.
* Konferensi Cinta dari Quran, Laut Mati, Yordania 2007.
* Konferensi tahunan ke-11 pada 'Dialog dan Pemahaman' di Paris, Perancis 1427 AH/2006.
* Forum tahunan ke-7 berjudul "Quran suatu Ajaran dan Jalan Hidup" di Frankfurt, Jerman 1426 AH/2005.
* Konferensi tentang Pedoman, di Sana, Yaman 2004.
* Berpartisipasi 'Simposium Persatuan Islam' di di Damaskus 1425 AH/2004.
* Berpartisipasi dalam 'Forum untuk Penelepon Islam' di Beirut 1425 AH/2004.
* Berpartisipasi dalam Konferensi tentang "Pedoman Nabi 'di Abu Dhabi 1425 H / 2004.
* Berpartisipasi dalam Konferensi 'Persatuan untuk Sake Damai' di Sri Lanka 1424 AH/2003.
* Berpartisipasi dalam 'Forum pada Budaya Minoritas dari Perspektif Barat dan Islam - Memahami dan Praktek' di Paris, Perancis 1424 AH/2003.
* Simposium untuk Cendekiawan Muslim di Tarim, Yaman 2002.
* Konferensi tentang "etiket dari Ketidaksepakatan 'di Sri Lanka 1422 AH/2001.

Atas
Program Televisi

* Program yang berjudul 'Calon Spiritual' pada Mihwar Channel (Spiritualitas) 30 bagian.
* Program yang berjudul 'Al-Mizan' pada Iqra, (Thought) lebih dari 100 yang diproduksi.
* Program yang berjudul "Jalan kepada Allah 'di Dream 2 (Spiritualitas) 43 diproduksi.
* Program berjudul 'Intelektual Dialog' di Dream 2 dan Aqariya (Pemikiran) 30 bagian.
* Program yang berjudul 'Rapat hari Jumat' di Dream 2 (Pemikiran) 6 diproduksi.
* Program yang berjudul 'Hidup di Hearts kami' di Dream 2 (Biografi Nabi dan Deskripsi dari bentuk luar dan karakter).
* Program yang berjudul 'Perjalanan Iman' pada Mihwar (Spiritualitas).
* Program yang berjudul 'View Dunia Islam' dengan Dr Ahmad Omar Hashem di Mesir Channel 1 dan pada Mihwar (Pemikiran) 14 bagian.
* Program yang berjudul 'mereka Cinta Dia (yaitu Tuhan) dan Dia Loves mereka' dengan Sheikh Ali Abu Hasan di Channel Risalah (Spiritualitas).
* Program yang berjudul 'Demi (yaitu Allah) Kasih-Nya' saluran di Emirates (Spiritualitas dan Yurisprudensi Zakat) 30 bagian.
* Program yang berjudul 'Gathering Mustapha' pada Channel Yaman (studi Analitis Nabi Muhammad Biografi) 30 bagian.
* Berbagai Debat Program: ('Lights' pada Al-Arabia, Syariah dan Kehidupan di Jazeera, 'Topik Hangat dari Debat "di TV Abu Dhabi, Hari ini Kairo pada Orbit Al-yawm,' On Air 'di Orbit Safwa), dan' Pengingat 'pada Channel Emirates.
* Program di Kebaikan dan Karakteristik Nabi Muhammad di Iqra Channel.
* Program di Biografi Nabi Muhammad di Dubai Channel 6 bagian.
* Program yang berjudul 'sindiran / Bisikan' di Channel Qatar.

Islam,sejarah masuknya ke Kalimantan Barat,berbagai versi



Sayyid Hussein bin Ali, GCB, Sharif Mekkah, dan Emir Mekkah (1908-1917), menyatakan dirinya Raja Hijaz, dan Raja Arab. Ia memulai Revolusi Arab tahun 1916 melawan Kekaisaran Ottoman semakin nasionalistik selama Perang Dunia Pertama. pada tahun 1924, ketika Khilafah Utsmaniyah dihapuskan, ia mengklaim dirinya  sebagai Khalifah seluruh umat Islam.)

Arsitek Revolusi terbesar Arab : Sayyid Hussein bin Ali, Raja Arab dan Raja Hijaz (1854 - 4 Juni 1931)sebelum digulingkan Ibnu Saud.dan menjadi Kerajaan Saudi Arabia sekarang.

SEKILAS PROSES MASUKNYA ISLAM DI KALIMANTAN BARAT
Oleh : M.Natsir1

I. Permulaan Islam Masuk di Kalbar

Islam masuk ke Indonesia masih menyisakan perdebatan panjang,ada tiga teori yang dikembangkan para ahli mengenai masuknya Islam di Indonesia:
 1.TeoriGujarat,
2.Teori Persia dan 
3.Teori Arabia.

1. Teori Gujarat banyak dianut oleh ahli dari Belanda

Islam dari anak BenuaIndia, menurut Pijnappel orang Arab bermazhab Syafi’i yang bermingrasi
menetap diwilayah India kemudian membawa Islam ke Indonesia (Azra,1998:24) Teori ini dikembangkan oleh Snouck Hurgonje.Moquette iaberkesimpulan bentuk nisan di Pasai kawasan Sumatera 17 Dzulhijjah 1831H/27 September 1428, batu nisan mirip di Cambay,Gujarat.W.F. Stuterheimmenyatakan masuknya agama Islam ke Nusantara pada abad ke-13 Masehi,yakniMalik Al-Saleh pada tahun 1297. masuknya Islam ke Indonesia adalah Gujarat. Relief batu nisan Sultan Malik Al-Saleh bersifat Hinduistikj mempunyai kesamaan batu nisan di Gujarat.(Suryanegara,1998:76). J.C.Van Leur pada th 674 M pantai barat Sumatera telah terdapat perkampungan Islam, Islam tidak terjadi pada abad ke- 13 akan tetapi abad  ke-7


2.Teori Persia dikembangkan oleh: Hoesin Djajadiningrat,

titik berat pada kesamaan kebudayaan masyarakat Indonesia dengan Persia.Kesamaan budaya seperti peringatan 10 muharram atau Asyura sebagai hari peringatanSyi’ah terhadap syahidnya Husain. Kedua adanya ajaran wahdatul Wujud Hamzah Fansuri dan Syekh Siti Jenar dengan ajaran sufi Persia, Al-Hallaj.Persia, dibantah K.H. Saifuddin Zuhri , apabila berpedoman Islam
masuk abad ke -7 pada masa Bani Umayyah, Kekuasaan politik dipegangoleh bangsa Arab, tidak mungkin Islam berasal dari Persia.
(1 )M.Natsir,S.Sos.M.Si Peneliti pada Balai Pelestarian Sejarah Pontianak. Dosen pada Isipol UNTAN(2) Bahan tulisan Seminar Serantau Perkembangan Islam Borneo, 27-28 Peb 2008 di UiTM Malaysia


3. Teori Arabia,
penganut teori  ini adalah :T.W.Arnold,Crawfurd, Keijzer, Niemann, De Holander, Naquib Al-Attas ,A. Hasyimi, dan Hamka. 

Teori Arabiah yang dipertegas Hamka ia menolak keras terhadap teori Gujarat, teori ini dikemukan Seminar Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia di Medan, 17-20 Maret 1963 ia menolak bahwa Islam masuk ke Indonesia abad 13 jauh sebelumnya abad ke-7 Masehi. Adapun keberadaan Islam di Kalimantan Barat tidak diketahui secara pasti,namun dari beberapa literatur dan pendapat yang ada masih merupakan  sebuah prediksi yang dikemukakan oleh para peneliti maupun dari bekas-bekas peninggalanyang ada, baik yang terekam di masyarakat melalui ajaran atau kepercayaan, dapat juga dilihat dari situs-situs yang masih ada dan sejarah keberadan keraton yang banyak didominasi oleh kesultanan Islam.(Doc.Natsir)

\
Pelabuhan Sukadana Ketapang

Beberapa pendapat yang diungkapkan akan kita selusuri proses tersebut.Berpedoman dari pendapat yang dikemukakan oleh Sendam, 1970:35, “Islam Masuk di Kalimantan Barat yaitu sekitar abad ke 15 M, melalui perdagangan dan tidak melalui organisasi misi, tetapi merupakan kegiatan perorangan”. Ada dua proses berlangsungnya penyebaran Islam. Pertama penduduk pribuni berhubungan dengan agama Islam,kemudian menganutnya. Kedua, orang-orang asing Asia (Arab,India, Cina dan lain-lain)yang telah memeluk agama Islam dan bertempat tinggal secara permanen di suatu wilayah kemudian melakukan perkawinan campuran dan menjadi anggota masyarakat lainnya. Seperti pada kerajaan Tanjungpura, Sambas, Mempawah, Kubu, Pontianak dan lain sebagainya(.Doc.Natsir)


Upacara Adat Mempawah

Penyebaran agama Islam di Kalimantan Barat membujur dari Selatan keUtara, meliputi daerah Ketapang, Sambas, Mempawah, Landak. Menurut Safarudin Usman bahwa Islam mulai menyebar di Kalimantan Barat diperkirakan sekitar abad XVI Miladiah, penyebaran Islam terjadi ketika kerajaan Sukadana atau lebih dikenal dengan kerajaan Tanjungpura dengan penembahan Barukh pada masa itu di Sukadana agama Islam mulai diterima masyarakat (Ikhsan dalam Usman 1996:3), akan tetapi Barukh tidak menganut agama Islam sampai wafat 1590 M. 

