Rabu, 12 Oktober 2011

Media: Senjata Terampuh dalam “Soft War”


Media: Senjata Terampuh dalam “Soft War”

Di kota dan di desa sebagian remaja terutama putri ABG berangan-angan dan bercita-cita jadi artis, mengikuti casting dan audisi yang diselenggarakan oleh industri media. Mereka ingin mendapatkan kekayaan, ketenaran dan kecantikan. Mengapa? Jawabannya hanya satu: media.

Media dianggap merupakan sumber informasi, interpretasi yang mempengaruhi pikiran dan sikap manusia, alat pembentuk, penghimpun dan dan penyalur pendapat umum.

Di era reformasi ini, seiring dengan terbukanya pintu kebebasan yang ditandai dengan pembubaran Departemen Penerangan dengan Lembag Sensor-nya, media cetak dan elektronik berbau kekerasan dan porno pun merajalela.

Puluhan bahkan mungkin ratusan media cetak, mengejar keuntungan komersial dengan menampilkan aneka menu seks, mulai dari berita sekaligus rekonstruksi pemerkosaan sampai iklan layanan jasa call premium dengan gambar-gambar yang sangat seronok. Selain media cetak, materi seks dan porno juga ada pada media elektronik seperti ineternet, telivisi, radio, dan film bioskop. 

Bukan rahasia lagi bila sebagian besar pelanggannya menyalurkan fantasi seksual melalui situs-situs porno yang sangat banyak. Acara-acara dangdut di televisi juga terkesan mengandalkan tubuh dan erotisme penari dan penari latar ketimbang suara yang indah dan musik yang harmonis. Sejumlah stasiun telivisi bahkan menjadikan acara semacam wawancara terbuka dengan gay, lesbian dan pelacur sebagai menu andalannya.

Pemirsa kita dijejali dengan iklan-iklan terselubung di balik aneka berita dan ulasan seputar selebriti, mulai dari koleksi pakaian, perkawinan melahirkan sampai perceraiannya. Itu semua ditampilkan dengan ragam kemasan. Ada acara yang mengungkap kehidupan sehari-hari artis, koleksi sepatunya hingga (maaf) toiletnya.

 Ada acara yang mempertemukan artis dengan penggemarnya dengan kencan sehari. Ada yang megajak pemirsa mengirimkan sms langusung kepada artis pujaan. Pendek kata, sistem komunikasi dan informasi kita didominasi oleh fantasi glamour, pemujaan raga dan konsumerisme. Bayangkan kalimat-kalimat yang dipersiapkan dalam iklan, terutama untuk produk kosmetik, akan berusaha membuat setiap pemirsanya, terutama wanita, merasa tidak nyaman dengan penampilannya sedemikian rupa. 

Bayangkan wanita-wanita di desa yang lugu dan miskin, karena marasa dicemooh oleh wanita-wanita cantik, bening dan semampai di iklan, mulai memburu setiap produk pemutih dan pelangsing tanpa memikirkan efeknya dan tanpa menelitii kandungan kimiawinya! Media kapitalis telah menciptakan budaya ‘genit’ yang sangat luas di negeri kita.

Radio juga tidak mau ketinggalan. Perbincangan dengan pendengar yang dipandu oleh pakar seks tentang masalah-masalah seks secara terbuka misalnya dapat kita dengar setiap hari di sejumlah stasiun dengan mengangkat sejumlah tema seks seperti masturbasi dan orgasme. 

Jauh sebelum televisi swasta bermunculan, para produser film Tanah Air lebih mengutamakan keuntungan ketimbang kualitas dan seni, hanya mengandalkan seks dengan judul-judul yang benar-benar amoral. Kini setelah mengalami sedikit kebangkitan, film sinema juga mulai berani menjiplak seni perfilman Barat dengan mengangkat tema-tema Barat seperti homoseksualitas dan hubungan seksual tanpa nikah.

Salah satu corong pornografi adalah iklan, bahkan iklan yang tidak berkaitan sama sekali dengan produk seks seperti jamu dan obat kuat, minuman berenergi, kondom dan sebagainya. Pornografi dapat ditemukan dalam iklan makanan, minuman, kosmetik bahkan mobil dan elektronik.

Lebih dari itu, berita-berita seputar kejahatan di telivisi dan koran di Tanah Air terkesan ‘menstimulasi’ fantasi liar para penikmatnya dengan menayangkan secara live operasi penggerebekan aparat polisi yang over acting layaknya agen FBI dalam film-film Hollywood. 

Yang lebih memprihatinkan lagi, bisa dipastikan bahwa dalam setiap acara berita kriminal, ada sebuah berita kejahatan “spesial”, seperti anarkisme yang mulai ‘dibenarkan’ pembakaran hidup-hidup pencopet di stasiun dan tempat umum lainnya dan kejahatan seksual tak lazim (yang belakangan mulai terasa lumrah); pemerkosaan gadis di bawah umur, pencabulan ayah kandung atas anak atau kakek atas cucu, dan sebagainya.

Pornografi, setuju atau tidak, sangat diminati di Tanah Air. Acara-acara yang menampilkan pornografi mengungguli acara-acara lainnya, apalagi acara agama yang biasanya diperlakukan sekedar ‘selingan’ atau bukan ‘asal ada’ sehingga diletakkan pada tengah malam di saat sebagian orang lelap.

 Kecenderungan masyarakat Indonesia terhadap kekerasan, pornografi dan klenik bisa dianggap cukup spektakuler. Betapa tidak! Berita seputar kekerasan dan kejahatan serta acara dan film-film bertema sadisme, erotisme dan horor ternyata menempati urutan teratas dalam polling-polling.

Di satu sisi, ini adalah indikasi optimistik bagi para kapitalis. Bagi para sosiolog dan agamawan sejati, ini adalah sebuah petaka sosial.

Yang jelas, memori otak kita tentu tidak akan mampu mendowload semua file yang dipantulkan oleh objek dan realitas yang silih berganti di sekitar kita. Bila tidak pandai-pandai menyeleksinya, maka otak kita akan lambat melakukan olah pikiran (berpikir), bahkan kadang mengalami eror. Akibatnya ia perlu di-restart. Bila tidak juga berhasil, harus dihentikan karena mengalami gangguan hardware.

Proses kerja produksi dan reproduksi realitas teve berlangsung melalui 3 tahap. Tahap pertama atau ”reality” berwujud penampilan, pakaian, make up, lingkungan, perilaku, gaya bicara, gerak-gerik, ekspresi, suara dan sebagainya. Tahap kedua atau representation mencakup penggunaan kamera, penyinaran, editing, musik, dan suara untuk membuat ”cerita” yang berbentuk narasi, 

konflik, action, dialog, setting, casting, dan sebagainya. Tahap ketiga atau ideologi merupakan organisasi dari kode-kode ideologi secara koheren dan dapat diterima, seperti individualisme, ras, materialisme, kapitalisme (1987).

Tahapan ini menggambarkan bagaimana suatu realitas fisik/empiris, ”diolah”, diubah dan ditransformasikan menjadi realitas simbolis. Hasilnya, masyarakat percaya bahwa realitas teve bukanlah reproduksi dan atau rekonstruksi dari realitas empiris. Mereka merasa bahwa realitas teve identik dengan realitas empiris. Akibatnya, mereka menyamakan tingkat validitas, kepercayaan dan kebenaran kedua realitas itu.

Ideologi asing muncul tidak semata dikarenakan lembaga penyiaran menyiarkan iklan yang materinya diproduksi oleh perusahaan periklanan negara asing dan menampilkan pemeran dan atau setting negara asing, sebagian produk dan pemain lokal pun menunjukkan hal yang sama.

Iklan teve mempengaruhi konsumen Indonesia menjadi hiperrealitas, yang menganggap sesuatu yang maya menjadi nyata, sesuatu yang palsu menjadi benar; isu lebih dipercaya daripada informasi; rumor dianggap lebih benar daripada kebenaran. Dikhawatirkan, pemirsa tidak dapat lagi membedakan kebenaran dengan kepalsuan, dan antara isu dengan realitas.

Kini tiba saatnya melakukan proteksi dari tsunami budaya pembodohan atas nama kebebasan modernitas dengan membangun sebuah sistem informasi baru.

Tuhan Baru,sebuah tinjauan Filsafat




Tuhan Baru (4)
Posted on 08/10/2011 by Muhsin Labib
This entry is part 4 of 4 in the series Tuhan Baru

Tuhan Baru

* Tuhan Baru (1)
* Tuhan Baru (2)
* Tuhan Baru (3)
* Tuhan Baru (4)

Dr. Muhsin Labib



A Matter of a New Philosophy

Dalam sebuah novel spiritual “The Celestine Prophecy” milik James Redfield – yang merupakan novel beraroma New Age, dikatakan bahwa wawasan ketiga adalah masalah energi. Wawasan ketiga ini menggambarkan pemahaman baru atas dunia fisik. Dikatakan bahwa manusia akan belajar menyerap apa yang dulu merupakan energi yang tak terlihat. Banyak ilmuwan menganggap hal semacam ini sebagai hocus pocus, akan tetapi ilmuwan fisika baru tidak menganggapnya demikian.

Seluruh karya hidup Einstein adalah untuk menunjukkan bahwa apa yang kita persepsikan sebagai benda keras kebanyakan merupakan ruang kosong dengan suatu pola energi yang melintasinya. Jika saat ini fisika menuntun kita ke sebuah pandangan dunia yang secara esensia bersifat mistik. Ini berarti bahwa ia telah kembali ke permulaannya pada sekitar dua ribu lima ratus silam. Istilah ‘fisika’ berasal dari kata Yunani ini yang berarti usaha untuk melihat alam yang esensial dari segala hal.

 Ini merupakan tujuan sentral para sufi dan filosofi ajaran milesia yang memiliki pengertian mistik yang kuat. Orang Milesia dijuluki ‘hylozoist’ atau ‘orang-orang yang berpikir bahwa materi adalah hidup’ oleh orang-orang Yunani sesudahnya, karena mereka menganggap bahwa tak ada perbedaan antara yang hidup dan yang mati, antara ruh dan materi. (Fritjof Capra, “Tao of Physics” (Jalasutra, 2001); halaman 6-7).

Lahirnya sains modern didahului dan didampingi oleh satu perkembangan pemikiran filsafat yang mengarah pada sebuah rumusan yang luar biasa tentang dualisme ruh/materi. Rumusan ini muncul di abad ke-17 dalam filsafat Rene Descartes yang mendasarkan pandangannya atas alam dengan pembagian fundamental dua wilayah terpisahkan dan independen, yakni pikiran dan materi.

Dalam pandangan Newton, Tuhan telah mencipta, pada mulanya, partikel-partikel materi, di antaranya energi-energi dan hukum-hukum fundamental tentang gerak. Dengan cara itu, seluruh alam semesta ditata dalam gerak dan ia terus berlangsung hingga kini, seperti sebuah mesin, diatur oleh hukum-hukum yang tak bisa diubah-ubah. Sejak Newton, para fisikawan telah percaya bahwa semua fenomena fisik dapat direduksi menjadi partikel-partikel yang keras dan padat. Akan tetapi ditahun 1920-an, teori kuantum memaksa mereka untuk menerima fakta bahwa objek-objek material padat fisika lenyap pada level subatomik menjadi gelombang-gelombang mirip pola-pola probabilitas.

Werner Heisenberg, salah seorang pendiri teori kuantum mengatakan, “Demikianlah dunia tampak sebagai suatu jaringan rumit peristiwa-peristiwa yang didalamnya hubungan-hubungan dalam jenis-jenis yang berbeda menggantikan atau tumpang tindih atau tergabung dan dengan demikian menentukan tenunan keseluruhan.

Fisika modern, kemudian menggambarkan materi sama sekali bukan sebagai sesuatu yang pasif dan lamban, tapi mewujud dalam tarian yang berkesinambungan dan gerak yang bergetar yang pola-pola ritmisnya ditentukan oleh struktur-struktur molekuler, atom dan nuklir.

 Hal ini juga merupakan cara yang di dalamnya para sufi melihat dunia immateri. Mereka menekankan bahwa alam semesta harus dipahami secara dinamis, karena ia bergerak, bergetar dan menari; bahwa alam tidak berada pada posisi berhenti, tapi dalam titik keseimbangan dinamis.

DNA: Intelligent Design

Anthony Flew, filsuf ateis terkenal, yang mengaku sebagai ateis sejak usia 15 tahun dan selama 54 tahun menjadi profesor di universitas Oxford, universitas Aberdeen, universitas Keele dan universitas Reading, di banyak universitas di America dan Kanada mempertahankan pandangannya. Namun baru-baru ini, Anthony Flew telah mengumumkan bahwa ia telah meninggalkan kekeliruan ini dan menerima bahwa alam semesta telah diciptakan.

Anthony Flew menyadari bahwa asal usul yang sesungguhnya dari kehidupan adalah rancangan cerdas (intelligent design) dan bahwa ateisme yang telah dianut dan dipertahankannya selama 66 tahun adalah filsafat yang telah terbantahkan. Anthony Flew mengemukakan alasan-alasan ilmiah yang mendasari perubahan keyakinan ini dalam ungkapan berikut:

“Berdasarkan tingkat kerumitan yang hampir tak dapat dipercaya dari penataan yang dibutuhkan untuk memunculkan [kehidupan], penelitian para pakar biologi terhadap DNA telah menunjukkan bahwa suatu kecerdasan pastilah telah ikut campur tangan.”

“Sudah terlampau sulit bahkan untuk memulai berpikir tentang membangun sebuah teori alamiah tentang evolusi makhluk hidup pertama yang dapat berkembang biak.”(2)

“Saya telah menjadi yakin bahwa sungguh mustahil makhluk hidup pertama berevolusi dari benda mati dan kemudian berkembang menjadi makhluk yang luar biasa rumitnya. ” (3)

Penelitian DNA yang dikutip Anthony Flew sebagai alasan mendasar perubahan pandangannya telah benar-benar mengungkap fakta-fakta mengejutkan tentang penciptaan. Bentuk heliks (rantai ganda terpilin) dari molekul DNA , kode genetik yang ada padanya, susunan nukleotida yang menggugurkan teori kebetulan, kemampuan menyimpan sejumlah besar informasi, dan banyak penemuan mengejutkan lainnya telah mengungkapkan bahwa struktur dan fungsi-fungsi molekul ini dirancang bagi kehidupan dengan rancangan khusus. 

Ulasan para ilmuwan yang menggeluti penelitian DNA menjadi saksi atas fakta ini. Contohnya adalah Francis Crick, salah seorang ilmuwan yang mengungkap bentuk heliks DNA. Dihadapkan pada penemuan tentang DNA, Francis Crick mengakui bahwa asal usul kehidupan mengisyaratkan sebuah keajaiban:

Berdasarkan perhitungannya, Led Adleman dari Universitas Southern California di Los Angeles mengatakan bahwa satu gram DNA dapat menampung informasi sebanyak satu triliun CD. Gene Myers, seorang ilmuwan yang dipekerjakan pada Human Genome Project (Proyek Genom Manusia), mengatakan hal berikut ini ketika berhadapan dengan penataan menakjubkan DNA yang ia saksikan: “Apa yang sungguh mengejutkan saya adalah arsitektur kehidupan… Sistemnya begitu teramat rumit. Sepertinya hal itu telah dirancang…Ada kecerdasan mahahebat di sana.”

Fakta paling mengejutkan tentang DNA adalah bahwa keberadaan informasi genetik yang terkodekan (berupa sandi) sudah pasti tidak dapat dijelaskan dalam istilah materi dan energi atau hukum-hukum alamiah. Dr. Werner Gitt, profesor di Institut Fisika dan Teknologi Federal Jerman (the German Federal Institute of Physics and Technology), mengatakan berikut ini seputar masalah tersebut:

Sebuah sistem pengkodean (sistem sandi) selalu merupakan hasil dari suatu proses mental… Perlu ditegaskan bahwa materi saja tidak mampu memunculkan kode apa pun. Seluruh pengalaman menunjukkan bahwa dibutuhkan sebuah wujud yang mampu berpikir yang dengan kehendaknya sendiri menggunakan kemauan bebasnya, kemampuan memperoleh pengetahuan, dan kemampuan berkaryanya… Belum pernah ada hukum alamiah yang dengannya materi dapat memunculkan informasi, belum pernah ada pula proses fisika atau fenomena materi yang dapat melakukan hal ini.

Para ilmuwan dan filsuf pendukung penciptaan berperan besar dalam penerimaan perancangan cerdas (intelligent design) oleh Anthony Flew, yang didukung oleh semua penemuan ini. Sebelumnya, Anthony Flew turut serta dalam sejumlah debat dengan para ilmuwan dan filsuf yang mendukung penciptaan, dan saling bertukar pikiran dengan mereka. Titik balik dalam proses tersebut adalah sebuah diskusi yang diselenggarakan oleh Lembaga Penelitian Metasaintifik (the Institute for Metascientific Research) di Texas pada bulan Mei 2003.

 Anthony Flew ikut serta bersama dengan pengarang Roy Abraham Varghese, pakar fisika dan biologi molekuler asal Israel Gerald Schroeder, dan filsuf Katolik Roma John Haldane. Anthony Flew terkesan oleh kuatnya bukti ilmiah yang mendukung penciptaan dan karakter meyakinkan dari argumen-argumen penentangnya, dan menanggalkan ateisme sebagai keyakinan setelah diskusi itu. 

Dalam surat yang ia tulis kepada majalah Inggris, Philosophy Now edisi Agustus-September 2003, ia memuji buku Schroeder “The Hidden Face of God: Science Reveals the Ultimate Truth” (Wajah Tersembunyi Tuhan: Ilmu Pengetahuan Menyingkap Kebenaran Hakiki) dan buku Varghese “The Wonderful World” (Dunia Yang Menakjubkan). (8) Selama wawancara dengan profesor filsafat dan teologi Gary R. Habermas, yang juga berperan besar dalam merubah pandangannya (9), dan dalam video “Has Science Discovered God?” (Sudahkah Ilmu Pengetahuan Menemukan Tuhan?), ia secara terbuka menyatakan bahwa ia percaya pada perancangan cerdas (intelligent design).

Di hadapan seluruh perkembangan ilmiah sebagaimana dipaparkan di atas, pengakuan adanya perancangan cerdas (intelligent design) oleh Anthony Flew, yang terkenal sebagai pembela ateisme selama bertahun-tahun, mencerminkan sebuah pemandangan terakhir dalam proses keruntuhan yang dialami ateisme. Ilmu pengetahuan modern telah menyingkap keberadaan suatu “kecerdasan yang meliputi alam semesta”, yang dengannya menyingkirkan ateisme.

Dalam bukunya “The Hidden Face of God” (Wajah Tersembunyi Tuhan), Gerald Schroeder, salah seorang ilmuwan pendukung penciptaan yang berpengaruh dalam merubah keyakinan Anthony Flew, menulis: “Sebuah kesadaran, kearifan universal, meliputi alam semesta. Penemuan-penemuan ilmu pengetahuan, khususnya yang meneliti sifat quantum dari materi penyusun atom, telah menggiring kita mendekati pemahaman yang mengejutkan: seluruh keberadaan adalah perwujudan dari kearifan ini. 

Di laboratorium-laboratorium, kita mendapatinya sebagai informasi yang pertama-tama secara fisik mewujud sebagai energi dan kemudian terpadatkan hingga menjadi bentuk materi. Setiap partikel, setiap wujud, dari atom hingga manusia, terlihat mewakili satu tingkatan dari informasi, dari kearifan.”

Penelitian ilmiah terhadap cara kerja sel dan partikel-partikel penyusun atom materi telah mengungkap fakta ini tanpa dapat dibantah: Kehidupan dan alam semesta dimunculkan menjadi ada dari ketiadaan oleh kehendak dari suatu wujud yang memiliki kecerdasan dan kearifan yang mahatinggi. Tidak ada keraguan bahwa pemilik pengetahuan dan kecerdasan yang meliputi alam semesta di seluruh tingkatannya adalah Allah Yang Mahakuasa. (Bersambung)

Epistemologi.IV




Epistemologi: Prinsip Badahah, Moyang Semua Pengetahuan Hushuli (4)
Posted on 12/10/2011 by Muhsin Labib
This entry is part 3 of 4 in the series Epistemologi

Epistemologi

* Epistemologi: Prinsip “Hudhur”, Moyang Semua Pengetahuan (2)
* Epistemologi: Ambiguitas Antara “Tahu” dan “Ada” (1)
* Epistemologi: Prinsip Badahah, Moyang Semua Pengetahuan Hushuli (4)
* Epistemologi: Prinsip ‘Badahah’, Moyang Semua Pengetahuan ‘Hushuli’ (3)

Dr. Muhsin Labib

Dr. Muhsin Labib

Dalam pada itu, Muhammad Taqî Misbâh Yazdî melontarkan sejumlah kritik terhadap Positivisme. Pertama, mengikuti kecenderungan tersebut, asas-asas pengetahuan paling kukuh, yaitu “pengetahuan dengan kehadiran” dan proposisi-proposisi yang terbukti secara rasional, lenyap sudah. Dengan demikian, tidak ada lagi argumen intelektual yang dapat diajukan untuk menopang kebenaran pengetahuan dan kesesuaiannnya dengan realitas. Kaum positivis berupaya mendefinisikan kebenaran dengan cara berbeda, yaitu pengetahuan yang dapat diterima pihak lain dan dibuktikan melalui pengalaman indrawi. Tentu saja perubahan terminologi ini tidak memecahkan masalah seputar nilai pengetahuan. Penerimaan atau persetujuan pihak-pihak yang tidak mencermati persoalan juga tidak bernilai dan tak berarti apa-apa.

Kedua, kaum positivis mengandalkan persepsi indrawi yang sebenarnya merupakan titik pengetahuan paling limbung dan rapuh. Lebih dari tipe pengetahuan lainnya, pengetahuan indrawi paling mudah terdistorsi. Mengingat bahwa pengetahuan indrawi pada hakikatnya terjadi dalam sukma manusia, kalangan positivis sesungguhnya telah menutup jalan bagi bukti logis tentang alam eksternal dan kehilangan cara untuk mematahkan keraguan kaum idealis mengenainya.

Ketiga, klaim bahwa konsep-konsep metafisika tidak punya makna, nyata-nyata absurd dan keliru. Bila kosakata yang mengacu pada konsep-konsep itu dianggap omong-kosong, perbedaan antara konsep-konsep itu dan omong-kosong menjadi nihil, sehingga disangkal ataupun tidak, hasilnya tetap sama. Padahal, konsep api sebagai penyebab bahang tidak sama dengan konsep api sebagai akibat bahang. Lebih dari itu, orang yang mengingkari hukum kausalitas niscaya mengerti betul makna hukum itu¾ penyangkal kausalitas sesungguhnya mustahil menganggap kausalitas sebagai omong-kosong tak bermakna.

Keempat, menurut kaum positivis, tidak mungkin menganggap hukum-hukum ilmiah sebagai universal, konstan, dan niscaya, lantaran ketiga ciri itu mustahil dibenarkan secara indrawi. Suatu perkara dapat mereka terima jika dan hanya jika diperoleh lewat pengalaman indrawi (tentunya dengan menutup mata pada kemungkinan menyusupnya kekeliruan dalam persepsi indrawi yang merembesi seluruh perkara lainnya). Jadi, dalam perkara yang tidak dapat dialami secara indrawi, orang seharusnya berdiam diri dan tidak sekali-kali menyangkal atau membenarkannya.

Kelima, kebuntuan utama yang menghadang kaum positivis berkenaan dengan subjek matematika yang (hanya dapat) dijabarkan dan dipecahkan melalui konsep-konsep intelektual, yaitu konsep-konsep yang serupa dengan yang mereka asumsikan sebagai omong-kosong. Padahal, tak ada orang bijak yang nekat memandang proposisi-proposisi matematika sebagai omong-kosong dan tak ilmiah. Karuan saja, sekelompok neo-positivis terpaksa menerima sejenis pengetahuan mental tentang konsep-konsep logika dan berupaya menggabungkan konsep-konsep matematis ke dalamnya. Inilah salah satu penyebab bersengkarutnya konsep-konsep logika dengan konsep-konsep lainnya. Untuk menunjukkan kerancuan mereka, cukup dikatakan bahwa konsep-konsep matematis memiliki sejumlah contoh di alam ekstrenal. Bahasa teknis, atribusi, dan karakterisasi konsep-konsep matematis berlangsung di alam eksternal, sedangkan ciri-khas konsep-konsep logika tidak bersesuaian kecuali dengan konsep-konsep mental lainnya.

Dengan penjelasan itu, Muhammad Taqî Misbâh Yazdî ingin membuktikan bahwa tidak ada jalan untuk membangun sebuah anatomi ilmu yang valid dan dapat dijustifikasi secara logis kecuali rasio yang bermuara pada prinsip al-badahah.

Para filosof Muslim dan ahli logika memaknakan “tanpa pembuktian” yang terdapat diakhir definisi pengetahuan badihi dengan dua pengertian: 1) ‘Tanpa pembuktian’ ialah tanpa “perlu” pembuktian 2) ‘Tanpa pembuktian’ ialah “tidak mungkin” dibuktikan. Dengan demikian, jika pengetahuan assentual badihi hendak dibuktikan (dengan pengetahuan assentual lainnya) niscaya berakhir pada dua implikasi absurd; sirklus dan tasalsul (suksesi). Oleh karena itu, pengetahuan badihi mustahil dibuktikan.

‘Ekstemporalitas’ (al-badahah) berdiri di atas beberapa prinisp. 1) Teori ini membagi rangakaian pengetahuan-pengetahuan manusia menjadi dua. Bagian pertama adalah pengetahuan badihi (ekstemporal, aprior), sedangkan bagian kedua adalah pengetahuan nazhari (non ekstemporal, aposterior); 2) Pengetahuan-pengetahuan badihi terbagi dua. Bagian pertama adalah pengetahuan ekstemporal primer (al-badihiyat al-awwaliyah). Bagian kedua adalah pengetahuan ekstemporal sekunder yang terbagi lima atau enam. Pengetahuan badihi mencakup pengetahuan subjektif dan objektif.; 3) Pengetahuan badihi tidak mengalami kekeliruan. Seandainya pengetahuan badihi bisa salah, padahal ia sumber semua pengetahuan manusia, maka kebenaran semua pengetahuan manusia tidak bisa dipertanggungjawabkan. Konsekuensinya ialah bahwa pengetahuan-pengetahuan manusia bermacam dua; pengetahuan yang bisa keliru, yaitu pengetahuan aposterior (al-kasbiyat) dan pengetahuan yang tidak bisa keliru, yaitu pengetahuan aprior (al-badihiyat).