Pada masa Giri Kusuma
Islam berkembang dengan pesatnya karena beliau memeluk agama IslamPendapat lain juga mengemukakan pada tahun 1470 Miladiah sudah adakerajaan yang memeluk agama Islam yaitu Landak dengan rajanya Raden Abdul Kahar(Usman,1996:4) Dimasa pemerintahan Raden Abdul Kahar (Iswaramahaya atau RajaDipati Karang Tanjung Tua) beliau telah memeluk agama Islam sehingga dapatdikatakan berawal dari kerajaan Landak. Di bawah pemerintahannya agama Islam
berkembang dengan pesatnya di kerajaan Landak (Pembayun:200:97

Sahzaman berpendapat bahwa agama Islam masuk di Kalimantan Barat melalui selat Karimata menuju kerajaan Tanjungpura yang memang sudah ada sejak abad ke XIII. Kerajaan Sambas pada masa Raden Sulaiman  putra Raja Tengah dari kerajaan Brunai  (Ajisman 1998:24)

Dalam buku Sejarah Kodam XIII Tanjungpura Kalimantan Barat yang diterbitkan oleh Sendam Tanjungpura menyebutkan ;masuknya agama Islam di Kalimantan Barat pada abad ke 16 Ketika kerajaan Hindu Sukadana dipimpin rajanya penembahan Barukh, pada saat yang sama penembahan Barukh membangun kota Baruj yaitu Matan (Ajisman:1998:25)

Berbagai pendapat yang telah dikemukakan di atas bisa diperkirakan, bahwa agama Islam masuk di Kalimantan Barat pada masa pemerintahan Barukh (1538-1550).Dari riwayat kerajaan Landak diperoleh keterangan bahwa agama Islam di bawah pemerintahan Kerajaan Ismahayana, yang bergelar Raja Dipati Tanjung Tua (1472-1542), agama Islam mulai berkembang di kerajaan Landak (Sendam, dalam Ajisman;1998). Mengingat kerajaan Matan dan Landak yang masuk diperkirakan pada abad ke15 maka kerajaan Sintang yang berada dipedalaman sekitar akhir abad ke 16.Penyebaran yang pertama-tama kemungkinan dari para pedangang SemenanjungMelayu, terutama pedagang dari Johor. (Dalam Ikhan:2004:95)II. Perkembangan Islam di Pontianak

Keraton Kadriah Pontianak

Umat Islam menjadi mayoritas ketika berdirinya kerajaan Pontianak pada tahun 1771 Miladiah. Kesultanan Pontianak dengan rajanya Sultan Syarif Abdurahman  Al Qadrie adalah putra Syarif Husin AlQadrie yang menjadi salah seorang penyebaragama Islam di Kalimantan Barat, kehadiran kesultanan yang bercorak Islam masih membawa pengaruh adat istiadat bangsa Nusantara yang dinamakan pengaruh Jawapra Islam. Salah satu pengaruh kuat adalah percampuran budaya Timur Tengah dengan budaya jwa Pra Islam. Sekitar tahun 1733 Syarif Husin bin Ahmad Al Qadrie seorang ulama dari negeri Trim Ar-Ridha Hadralmaut (Timur Tengah) datang ke kerajaan Matan untuk menyebarkan agama Islam, kemudian di angkat sebagai penasehat raja, akan tetapi jabatan tidak begitu lama dikarenakan ada perselisihan paham tentang hukuman terhadap nakhoda tidak disetujui oleh Syarif Husein kemudian pindah kekerajaan Mempawah.

Di kerajaan itu beliau diangkat sebagai Qadhi oleh Opu Daeng Manambon.Syarif Husin menikah dengan Nyai Tua dari perkawinan ini mendapat lima orang anak diantaranya Syarif Abdurahman Al-Qadrie yang lahir tahun 1471. (Usman,2000:3-5) Kawasan sekitar pusat pemerintahan kesultanan Pontianak yang terletak dipinggiran Sugai Kapuas, Kampung Kapur, Kampung Bansir, kampung Banjar Serasan dan Kampung Saigon sangat kental pengaruh agama Islam. 
Daerah Kampung Kapur terdapat seorang guru ngaji yang bernama Djafar pada jaman tersebut beliau salah seorang yang termasyhur, sultan Pontianak Syarif Muhammad Al-Qadrie mengundang Djafar khusus menjadi guru ngaji dilingkungan Keraton Kadriyah Pontianak (Usmandkk:1997).
Ustazd Djafar yang kelak menurunkan anak yang bernama Kurdi Djafar  dikenal pendiri cabang Muhammadiyah di Sungai Bakau Kecil di Mempawah dan salah seorang putranya Mawardi Djafar seorang tokoh Muhammadiyah yang ada di Pontianak(dalam Iksan wawancara H.Rahim Jafar)

Agama Islam yang menjadi mayoritas di Kalimantan Barat dan Pontianak pada khususnya. Agama di Pontianak terdiri dari agama Islam, Katholik,Kristen,Hindu,Budha dan Konghucu bagi masyarakat Tionghoa. Toleransi agama sangat dijunjung tinggi di Pontianak, sehingga dapat dikatakan aman dan sejahtera.

Perkembangan yang berikutnya lahirnya berbagai organisasi Islam yang
menjalankan pendidikan Islam pada beberapa sekolah maupun yayasan di Pontianak 

1.Yayasan Pendidikan Bawari
2. Yayasan Pendidikan Bawamai
3.Yayasan Perguruan Islamiyah
4.Yayasan Pendidikan Muhammadiyah
5. Yayasan Pendidikan Al Azhar
Masih banyak pendidikan yang belum dapat di data.

Di samping itu perkembangan pengajian ibu-ibu yang berkembang pesat di Kota Pontianak.Peranan ulama yang begitu besar terhadap perkembangan pendidikan tidak hanya pada pendidikan formal akan tetapi pada pendidikan non formal. Ulama yang berpengaruh membentuk pendidikan di era tahun enam puluhan dan sampai delapan puluhanPontianak antara lain;

1. Haji Ismail bin Abdul Karim alias Ismail Mundu 
   (Mufti Kerajaan Kubu)

Seorang mufti kerajaan Kubu Kalimantan Barat, ulama yang sangat terkenal sering disebut-sebut ulama Bugis, beliau salah satu ulama yang menjadi mufti dikerajaan Kubu yang bukan dari keturunan Syec, menulis beberapa kitab amalan zikir tauhid salah satu kitabnya yang terkenal adalah kitab Babun Nikah yang diterbitkan di Singapur, menjadi salah satu kitab rujukan hukum nikah diIndonesia. Meninggal pada tahun 1957 di makamkan di Kecamatan Telok Pakeda Kabupaten Kubu Raya, dikenal dengan makam mesjid Batu, makamnya sering dikunjungi oleh masyarakat. Pengunjung yang datang dari kalangan muslim maupun non muslim yang sangat menghormati beliau

2. Syech Abdullah Zawawi 

Saiyid Abdullah az-Zawawi pula ialah ulama besar yangpernah menjadi Mufti Mekah, kemudian pernah menjadi Mufti KerajaanPontianak. Riwayatnya dapat dirujuk dalam halaman Agama Utusan Malaysia,Isnin, 1 Mei 2006.
(Ikhsan,S.Sos Propil Lembaga Pendidikan Islam Yang Diselenggarakan Masyarakat Kota Pontianak Jurnal Sejarah Dan Budaya Kalimantan Barat 2004)


3. Syech Syarwani Ulama

 ini pula nama lengkapnya ialah Syeikh Mahmud  bin Abdul Hamid asy-Syarwani ad-Daghistani. Syeikh Mahmud asy-Syarwani meninggal dunia di Pontianak pada Rabu, pukul 1, 20 Jamadilakhir 1314 H/26November 1896 M. Dikebumikan pada pagi Khamis, 21 Jamadilakhir 1314 H/27November 1896 M di Perkuburan Al-Marhum Pangeran Bendahara Syarif AhmadAl-Qadri Pontianak. 

4. Habib Muksin Alhinduan (Tharekat Naksabandiyah)

Seorang Mursyid Tharekat Naksabandiyah wafat di Pontianak dan dimakamkandi Sampang Madura yang kini diteruskan oleh anaknya yang bernama Habib Amin Alhinduan di Kota Singkawang, mempunyai ribuan murid yang tersebar di Kalimantan Barat


5. Syech H.Abdurani Mahmud Al-Yamani (Ahli Hisab)

Ulama yang mempunyai banyak murid, cukup disegani dikalangan ulama yangada pada zamannya, mantan ketua Majelis Ulama Indonesia Kalimantan Barat meninggal di Pontianak

6. Habib Saleh Alhaddat

Ulama yang terkenal tegas dalam pendirian, hapal Alquran menjadi tempat bertanya dari kalangan ulama yang ada, meninggal di Pontianak

7. Haji Abdus Syukur Badri alias Haji Muklis

Ulama pejuang asal dari Kalimantan Selatan yang menetap di Pontianak mempunyai ribuan murid yang terkenal dengan salawat Dalai lkhairat. Meninggal di  Pontianak

8. Haji Ibrahim Basyir alias Wak Guru
( Utusan Malaysia,26 jun 2006,Oleh Wan Mohd Shaghir Abdullah)

Dikenal dengan sebutan Tok Guru, beliau banyak melahir ulama, murid dari Haji Ismail bin Abdul Karim alias Ismail Mundu.Terkenal mempunyai banyak kelebihan mempunyai pengaruh yang cukup luas dari kalangan masyarakat dikenal baik di dalam negeri Indonesia maupun diluar negeri, banyak mempunyai murid di Negara Brunai,dan Malaysia. Meninggal di Pontianak di makamkan di Sei Ambawang Kabupaten PontianakUlama-ulama yang berpengruh tersebut telah memberi warna keislaman melalui ajaran yang disampaikan menjadi pedoman bagi para murid-muridnya yangada, baik menjadi sebagai ulama maupun pendidik guna mengembangkan syiar Islam di Kalimantan Barat.

III. Penutup

Berbagai pendapat argumentasi yang dikemukakan oleh para ahli, tentang masuknya Islam di Indonesia, menurut hemat penulis bahwa besar kemungkinan pada abad ke-7 Masehi, hal ini beralasan bahwa ajaran yang dianut oleh sebagian besar bangsa Indonesia ialah bermazhab Syafi’I, tradisi lisan yang berkembang ditengah tengah kehidupan masyarakat masih menjadi kenyakinan yang kuat dengan nama-nama yang mirip dengan suku bangsa Arab, tatacara adat,istiadat, kesenian yang banyak didominasi oleh kesenian Arab.
Doc.Natsir Makam Keramat Tujuh Ketapang

Untuk wilayah Kalimantan Barat baik yang secara formal maupun tidak, danyang terkangkap sejarah dengan masuk melalui Kabupaten Sambas, Kabupaten Sintang dan Kabupaten Ketapang yang masuk dari negara Brunai,Semenanjung danJawa, sehingga nama-nama raja banyak mengadopsi nama raja Jawa diperkirakan pada abad 15 Masehi.
 Kenyakinan yang kuat ditengah kehidupan masyarakat adalah nama besar kerajaan Tanjungpura menjadi salah satu ciri kerajaan Islam, jauh sebelumnya sudah pernah ada komunikasi antara masyarakat dikerajaan Tanjungpura dengan para pedagang dari Arab, bentuk-bentuk peningalan yang masih bayak terdapatdi daerah Kabupaten Ketapang, baik yang bersifat tangible maupun intangible hal itu masih bisa dijumpai sampai saat ini.Menurut penelitian yang dilakukan oleh Balar Arkeologi dari Banjarbaru Kalimantan Selatan bahwa peninggalan makam keramat tujuh maupun keramat sembilan diperkirakan pada abad ke-15 akan tetapi jauh sebelumnya sudah ada kehidupan Islam di daerah Benua Lama, karena juga ditemukan nisan didalam dasar tanah berdiri kokoh dan relief yang bercorak Arab di wilayah Kabupaten Ketapang  Kalimantan Barat.