Selanjutnya, persoalannya beralih pada cara mengidentifikasi badahah. Menurut M. Taqi Fa’ali, Pengetahuan badihi dapat dikenali beradasarkan ciri-ciri khasnya. 1) Pengetahuan-pengetahuan badihi tidak meleset atau keliru; 2) Pengetahuan-pengetahuan badihi secara kuantitatif sedikit, namun memiliki urgensi sangat besar; 3) Pengetahuan-pengetahuan badihi tidak memelukan justifikasi dan pembenaran, bahkan ia merupakan bahan dan alat justifikasi bagi pengetahuan-pengetahuan manusia yang aposterior.

Epistemologi.III




Epistemologi: Prinsip ‘Badahah’, Moyang Semua Pengetahuan ‘Hushuli’ (3)
Posted on 11/10/2011 by Muhsin Labib
This entry is part 4 of 4 in the series Epistemologi

Epistemologi

* Epistemologi: Prinsip “Hudhur”, Moyang Semua Pengetahuan (2)
* Epistemologi: Ambiguitas Antara “Tahu” dan “Ada” (1)
* Epistemologi: Prinsip Badahah, Moyang Semua Pengetahuan Hushuli (4)
* Epistemologi: Prinsip ‘Badahah’, Moyang Semua Pengetahuan ‘Hushuli’ (3)

Dr. Muhsin Labib

Dr. Muhsin Labib

Setelah menjadilkan prinsip “hudhur” sebagai moyang semua pengetahuan, tanpa pengecualian, sebagai konskuensi logis, Epistemologi Islam menegaskan, dengan argumentasi yang mirip, bahwa pengetahuan hushuli mesti berpijak pada prinisp “kegamblangan” (ashl al-badahah).

Menurut Mohammad Taqi Meshbah Yazdi, sebelum memastikan nilai (dan manfaat) akal manusia, segenap praduga yang diajukan sebagai pemecahan aktual atas pelbagai masalah di atas akan menjadi tuna-makna dan tak dapat diterima, lantaran akan selalu menyulut timbulnya pertanyaan yang menyangkut kemampuan akal manusia dalam menyediakan solusi tepat atas pelbagai masalah tersebut.

Peran pengetahuan badihi sangat sublim, karena penolakannya berimplikasi secara negatif terhadap peradaban, sebagaimana dialamai oleh Barat, setelah terjerumus dalam skpetisisme, setelah mengandalkan Positivisme, yang merupakan buah pemikiran Empirisme dan sintesisnya dengan Rasionalisme.

Persis pada titik inilah para tokoh terkenal dari kalangan filosof Barat seperti tokoh Empirisme-Sketisisme, David Hume (1711-1776), figur sintetikus Empirisme-Rasionalisme, Immanuel Kant (1724-1804), kampiun Positivisme, Auguste Comte (1798-1857), dan para pewaris Positivisme setelahnya terjebak blunder. Dengan pandangan-pandangan mereka yang rancu itulah basis-basis kebudayaan masyarakat Barat dibangun. Kalangan ilmuwan, terutama kaum behavioris dalam disiplin psikologi, juga terjerat dalam pandangan-pandangan rancu tersebut—yang disayangkan, gelombang bertubi-tubi dan destruktif dari ajaran-ajaran ini telah meruyak ke berbagai penjuru dunia. Kecuali bangunan filsafat ketuhanan yang menjulang tinggi dengan kekar, stabil, dan kokoh, hampir semua aliran pemikiran tergerus arus Positivisme. Inilah celah besar, ungkap Muhammad Taqî Misbâh Yazdî, untuk memasukkan kembali peran rasio murni sebagai induk pengetahuan, termasuk sains. Menurutnya, tanpa berpusat pada al-badahah, pengetahuan yang selama ini dibanggakan sebagian besar pemikir Barat hanya berujung pada nihilisme, karena terjebak dalam continuum ad infinitum (tasalsul).

Boleh jadi faktor yang mendorong kalangan pemikir untuk bersibuk dengan pokok masalah ini ialah tersingkapnya berbagai kekurangan dan kekeliruan pancaindra dalam mengungkap hakikat kejadian-kejadian eksternal (di luar pikiran). Sikap skeptis pada kemampuan pancaindra, sejauh bukti-bukti literer yang tersedia, pernah didengungkan aliran Eleatik. Aliran ini benar-benar meragukan kemampuan pencerapan indrawi (sensory perception) dan lebih mempercayai penalaran rasional. Namun kemudian, timbul perbedaan di kalangan pemikir menyangkut masalah-masalah rasional dan adanya pertentangan bukti-bukti untuk mendukung dan meneguhkan suatu gagasan dan pandangan. Kondisi ini lantas memberi celah lebar bagi kaum Sophis untuk menolak mentah-mentah semua nilai cerapan rasional. Lebih dari itu, kaum Sophis juga meragukan, bahkan menyangkal, (keberadaan) realitas eksternal.

Sejak itulah, masalah tersebut menjadi bahan perdebatan serius. Jasa Aristoteles mengumpulkan dan merumuskan prinsip-prinsip logika sebagai standar berpikir benar dan menilai kesahihan suatu bukti rasional, terasa sangat besar. Setelah sekian puluh abad, prinsip-prinsip ini masih tetap berguna. Kalangan Marxis yang semula habis-habisan menentangnya, akhirnya mengakui kebutuhan pada bagian tertentu dari logika.

Setelah abad-abad mekarnya filsafat Yunani, timbul kekisruhan dalam menakar nilai pengetahuan indrawi dan rasional manusia. Sedikitnya, dua kali Eropa dilanda krisis Skeptisisme. Baru setelah masa Renaisans (Renaissance) dan perkembangan sains-sains empiris, secara bertahap Empirisme diterima oleh kalangan yang lebih luas. Sampai dewasa ini, Empirisme tetap menjadi aliran paling dominan, meski dari waktu ke waktu, muncul sejumlah pemikir rasionalis kawakan untuk menggugatnya.

Penyelidikan sistematis pertama dalam bidang epistemologi dilakukan oleh Gottfried Wilhelm Leibniz (1646-1716) di dataran Eropa dan John Locke (1632-1704) di Inggris. Dengan cara itulah, epistemologi menjadi salah satu cabang filsafat yang bersifat otonom. Hasil-hasil penyelidikan Locke lalu dimanfaatkan para penerusnya, yakni George Berkeley (1685-1753) dan David Hume. Empirisme kedua filosof ini menemukan momentum kemasyhuran luar biasa dan berangsur-angsur memperlemah posisi kalangan rasionalis sedemikian, sehingga Kant yang rasionalis sekalipun, menjadi sangat terpengaruh dan “terbangun dari tidur dogmatisnya” oleh ide-ide Hume.

Kant berpendapat bahwa tugas filsafat yang paling penting ialah mengukur nilai pengetahuan manusia dan bahwa akal mampu memikul tugas tersebut. Akan tetapi, ia mengakui nilai kesimpulan-kesimpulan akal teoretis hanya berada di sekitar lingkaran sains empiris, matematika, dan bidang-bidang yang menjadi cabang semua ilmu tersebut. Dengan demikian, satu pukulan berat dari kalangan rasionalis ditujukan pada metafisika Hume, seorang figur Empirisme terpandang. Jauh sebelum itu, pukulan yang mematikan telah dilancarkan pada metafisika, yang kemudian dilanjutkan dalam intensitas yang lebih serius oleh kalangan positivis. Dengan demikian, jelas sudah, besarnya pengaruh epistemologi terhadap segenap ilmu pengetahuan, sekaligus penyebab terjadinya involusi filsafat Barat.

Muhammad Taqî Misbâh Yazdî menanggapi Positivisme dengan menyatakan bahwa sebagian besar pemikir Barat menampik ide-ide universal. Jadi, wajar saja bila mereka tidak mengakui kemampuan yang dengannya ide-ide itu dicerap, yakni ‘intelek’ atau ‘akal’. Kaum positivis zaman ini tidak hanya mengembangkan selera yang sama, melainkan justru bertindak lebih jauh. Mereka berpendapat bahwa fungsi persepsi hanya terbatas pada persepsi indrawi, yang dihasilkan dari sentuhan pancaindra dengan fenomena bendawi.

Setelah terputusnya persentuhan dengan alam eksternal (material), persepsi itu akan bertahan dalam kadar yang lebih lemah. Kaum positivis percaya bahwa manusia merajut sejumlah simbol verbal untuk objek-objek persepsi yang sama. Ketika berbicara atau berpikir, alih-alih menghadirkan kembali seluruh kasus yang serupa, manusia cenderung menggunakan simbol-simbol verbalnya. Dan sebetulnya, kegiatan berpikir mirip dengan percakapan mental. Jadi, menurut kalangan positivis, apa yang disebut para filosof sebagai ide-ide universal itu sejatinya tidak lain dari kosakata mental. Jika kosakata ini dapat secara langsung mewakili objek-objek persepsi indrawi dan contoh-contohnya mampu dicerap pancaindra, barulah dapat dianggap bermakna dan dapat diversifikasi. Dan semua itu sebelumnya hanyalah kata-kata tuna-makna (meaningless).

Kenyataannya, kaum positivis hanya menerima sebagian konsep ke-mahiyyah-an (whatish concept). Itupun hanya sebatas kosakata mental yang maknanya merujuk pada contoh-contoh partikular indrawi. Adapaun berkenaan dengan objek-objek kawruhan sekunder, terlebih konsep-konsep metafisika, mereka menganggapnya sebagai kata-kata mental yang tidak bermakna secuil pun. Atas dasar ini, kaum positivis memandang wacana-wacana metafisika mutlak bersifat tidak ilmiah dan tuna-makna.

Di lain sisi, kaum positivis membatasi pengalaman hanya pada ihwal indrawi (sensory), dan sama sekali mencapak pengalaman-pengalaman batin (inner experiences) yang diperoleh melalui “pengetahuan dengan kehadiran” (knowledge by presence). Setidak-tidaknya, pengalaman-pengalaman itu dianggap tidak ilmiah, lantaran “ilmiah” itu sendiri menurut mereka hanya dapat diterapkan pada perkara-perkara yang dapat dibuktikan pihak lain melalui pancaindra. (Bersambung)

Epistemologi.II





Epistemologi: Prinsip “Hudhur”, Moyang Semua Pengetahuan (2)
Posted on 10/10/2011 by Muhsin Labib
This entry is part 1 of 4 in the series Epistemologi

Epistemologi

* Epistemologi: Prinsip “Hudhur”, Moyang Semua Pengetahuan (2)
* Epistemologi: Ambiguitas Antara “Tahu” dan “Ada” (1)
* Epistemologi: Prinsip Badahah, Moyang Semua Pengetahuan Hushuli (4)
* Epistemologi: Prinsip ‘Badahah’, Moyang Semua Pengetahuan ‘Hushuli’ (3)

Dr. Muhsin Labib

Dr. Muhsin Labib

Alfabet eipstemologi Islam dimulai dari “prinsip kehadiran” (ashalat al-hudhur). Tanpa itu, agnosisme dan skpetisisme serta relativisme (dalam pengetahuan) menjadi nasib yang tak terelakkan.

Ilmu hudhûrî telah dikenal sebagai salah satu ciri khas filsafat Islam. Sejak awal kali diketengahkan oleh al-Farabi dan Ibnu Sina dan Surhawardî. Yang berperan penting dalam pengembangan jenis ilmu ini adalah Mollâ Shadrâ.

Pada era pasca Molla Sahdra, ilmu hudhûrî yang terus dikaji akhirnya didefiniskan secara beragam. Paling tidak, ada enam definisi untuk ilmu huduri , di samping tentunya definisi yang ia ajukan sendiri. Dan hingga kini, menurut Hasan Moallemi, definisi yang diberikan Mohammad Taqî Meshbah Yazdî lebih diterima dan menjadi postulat kajian-kajian seputar ilmu hudhûrî.

Epistemologi Sadrian melandaskan hierarki pengetahuan pada prinsip hudhûr (kehadiran), sebagai infrasturkur yang menjamin tidak meniscayakan akibat tasalsul (continuum ad infinitum). Epistemologi metafisis ini menegaskan bahwa pengetahuan setiap orang tentang dirinya sebagai maujud pelaku persepsi adalah pengetahuan yang tak dapat disangkal. ‘Aku’ dan ego yang melakukan pencerapan dan pemikiran, yang dengan penyaksian batinnya (شهود / syuhûd) sadar akan dirinya sendiri, tanpa sarana pengindraan, percobaan, (perolehan) bentuk-bentuk ataupun konsep-konsep mental. Dengan kata lain, diri itu sendiri adalah pengetahuan. Dan dalam pengetahuan serta kesadaran ini, pengetahuan dan subjek dan objek sama sekali tidak dapat dipilah-pilah. Seperti telah disebutkan sebelumnya, ‘kemanunggalan subjek dan objek pengetahuan’ adalah instanta (instance / mishdâq) paling sempurna dari ‘kehadiran objek pengetahuan pada subjek pengetahu’.

Saking validnya, pengetahuan ini merupakan sesuatu yang tidak bisa dianalisis dan diuraikan (dalam konsep-konsep), tidak seperti proposisi ‘aku adalah…(i am)’ atau ‘aku ada (i exist)’ yang tersusun dari dua konsep (aku + ada), karena ia mendahului konsep apapun.