Saran-saran ;

Akan lebih baik diadakan penelitian dan seminar berkelanjutan sehingga dapat ditemukan kembali kejayaan Islam secara lebih koprehensip agar hasanah Islam yang banyak berserakan dapat disatukan menjadi suatu mutiara di tanah Borneio.Semoga Allah membalas kebaikan demi syiar Islam di Nusantara pada Seminar Serantau di Kawasan Borneo.7 Wawancara dengan Drs.H.Soedarto (Pakar Sejarah) dan Drs.H.Abdussukur SK (Cendikiawan Madura),Tgl, 22 Pebruari 2008 di Pontianak
(Terminal seroja temppo dulu)


(Mesjid Sultan Abdurrahman)

(Jembatan Kapuas)


SEJARAH SOSIAL BUDAYA KALIMANTAN BARAT

Posted by jeperis pada 19 Januari, 2009

Jembatan Kapuas I

Jembatan Kapuas I

KONDISI GEOGRAFIS KALIMANTAN BARAT

Provinsi Kalimantan Barat terletak antara 280o LU dan 30o LS, serta antara 108o – 114o BT. Daerahnya dilewati oleh Garis Khatulistiwa, yaitu di atas Kota Pontianak, ibukota Provinsi ini. Menurut letak administratif, Provinsi Kalimantan Barat sebelah Utara berbatasan dengan Serawak, sebelah Timur berbatasan dengan provinsi Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur, sebelah Selatan berbatasan dengan Laut Jawa dan sebelah Barat dibatasi Selat Karimata dan Laut Cina Selatan.
Daerah Kalimantan Barat memiliki banyak sungai, besar maupun kecil yang sangat bermanfaat untuk sarana tranportasi sampai ke daerah pedalaman, seperti Sungai Sambas, Kapuas, Pawan, Jelai, Landak dan lain-lain. Diantara Sungai Kapuas dan anak-anak sungainya terdapat dataran tinggi yang bernama Wadi, sedangkan mulai dari Sambas, Pontianak, Ketapang dan sekitarnya merupakan dataran rendah yang luas dan berawa-rawa taPi ditutupi oleh hutan-hutan lebat.
Pedalaman Kalimantan Barat merupakan hutan lebat yang belum banyak ditempuh oleh manusia. Dari hutan-hutan ini dapat diperoleh hasil berbagai jenis kayu, seperti kayu ramin, meranti, jelutung, kebaca, belian dan sebagainya, juga rotan, damar, kayu besi, lilin dan lain-lain. Binatang-binatang yang terdapat di Kalimantan Barat cukup banyak jenisnya dan yang terkenal adalah orang utan, burung enggang, serta binatang tropis lainnya. Begitu pula dengan binatang air, seperti ikan air tawar maupun ikan air laut.

BERDIRINYA KOTA PONTIANAK

Pada tanggal 24 Rajab 1181 H yang bertepatan para Alkadri membuka hutan dipersimpangan tiga Sungai Landak, Sungai Kapuas Kecil dan Sungai Kapuas untuk mendirikan balai dan rumah sebagai tempat tinggal dan tempat tersebut diberi nama Pontianak. Berkat kepemimpinan Syarif Abdurrahman Alkadrie, Kota Pontianak berkembang menjadi kota Perdagangan dan Pelabuhan.
Tahun 1192 H, bertepatan tanggal 23 Oktober 1771 M, rombongan Syarif Abdurrahman Alkadrie dinobatkan sebagai Sultan Pontianak yang pertama. Letak pusat pemerintahan ditandai dengan berdirinya Mesjid Raya Sultan Abdurrahman Alkadri dan Istana Kadariah, yang sekarang terletak di Kelurahan Dalam Bugis Kecamatan Pontianak Timur.
Adapun Sultan yang pernah memegang tampuk Pemerintahan Kesultanan Pontianak :
1. Syarif Abdurrahman Alkadrie (1771 – 1808 )
2. Syarif Kasim Alkadrie (1808 – 1819)
3. Syarif Osman Alkadrie (1819 – 1855)
4. Syarif Hamid Alkadrie /Sultan Hamid I (1855 – 1872)
5. Syarif Yusuf Alkadrie (1872 – 1895)
6. Syarif Muhammad Alkadrie (1895 – 1944)
7. Syarif Thaha Alkadrie (1944 – 1945)
8. Syarif Hamid Alkadrie / Sultan hamid II (1945 – 1950)

SEJARAH PEMERINTAHAN KOTA

Kota Pontianak didirikan oleh Syarif Abdurrahman Alkadrie (lahir tahun 1742 H) yang membuka pertama Kota Pontianak pada hari Rabu, tanggal 23 Oktober 1771 M bertepatan dengan tanggal 14 hari bulan Rajab 1185 H, kemudian pada hari Isnen, tanggal 8 hari bulan Sya’ban th 1192 H, SYARIF ABDURRAHMAN ALKADRIE dinobatkan menjadi SULTAN KERAJAAN PONTIANAK.
Selanjutnya 2 tahun kemudian, setelah Sultan Kerajaan Pontianak dinobatkan, maka pada tahun 1194 H bersamaan tahun 1778 M, masuk dominasi kolonialis Belanda dari Batavia (Betawi) dengan utusan Petor (Asistent Resident) dari Rembang bernama WILLEM ARDINPOLA dan mulai pada masa itu bangsa Belanda berada di Pontianak. Oleh Sultan Pontianak, bangsa Belanda itu ditempatkan di seberang Keraton Pontianak yang terkenal dengan nama TANAH SERIBU (Verkendepaal).
Dan baru pada tanggal 5 juli 1779, 0.1. Compagnie Belanda membuat perjanjian (Politiek Contract) dengan Sultan Pontianak tentang pendudukan Tanah Seribu (Verkendapaal) untuk dijadikan tempat kegiatan bangsa Belanda, dan seterusnya menjadi tempat / kedudukan Pemerintah Resident het Hoofd Westeraffieling van Borneo (Kepala Daerah Keresidenan Borneo Istana Kadariah Barat), dan Asistent Resident het Hoofd der Affleeling van Pontianak (Asistent Resident Kepala Daerah Kabupaten Pontianak) dan selanjutnya Controleur het Hoofd Onderaffleeling van Pontianak / Hoofd Plaatselijk Bestur van Pontianak (bersamaan dengan kepatihan) membawahi Demang het Hoofd der Distrik van Pontianak (Wedana), Asistent Demang het Hoofd der Onderdistrik van Siantan (Asistent Wedana / Camat), Asistent Demang het Hoofd der Onderdistrik van Sungai Kakap (Asistent Wedana / Camat).
Kronologis berdirinya Plaatselijk Fonds seterusnya Stadsgemeent, Pemerintahan Kota Pontianak, Kotapraja, Kota Besar, Kotamadya Dati II Pontianak dapat diuraikan sebagai berikut :

PLAATSELIJK FONDS

Berada di bawah kekuasaan Asistent Resident het Hoofd der Affleeling van Pontianak (Semacam Bupati KDH Tk II Pontianak), Plaatselijk Fonds merupakan badan yang mengelola dan mengurus Eigendom (milik) Pemerintah dan mengurus dana / keuangan yang diperoleh dari Pajak, Opstalperceelen, Andjing Reclame, Minuman keras dan Retribusi pasar, Penerangan jalan, semuanya berdasarkan Verordening (Peraturan) yang berlaku.
Daerah kerja Plaatselijk Fonds adalah daerah Verkendepaal (Tanah Seribu). Pimpinan Plaatselijk Fonds terdiri dari : Voorziter (ketua), Beheerder Staadfonds (Pimpinan selain Voorziter), Sekretaris. Behercomisie dibantu beberapa Comisieleden (Pengawasan) Plaatselijk Fonds.
Setelah pendaratan Jepang, praktis terhenti, terkecuali soal kebersihan dan bekerja kembali dengan pimpinan tentara Jepang, setelah masuk tenaga sipil Jepang dan adanya Kenkarikan (semacam Asistent Resident) Jepang, maka Plaatselijk Fonds dihidupkan kembali berganti nama SHINTJO yang dipimpin orang Indonesia, yaitu Alm. Bp. MUHAMMAD ABDURRACHMAN sebagai SHINTJO dan untuk Pimpinan Pemerintah Sipil tetap ada Demang dan Asistent Demang dengan nama Jepang adalah GUNTJO.

STADSGEMEENTE (LAMDSHAAP GEMEENTE)

Berdasarkan Besluit Pemerintah Kerajaan Pontianak tanggal 14 Agustus 1946 No. 24/1/1940 PK yang disahkan / Goedgskeurd de Resident der Westerameeling van Borneo (Dr. J. VAN DER SWAAL) menetapkan sementara sebagai berikut :
Yang menjadi Syahkota pertama adalah R. SOEPARDAN, 1 Oktober 1946 dan Syahkota melakukan serah terima harta benda dan keuangan Plaatselijk Fonds pada tanggal 1 Oktober 1946 dari Staats Fonds MUHAMMAD ABDURRACHMAN.
Masa jabatan Syahkota R. SOEPARDAN, 1 Oktober 1946 dan berakhir awal tahun 1948, untuk selanjutnya berdasarkan penetapan Pemerintah Kerajaan Pontianak diangkat ADS. HIDAYAT, dengan jabatan BURGERMESTER Pontianak sampai tahun 1950.