Dengan demikian, pengertian ‘pengetahuan tentang diri sendiri’ ialah kesadaran yang bersifat intuitif ( وجدانيّة ), sederhana dan langsung tentang jiwa (atau ruh) kita sendiri. Pengetahuan dan kesadaran ini merupakan peri keadaan esensial jiwa.

Terhadap keraguan tentang akurasi pengetahuan hushûlî, Mohammad Taqî Meshbâh Yazdî mengakui bahwa sebelum bentuk dan kosep terbukti benar-benar sesuai dengan objek yang dipersepsi, kepastian akan kesahihan persepsi tidak akan pernah didapatkan. Tetapi, menurutnya, dalam hal objek atau sesuatu yang dipersepsi hadir tanpa perantaraan atau bahkan manunggal dengan eksistensi pelaku persepsi, kekeliruan tidaklah dapat dibayangkan. Artinya, pertanyaan apakah pengetahuan subjek telah sesuai dengan objek yang diketahui, tidaklah relevan karena dalam kasus ini subjek pengetahuan identik dengan objek yang diketahui.

Dengan paparan itu, Mohammad Taqî Meshbâh Yazdî ingin menjawab mengapa dan bagaimana sebagian pengetahuan hushuli mengalami kekeliruan. Umpamanya, ada orang merasa lapar dan menyangka bahwa dia memerlukan makanan, padahal selera makan itu sebetulnya tidak nyata dan dia tidak memerlukan makanan. Menurutnya, hal demikian terjadi lantaran rasa tertentu yang ditangkapnya melalui pengetahuan hudhûrî yang tidak mungkin keliru itu telah diikuti dengan tafsiran mental yang membandingkan rasa tersebut dengan beberapa rasa terdahulu yang diduga berasal dari kebutuhan pada makanan. Hanya saja, perbandingan itu ternyata tidak benar dan karenanya muncul kekeliruan yang bermula dari tafsiran mental atas penyebab rasa tersebut.

Meski mengganggap tidak mungkin salah, Mohammad Taqî Meshbâh Yazdî menganggap pengetahuan hudhûrî tidaklah seragam. Hal itu karena ia memperlakukan pengetahuan hudhûrî sebagai maujud. Berdasarkan prinsip tasykîk al-wujûd yang diterimanya, Mohammad Taqî Meshbâh Yazdî tidak menolak gradulitas pengetahuan hudhûrî, yang berarti ia juga mempunyai tingkat kelemahan dan kedahsyatan (syiddah wa dhu`f) yang bervariasi. Ia mencontohkannya orang sakit yang menderita dan mempersepsi rasa sakitnya melalui pengetahuan (hudhûrî) melihat temannya dan mengalihkan perhatiannya pada si teman, maka persepsinya akan rasa sakit itu akan membuyar. Menurutnya, penyebab rendahnya derajat pengetahuan hudhûrî adalah kurangnya perhatian. Sebaliknya, dalam kesendirian, terutama di malam hari manakala tidak ada lagi objek yang dapat diperhatikannya, sakit itu akan terasa lebih dahsyat. Sebab dari kedahsyatan rasa sakit itu tiada lain daripada perhatiannya yang utuh.

Perbedaan derajat pengetahuan hudhûrî bisa berdampak pada tafsiran-tafsiran mental yang terkait dengannya. Umpamanya, meskipun sangat rendah, manusia selalu mengetahui hudhûrî tentang jatidirinya. Hanya saja, akibat rendahnya derajat pengetahuan hudhûrî tentang diri itu, orang sering membayangkan bahwa jatidirinya identik dengan tubuhnya. Ujung-ujungnya, ia akan menyimpulkan bahwa hakikat dirinya tak lebih dari tubuh dan gejala-gejala material yang membalutnya. Namun, seiring peningkatan derajat pengetahuan hudhuri dan penyempurnaan substansi dirinya, kekeliruan semacam itu berkurang bahkan tidak lagi terjadi. (Bersambung)

Antara Perbuatan baik dan Amal Saleh


Antara Perbuatan baik dan Amal Saleh
Posted on 06/10/2011 by Muhsin Labib


Antara Perbuatan baik dan Amal SalehSegala hal yang berhubungan dengan perbuatan tidak bisa dilepaskan dari tauhid. Sedangkan tauhid itu sendiri bukan hanya suatu keyakinan yang ada dalam benak, wacana, atau yang berupa konsep-konsep yang tertanam dalam pikiran tapi tauhid itu adalah totalitas keyakinan sekaligus perbuatan.

Seseorang tidak bisa dinilai bertauhid hanya dari keyakinannya saja. Bagaimana caranya menilai seseorang telah bertauhid atau tidak, apa alat yang bisa mengukur keyakinan? Tanpa implementasi atau pembuktian secara aktual maka orang tidak bisa dinilai bertauhid atau tidak karena itulah aspek aktualisasi perbuatan menjadi tolok ukur yang sangat penting. Inilah yang sering kita katakan iman dan amal. Dalam teks suci Al Quran dua kata itu hampir tidak bisa terpisahkan.

Iman dari aspek rasional adalah Tauhid. Kalau ingin ditelusuri lebih jauh maka konsep keyakinan-keyakinan lain adalah buah dari Tauhid. Tauhid adalah salah satu unsur utama dalam iman. Lalu apa iman itu? iman adalah produk dari dua unsur utama yaitu keyakinan yang dihasilkan dari penalaran yang falid atau rasionalitas dan keterikatan emosional atau cinta. Tanpa dua hal ini iman tak terwujud.

Bila kita hanya memiliki salah satu, misal keterikatan rasional maka kita hanya memiliki pengetahuan. Karena itu tidak semua orang yang memiliki kemampuan argumentasi tentang Tuhan atau pengetahuan tentang Tuhan memiliki iman. Sebaliknya, bila kita hanya memiliki keterikatan emosional tanpa didasari keterikatan rasional maka yang terjadi adalah hubungan “cinta tapi tidak kenal” padahal cinta adalah hasil dari kenal. Karena itu ada istilah “tak kenal maka tak sayang”.

Bila seseorang ingin mencintai Nabi maka dia harus punya konsep rasional tentang kenabian. Konsep rasional selalu berhubungan dengan “apa” sedangkan konsep emosional berbungan dengan “siapa”. Karena itu, setelah terpuaskan secara rasional tentang konsep kenabian maka langkah berikutnya adalah cinta kepada sang Nabi. Bila dua hal itu telah bergabung maka buah berikutnya yang muncul adalah ketaatan. Allah berfirman, “kalau kau cinta kepada Allah maka ikuti Aku.” Buah dari cinta adalah mengikuti.

Konsep rasional selalu berhubungan dengan ‘apa’ sedangkan konsep emosional berbungan dengan ‘siapa’ – Dr. Muhsin Labib

Cinta juga menghadirkan benci. Tentu saja benci kepada yang bertentangan. Dalam Al Quran disebutkan orang-orang yang beriman itu sekaligus kufur kepada toghut. Jadi orang yang mencintai Allah pasti benci kepada yang bertentangan kepada Allah. Sebaliknya, orang yang kufur kepada Allah pasti beriman kepada toghut.

Setelah Iman, unsur yang kedua yaitu amal. Apa fungsi amal? Yaitu sebagai pembuktian rasionalitas dan cinta. Amal juga bisa dikatakan ketaatan. Amal itu artinya perbuatan atau aksi. Karena itu orang yang tidak melakukan amal disebut pasifitas. Semua hal pasifitas adalah keburukan, mengapa? Karena tidak ada aksi. Dalam filsafat Islam, perbuatan buruk itu berarti tidak berbuat. Keburukan sendiri berarti ketiadaan. Jadi kalau Anda tidak berbuat baik maka Anda berbuat keburukan.

Pertanyaannya, apakah sama perbuatan baik dan amal saleh? Sebab jika hanya perbuatan baik kita sering melihat orang-orang nonmuslim atau bahkan yang tidak beragama melakukan perbuatan baik yang jauh lebih besar. Mereka bekerja menjadi relawan-relawan kemanusian di peperangan, pemberantasan kemiskinan, dan di tempat-tempat lain. Sebaliknya, umat Muslim terlihat individualis dan mementingkan diri sendiri. Disinilah muncul dilema. Apakah mereka yang berbuat baik itu dan berguna bagi orang lain itu dianggap sia-sia dan tidak ada nilainya.

Di dalam Al Quran yang ditekankan adalah amal saleh bukan perbuatan baik. Sekarang kita lihat apakah perbuatan baik orang yang tidak beriman seperti menolong orang lain yang didasarkan pada kasihan, iba, ingin menghilangkan rasa bersalah, melepaskan beban diri, itu bisa dianggap amal saleh? Itu tidak dianggap amal saleh. Perbuatan baik orang yang tidak beriman itu hanya berimplikasi pada apresiasi orang, agar orang mengingat jasanya, hilangnya rasa bersalah, ketentraman, penilaian orang lain, atau bahkan sebagai investasi.

Perbuatan baik itu memiliki tingkatan hewani dan insani. Rasa iba dan kasihan ada dalam tingkatan hewani. Buaya melindungi anaknya dengan mempertaruhkan nyawanya. Karena itu bila seorang ayah memberi makan anaknya bukan hal luar biasa. Sedangkan dalam level insani manusia memiliki rasa kemanusiaan. Dalam diri manusia bila dia tidak membantu orang lain maka dirinya akan terganggu; dia merasa tertekan, depresi, stress dan sebagainya. Karena itu perbuatan baik muncul didasari dari kepentingan dirinya sendiri (ego). Dengan kata lain setiap manusia ingin menyenangkan dirinya sendiri. Itulah alasan manusia berbuat baik.

Hal ini berbeda dengan orang yang menolong orang lain yang didasarkan pada iman, cinta, dan ketaatan kepada Allah. Ia melakukan perbuatan menolong di luar dari rasa kasihan, iba, dan rasa bersalah yang bersandar pada kepentingan pribadi melainkan dari perintah Allah. Orang itu mentaati Allah dengan mengeluarkan hartanya. Ia taat atas risalah yang mengatakan bahwa di dalam hartamu ada hak orang lain. Jadi, amal saleh adalah semua perbuatan baik yang didasarkan pada iman.

Rasulullah bersabda, “Jangan kau gugurkan pahala-pahala sedekah karena kau mengintimidasi, membuat malu, membuat tidak nyaman, orang yang kau berikan sedekah.” Itu artinya, orang yang beramal saleh itu tidak meminta imbalan atau menganggapnya investasi yang bisa diminta kembali bila suatu saat berada dalam keadaan yang sama. Karena itu pula dianjurkan agar orang beriman itu tidak mengungkit-ungkit dan segera melupakan perbuatan baiknya.

Menyerahkan zakat, khumus, infak, sedekah adalah amal saleh karena perbuatan ini dilandasi iman. Orang-orang yang mengeluarkan hartanya dengan cara tersebut sudah meyakini bahwa harta itu bukan miliknya.

Selanjutnya, amal saleh akan lebih bermakna apabila dilakukan terorganisir. Karena itu pemberian zakat, khumus, infak, dan sedekah kepada lembaga amil sangatlah penting untuk melegitimasi perbuatan baik menjadi amal saleh.

Pemberian harta yang disalurkan kepada lembaga Amil berfungsi meminimalisasi pamrih atau riya. Hal ini disebabkan pemberi tidak mengetahui kepada siapa uang itu disalurkan. Sebaliknya, si penerima juga tidak tahu siapa yang memberikan. Dengan begitu, si penerima terhindar dari rasa malu. Inilah arti penting lembaga amil yaitu menjamin keikhlasan dan menghormati si penerima.

Karena itu lembaga amil bukanlah lembaga penerima sumbangan tapi lembaga yang bekerja untuk mengorganisir penyaluran harta. Lembaga ini hanya sekadar membantu agar penyaluran harta tidak salah. Agar pula hak dan kewajiban pemberi tidak lenyap. Sebab bila si pemberi itu salah memberikan harta maka dia tetap punya tanggungan untuk menyerahkan kepada yang berhak. Dan apabila sampai batas waktu yang ditentukan tidak dikeluarkan maka orang tersebut dianggap memakan harta orang lain. Orang beriman harus terimakasih atas kehadiran lembaga amil karena telah membantu membebaskan tanggung jawabnya.

Bagi si pemberi, jangan sekali-kali menganggap pemberian harta kepada lembaga amil adalah sumbangan karena harta itu memang hak orang lain. Dan bagi lembaga, ketika diberikan uang tidak perlu mengucapkan terimakasih karena uang itu adalah harta yang memang harus disalurkan kepada orang yang berhak.

Merdekalah!!!!,dari negeri anda sendiri






Prolog oleh Direktur Moderate Institute
Dr. Muhsin Labib

Dr. Muhsin Labib

Assalamu’alaikum dan Salam Sejahtera,

Menghapus kemiskinan adalah utopia yang menafikan dialetika natural. “Menolak perbedaan dan keragaman adalah fantasi patalogis yang menabrak fakta kemajemukan. Menuntut kebebasan (baca: liberalisme) adalah ekspresi naluri hewani yang meliburkan logika. Melenyapkan kejahatan adalah pengingkaran terhadap realitas gradasi kosmik. Yang realistis dan proporsional dan moderat adalah menegakkan sistem berpikir, sistem berprilaku dan sistem berinteraksi yang menyeimbangkan nilai kebenaran dan keuntungan dalam harmoni yang selaras, dan memancang hukum yang melampaui pemimpin dan rakyat, mengungguli semua kekuatan artifisial dan formal.

Namun fakta historis, terutama dalam ranah politik, menunjukkan ketakselarasan dan ekstremitas yang laten karena dominasi paradigma keuntungan dan kandasnya paradigma kebenaran. “Logika episteme” menjadi bahan cemooh karena sering kali mentautkan solusi dengan narasi transenden dan moralitas. Ikhtisarnya, selalu saja yang tampil di atas nama suara Tuhan (baca: demokrasi yang bergerak diatas angka-angka uang) atas adalah ekstremis yang dimenangkan karena tunduk pada “logika kepentingan”. Ekstermitas inilah yang telah menghancurkan bangsa yang semestinya mampu menjadi salah satu pionir perabadan yang santun karena berdiri di atas sentra peradaban Atlantis.

Terlalu banyak polemik yang membisingkan dan membingungkan. Terlalu banyak kritik dan kontra kritik yang beradu. Terlalu banyak wacana dan gagasan yang berserakan. Semuanya terlihat benar, tapi semuanya tidak mampu mengatasi masalah. Pemimpin demi pemimpin dengan hiruk pikuk pesona beriring ekspetasi yang menyertai, tampil silih berganti, namun ternyata di sudut-sudut negeri yang sekarat ini, berteriak era reformasi hanyalah fase pergantian maling, dari satu maling ke banyak maling.

Moderate Institute, adalah lembaga yang beridiri atas inisiatif tulus orang-orang yang mewakili beragam disiplin ilmu dan strata sosial untuk memberikan kontribusi di luar anatomi politik yang telah tercemari oleh pragmatisme dan individualisme.

Lembaga ini tidak berpretensi untuk menambah beban bangsa dengan janji-janji yang hanya menjadi tiket untuk meraih kursi-kursi empuk dan makan gaji buta dari pajak dan hasil alam Bumi Pertiwi yang sedang merintih sakit ini.

Lembaga ini menawarkan Pandangan Dunia yang berdiri di atas prinsip kesadaran epistemologis, ontologis, teologis, kosmologis dan antropologis yang telah ditransformasikan dalam pandangan-pandangan yang diharapkan mampu menyeimbangkan semangat internasionalisme, nasionalisme dan pencerahan holistik. Kami menyebutnya “The Midlle Path” dan “Bright Mind”.

Tentu, konsep yang ditawarkan oleh lembaga ini masih layak untuk disempurnakan melalui kajian dan diskusi yang intens.

Selamat bergabung dalam Circle ini! Ambil dan berikan bagian Anda di sini, di Moderate Institute…

Merdekalah!

Minggu, 09 Oktober 2011

Mewaspadai teologi Horor







Mewaspadai ‘Teologi Horor’ (1)
Posted on 27/09/2011 by Muhsin Labib
This entry is part 1 of 3 in the series Mewaspadai ‘Teologi Horor’

Mewaspadai ‘Teologi Horor’


* Mewaspadai ‘Teologi Horor’ (1)
* Mewaspadai ‘Teologi Horor’ (2)
* Mewaspadai ‘Teologi Horor’ (3)

Dr. Muhsin Labib

Dr. Muhsin Labib

Air mata kita yang mengalir, karena meratapi tragedi tsunami di Aceh gempa di Nias belum juga mengering, tiba-tiba kita dikejutkan oleh sebuah peritiwa peledakan di Poso yang menewaskan lebih dari 20 orang dan melukai lainnya. Berbagai macam reaksi dan kecaman muncul. Seperti biasanya, peristiwa yang terjadi di sebuah pasar yang berdekatan dengan rumah ibadah itupun dikaitkan dengan konflik SARA yang beberapa bulan lalu sempat mencekam kawasan itu. Jelas, aksi teror ini jelas dilakukan oleh musuh semua agama atau paling tidak dilakukan orang yang mengatasnamakan agama secara sadar atau tidak. Syukurlah, semua pemuka agama berinisiatif untuk mengecamnya dan membersihkan agamanya masing-masing dari vandalisme ini. Setelah dikejutkan oleh kekerasaan terhadap kelompok yang berbeda agama, beberapa waktu lalu, kita dikejutkan lagi oleh aksi kekerasan terhadap kelompok minoritas dalam Islam, Ahmadiyah di Parung, Depok. Peristiwa ini sungguh menyesakkan dada. Sungguh ironis, di negara yang menjadikan demokrasi sebagai sistem yang menjamin kekebebasan berpendapat dan beragama, malah terjadi pemaksaan pandangan keagamaan tertentu terhadap anggota masyarakat lain yang berbeda agama maupun aliran. Tentu, fenomena ini menimbulkan kegelisahan dan kekhawatiran di kalangan minoritas agama dan minoritas aliran dalam setiap agama, terutama Islam.

Meski demikian, tak pelak lagi-lagi tema ‘kekerasan atas nama agama’ mencuat ke permukaan. Mungkin sudah banyak analisis yang dikemukakan oleh para ahli tentang kekerasan, namun hampir semuanya menolak kaitan kekerasan dengan teologi. Penulis berusaha untuk menyingkap relasi kekerasan dengan skripturalisme dalam tubuh Islam untuk dijadikan sebagai sebuah hipotesa sederhana.

Pengertian, Cara dan Tujuannya

Sosiolog dan kriminolog terkenal asal Norwegia, Johan Galtung, mendefiniskan ‘kekerasan’ sebagai “serangan atau penyalahgunaan fisik terhadap seseorang atau binatang; atau serangan, penghancuran, perusakan yang sangat keras, kasar, kejam, dan ganas atas milik atau sesuatu yang secara potensial dapat menjadi milik seseorang” .

Menurutnya, kekerasan meliputi semua bentuk tindakan yang dapat menghalangi seseorang untuk “merealisasikan potensi diri-nya” (self-realization) dan “mengembangkan pribadinya”(personal growth), yang merupakan jenis hak dan nilai manusia yang paling asasi.

Secara umum, dari bentuk dan karakter para pelakunya, kekerasan dapat dibagi ke sejumlah dimensi, antara lain:

1. Kekerasan fisiologis (fisikal), yaitu agresi terhadap sasaran fisik demi mematuhi pemimpin, atau karena perspesi yang diyakini sebagai mulia, seperti pengemboman yang mengakibatkan tewas, luka dan kerusakan bangunan serta sarana umum. Tujuannya ada kalanya bersifat psikologis, seperti balas dendam, fisiologis seperti pembakaran hutan karena akan dijadikan lahan kembali, dan ada kalanya bersifat, dan ada kalanya bersifat idealogis bahkan teologis, seperti terikat baiat, menguji kepatuhan kepada pemimpin yang diagungkan dan sebagainya.
2. Kekerasan psikologis, yaitu agresi terhadap jiwa dan mental sasaran demi balas dendam dan lainnya, seperti ancaman via telepon, surat kaleng, penyekapan dan sebagainya yang menimbulkan trauma, kepanikan dan ketakutan. Tujuannya juga bisa psikilogis, seperti balas dendam, bisa bersifat fisiologis seperti mendapatkan imbalan harta, dan bisa pula bersifat ideologis dan teologis seperti kepatuhan atau keterikatan pada sebuah baiat yang telah disakralkan dan dipastikan sebagai ‘satu-satunya jalan yang benar’
3. Kekerasan intelektual, yaitu agresi dengan menggunakan argument, retorika dan analisis, seperti konspirasi, pembunuhan karakter dan pengaburan fakta melalui retorika, menacari celah-celah hukum bagi penjahat, rekayasa dan pembentukan opini tandingan dengan sarana media dan sebagainya. Tujuannnya juga bervariasi, kadang fisiologis, kadang psikologis dan kadang –bahkan sering- bersifat ideologis dan teologis.
4. Kekerasan teologis-keagamaan, yaitu agresi terhadap sasaran tertentu dengan pembenaran agama atau mazhab demi mencapai tujuan yang diyakini sebagai sebuah ‘kepatuhan’, pendangkalan arti jihad, amar makruf, perang suci, penyesatan terhadap kelompok agama tertentu melalui provokasi selebaran atau dari mulut ke mulut yang bertujuan mendiskerditkan kelompok agama dan mazhab tertentu berdasarkan pemahaman sepihak terhadap dalil dan teks tertentu.
5. Kekerasan ekonomi, yaitu tindakan pengahancuran terhadap sasaran plural bahkan tidak tertentu dengan menggunakan cara korupsi, penyuapan, nepotisme, tender palsu, pemerasan, kolusi, monopoli, dan sebagainya Biasanya tujuannya bersifat fisiolois (baca: harta).
6. Kekerasan kriminial, yaitu agresi yang telah dapat dikenai sanksi undang-undang dan hokum postif, seperti pemerkosaan terhadap aktivitas illegal oleh aparat kotor, penggunaan psikotropika, perampokan, pengoplosan minyak solar dan sebagainya. Ada kalanya tujuan pelakunya bersifat psikologis, meski kadang pula tujuannya bersifat akumulatif dan kolektif.
7. Kekerasan politik, yaitu agresi terhadap orang atau kelompok lain demi mecapai tujuan kekuasaan dan demi mempertahankan kekuasaan, seperti pembodohan dengan janji-janji palsu melalui kampanye, mengalihkan perhatian masyarakat dari sebuah skandal korupsi, memonopoli interpterasi undang-undang, menyuap agar diloloskan sebagai kandidat bupati, dan sebagainya.

Sasaran-sasaran Kekerasan

Dalam artikel lainnya yang lebih mutahir, Galtung membedakan delapan jenis tindak kekerasan berdasarkan objek-objeknya yang berbeda-beda:

1. Kekerasan terhadap alam yang ia sebut sebagai ecological crimes;
2. Kekerasan terhadap diri sendiri, seperti stres, bunuh diri, alkoholisme dan sejenisnya;
3. Kekerasan terhadap keluarga, seperti “child abuse” dan “woman abuse”, yang dilakukan melalui pengungkapan fisik maupun verbal;
4. Kekerasan terhadap individu, seperti pencurian, perampokan, pemerkosaan dan pembunuhan;
5. Kekerasan terhadap organisasi yang dalam pengungkapannya dapat berupa korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan;
6. Kekerasan terhadap kelompok, meliputi berbagai bentuk kekerasan antar kelompok, antar kelas dan antar bangsa;
7. Kekerasan terhadap masyarakat, berupa perang dan penindasan antar bangsa atau negara;
8. Kekerasan terhadap dunia lain, berupa kekerasan antar planet.

Galtung memasukkan kekerasan ketiga sampai keenam, dalam sistem pencatatan dan pelaporan nasional, dikenal sebagai tindak kejahatan.

Kekerasan yang lebih keji adalah yang tidak memilih sasaran tertentu, karena yang menjadi sasaran utama bukanlah korban yang tewas atau yang terluka, namun pihak lain yang akan terganggu oleh jatuhnya korban. Umumnya, pelaku telah didoktrinasi bahwa ‘perjuangan akan memakan korban’ yang dijadikan sebagai justifikasi. Karena itu, peledakan di rumah ibadah, pasar dan tempat umum atau penyanderaan warga sipil tergolong kekerasan yang acak dan tidak dapat dideteksi oleh aparat intelejen, apalagi tidak didukung dengan SDM yang handal dan fasilitas yang memadai.

Pelaku dan Sumber Kekerasan

Lalu, darimanakah datangnya kekerasan? Filosof Thomas Hobbes melihat kekerasan sebagai produk dari “keadaan alamiah” manusia sebagai “homo homini lupus”. Ia mengungkapkan bahwa manusia berkarakter srigala. Sedangkan Jean Jaques Rousseau yang melihat kekerasan tersembunyi dalam rantai peradaban manusia. Peradaban inilah yang membentuknya menjadi binatang saling menyerang sesamanya. Mulla Sadra membagi manusia dalam tiga dimensi; ruh sebagai entitas abstrak yang tidak memiliki kekurangan, jiwa sebagai entitas semi material dan immaterial yang berposisi interval dengan sifatnya yang fluktuatif, dan raga sebagai entitas material murni yang memiliki segala kecenderungan-kecenderungan bendawi. Bila jiwa mengikuti sistem raga, maka, ia akan mencari kesenangan, kenyaman, kebabasan dan kerakusan sebagai tujuan kesempurnaannya. Namun, bila jiwa mengikuti sistem ruh, maka ia akan mencari kebenaran, kebaikan, kepatutan, keindahan dan kesempurnaan. (bersambung)

Epistimologi Ambiguitas by DR.Muhsin Labib







Epistemologi: Ambiguitas Antara “Tahu” dan “Ada” (1)


Posted on 09/10/2011 by Muhsin Labib
This entry is part 1 of 1 in the series Epistemologi


Epistemologi

* Epistemologi: Ambiguitas Antara “Tahu” dan “Ada” (1)

Dr. Muhsin Labib

Dr. Muhsin Labib

Pengetahuan menjadi penting untuk dibicarakan, karena ia adalah gerbang semua keyakinan, teori dan pendapat serta pikiran dalam benak kita Karenanya, uraian singkat tentang epistemologi sangat diperlukan. Sedemikian pentingnya “tahu” sehingga pemahaman tentang Tuhan pun mesti melewati gerbangnya

Apakah ‘tahu itu? Apakah pengetahuan itu? Apakah subjek pengetahu itu? Apakah objek yang diketahui itu? Berapakah macam pengetahuan? Apakah alat pengetahuan itu? Mungkinkah manusia memperoleh pengetahuan? Bagaimana membedakan antara pengetahuan yang benar dan tidak benar? Apa hubungan antara pengetahuan yang benar dan keyakinan? Pertanyaan-pertanyaan ini sangat perlu untuk dijawab.