PEMERINTAHAN KOTA PONTIANAK

Pembentukan Stadsgermeente bersifat sementara, maka Besluit Pemerintah Kerajaan Pontianak tanggal 14 Agustus 1946 No.24/1/1946/KP dirobah dan diperhatikan kembali dengan UU Pemerintahan Kerajaan Pontianak tanggal 16 September 1949 No. 40/1948/KP, memutuskan mulai dari tanggal Peraturan ini berlaku , maka Keputusan Pemerintah Kerajaan Pontianak tertanggal 14 Agustus 1946, No. 24/1/1946/KP dirubah dan diperhatikan kembali. Dalam Undang-Undang ini disebut Peraturan Pemerintah Pontianak dan membentuk Pemerintah Kota Pontianak. Sedangkan perwakilan rakyat disebut Dewan Perwakilan Penduduk Kota Pontianak.
Walikota pertama ditetapkan oleh Pemerintah Kerajaan Pontianak adalah NY. ROHANA MUTHALIB, sebagai wakil Walikota Pontianak, dan apa sebab kedudukannya sebagai Wakil Walikota Pontianak, mengingat pasal 25 dari UU Ketua Pontianak sebagai Walikota hanya dapat diangkat lelaki yang menurut keputusan hakim.

KOTA BESAR PONTIANAK

Sebagai pengganti NY. ROHANA MUTHALIB, oleh Pemerintah diangkat SOEMARTOYO, sebagai Walikota Besar Pontianak, mengingat peralihan kekuasaan Swapraja Pontianak kepada Bupati / Kabupaten Pontianak tidak termasuk, maka Pemerintah Daerah Kota Besar Pontianak berstatus Otonom
PEMERINTAH DAERAH KOTA PRAJA PONTIANAK

Sesuai dengan perkembangan Tata Pemerintahan, maka dengan UU Darurat No. 3 tahun 1953, bentuk Pemerintahan LANDSCHAP GEMEENTE, ditingkatkan menjadi KOTAPRAJA PONTIANAK. Pada masa ini Urusan Pemerintahan terdiri dari Urusan Pemerintahan Umum dan Urusan Pemerintahan Daerah (Otonomi Daerah).

PEMERINTAH KOTAMADYA DATI II PONTIANAK

Selanjutnya perkembangan Pemerintahan Kota Praja Pontianak berubah dan sebutannya, yaitu dengan berdasarkan Undang-Undang No. 1 tahun 1957 Penetapan Presiden No. 6 tahun 1959 dan Penetapan Presiden No. 5 tahun 1960, Instruksi Menteri Dalam Negeri No. 9 tahun 1964 dan Undang-Undang No. 18 tahun 1965, maka berdasarkan Surat Keputusan DPRD-GR Kota Praja Pontianak No. 021/KPTS/DPRD-GR/65 tanggal 31 Desember 1965, nama Kota Praja Pontianak diganti menjadi KOTAMADYA PONTIANAK.
Kemudian dengan UU No. 5 tahun 1974, maka sebutan / nama Kotamadya Pontianak berubah menjadi KOTAMADYA DAERAH TINGKAT II PONTIANAK.
bersambung….

Kota Pontianak dalam kenangan lensa

(Kantor Pos Besar,Jl.Rahadi Osman)


(Pasar Parit Besar tempoe doelo)



(Pasar Tengah dahulu kala)


(Istana Kadriah,dari gerbang pintu benteng kota)

(Pintu Utama Istana Kadriah)

Sejarah Kesultanan Kadriah,singkat


sejarah Kesultanan Kadriah Pontianak








Tuesday, December 08, 2009 2:51 AM

Keraton Pontianak Keraton Pontianak yang megah dengan struktur bangunan dari kayu yang kokoh, didirikan oleh Sultan Syarief Abdurrachman Alqadrie pada tahun 1771. Keraton ini memberikan daya tarik khusus bagi para pengunjung dengan banyaknya artefak atau benda-benda bersejarah seperti beragam perhiasan yang digunakan secara turun-temurun sejak zaman dahulu. Disampaing itu, koleksi Tahta, meriam, benda-benda kuno, barang pecah-belah, dan foto keluarga, yang telah mulai pudar, menggambarkan kehidupan masa lampau.





Terdapat mimbar yang terbuat dari kayu, serta ada pula cermin antik dari Perancis yang berada di aula utama yang oleh masyarakat setempat sering disebut “Kaca Seribu”.
Sultan juga meninggalkan harta-harta pusaka dan benda-benda warisan lainnya kepada anggota keluarga yang masih ada, untuk dipelihara dan dirawat. Keraton Kadariah yang berada didaerah kampung Dalam Bugis, Kecamatan Pontianak Timur ini, dapat dicapai dalam waktu kurang lebih 15 menit dari pusat Kota Pontianak.


keadaan keraton pontianak saat ini
Tuesday, December 08, 2009 2:12 AM
Gambaran kondisi Keraton Kadriyah Pontianak setelah diungkapkan Sultan Pontianak, Baginda Sultan Syarif Abu Bakar bin Syarif Mahmud Alkadrie, ternyata memancing sejumlah keprihatinan lainnya. Bahkan Wali Kota Pontianak Buchary A Rahman diminta menanggapi persoalan bangunan bersejarah tersebut, dengan mengalokasikan kucuran dana untuk merehabnya.

Heriyanto, mantan Ketua Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Provinsi Kalbar memandang, telah sewajarnya Pemerintah Kota Pontianak memberikan perhatian serius terhadap kondisi keraton yang saatnya untuk dibenahi. Dia meminta Wali Kota Buchary A Rahman mencurahkan perhatiannya serta peduli terhadap salah satu situs bersejarah peninggalan Kesultanan Pontianak di masa lalu. "Terus terang, perhatian Pak Wali terhadap keberadaan keraton sangat kecil, padahal ini kan nilai sejarah," tandas dia kepada Pontianak Post.

Keberadaan Kadriyah tak bisa dilepaskan dari berdirinya Kota Pontianak yang diawali dengan dikukuhkannya Kesultanan Pontianak pada 1771 M. Berdiri tegaknya bangunan istana yang kian hari kian dimakan usia, menimbulkan ketakutan beberapa kalangan bahwa bangunan yang didirikan Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie tersebut tak kuat menopang dirinya. Apalagi sebagaimana pernah diungkapkan Sultan Syarif Abu Bakar kepada Pontianak Post beberapa waktu lalu, 70 persen pondasi bawah keraton tak dapat dipertahankan lagi. Sementara atap keraton yang mencirikan bangunan di masa lalu diungkapkan dia telah mengalami kebocoran di beberapa sisi.

Ketakutan tersebut tentu saja beralasan, dengan memandang beberapa bangunan keraton yang tersebar di beberapa daerah di Kalbar kini telah menyisakan puing akibat tak terjangkau perawatan. Sebut saja bangunan Istana Kerajaan Kubu, Istana Kerajaan Sekadau, Istana Surya Negara Kerajaan Sanggau, Istana Kerajaan Sukadana, serta Istana Kerajaan Simpang. "Ini kan merupakan aset nasional, merupakan peninggalan sejarah yang memberikan potret Kota Pontianak di masa lalu," ungkap dia.

Heriyanto berharap dibawah kepemimpinan wali kota yang kini dipimpin Budak Pontianak, mestinya tak melupakan asal-usul berdirinya kota yang kini berusia 235 tahun ini. Di masa lalu, dia mengungkapkan, ketika Kota Pontianak dipimpin orang-orang dari luar, perhatian masih tercurahkan. "Jangan sampai bangunan keraton dibiarkan begitu saja," tandas dia sembari meminta agar DPRD Kota Pontianak berperanan dengan memperjuangkan bangunan keraton. (ote)


Salah satu peninggalan bersejarah di kota Pontianak adalah Keraton Kadriyah.
Lokasinya tepat di pertemuan Sungai Kapuas dan Sungai Landak.
Bangunannya terbuat dari Kayu Belian (kayu besi) yang tetap kokoh, walau umurnya udah 300 tahun lebih.

Untuk mencapai kesana bisa di tempuh dengan perahu dari Aloon2, yang langsung menuju ke keraton dan beberapa tempat lainnya di pinggir kapuas.

Atau dengan kendaraan darat, dari pusat kota, menyebrangi jembatan Kapuas, beberapa puluh meter, belok kiri, masuk jalan kecil. Didepan Jalan ada Gapura Selamat datang di Keraton Kadriyah. Kalau bulan2 November dan Desember seperti sekarang ini, Jalan menuju Istana sering terendam banjir, jadi jangan menggunakan mobil jenis sedan/ rendah.

Dalam kesempatan kesana minggu lalu, ada yg sedikit menggembirakan, Kondisi Keraton sudah mulai di tata, sehingga kesan kumuh sedikit berkurang.


wawancara denganketurunan raja
Tuesday, December 08, 2009 2:12 AM
Wawancara ini kulakukan kepada salah seorang keturunan keraton kadriah. Ini adalah tugas wawancaraku yang pertama kali. Saat itu aku masih duduk di kelas 1 SMA. Namun karena masih amatiran berkali-kali aku datang ke keraton tersebut. Hari pertama karena ternyata kamera yang kupakai untuk mengambil gambar di sana tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Dan hari kedua karena kaset yang kami pakai pada saat merekam pembicaraan saat itu tiba-tiba saja rusak. Namun akhirnya dengan segala keterbatasan yang ada kami dapat menyelesaikan tugas ini.

1. Kapankah Keraton ini berdiri ?

Keraton Kadriah ini berdiri pada tahun 1781 dan pendirinya ialah Sultan Sy. Abdurrahman Al Kadri

2. Sudah berapa tahunkah Keraton ini berdiri ?
Umur keraton ini sekitar 223 tahun

3. Apakah masih ada keturunan Sultan Sy. Abdurrahman Alkadri ?
Ada, namanya Ratu Perbu Wijaya yang masih hidup, beliau adalah putri Sultan Sy. Abdurrahman yang masih hidup berumur sekitar 100 tahun

4. Siapa sajakah turun temurun para Sultan kerajaan Pontianak ?
Turun temurun para Sultan kerajaan Pontianak ialah :
? Sultan Sy. Abdurrahman Alkadri memerintah pada tahun 1771 – 1808, setelah itu digantikan
? Sultan Sy. Kasim Alkadri memerintah pada tahun 1808 – 1819, dan dilanjutkan kembali oleh
? Sultan Sy. Osman Alkadri memerintah pada tahun 1819 – 1855
? Sultan Sy. Hamid I Alkadri memerintah pada tahun 1855 – 1872
? Sultan Sy. Yusuf Alkadri memerintah pada tahun 1872 – 1895, dan digantikan lagi oleh
? Sultan Sy. Muhammad Alkadri memerintah pada tahun 1895 – 1944, kemudian karena putranya ditahan tentara jepang
Jadi, untuk mengisi kekosongan pemerintahan maka dinobatkanlah Sy. Thaha Alkadri sebagai Sultan ke – 7, dan dilanjutkan kembali oleh Sultan Sy. Hamid II Alkadri. Memerintah pada tahun 1945 hingga 1978 dan Sultan Sy. Hamid II ini juga sebagai pencipta lambang burung garuda yang dipakai sebagai alat pemersatu bangsa di Indonesia, beliau meninggal pada tanggal 30 Maret 1978.