Pertama-tama, istilah “pengetahuan” yang digunakan dalam konteks ini bersifat umum, bukan hanya terbatas pada pengetahuan yang kini lebih sering disebut dengan “ilmu pengetahuan” dan “sain”, namun “knowledge” dan “ma’rifah”.

Jika seseorang mengklaim “tahu” atau “berpengetahuan” dan berkata: “Saya tahu bahwa besok hujan akan turun’, maka syarat-syarat apakah yang semestinya telah dipenuhinya, sehingga kita dapat menganggapnya berhak mengaku dirinya berpengetahuan atau mengetahui?

Salah satu keunggulan epistemologi adalah ke-badîhî-annya. Epistemologi tidak perlu meminjam aksioma-aksioma luar untuk semua pokok bahasannya, karena semuanya dapat dijelaskan semata-mata dengan landasan-landasan asasi yang swanyata (self-evident atau البديهيّات الاوّليّة / badîhiyyât awwaliyyah).

Bila segenap solusi atas masalah-masalah ontologi dan ilmu-ilmu lain yang dicapai melalui metode-metode rasional bergantung pada kesanggupan akal untuk itu, maka bukankah itu berarti bahwa filsafat pertama (metafisika) juga membutuhkan epistemologi untuk menyediakan aksioma-aksioma dasar bagi filsafat, padahal sebelumnya dikatakan bahwa filsafat (ontologi) tidak membutuhkan pada ilmu lain, sebagaimana disepakati dalam tradisi filsafat Hawzah? Ia memberikan jawaban sebagai berikut.

Pertama, premis-premis yang secara langsung dibutuhkan oleh metafisika sesunggunya merupakan penyataan-pernyataan swabukti (self-evident) yang sama sekali tidak memerlukan dalil baru. Semua wacana yang tertera mengenainya dalam logika dan filsafat sebetulnya lebih merupakan ulasan ketimbang pembuktian, yakni berfungsi untuk menggugah perhatian kita pada kebenaran yang dapat ditangkap oleh akal manusia tanpa pembuktian sedikitpun. Alasan untuk membahas penyataan-pernyataan semacam ini dalam ilmu-ilmu tertentu tidak lain karena adanya pelbagai miskonsepsi yang pada gilirannya menjadi keraguan-keraguan seperti dalam kasus prinsip kemustahilan kontradiksi. Miskonsepsi seputar kemustahilan kontradiksi telah menggiring sebagian untuk tidak saja mengkhayalkannya sebagai suatu hal yang mungkin adanya, melainkan menganggapnya sebagai gejala dalam semua kejadian!

Keragu-raguan tentang nilai pengetahuan rasional pada dasarnya berasal dari kesalah-pahaman serupa. Dan untuk membongkar keragu-raguan dan menepis kesalahpahaman tersebut kita mesti mendiskusikannya. Tindakan memasukkan penyataan-pernyataan swabukti dalam pembahasan logika dan epistemologi pada hakikatnya merupakan sebentuk penyimpangan, ikut-ikutan dan tenggang rasa kepada kelompok yang mengidap kebimbangan. Soalnya, apabila ada orang yang benar-benar tidak menerima nilai pengetahuan rasional, meskipun tanpa sadar, bagaimana mungkin kita beradu nalar dengannya melalui pembuktian rasional?! Padahal, toh argumen-argumen yang mereka ajukan untuk membangkitkan keragu-raguan itupun sebetulnya juga berwatak rasional.

Kedua, kebutuhan filsafat pada prinsip-prinsip logika dan epistemologi pada dasarnya untuk melipatgandakan pengetahuan, atau secara teknis disebut “penerapan pengetahuan untuk menambah pengetahuan”, bukan untuk meneguhkan kebenaran dan validitasnya. Orang yang belum teracuni oleh keragu-raguan mengenai nilai pengetahuan rasional bisa bernalar (to reason) untuk mencapai kesimpulan tentang hampir semua hal, tanpa sadar bahwa penalarannya telah sesuai dengan prinsip-prinsip logika atau cocok dengan bentuk pertama dari silogisme Aristotelian dan syarat-syarat yang mengaturnya. Orang inipun belum tentu tahu akan adanya akal yang berfungsi mengenali premis-premis dan menerima validitas kesimpulan yang membuntutinya.

Pada sisi lain, sebagian orang yang mau menolak rasionalisme dan metafisika bisa saja menggunakan penalaran tanpa menyadari bahwa dia telah menggunakan sejumlah premis rasional dalam metafisika. Dan ada pula orang yang mau menolak kaidah-kaidah logika (rules of logic) dengan bersandar pula pada kaidah-kaidah logika. Bahkan, ada juga yang secara gegabah dan tanpa sadar mementahkan prinsip non-kontradiksi dengan menggunakan prinsip non-kontradiksi. Dan apabila kepada orang-orang dungu ini kita katakan, “penalaran anda ini sekaligus sahih dan tidak sahih”, maka mereka segera saja akan tersinggung dan merasa tercemooh.

Menurut Muhammad Taqi Mishbah Yazdi, kebergantungan penalaran filosofis pada prinsip-prinsip logika dan epistemologi sesungguhnya berbeda dengan kebergantungan sains lain pada prinsip-prinsip utamanya. Soalnya, kebergantungan penalaran filosofis pada prinsip-prinsip logika hanya bersifat sekunder, persis dengan kebergantungan prinsip-prinsip sains pada sains itu sendiri. Yakni, kebutuhan dalam rangka rekonfirmasi atas konfirmasi (kebenaran) hukum-hukum dan prinsip-prinsip yang mengantur di atasnya. Hal itu mirip dengan contoh proposisi-proposisi swabukti (self-evident propositions) yang membutuhkan pada prinsip kemustahilan kontradiksi. Sungguh jelas, kebergantungan proposisi-proposisi swabukti pada prinsip non-kontradiksi tidak sama dengan pola kebergantungan proposisi-proposisi nazhariyyah (speculative propositions) pada proposisi-proposisi swabukti. Bila tidak demikian, hilanglah perbedaan antara proposisi-proposisi swabukti dan proposisi-proposisi duga-sangka. Jadi, paling kurang kita mesti menerima satu proposisi swabukti sebagai nyata-nyata swabukti, yaitu prinsip non-kontradiksi. 1

Dalam skema filsafat Mullâ Shadrâ, epsitemologi tidak berdiri sejajar dengan ontologi. Malah, epistemologi cenderung diperlakukan sebagai “sisipan” ontologi yang tak punya otonomi dan independensi sama sekali. Epistemologi, paling tidak, hanya diposisikan sebagai salah satu akses atau jalan masuk ke dalam misteri ada (ontos)—yang selanjutnya tidak memiliki fungsi apa-apa. 2

Aroma epistemologi Mullâ Shadrâ sebenarnya ada dalam pandangan-pandangan Muhammad Taqî Misbâh Yazdî. Pengetahuan billa diperlakukan sebagai entitas (maujud), maka ia merupakan bagian dari ontologi, dan karenanya ia tidak perlu dipisahkan.

Mullâ Shadrâ mula-mula memperlakukan ilmu sebagai sebuah entitas atau maujud sehinga ‘mengetahui’ bukan transfer data dari objek ke subjek melalui sensasi (ihsâs), melainkan bersatunya objek dan subjek dengan modus “berpindahnya sesuatu kepada sesuatu yang lain”. 3

Namun, Muhammad Taqî Misbâh Yazdî seakan menyadari kesulitan yang akan dihadapi tatakala seseorang tidak mungkin serta merta memasuki ranah ontologi (ada) tanpa melalui ‘tahu’, meski nantinya ‘tahu’ ternyata, bila dianalisis secara eksistensial, meruipakan bagianb dari mujarradât. Karena itu, Muhammad Taqî Mishbâh Yazdî rela berbeda dengan Mullâ Shadrâ dan Thabâthabâ’î dengan tetap memulai pembahasan filsafat dari pengetahuan (al-`ilm) sebelum `al- wujûd.

Muhammad Taqî Misbâh Yazdî mendukung pendapat Mullâ Hadi Sabzawari yang menolak definisi Mullâ Shadrâ tentang al-‘ilm sebagai hudhur mujarradin ladâ mujjarad entitas abstrak pada diri entitas abstrak lain). Karena, menurutnya, pengetahuan sesuatu yang memiliki esksistensi termulia (Tuhan) mampu mengenali entitas-entitas non-abstrak secara langsung, tanpa medium entitas-entitas abstrak lainnya. 4

Penolakan ini juga secara implisit diekspresikan melalui penyusunan bab-bab pembahasan dalam buku Âmûzesy-e Falsafeh. Karyanya itu dimulai dengan pembahasan khusus epistemologi. Ini dapat diartikan bahwa ia lebih mendahulukan ‘tahu’ ketimbang ‘ada’.

Terbukti, pengetahuan hadir dalam epistemologi juga hadir dalam ontologi. Ilmu (hushûli) menjadi tema epistemologi karena Muhammad Taqî Misbâh Yazdî menganggap ‘tahu’ mendahului ‘ada’, namun ilmu juga masuk dalam tema ontologi karena Muhammad Taqî Misbâh Yazdî menganggap ilmu (hudhûrî) sebagai maujud abstrak.

Ketidaktegasan Muhammad Taqî Misbâh Yazdî mengambil posisi sebagai peripatetis-rasionalis atau transendentalis membuatnya memasukkan pengetahuan dalam dua epistemologi dan ontologi.. Padahal epsietmologi dikhususkan sebagai bidang yang membahas pengetahuan dan tema-tema konsep lainnya.Wallahu a’lam. (Bersambung)

Catatan Kaki:

1. Muhammad Taqî Mishbâh Yazdî, Âmûzesy-e Falsafe ↩
2. Lalu Martin Heidegger (1889-1976) membalikkan lagi arah perjalanan filsafat kepada ontologi yang dibedakan dengan onto-teologi (ontologi semu yang sebenarnya adalah teologi implisit Kristiani). Justru epistemologi, dalam terang ontologi fundamental (lawan dari ontologi tradisional) yang dirumuskan Heidegger, cenderung menjadi rezim pengetahuan yang menangkap lalu memasung, mengosongkan, dan mereduksi “ada” yang kongkrit, riil, dan timbul-tenggelam sepanjang sejarah. Sebelum semua persoalan “tahu” (epistemologi) dikemukakan, kata Heidegger, semestinya penyelidikan difokuskan lebih dulu pada “ada” yang mengajukan persoalan itu sendiri. Eksistensi yang diposisikan Kant sebagai subordinat esensi manusia, justru dipandang Heidegger sebagai esensi manusia itu sendiri lewat diktumnya “esensi da sein terletak pada eksistensinya” (bdk. Martin Heidegger, Sein und Zeit, Max Niemeyer, Tubingen; 1953, paragraph 9, hal. 42). Alhasil, menurut hemat penulis, pada mulanya filsafat Islam tidak mengenal pencabangan ini, setidaknya sampai abad ke-19. Baru belakangan ini, akibat interaksi yang semakin intensif dengan pemikiran Barat dan mulai banyaknya peminat filsafat Islam yang dididik dalam tradisi filsafat Barat, beberapa pemikir menerapkannya dalam dikursus dan sejarah filsafat Islam. ↩
3. Mullâ Shadrâ, al-Asfâr al-Arba’ah, vol. 6, hal. 151, Beirut: Dar at-Turats al-Arabi, 1981. M. Fana’ee Eshkevari, Elm-e Huzhuri, hal 19, Qum: The Imam Khomeini Education and Research Institute, hal.21. ↩
4. Mullâ Shadrâ, al-Asfâr al-Arba’ah, vol. 3, hal. 285. ↩

kata kata hikmah Imam Ali




"Hai dunia, hai dunia! Menjauhlah dari ku. Mengapa engkau datang kepada ku? Adakah engkau sangat mengnginkan ku? Engkau tak mungkin mendapat kesempatan untuk mempesona ku. Tipulah orang lain. Aku tak ada urusan dengan mu. Aku telah menceraikan mu tiga kali, yang sesudahnya tak ada rujuk lagi. Kehidupan mu singkat, kepentingan mu kecil, kegemaran mu sederhana, Sayang! Bekal sedikit, jalan panjang, perjalanan jauh, dan tujuan sukar dicapai" (Imam Ali)

"Apabila anda diberi hormat, balaslah dengan hormat yang lebih baik. Apabila tangan bantuan diulurkan kepada anda, buatlah kebaikan yang lebih baik sebagai balasan, kendatipun keutamaannya tetap berada pada si pemula" (Imam Ali)

"Kekayaan adalah sumber hawa nafsu" (Imam Ali)

"Jika seseorangan beramal karena Allah, mata hatinya terbuka lebar. Jika engkau waspada terhadap hatimu dan tidak mengizinkan selain Allah di dalamnya, maka engkau akan dapat melihat apa yang orang lain tidak dapat melihatnya dan mendengar apa-apa yang orang lain tidak dapat mendengarnya"

"Sesungguhnya atas setiap perkara kebaikan ada hakekatnya, dan adalam setiap masalah yang benar, ada cahaya" (Imam Ali)

"Aku kuatir pada zaman, rodanya menggilas iman. Keyakinan hanya tinggal pemikiran yg tak berbekas dlm perbuatan. Banyak org baik tapi tak berakal, ada yg berakal tp tak beriman. Ada lidah fasih tp berhati lalai, ada yg khusyuk namun sibuk dlm kesendirian. Ada ahli ibadah tp mewarisi ke sombongan iblis. Ada ahli maksiat rendah hati bagaikan sufi. Ada yg bnyk tertawa hingga hatinya berkarat, ada y...g bnyk menangis krn kufur nikmat. Ada yg murah senyum tp hatinya mengumpat, ada yg berhati tulus tp wajahnya cemberut. Ada yg berlisan bijak tp tak memberi teladan. Ada pelacur yg tampil jadi figur. Ada org punya ilmu tp tak paham, ada yg paham tp tak menjalankan. Ada yg pintar tp membodohi, ada yg bodoh tak tahu diri. Ada yg beragama tp tak berakhlak, ada yg berakhlak tp tak ber Tuhan

Sabtu, 08 Oktober 2011

Tradisi ROBO,fenomena Pontianak


Sejarah Robo-Robo

Awal diperingatinya Robo-robo ini sendiri, bermula dengan kedatangan rombongan Opu Daeng Manambon dan Putri Kesumba yang merupakan cucu Panembahan Mempawah kala itu yakni, Panembahan Senggaok yang merupakan keturunan Raja Patih Gumantar dari Kerajaan Bangkule Rajangk Mempawah pada tahun 1148 Hijriah atau 1737 Masehi.