5. Apa saja benda-benda peninggalan yang ada di Keraton ini ?
Di Keraton ini ada banyak sekali peninggalannya seperti kursi singgasana, tempayan, keris pusaka, tombak penobatan, pedang, cermin seribu, baju kesultanan dan Al-qur’an yang ditulis sendiri oleh Sultan Sy. Abdurrahman dan masih banyak lagi peninggalan lainnya.

6. Berapakah umur dari Al-Qur’an yang ditulis tangan oleh Sultan sendiri ?
Umur Al-Qur’an yang ditulis sendiri oleh Sultan sudah berumur 2 abad.

7. Mengapa disebut kaca seribu ? dan apakah kaca seribu ini diberi atau dibeli ?
Disebut kaca seribu karena, pantulannya bisa memantulkan bayangan kita hingga ribuan kali. Kaca seribu ini diberi oleh orang prancis pada tahun 1823.

8. Apakah ada adat istiadat di Keraton ini yang masih dijalankan ?
Ada, seperti acara perkawinan, gunting rambut bayi, tepong tawar, dan lain-lain.

9. Apakah orang yang bukan orang keraton diperkenankan melakukan perkawinan di keraton ?
Tidak boleh.

10. Dimana letak meriam yang menentukan letak istana Keraton ini ?
Berada tepat di depan Keraton ini dan juga disebut sebagai meriam stimbol, disebut meriam stimbol karena meriam inilah yang menentukan letak istana keraton ini.

11. Apa yang dimaksud dengan acara tepong tawar ?
Tepung tawar ialah acara pembersihan keris pusaka oleh para ahli waris kesultanan Pontianak di Keraton Kadriah.

12. Sultan keberapa sajakah yang ada di Pontianak ini ?
Yang ada di Pontianak ini ialah Sultan ke-6 dan ke-7.

13. Mengapa keraton ini selalu dilambangkan lancang kuning ?
Dilambangkan lancang kuning karena lancang kuning adalah alat transportasi laut tradisional kesultanan Pontianak dan sekaligus menjadi lambang keraton ini.

14. Apakah guna lonceng yang ada di depan ?
Lonceng itu berguna bila ada keadaan darurat maka akan dibunyikan


cerita singkat

Tuesday, December 08, 2009 2:12 AM
Di tepi sungai Kapuas kecil dan Sungai Landak berdiri megah Keraton Kadriah. Sebuah istana yang berukuran 30 x 50 meter dan mempunyai 3 tingkat, merupakan istana yang terbesar di Kalimantan Barat. Tidak jauh dari Keraton Kadriah ini menyerupai bangunan Meru di Bali, berdiri menghadap kiblat mesjid Jami’ Sultan Pontianak, bersatu dengan sejarah panjang leluhur Kesultanan Pontianak yang berasal dari kota Trim Hadral maut negara Arab.

Sultan Abdurrahman memerintah hingga tahun 1808. setelah itu Sultan Sy. Kasim Alkadri bin Sy. Abdurrahman Alkadri naik tahta dan memerintah hingga 1819.
Tanggal 14 bulan Rajab 1185 H, bertepatan dengan tanggal 23 Oktober 1781 dibangunlah tiang pertama kerajaan Pontianak.

Pada tahun 1944 Sultan Sy. Muhammad Alkadri ditawa Jepang beliau wafat dalam tawanan Jepang. Untuk mengisi kekosongan pemerintahan pada waktu itu maka dinobatkan Sy. Thaha Alkadri bin Sy. Oesman Alkadri menjadi Sultan pada tahun 1945.
Dengan masuknya tentara sekutu setelah mengalahkan Jepang, maka dinobatklanlah Sultan Sy. Hamid II Kadri menjadi Sultan Pontianak, dan pada tahun 1950 maka kerajaan Pontianak dihapuskan dan dilebur menjadi Propinsi Kalimantan Barat.

Adapun peninggalan-peninggalan dari keraton ini ialah meriam, kursi singgasana, tongkat penobatan, pakaian raja, Alqur’an yang ditulis tangan oleh Sultan Sy. Abdurrahman Alkadri sendiri, pedang, keris serta berbagai benda pusaka lainnya.

Sedangkan putri dari Sultan Sy.Muhammad Alkadri yang masih hidup hingga sekarang ini ialah Ratu Perbu Wijaya yang berumur sekitar 100 tahun. Adat istiadatnya pun hingga sekarang ini masih dijalanakan seperti acara perkawinan, gunting rambut bayi, tepong tawar dan lain-lain. Tapi yang boleh menjalankannya dikeraton hanyalah keturunannya selain itu tidak boleh.

Demikianlah cerita singkat tentang Keraton Kadriah semoga bermanfaat bagi kita semua, wassalamu’alaikum wr. wb.

(Duli Yang Maha Mulia,Sultan Syarif Abubakar Alkadrie,Sultan Pontianak ke.9,beliau bertahta hingga hari ini)

Kesultanan Pontianak di W-Kalimantan hanya ada relatif singkat, sejak 1772.
Kemudian seorang pengusaha dan keturunan pendiri islamreligion Muhammad dari S-Yaman, dengan beberapa kontak dalam keluarga kerajaan Kalimantan, mengambil kawasan strategis, yang tidak occupated karena orang bilang itu dihantui oleh roh ibu, yang meninggal ketika melahirkan untuk bayi.
Segera Pontianak menjadi semacam Singapura untuk W-Kalimantan dan dinasti sekarang masih banyak diduduki dalam bisnis. Itu juga merupakan dinasti utama dari W-Kalimantan di bidang perasaan ambisius politik.
Dalam PD II semua raja setidaknya W-Kalimantan murdured oleh Jepang occupationforces, karena menjadi afriad, bahwa raja-raja akan bekerja sama lagi kuat dengan Belanda. Sultan ini adalah anak dari mantan crownprince, yang juga tewas pada 1944.
Sultan saat ini sekarang sudah menikah dengan ratu 2 setelah kematian ratu pertama.
Pontianak juga disebut sebagai Venetia W-Kalimantan dan sebenarnya merupakan kesultanan imigran; terdiri dari beberapa kelompok besar masyarakat, yang membuat kesepakatan tentang sistem negara beberapa abad yang lalu dan di mana sultan selalu bekerja erat sama dengan beberapa orang . Dia adalah sultan 9 Pontianak.

Donald Tick,
Pusat Dokumentasi Kerajaan-kerajaan Indonesia "Pusaka"

Kalimantan Barat,dalam lintasan sejarah,Kerajaan Mempawah





Gusti Mohammad Thaufieq Aqamaddin Panembahan Mempawah

Pengalaman mencekam juga dialami H Jimmi Mohamad Ibrahim (Alm). Bedanya, Jimmi tak sempat merasakan kerja paksa mencangkul kebun sebagaimana dialami Ratu Perbu Wijaya dan Ratu Anom Bendahara. Sebab ketika terjadi penculikan oleh serdadu jepang itu, Jimmi masih kanak-kanak, duduk di kelas IV Jokio-ko Gakko atau Sekolah Dasar. Terakhir Jimmi adalah Ketua DPR Propinsi Kalbar dan sebelumnya sebagai wakil Gubernur dan pernah pula sebagai Sekda Kalbar. Ia adalah putra Raja Mempawah Mohammad Taoefik Aqamaddin yang juga korban penyungkupan.

Sejak bersekolah di zaman pemerintahan Belanda, Jimmi sudah indekos di rumah orang Belanda kenalan ayahnya. Waktu zaman Jepang ia kos di rumah kenalan ayahnya bernama panangian harahap seorang penilik sekolah. Ketika itulah ia menyaksikan penangkapan oleh serdadu Jepang terhadap penghuni rumah tempat dia indekos, semalam menjelang berlangsungnya konferensi kerja Nissinkai di Pontianak yang diselenggarakan pemerintah Jepang.

Waktu itu, ungkap Jimmi, sekitar pukul 2 dinihari, dia kaget dibangunkan serdadu Jepang yang memegang senapan, lengkap dengan sangkur terhunus. Rupanya serdadu Jepang tengah mengadakan penggeledahan. Semua penghuni dikumpulkan di ruang tengah. Seorang serdadu membuka daftar, lalu memanggil nama Panangian Harahap dan Goesti Djafar Panembahan tayan seorang peserta konferensi yang menumpang menginap di situ. Kepala para tawanan itu ditutup dengan kain hitam, tangan diikat ke belakang. Pada tangan yang terikat itu dicantelkan kertas bertuliskan huruf kanji. Keduanya digiring naik ke truk yang berttutup terpal.

Pagi-pagi sekali Jimmi disuruh istri Panangian, Nurlela Panangian yang kemudian diciduk juga, ke rumah di Jalan Sikishima-dori yang di zaman Belanda sebagai Palmenlaan atau jalan Merdeka sekarang, di rumah yang tidak jauh dari kediaman keluarga Panangian. Jimmi disuruh memberitahu kepada ayahnya perihal kejadian itu. Seperti juga para raja lainnya, Mohammad Taoefik telah datang ke Pontianak dari Mempawah. Jimmi melihat ayahnya saat itu tengah sarapan bersama Sultan Sambas Mohammad Ibrahim Tsafioeddin. Kedua orang tua ini segera berkemas menuju kantor syuutizityo setelah mendengar penuturan Jimmi.

Menjelang mahgrib, kenang Jimmi, ayahnya pulang sendiri berjalan kaki. Ayahnya tampak letih sekali, kata Thaoefik sultan Sambas dan raja lain sudah ditangkap Jepang ketika konferensi berlangsung. Jimmi tidak bertanya mengapa ayahnya tidak ikut ditangkap. Waktu itu kabarnya Sultan Pontianak pun dibolehkan pulang.

Dua bulan kemudian, dua serdadu Jepang datang ke istana Mempawah, sekitar 67 kilometer utara Pontianak, untuk menjemput Panembahan Mempawah ini. Mereka datang mengendarai mobil sedan. Ketika itu Thaoefik sedang makan. Sikap serdadu itu cukup menghormati panembahan, terbukti dengan membolehkannya menyelesaikan santap siangnya. Menurut para penjemput itu, Dokoh sebutan raja tersebut, akan dibawa oleh mereka ke Pontianak untuk menghadap syutizi.

Mata ayahnya tidak ditutup, kata Jimmi. Bahkan ayahnya boleh membawa koper. Serdadu itu membantu mengangkat koper ke mobil. Dan sejak itu sang ayahpun tidak pernah pulang, kisah Jimmi. Setelah panembahan diciduk, di istana Amantubillah Mempawah dipasang plakat berbunyi Warui Hitto, artinya Orang jahat. Istana dinyatakan tertutup dan tidak boleh menerima tamu. Dan di hari tuanya Jimmi menuturkan, dirinya baru tahu perihal penangkapan itu setelah ia duduk di kelas VI. Menjelang Jepang jatuh dihajar Sekutu, sekitar Juli 1945 Jimmi yang telah bergelar Pangeran Mohammad dibawa oleh serdadu Jepang ke Mempawah untuk dilantik sebagai panembahan menggantikan ayahnya. Kepadanya juga diberikan sertifikat. Waktu penobatan, panembahan muda itu tinggal membacakan pidato yang dibuatkan Jepang. Belakangan Jimmi baru tahu bahwa tindakan itu dilakukan Jepang karena sudah tahu bakal jatuh. Mengenai sang ayah, sampai belakangan tidak diketahui di mana kuburnya. Jimmi yang kini sudah almarhum kurang yakin kalau ayahnya ada di pemakaman masal Mandor.
Tambahkan keterangan gambar
Gusti Mohammad Thaufieq Aqamaddin Panembahan Mempawah Pengalaman mencekam juga dialami H Jimmi Mohamad Ibrahim (Alm). Bedanya, Jimmi tak sempat merasakan kerja paksa mencangkul kebun sebagaimana dialami Ratu Perbu Wijaya dan Ratu Anom Bendahara. Sebab ketika terjadi penculikan oleh serdadu jepang itu, Jimmi masih kanak-kanak, duduk di kelas IV Jokio-ko Gakko atau Sekolah Dasar. Terakhir Jimmi adalah Ketua DPR Propinsi Kalbar dan sebelumnya sebagai wakil Gubernur dan pernah pula sebagai Sekda Kalbar. Ia adalah putra Raja Mempawah Mohammad Taoefik Aqamaddin yang juga korban penyungkupan. Sejak bersekolah di zaman pemerintahan Belanda, Jimmi sudah indekos di rumah orang Belanda kenalan ayahnya. Waktu zaman Jepang ia kos di rumah kenalan ayahnya bernama panangian harahap seorang penilik sekolah. Ketika itulah ia menyaksikan penangkapan oleh serdadu Jepang terhadap penghuni rumah tempat dia indekos, semalam menjelang berlangsungnya konferensi kerja Nissinkai di Pontianak yang diselenggarakan pemerintah Jepang. Waktu itu, ungkap Jimmi, sekitar pukul 2 dinihari, dia kaget dibangunkan serdadu Jepang yang memegang senapan, lengkap dengan sangkur terhunus. Rupanya serdadu Jepang tengah mengadakan penggeledahan. Semua penghuni dikumpulkan di ruang tengah. Seorang serdadu membuka daftar, lalu memanggil nama Panangian Harahap dan Goesti Djafar Panembahan tayan seorang peserta konferensi yang menumpang menginap di situ. Kepala para tawanan itu ditutup dengan kain hitam, tangan diikat ke belakang. Pada tangan yang terikat itu dicantelkan kertas bertuliskan huruf kanji. Keduanya digiring naik ke truk yang berttutup terpal. Pagi-pagi sekali Jimmi disuruh istri Panangian, Nurlela Panangian yang kemudian diciduk juga, ke rumah di Jalan Sikishima-dori yang di zaman Belanda sebagai Palmenlaan atau jalan Merdeka sekarang, di rumah yang tidak jauh dari kediaman keluarga Panangian. Jimmi disuruh memberitahu kepada ayahnya perihal kejadian itu. Seperti juga para raja lainnya, Mohammad Taoefik telah datang ke Pontianak dari Mempawah. Jimmi melihat ayahnya saat itu tengah sarapan bersama Sultan Sambas Mohammad Ibrahim Tsafioeddin. Kedua orang tua ini segera berkemas menuju kantor syuutizityo setelah mendengar penuturan Jimmi. Menjelang mahgrib, kenang Jimmi, ayahnya pulang sendiri berjalan kaki. Ayahnya tampak letih sekali, kata Thaoefik sultan Sambas dan raja lain sudah ditangkap Jepang ketika konferensi berlangsung. Jimmi tidak bertanya mengapa ayahnya tidak ikut ditangkap. Waktu itu kabarnya Sultan Pontianak pun dibolehkan pulang. Dua bulan kemudian, dua serdadu Jepang datang ke istana Mempawah, sekitar 67 kilometer utara Pontianak, untuk menjemput Panembahan Mempawah ini. Mereka datang mengendarai mobil sedan. Ketika itu Thaoefik sedang makan. Sikap serdadu itu cukup menghormati panembahan, terbukti dengan membolehkannya menyelesaikan santap siangnya. Menurut para penjemput itu, Dokoh sebutan raja tersebut, akan dibawa oleh mereka ke Pontianak untuk menghadap syutizi. Mata ayahnya tidak ditutup, kata Jimmi. Bahkan ayahnya boleh membawa koper. Serdadu itu membantu mengangkat koper ke mobil. Dan sejak itu sang ayahpun tidak pernah pulang, kisah Jimmi. Setelah panembahan diciduk, di istana Amantubillah Mempawah dipasang plakat berbunyi Warui Hitto, artinya Orang jahat. Istana dinyatakan tertutup dan tidak boleh menerima tamu. Dan di hari tuanya Jimmi menuturkan, dirinya baru tahu perihal penangkapan itu setelah ia duduk di kelas VI. Menjelang Jepang jatuh dihajar Sekutu, sekitar Juli 1945 Jimmi yang telah bergelar Pangeran Mohammad dibawa oleh serdadu Jepang ke Mempawah untuk dilantik sebagai panembahan menggantikan ayahnya. Kepadanya juga diberikan sertifikat. Waktu penobatan, panembahan muda itu tinggal membacakan pidato yang dibuatkan Jepang. Belakangan Jimmi baru tahu bahwa tindakan itu dilakukan Jepang karena sudah tahu bakal jatuh. Mengenai sang ayah, sampai belakangan tidak diketahui di mana kuburnya. Jimmi yang kini sudah almarhum kurang yakin kalau ayahnya ada di pemakaman masal Mandor.
(Dari FB Max yususf Alkadrie)

Kesultanan Kadriah,Tahta untuk da"wah




(Mesjid Sultan Abdurrahman,cikal bakal kota pontianak,dari sini dawah agama menyebar)




MENEGUHKAN KEMBALI TAHTA UNTUK DAKWAH

Pengantar
Bulan Rabi’ul Awwal 1247 H, Kang Turab Mendapat undangan meliput kegiatan perayaan maulid di Bumi Khatulistiwa, Pontianak. Di sela-sela liputan maulid yang padat, ia menyempatkan diri mengunjungi situs bersejarah Keraton Kadariyah. Berikut laporannya.

Hari telah merembang petang, ketika alKisah memasuki gerbang Istana Kadriah yang tak jauh dari Tol Kapuas (sebutan warga Pontianak untuk jembatan yang menghubungkan dua tepian sungai Kapuas). Meski disebut gerbang Kadriah, namun untuk mencapai istana Kadriah dan Masjid Jami’ Sultan Syarif Abdurrahman yang terletak di tepi sungai Kapuas, pengunjung masih harus masuk kurang lebih dua kilometer.

Di bawah gerbang biasanya telah menunggu beberapa becak. Atau jika ingin menikmati nuansa tradisional Pontianak berjalan kaki juga bisa jadi alternatif pilihan. Selain melalui gerbang Kadriah (jalur darat), Istana Kadriah dan Masjid Jami’ juga bisa dicapai dengan menumpang perahu atau sampan dari dermaga Tambang Pluit dan langsung berlabuh di depan masjid kebanggaan warga Pontianak tersebut.

Jalur penyeberangan ini merupakan rute favorit warga di sekitar Masjid Jami’ --yakni kampung Arab, kampung Beting, dan kampung Bugis—yang ingin menuju pusat kota. Disamping lebih praktis dan lebih cepat, juga sangat murah. Cukup dengan uang seribu rupiah penumpang bisa menikmati penyebrangan berdurasi dua sampai tiga menit dengan sampan bermotor.

Di Pontianak, jalur transportasi sungai memang sangat populer dan berusia lebih tua dari pada tranporatsi modern lainnya. Bisa dimaklumi, karena satu-satunya jalur yang bisa menghubungkan semua kabupaten di Kalbar adalah sungai. Terutama sungai Kapuas yang menjadi jantung kehidupan penduduk Kalimantan Barat.

Meski kaya akan sungai dan sudah dialiri air bersih dari PDAM, namun untuk minum, sebagian besar penduduk Pontianak masih mengandalkan air hujan. Jangan heran, jika di halaman rumah sebagian besar penduduk akan dijumpai bak-bak penampungan air berukuran besar. Beruntung curah hujan di kota terbilang cukup tinggi.

Penduduk Kelurahan Bugis Dalam di mana Istana Kadriah, Masjid Jami’ dan Kampung Arab berada, terdiri berbagai etnis, yang terbesar adalah, Melayu, keturunan Arab, Madura, dan Bugis.

Meriam Kuning
Menurut sejarahnya, masjid jami’ dan Istana Kadriah adalah bangunan pertama yang didirikan di Pontianak. Kedua tempat itu juga awalnya merupakan pusat pemerintahan Kesultanan Pontianak.

Namun sayang, seiring dengan pembangunan kota yang bergerak ke seberang selatan Sungai Kapuas, lingkungan Istana Kadriah yang berada di pinggiran pun menjadi terabaikan. Bahkan, beberapa dekade belakangan, wilayah bersejarah justru dikenal sebagai daerah kumuh yang tertinggal.

Ini terlihat dari semrawutnya tataletak perumahan yang rata-rata dibawah standar. Pemandangan itu masih diperparah dengan kualitas gaya hidup warganya yang masih ala kadarnya, seperti mandi di sungai yang airnya semakin menghitam dan pendidikan yang pas-pasan. Belum lagi image-image negatif yang sering ditudingkan secara pukul rata kepada penduduk kampung-kampung di sekitar keraton.