Masuknya Opu Daeng Manambon dan istrinya Putri Kesumba ke Mempawah, bermaksud menerima kekuasaan dari Panembahan Putri Cermin kepada Putri Kesumba yang bergelar Ratu Agung Sinuhun bersama suaminya, Opu Daeng Manambon yang selanjutnya bergelar Pangeran Mas Surya Negara sebagai pejabat raja dalam Kerajaan Bangkule Rajangk.

Berlayarnya Opu Daeng Manambon dari Kerajaan Matan Sukadana (Kabupaten Ketapang) diiringi sekitar 40 perahu. Saat masuk di Muara Kuala Mempawah, rombongan disambut dengan suka cita oleh masyarakat Mempawah. Penyambutan itu dilakukan dengan memasang berbagai kertas dan kain warna warni di rumah-rumah penduduk yang berada di pinggir sungai. Bahkan, beberapa warga pun menyongsong masuknya Opu Daeng Manambon ke Sungai Mempawah dengan menggunakan sampan.

Terharu karena melihat sambutan rakyat Mempawah yang cukup meriah, Opu Daeng Manambon pun memberikan bekal makanannya kepada warga yang berada di pinggir sungai untuk dapat dinikmati mereka juga. Karena saat kedatangannya bertepatan dengan hari Minggu terakhir bulan Syafar, lantas rombongan tersebut menyempatkan diri turun di Kuala Mempawah. Selanjutnya Opu Daeng Manambon yang merupakan keturunan dari Kerajaan Luwu Sulawesi Selatan, berdoa bersama dengan warga yang menyambutnya, mohon keselamatan kepada Allah agar dijauhkan dari bala dan petaka. Usai melakukan doa, kemudian dilanjutkan dengan makan bersama. Prosesi itulah yang kemudian dijadikan sebagai awal digelarnya hari Robo-robo, yang saban tahun rutin dilakukan warga Mempawah, dengan melakukan makan di luar rumah bersama sanak saudara dan tetangga.

Bagi sebagian masyarakat di beberapa daerah di Indonesia, bulan Safar diyakini sebagai bulan naas dan sial. Sang Pencipta dipercayai menurunkan berbagai malapetaka pada bulan Safar. Oleh sebab itu, masyarakat yang meyakininya akan menggelar ritual khusus agar terhindar dari “kemurkaan” bulan Safar. Ritual tersebut juga dimaksudkan sebagai penghormatan terhadap arwah leluhur.

Namun pandangan di atas berbeda dengan pandangan masyarakat Kota Mempawah yang menganggap bulan Safar sebagai “bulan keberkahan” dan kedatangannya senantiasa dinanti-nantikan. Karena pada bulan Safar terjadi peristiwa penting yang sangat besar artinya bagi masyarakat Kota Mempawah hingga saat ini. Peristiwa penting tersebut kemudian diperingati dengan menggelar Ritual Robo-robo.

Dinamakan Robo-robo karena ritual ini digelar setiap hari Rabu terakhir bulan Safar menurut penanggalan Hijriah. Tujuan digelarnya ritual ini adalah untuk memperingati kedatangan dan/atau napak tilas perjalanan Opu Daeng Menambon yang bergelar Pangeran Mas Surya Negara dari Kerajaan Matan, Martapura, Kabupaten Ketapang, ke Kerajaan Mempawah, Kabupaten Pontianak, pada tahun 1737 M/1448 H.

Opu Daeng Menambon adalah putra ketiga Opu Daeng Rilekke yang terkenal sebagai pelaut handal dan gemar sekali melakukan perjalanan ke berbagai daerah di Nusantara bersama dengan anak-anaknya. Opu Daeng Rilekke sendiri adalah putra ketiga Sultan La Madusalat dari Kesultanan Luwuk, Bone, Sulawesi Selatan, yang telah menjadi Kesultanan Islam sejak tahun 1398 M. Opu Daeng Menambon beserta keluarganya pindah dari Kerajaan Matan ke Kerajaan Mempawah atas permintaan Panembahan Senggauk, Raja Mempawah waktu itu. Setelah Panembahan Senggauk mangkat, Opu Daeng Menambon naik tahta. Beliau berkuasa di sana sekitar 26 tahun, yakni dari tahun 1740 M sampai beliau wafat pada tahun 1766 M.

Keistimewaan

Sebagai sebuah peristiwa budaya, Ritual Robo-robo sarat dengan simbol-simbol yang mengandung nilai-nilai historis dan kultural. Ritual Robo-robo merupakan napak tilas kedatangan Opu Daeng Menambon beserta pengikutnya dari Kerajaan Matan ke Kerajaan Mempawah yang konon menggunakan 40 Perahu Bidar. Kedatangan Opu Daeng Menambon beserta pengikutnya ini menjadi cikal-bakal masuk dan berkembangnya agama Islam ke Kota Mempawah. Perlahan-lahan, proses islamisasi pun terjadi dan puncaknya adalah beralihnya Kerajaan Mempawah yang semula beragama Hindu menjadi kerajaan bercorak Islam.

Pengumandangan azan dan pembacaan doa yang dilakukan oleh Pemangku Adat Istana Amantubillah sebelum dimulainya Ritual Buang-buang menandakan bahwa dalam prosesi Ritual Robo-robo juga terdapat nilai-nilai religius. Sesajennya yang terdiri dari beras kuning, bertih, dan setanggi pun sarat dengan makna-makna tertentu. Nasi kuning dan bertih melambangkan kemakmuran dan kesejahteraan, sedangkan setanggi mengandung makna keberkahan. Dalam Ritual Buang-buang tidak semata-mata penghormatan dan pengakuan terhadap keberadaan sungai dan laut sebagai salah satu sumber penghidupan masyarakat, tapi juga tersirat keinginan untuk hidup selaras dengan alam sekitar.

Ritual ini biasanya dimulai selepas shalat Zuhur, di mana raja Istana Amantubillah beserta para petinggi istana bertolak dari Desa Benteng menggunakan Perahu Lancang Kuning dan Perahu Bidar. Perahu Lancang Kuning khusus digunakan oleh raja, sedangkan Perahu Bidar diperuntukan bagi petinggi istana. Mereka akan berlayar selama satu jam menuju muara Kuala/Sungai Mempawah yang terletak di Desa Kuala Mempawah, Kabupaten Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat. Sesampainya di muara Sungai Mempawah, seorang kerabat istana yang menjabat Pemangku Adat mengumandangkan azan dan membaca doa talak bala (talak balak). Kemudian dilanjutkan dengan Ritual Buang-buang, yaitu melempar sesajen ke Sungai Mempawah. Setelah itu, raja beserta para petinggi istana merapat ke tepi Sungai Mempawah untuk bersiap-siap melaksanakan Makan Saprahan di halaman depan Istana Amantubillah. Gambaran di atas merupakan sebagian dari rangkaian prosesi Ritual Robo-robo.

Kebersamaan dan silaturahmi antarberbagai elemen masyarakat adalah nilai-nilai lain yang terkandung dalam prosesi Ritual Robo-robo. Hal ini, misalnya, terlihat pada kegiatan Makan Saprahan. Makan Saprahan adalah makan bersama-sama di halaman depan Istana Amantubillah menggunakan baki atau talam. Setiap baki/talam (saprah) yang berisi nasi dan lauk biasanya diperuntukan bagi empat atau lima orang. Dalam Makan Saprahan keakraban terjalin, suasana mencair, dan sekat-sekat melebur jadi satu. Pada saat makan, tidak lagi dipersoalkan status, agama, dan asal-usul seseorang.

Hal lain yang tak kalah menariknya dalam Ritual Robo-robo adalah dihidangkannya berbagai masakan khas istana dan daerah setempat yang mungkin tidak lagi populer di tengah-tengah masyarakat, seperti lauk opor ayam putih, sambal serai udang, selada timun, ikan masak asam pedas, dan sop ayam putih. Sebagai penganan pencuci mulut disuguhkan kue sangon, kue jorong, bingke ubi, putuh buloh, dan pisang raja. Sementara untuk minumnya, disediakan air serbat yang berkhasiat memulihkan stamina.

Untuk memeriahkan Ritual Robo-robo, biasanya ditampilkan aneka hiburan tradisional masyarakat setempat, seperti tundang (pantun berdendang), japin, dan lomba perahu bidar.

Lokasi

Lokasi prosesi Ritual Robo-robo tersebar di beberapa tempat di Kota Mempawah, seperti di muara Sungai Mempawah di Desa Kuala Mempawah, Istana Amantubillah dan Kompleks Pemakaman Sultan-sultan Mempawah di Kelurahan Pulau Pedalaman, serta Makam Opu Daeng Menambon di Sebukit Rama, Kabupaten Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat, Indonesia.

Akses

Kota Mempawah berjarak sekitar 67 kilometer di sebelah utara Kota Pontianak, ibukota Provinsi Kalimantan Barat. Dari Bandara Supadio atau Terminal Bus Pontianak, turis dapat naik taksi, travel, dan bus sampai Kota Mempawah, ibukota Kabupaten Pontianak. Dari Kota Mempawah, Muara Sungai Mempawah berjarak sekitar 10 kilometer. Turis dapat mengaksesnya dengan menggunakan bus atau minibus.

Harga Tiket

Pelancong yang ingin menyaksikan Ritual Robo-robo tidak dipungut biaya.

Akomodasi dan Fasilitas Lainnya

Bagi wisatawan dari luar kota dan ingin menyaksikan prosesi Ritual Robo-robo secara keseluruhan, dapat menginap di hotel dan wisma yang banyak terdapat di sekitar lokasi Ritual Robo-robo.

Di kawasan tersebut juga terdapat toko, rumah makan, dan warung yang menyediakan berbagai kebutuhan wisatawan, seperti makanan, minuman, dan isi ulang pulsa.

Berbagai fasilitas lainnya, seperti masjid, kios wartel, bank, dan ATM, juga tersedia di sini. (fd/cp

Pontianak,Kota Khatulistiwa


(Sultan Kesultanan pontianak,Syarif abubakar Alqadrie,dalam suatu kesempatan)



Kota Pontianak



Kota Pontianak

Motto: Pontianak Kota Bersinar
Lokasi Kota Pontianak di Pulau Kalimantan
Kota Pontianak terletak di Indonesia

Kota Pontianak
Lokasi Kota Pontianak di Pulau Kalimantan
Koordinat: 0°0′N 109°20′E / 0°LU 109.333°BT / 0; 109.333
Negara Indonesia
Hari jadi 23 Oktober 1771
Pemerintahan
- Walikota H. Sutarmidji, M.Hum.
- DAU Rp. 454.002.216.000,- (2011)[1]
Luas
- Total 107,82 km2
Populasi (2010)
- Total 550.304
- Kepadatan 5.104/km²
Kode telepon +62 561
SNI 7657:2010 PTK
Kecamatan 6
Desa/kelurahan 29
Situs web http://www.pontianakkota.go.id/

Kota Pontianak adalah ibu kota Provinsi Kalimantan Barat di Indonesia. Kota ini juga dikenal dengan nama 坤甸 (Pinyin: Kūndiān) oleh etnis Tionghoa di Pontianak.

Kota ini terkenal sebagai Kota Khatulistiwa karena dilalui garis lintang nol derajat bumi. Di utara kota ini, tepatnya Siantan, terdapat monumen atau Tugu Khatulistiwa yang dibangun pada tempat yang tepat dilalui garis lintang nol derajat bumi. Selain itu Kota Pontianak juga dilalui Sungai Kapuas yang adalah sungai terpanjang di Indonesia. Sungai Kapuas membelah kota Pontianak, simbolnya diabadikan sebagai lambang Kota Pontianak.