Nasib nyaris serupa ternyata juga menimpa simbol peradaban Islam di Pontianak, yakni Keraton Kadriah. Mengunjungi keraton yang dibangun oleh Sultan Abdurrahman, sore itu, ada rasa haru yang tiba-tiba saja menyeruak di hati. Betapa tidak, bangunan bersejarah itu tampak muram dengan beberapa kayunya yang mulai rapuh dimakan usia. Sebuah meriam kecil berwarna kuning yang menyambut setiap tamu di depan bangunan istana, menceritakan etos kepahlawanan raja-raja Pontianak masa lampau.

Memasuki balairung –tempat sultan terdahulu biasa menerima punggawa dan rakyatnya yang datang menghadap—yang terletak bagian utama keraton, aura muram semakin kuat terpancar. Nuansa kuning yang mendominasi dinding istana, tak mampu membuat suasana ruangan tempat singgasana raja berada itu menjadi ceria.

Perasaan haru semakin menyayat, ketika memasuki memasuki bekas kamar Sultan Muhammad Alkadrie yang berada di sisi kanan balairung, dekat pintu masuk keraton. Di dalamnya terdapat peraduan tua yang masih sangat indah, peninggalan sultan keenam itu. Di atas sebuah meja di seberang peraduan, terdapat sebuah kotak kaca yang berisi mushaf Al-Quran tulisan tangan Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie, pendiri kesultanan Kadriah Pontianak. Di belakangnya tampak foto perahu lancang kuning khas Pontianak yang tengah berlayar di Sungai Kapuas.

Tepat dibelakang balairung, terdapat satu ruangan besar yang juga kosong. Hanya lukisan silsilah kerajaan, beberapa tombak dan payung serta foto-foto keluarga kesultanan saja yang masih membuat ruangan itu tampak sebagai bagian dari sebuah keraton. Di beberapa sudut tampak sisa-sisa pesta perkawinan semalam. Beberapa tahun belakangan, ruangan utama keraton memang sering dipinjam keluarga istana untuk resepsi pernikahan.

Sungguh pemandangan yang memilukan. Kursi singgasana yang kosong, foto para sultan, meriam kecil dan seorang ibu tua yang dengan ramah menyambut kami, menceritakan tentang bagian-bagian istana. Semuanya mengisyaratkan Keraton Kadriah yang seakan tengah menjerit lelah, menahan beban kisah kejayaan Kesultanan Pontianak di masa lalu, yang kini hanya tinggal legenda.

Sejarah Pontianak sendiri berawal dari kedatangan seorang ulama dari tanah Hadramaut, yakni Syarif Husein bin Ahmad Alkadrie. Setelah berdakwah di Samudera Pasai, Batavia dan Semarang, langkah kakinya membawa sang habib ke kerajaan Matan, (kini Kabupaten Ketapang) Kalimantan Barat. Setelah menikah dengan putri raja Matan, ia hijrah ke kerajaan Mempawah (sekarang ibukota kabupaten Pontianak). Salah satu putranya, yakni Syarif Abdurrahman, kemudian menjadi menantu raja Mempawah, Daeng Opu Manambon.

Hantu Kuntilanak
Suatu ketika, sepeninggal Syarif Husein Alkadrie, Syarif Abdurrahman Alkadrie minta ijin kepada mertuanya untuk membuka wilayah baru, agar bisa mensyiarkan agama Islam. Pengembaraan pun dilakukan dengan perahu kakap, menyusuri sungai Landak dan sungai Kapuas sampai kemudian menemukan calon kota Pontianak.

Kata Pontianak sendiri berasal dari nama hantu wanita dalam bahasa Melayu, yang di Jawa dikenal dengan Kuntilanak. Konon ketika tengah menyusuri sungai kapuas untuk membuka kerajaan baru, di suatu tempat yang kini bernama Batulayang, rombongan kapal kakap Syarif Abdurrahman Alkadrie diganggu hantu-hantu wanita tersebut. Sultan pun menghentikan rombongan dan memutuskan untuk bermalam di tempat itu.

Kemudian Syarif Abdurrahman bermunajat memohon petunjuk dan pertolongan kepada Allah. Setelah kurang lebih lima malam berada di selat yang berada antara Batulayang dan pulau kecil di tengah sungai, putra Syarif Husein bin Ahmad Iftah Shiddiq Alkadrie, mufti kerajaan Mempawah, itu memerintahkan anak buahnya mengisi seluruh meriam dengan peluru. Menjelang subuh, ulama muda itu memerintahkan agar meriam ditembakkan ke tepian sungai.

Selama beberapa waktu suara dentuman meriam menghujani hutan belantara yang berada di sepanjang tepi sungai. Bersamaan dengan berhentinya dentuman meriam, hilang pula gangguan hantu pontianak dan suara-suara aneh dari hutan. Syarif Abdurrahman kemudian memerintahkan untuk menembakkan meriam sekali lagi untuk mencari lokasi pembangunan masjid. Setelah matahari terbit puluhan anak buah menantu raja Mempawah yang juga menantu raja Banjar itu membabat hutan mencari peluru meriam.

Ternyata peluru ditemukan dibawah sebuah pohon besar yang di salah satu dahannya terdapat ayunan bayi. Oleh Syarif Abdurrahman pohon itu lalu dibersihkan kulitnya dan dijadikan tiang utama masjid. Rombongan itu lalu bahu membahu membangun bagian-bagian masjid yang seluruhnya berbahan kayu. Usai pembangunan masjid, Syarif Abdurrahman kembali menembakkan meriam. Di lokasi jatuhnya meriam kedua itu lalu dibangun komplek istana Kadriah. Peristiwa itu terjadi pada 24 Rajab 1185 H/23 Oktober 1771 M.

Setelah seluruh infrastruktur selesai dipersiapkan, tujuh tahun kemudian, tepatnya hari Senin, 8 Sya’ban 1192 H, Syarif Abdurrahman Alkadrie dinobatkan menjadi Sultan Pontianak pertama. Kepemimpinan ulama muda yang cakap itu berhasil membuat kerajaan baru itu menjadi kota pelabuhan besar dan pusat perdagangan yang disegani. Namun sayang, dua tahun setelah penobatan sultan kelahiran tahun 1742 H itu, kedaulatan kerajaan baru itu terusik.

Tahun 1778 M, penjajah Belanda mulai menginjakkan kaki di bumi Khatulistiwa. Awalnya rombongan pertama, yang dipimpin seorang petor (asisten residen) dari Rembang bernama Willem Ardinpola, itu minta ijin kepada Sultan untuk berniaga di wilayahnya. Oleh Sultan yang murah hati itu Bangsa Belanda diberi tempat berdagang di seberang Keraton Pontianak yang kini terkenal dengan nama Tanah Seribu (Verkendepaal).

Beberapa tahun setelah berdagang dengan damai, VOC mulai melakukan praktik monopoli ekonomi dan perdagangan yang memicu konflik dengan pedagang-pedagang pribumi. Konflik itu lalu dijadikan alasan untuk mendatangkan balatentara ke Pontianak. Sejak saat itulah Kesultanan Pontianak memasuki fase perjuangan melawan penjajah yang berlangsung hingga akhirnya bergabung dengan NKRI.

Memutar Tasbih
Sejarah kesultanan Pontianak memang identik dengan dakwah, perjuangan dan pengorbanan. Tujuan didirikannya kesultanan Pontianak sendiri, menurut Sultan Pontianak ke-9 Syarif Abubakar Alkadrie, tidak lain untuk meneguhkan dakwah Islamiyyah. Ketika itu, lanjut Sultan, Syarif Abdurrahman minta ijin meninggalkan kerajaan Mempawah kepada mertuanya untuk menyebarkan agama Islam di bagian lain pulau Kalimantan.

Kisah-kisah kehidupan para sultan pontianak generasi awal juga identik dengan kesalehan dan nuansa keberagamaan yang kental. Misalnya ketika membuka wilayah Pontianak, yang pertama kali dibangun Sultan adalah masjid, baru kemudian istana. Ini melambangkan orientasi akhirat yang lebih mendorong berdirinya kerajaan Pontianak daripada ambisi keduniawian.

Sultan dan rakyat Pontianak memang dikenal sebagai pejuang-pejuang yang gagah berani dan penuh pengorbanan dalam melawan penjajahan. Kisah perjuangan paling legendaris yang hingga saat ini terus terngiang-ngiang di hati rakyat Pontianak adalah tragedi Mandor. Pada insiden tersebut lebih dari 21 ribu pria –termasuk Sultan Muhammad Alkadrie, seluruh punggawa, dan kaum intelektual—di kotaraja Pontianak dibantai oleh tentara Jepang.

Berdasarkan catatan di Museum Jepang di Tokyo, peristiwa tragis terjadi mulai 23 April 1943 hingga 28 Juni 1944. Waktu yang terbilang singkat, untuk membantai puluhan ribu nyawa. Peristiwa yang target awalnya hanya akan menangkap sekitar lima ribu orang itu meninggalkan kesedihan dan kepedihan yang mendalam bagi keluarga korban. Sebelum dibantai, korban-korban sempat dipekerjakan sebentar sebagai romusha, kecuali keluarga kerajaan yang langsung dibunuh hari itu juga.

Dengan mata berkaca-kaca, Sultan Syarif Abubakar yang ditemui Kang Turab di kediamannya di belakang Istana Kadriah mengisahkan peristiwa berdarah itu. Sejak awal April, pemerintah Jepang di Pontianak mendengar isu akan adanya pemberontakan. Suasana kota Pontianak pun menjadi tegang. Rupanya ada yang memanfaatkan situasi itu untuk memancing di air keruh, tiba-tiba Jepang mencurigai keluarga Sultan Muhammad Alkadrie yang akan menjadi otak pemberontakan.

Hari itu ribuan balatentara Jepang mengadakan operasi kilat penangkapan orang-orang yang dicurigai. Dengan membabi buta setiap orang yang dianggap mempunyai intelektualitas –terutama para ulama—ditangkapi. Sultan Muhammad sendiri bersama para punggawanya “dijemput” paksa balatentara Jepang dari istananya.

Dengan disaksikan istri, anak cucu, punggawa dan sebagian rakyatnya, raja yang ahli ibadah itu dirantai dan kepalanya ditutupi kain hitam, sebelum dibawa pergi. Yang mengharukan, sebelum dibawa pergi Sultan Muhammad Alkadrie memutar-mutar tasbih di jari telunjuknya seraya bertakbir.

Rombongan pembesar kerajaan lalu dibawa ke depan markas Jepang di sisi lain sungai Kapuas (sekarang menjadi markas Korem). Di tempat itu satu persatu kepala mereka dipenggal, kemudian dimasukkan ke truk dan dibawa pergi entah kemana. Beruntung, tujuh bulan kemudian –setelah Jepang sudah angkat kaki-- jasad Sultan Muhammad Alkadrie berhasil ditemukan di Krekot. Penemuan itu sendiri berkat laporan salah seorang penggali lubang makam yang berhasil lolos dari pembantaian serdadu Jepang.

Dan sungguh menakjubkan, meski sudah tujuh bulan terkubur, saat digali kembali, jasad sultan yang shalih itu masih utuh seperti orang yang baru saja meninggal dunia. Bahkan, menurut kesaksian para penggali, pakaian dan tasbihnya pun masih tampak bagus. Jasad Sultan Muhammad Alkadrie kemudian dimakamkan kembali di makam para sultan Pontianak di Batulayang.

Vacuum of Power
Sementara itu, puluhan ribu tawanan lainnya –yang terdiri dari ulama, santri, prajurit, saudagar bahkan rakyat jelata—dibawa ke hutan yang dipenuhi pohon cemara, pinus dan kayu putih di Desa Kopyang, Kecamatan Mandor, Kabupaten Landak. Rimba sunyi itu yang kemudian menjadi saksi ketika serdadu Jepang secara brutal memancung kepala para tawanan. Ironinya, jasad mereka lalu dibuang ke dalam lubang-lubang yang sebelumnya mereka gali sendiri atas perintah serdadu musuh.

Setidaknya ada 10 pemakaman massal yang terdapat di Mandor, yang masing-masing berjarak antara 100 meter hingga 200 meter. Makam terbesar terdapat pada makam nomor 10. Di dekatnya ada 'pendopo' kecil, yang didalamnya terdapat sejumlah foto para korban pembantaian yang terdiri atas kaum cerdik pandai, ulama dan tokoh-tokoh kesultanan Pontianak. Pembantaian di Mandor (kurang lebih 88 km utara Pontianak) diperkirakan dilakukan secara bertahap. Ini tampak dari banyaknya kolam-kolam yang menjadi tempat penguburan secara massal oleh tentara Jepang.

Tragedi Mandor itu membuat Pontianak pernah mengalami kehilangan satu generasi intelektualnya. Dan dampak traumatiknya masih terasa hingga puluhan tahun berikutnya. Selama kurun tahun 1950an hingga 1970an, kota itu mengalami fase kekosongan kaum cendekiawan dan cerdik pandai.

Dengan gugurnya Sultan Muhammad Alkadrie, Kesultanan Pontianak mengalami vacuum of power. Satu-satunya putra sultan yang masih hidup, Syarif Abdul Hamid Alkadrie, tengah menuntut ilmu di luar negeri. Untuk mengisi kekosongan diangkatlah Syarif Thoha Alkadrie, cucu sultan Muhammad dari garis anak perempuan, menjadi Sultan Kadriah ketujuh. Sultan Thaha Alkadrie memerintah sampai tahun 1945, ketika Syarif Abdul Hamid Alkadrie pulang ke Pontianak dan dinobatkan menjadi sultan kedelapan.

Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, dengan kebesaran jiwanya, Kesultanan Pontianak menyerahkan mandat pemerintahan teritorialnya kepada pemerintah NKRI. Dan sejak itu, kesultanan hanya memegang tampuk “kekuasaan” kultural. Sebuah pengorbanan terbesar yang diberikan oleh keturunan Syarif Abdurrahman Alkadrie untuk negeri ini.

Namun sayang, menilik keadaan keraton saat ini, sepertinya pemerintah RI tampaknya belum mampu membayar pengorbanan tersebut dengan layak. Terlihat monumen utama peninggalan kesultanan, yakni keraton Kadriah dan Masjid Jami’ Syarif Abdurrahman Alkadrie, yang dalam kondisi memperihatinkan. Kayu-kayu yang rapuh di sana-sini, dan beberapa barang yang “hilang” dari tempatnya.

Banyak hal, tentu saja, yang menyebabkan hal tersebut. Terutama ketiadaan dana untuk merawat dan merenovasi warisan bersejarah itu. Ini, menurut penuturan Sultan Syarif Abubakar Alkadrie, disebabkan keraton tidak mempunyai sumber pemasukan tetap yang dapat dipakai untuk merawat aset keraton. Sementara Keraton sendiri sudah tidak mempunyai aset-aset yang bisa djadikan sebagai modal pengelolaan. Meski pernah ada dana bantuan dari pemerintah, namun diakui Sultan, jumlahnya sangat minim dan lebih bersifat insidentil.

Keterpurukan keadaan istana dimulai sejak kekosongan kepemimpinan di kesultanan Pontianak sepeninggal Sultan Abdul Hamid Alkadrie yang wafat tahun 1978 pada usia 65. Vacuum of power kedua ini disebabkan Sultan Abdul Hamid tidak mempunyai putra mahkota, dan sampai wafatnya tidak menunjuk pengganti.

Calon Termuda
Baru setelah berlangsung selama 26 tahun, ada beberapa pihak dari kalangan keluarga istana Kadriah yang cemas akan punahnya kesultanan Pontianak. Maka pada periode 2003-2004 keluarga besar itupun berhimpun dan mencoba membangun kembali kesultanan bersejarah itu. Dari hasil penelusuran silsilah, ditemukan tiga nama yang masih memiliki jalur nasab dari garis ayah yang bersambung dengan Sultan Muhammad Alkadrie, yakni Syarif Yusuf Alkadrie, Syarif Abdillah Alkadrie dan Syarif Abubakar Alkadrie.

Seluruh keluarga istana lalu menyerahkan keputusan tentang siapa yang akan menjadi sultan kesembilan kepada tiga orang pewaris tersebut. Perdebatan berjalan cukup alot. Bukan karena saling berebut kekuasan, namun sebaliknya, ketiga putra mahkota itu justru merasa tidak cukup layak untuk menduduki kursi kesultanan. Berbagai pihak meyakinkan mereka tentang pentingnya keberadaan seorang sultan guna melanjutkan tahta kultural Pontianak.

Melihat proses kesepakatan berjalan alot, dengan niat mempermudah keadaan Syarif Abubakar Alkadrie, calon termuda, pun mengundurkan diri dan menyerahkan sepenuhnya kepada dua kakak sepupunya. Namun, setelah enam bulan berdiskusi, Syarif Abdillah dan Syarif Yusuf justru bersepakat untuk mengangkat sepupu termuda mereka, Syarif Abubakar Alkadrie, menjadi sultan.

“Demi Allah,” kata Syarif Abubakar kepada Kang Turab, “saya tidak pernah mengharapkan semua ini (menjadi sultan, -red). Meski tidak seberat sebelum tahun 1945, tanggung jawab sebagai sultan itu bagi saya tetap saja sangat berat. Yang paling saya takutkan adalah pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT, jika kemudian ternyata amanat itu tidak mampu saya pikul dengan baik.”

Maka demikianlah, pada tanggal 15 Januari 2004, Syarif Abubakar Alkadrie bin Syarif Mahmud Alkadrie dinobatkan menjadi sebagai Sultan Kadriah kesembilan dengan bergelar Mas Perdana Agung Sultan ke-9 Istana Kadriah Pontianak. Penobatan tersebut dihadiri perwakilan keraton-keraton yang masih eksis di nusantara, seperti Keraton Kasunanan Surakarta, keraton Mempawah, keraton Sanggau dan Sambas.

Dua tahun setelah menjadi Sultan Pontianak, ada sebuah harapan di hati pria santun kelahiran 26 Juni 1944 itu, yakni kembali menjadikan keraton sebagai pusat dakwah dan syiar Islam. Berbagai upaya terus dilakukannya untuk mewujudkan cita-cita tersebut.

Beberapa tahun lalu, misalnya, ia pernah mencoba mengadakan peringatan maulidan di keraton. Di luar dugaan, acara yang telah cukup lama tidak diselenggarakan itu dibanjiri umat Islam yang merindukan acara-acara spiritual keraton.

Namun ironinya, acara perdana itu sekaligus juga menjadi yang terakhir. Pihak penyelenggara mengkhawatirkan kondisi istana yang sudah rapuh, tidak akan sanggup menampung antusiasme pengunjung. Sebagai gantinya, Sultan yang mendatangi undangan maulid-maulid di luar keraton.

Terlepas dari bagaimanapun kondisi fisik peninggalan bersejarah tersebut saat ini, berdiri kembalinya kesultanan Kadriah menyemburatkan harapan baru hati umat Islam Pontianak. Gerbong peradaban yang didirikan Syarif Abdurrahman itu akan kembali berderak, menyongsong terbitnya fajar baru kejayaan Islam, yang berbasis visi awal kesultanan Kadriah, yakni “tahta untuk dakwah.” (Kang Turab, Jakarta 2006)




D

Minggu, 30 Januari 2011

Sponsor saya,Om Max dan Istri,Specially thanks,




(Foto Om Max dan Istri,support saya untuk membuat blog ini, beliau adalah Ketua yayasan Sultan hamid.II.di Jakarta,yang memberikan beasiswa pendidikan untuk putra daerah Kalbar berprestasi dan melanjutkan kejenjang pendidikan tinggi mulai S.I,SII,dst)


( Foto dukumentasi Keluarga,dari FB Max Yususf Alkadrie)


Ketika saya sampai kerumah beliau,kebetulan om Max baru datang dari acara diluar.Sambutan hangat segera saya rasakan dari tatapan matanya.Om Max dan istrinya mempersilahkan saya untuk masuk keruangan tamu rumahnya.Saya mengangguk kecil,sedikit tersenyum,lalu melangkahkan kaki masuk kedalam.Saya jabat tangan beliau dengan erat,rasanya kami begitu dekat,meskipun baru kali ini bertemu.Saya memperkenalkan diri,dan kami terlibat dalam obrolan santai dan enak.dari sinilah ide untuk membuat blog ini muncul,ide tentang seorang putra bangsa terbaik,yang terlupakan sejarah.
Sultan Hamid.II,perancang lambang negara yg belum diakui(Om Max dulu ajudan Beliau),