Asal nama

Nama Pontianak dipercaya ada kaitannya dengan kisah sejarah awalnya, Syarif Abdurrahman yang sering diganggu oleh hantu Kuntilanak ketika beliau menyusuri Sungai Kapuas sepanjang 1100 kilometer, sungai terpanjang di Indonesia. Menurut ceritanya, Syarif Abdurrahman terpaksa melepaskan tembakan meriam untuk mengusir hantu itu sekaligus menandakan dimana meriam itu jatuh, maka disanalah wilayah kesultanannya didirikan. Peluru meriam itu jatuh melewati simpang tiga Sungai Kapuas dan Sungai Landak yang kini lebih dikenal dengan Beting Kampung Dalam Bugis Pontianak Timur atau kota Pontianak.[2]
Sejarah
Masa pendirian

!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Kesultanan Pontianak

Kota Pontianak didirikan oleh Syarif Abdurrahman Alkadrie pada hari Rabu, 23 Oktober 1771 (14 Radjab 1185 H) yang ditandai dengan membuka hutan di persimpangan tiga Sungai Landak, Sungai Kapuas Kecil dan Sungai Kapuas untuk mendirikan balai dan rumah sebagai tempat tinggal. Pada tahun 1192 H, Syarif Abdurrahman dikukuhkan menjadi Sultan pada Kesultanan Pontianak. Letak pusat pemerintahan ditandai dengan berdirinya Mesjid Jami' Sultan Abdurrahman Alkadrie dan Keraton Kadariah yang sekarang terletak di Kelurahan Dalam Bugis Kecamatan Pontianak Timur.[3]
[sunting] Sejarah pendirian menurut VJ. Verth

Sejarah pendirian kota Pontianak yang dituliskan oleh seorang sejarawan Belanda, VJ. Verth dalam bukunya Borneos Wester Afdeling, yang isinya sedikit berbeda dari versi cerita yang beredar di kalangan masyarakat saat ini.

Menurutnya, Belanda mulai masuk ke Pontianak tahun 1194 Hijriah (1773 Masehi) dari Betawi. Verth menulis bahwa Syarif Abdurrahman, putra ulama Syarif Hussein bin Ahmed Alqadrie (atau dalam versi lain disebut sebagai Al Habib Husin), setelah meninggalkan kerajaan Mempawah dan mulai merantau. Di wilayah Banjarmasin ia menikah dengan adik sultan. Ia berhasil dalam perniagaan dan mengumpulkan cukup modal untuk mempersenjatai kapal pencalang dan perahu lancangnya, kemudian ia mulai melakukan perlawanan terhadap penjajahan Belanda.

Dengan bantuan Sultan Pasir, Syarif Abdurrahman kemudian berhasil membajak kapal Belanda di dekat Bangka, juga kapal Inggris dan Perancis di Pelabuhan Passir. Abdurrahman menjadi seorang kaya dan kemudian mencoba mendirikan pemukiman di sebuah pulau di sungai Kapuas. Ia menemukan percabangan sungai Landak dan kemudian mengembangkan daerah itu menjadi pusat perdagangan yang makmur dan Pontianak

Kolonialisme Belanda dan Jepang


Pada tahun 1778 kolonialis Belanda dari Batavia memasuki Pontianak dengan dipimpin oleh Willem Ardinpola. Kolonial Belanda saat itu dan menempati daerah di seberang keraton kesultanan yang kini dikenal dengan daerah Tanah Seribu atau Verkendepaal.[3]

Pada tanggal 5 Juli 1779 Belanda membuat perjanjian dengan Sultan mengenai penduduk Tanah Seribu agar dapat dijadikan daerah kegiatan bangsa Belanda yang kemudian menjadi kedudukan pemerintahan Resident het Hoofd Westeraffieling van Borneo (Kepala Daerah Keresidenan Borneo lstana Kadariah Barat) dan Asistent Resident het Hoofd der Affleeling van Pontianak (Asistent Resident Kepala Daerah Kabupaten Pontianak). Area ini selanjutnya menjadi Controleur het Hoofd Onderafdeeling van Pontianak atau Hoofd Plaatselijk Bestuur van Pontianak.[3]

Assistent Resident het Hoofd der Afdeeling van Pontianak (semacam Bupati Pontianak) mendirikan Plaatselijk Fonds. Badan ini mengelola eigendom atau kekayaan Pemerintah dan mengurus dana pajak. Plaatselijk Fonds kemudian berganti nama menjadi Shintjo pada masa kependudukan Jepang di Pontianak.[3]
[sunting] Masa Stadsgemeente

Berdasarkan besluit Pemerintah Kerajaan Pontianak tanggal 14 Agustus 1946 No. 24/1/1940 PK yang disahkan menetapkan status Pontianak sebagai stadsgemeente. R. Soepardan ditunjuk menjadi syahkota atau pemimpin kota saat itu. Jabatan Soepardan berakhir pada awal tahun 1948 dan kemudian digantikan oleh Ads. Hidayat.[3]
[sunting] Masa Pemerintahan Kota

Pembentukan stadsgerneente bersifat sementara, maka Besluit Pemerintah Kerajaan Pontianak diubah dan digantikan dengan Undang-undang Pemerintah Kerajaan Pontianak tanggal 16 September 1949 No. 40/1949/KP. Dalam undang-undang ini disebut Peraturan Pemerintah Pontianak dan membentuk Pemerintah kota Pontianak, sedangkan perwakilan rakyat disebut Dewan Perwakilan Penduduk Kota Pontianak. Walikota pertama ditetapkan oleh Pemerintah Kerajaan Pontianak adalah Rohana Muthalib.[3]
[sunting] Masa Kota Praja

Sesuai dengan perkembangan tata pemerintahan, maka dengan Undang-undang Darurat Nomor 3 Tahun 1953, bentuk Pemerintahan Landschap Gemeente, ditingkatkan menjadi kota praja Pontianak. Pada masa ini urusan pemerintahan terdiri dari Urusan Pemerintahan Umum dan Urusan Pemerintahan Daerah.[3]
[sunting] Masa Kotamadya dan Kota

Pemerintah Kota Praja Pontianak diubah dengan berdasarkan Undang-undang No. 1 Tahun 1957, Penetapan Presiden No.6 Tahun 1959 dan Penetapan Presiden No.5 Tahun 1960, Instruksi Menteri Dalam Negeri No.9 Tahun 1964 dan Undang-undang No. 18 Tahun 1965, maka berdasarkan Surat Keputusan DPRD-GR Kota Praja Pontianak No. 021/KPTS/DPRD-GR/65 tanggal 31 Desember 1965, nama Kota Praja Pontianak diganti menjadi Kotamadya Pontianak, kemudian dengan Undang-undang No.5 Tahun 1974, nama Kotamadya Pontianak berubah menjadi Kotamadya Daerah Tingkat II Pontianak.[3]

Berdasarkan Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah di Daerah mengubah sebutan untuk Pemerintah Tingkat II Pontianak menjadi sebutan Pemerintah Kota Pontianak, sebutan kota Potianak diubah kemudian menjadi Kota Pontianak.[3]
[sunting] Pemerintahan

Kota Pontianak dipimpin oleh seorang walikota. Hingga kini Kota Pontianak pernah dipimpin oleh:
No. Nama Status Wilayah Tahun Pemerintahan
1 R. Soepardan Syahkota Pontianak 1947-1948
2 Ads. Hidayat Burgemester Pontianak 1948-1950
3 Ny. Rohana Muthalib Burgemester Pontianak 1950-1953
4 Soemartoyo Kotapraja 1953-1957
5 A. Muis Amin Kotapraja/Kotamadya Pontianak 1957-1967
6 Siswoyo Kotamadya Pontianak 1967-1973
7 Muhammad Barir, S.H. Kotamadya Daerah Tingkat II Pontianak 1973-1978
8 T.B. Hisny Halir Kotamadya Daerah Tingkat II Pontianak 1978-1983
9 H. A. Majid Hasan Kotamadya Daerah Tingkat II Pontianak 1983-1993
10 R.A. Siregar, S.Sos. Kotamadya Daerah Tingkat II Pontianak 1993-1999
11 dr. H. Buchary Abdurrachman Kota Pontianak 1999-2008
12 H. Sutarmidji, S.H., M.Hum. Kota Pontianak 2008-2013
Geografi dan pembagian administratif
Pembagian administratif Kota Pontianak

Kota Pontianak terletak pada Lintasan garis Khatulistiwa dengan ketinggian berkisar antara 0,10 meter sampai 1,50 meter diatas permukaan laut. Kota dipisahkan oleh Sungai Kapuas Besar, Sungai Kapuas Kecil dan Sungai Landak. Dengan demikian Kota Pontianak terbagi atas tiga belahan.

Struktur tanah kota merupakan lapisan tanah gambut bekas endapan Lumpur Sungai Kapuas. Lapisan tanah liat baru dicapai pada kedalaman 2,4 meter dari permukaan laut. Kota Pontianak termasuk beriklim tropis dengan suhu tinggi (28-32 °C dan siang hari 30 °C).

Rata–rata kelembaban nisbi dalam daerah Kota Pontianak maksimum 99,58% dan minimum 53% dengan rata–rata penyinaran matahari minimum 53% dan maksimum 73%.[4]

Besarnya curah hujan di Kota Pontianak berkisar antara 3000-4000 mm per tahun. Curah hujan terbesar (bulan basah) jatuh pada bulan Mei dan Oktober, sedangkan curah hujan terkecil (bulan kering) jatuh pada bulan Juli. Jumlah hari hujan rata-rata per bulan berkisar 15 hari.[4]

Secara administratif, kota Pontianak dibagi atas beberapa kecamatan, yaitu: Pontianak Selatan, Pontianak Timur, Pontianak Barat, Pontianak Utara, Pontianak Kota dan Pontianak Tenggara.
[sunting] Kependudukan

Jumlah penduduk tetap Kota Pontianak tahun 2006 hasil Proyeksi yang menggunakan data Survey Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) tahun 2006 dan Sensus Penduduk tahun 2000 berjumlah 510.687 jiwa, terdiri dari penduduk laki-laki 256.750 jiwa dan penduduk perempuan 253.937 jiwa.

Sedangkan dari hasil Sensus Penduduk tahun 2010 penduduk kota Pontianak berjumlah 550.304 jiwa. Suku bangsa penduduk Kota Pontianak terdiri dari Dayak, Tionghoa, Melayu, Bugis, Suku Jawa, Suku Madura dan lainnya. Sebagian besar penduduk memeluk agama Islam (65%), Buddha dan kepercayaan Kong Hu Cu (2,8%), Protestan (4%), Katolik (24%), Hindu (0,4%) dan lainnya[rujukan?].

Penduduk sebagian besar memahami bahasa Indonesia dan bahasa ibu masing-masing yakni bahasa Melayu, bahasa Tiociu, bahasa Khek dan berbagai variasi bahasa Dayak.
[sunting] Ekonomi
Tanaman lidah buaya yang kini gencar diproduksi di Kota Pontianak
Matahari Mal, mal pertama di Kota Pontianak

Sebagian besar perekonomian kota Pontianak bertumpu pada industri, pertanian dan perdagangan.
[sunting] Perindustrian

Jumlah perusahaan industri besar dan sedang di Kota Pontianak yang telah terdata selama tahun 2005 adalah 34 perusahaan. Tenaga kerja yang diserap oleh perusahaan industri tersebut berjumlah 3.300 orang yang terdiri dari pekerja produksi 2.700 orang dan pekerja lainnya atau administrasi 600 orang. Perusahaan industri besar atau sedang yang terletak di Kecamatan Pontianak Utara menyerap tenaga kerja terbesar, yaitu 2.952 orang.

Nilai keluaran yang dihasilkan dari perusahaan industri besar atau sedang adalah sebesar 1,51 triliun rupiah, dimana perusahaan industri besar atau sedang yang berada di Kecamatan Pontianak Utara yang didominasi oleh perusahaan industri karet, sedangkan nilai keluaran yang terkecil berasal dari perusahaan yang terdapat di Kecamatan Pontianak Kota, senilai 2,85 milyar rupiah.

Untuk Nilai Tambah Bruto (NTB) yang diperoleh dari seluruh perusahaan industri besar /sedang di Kota Pontianak selama tahun 2005 adalah sebesar 217,57 milyar rupiah dan pajak tak langsung yang diperoleh adalah sebesar 462,78 juta rupiah, sedangkan NTB atas Biaya Faktor yang diperoleh adalah sebesar 217,10 milyar rupiah.

Jumlah unit usaha industri, tenaga kerja, besarnya nilai investasi dan nilai penjualan dari sentra industri kecil jenis Industri Hasil Pertanian dan Kehutanan (IHPK) terlihat bahwa sentra industri kecil jenis IHPK terbanyak adalah usaha industri makanan ringan yang terpusat di Kelurahan Sungai Bangkong dengan tenaga kerja yang diserap sebanyak 329 orang, nilai investasinya mencapai 249,50 juta rupiah dan nilai penjualannya sebesar 780,50 juta rupiah.
Sedangkan industri anyaman keladi air pada tahun 2005 ini hanya memiliki 16 unit usaha dengan nilai investasi 17,5 juta rupiah dan nilai penjualan 110 juta rupiah yang terletak di Tanjung Hulu, Pontianak Timur.
[sunting] Pertanian

Pada tahun 2006, jenis tanaman pangan yang hasilnya paling besar adalah ubi kayu, padi, ubi rambat. Penduduk juga bertani sayuran dan lidah buaya. Tanaman buah-buahan yang banyak ada di Kota Pontianak adalah nangka, pisang serta nanas.

Perternakan di kota Pontianak terdiri dari sapi (potong dan perah), kambing, babi dan ayam (ras dan buras).
[sunting] Perdagangan

Perdagangan merupakan salah satu usaha yang berkembang pesat di Kota Pontianak. Perdagangan modern mulai berkembang pada tahun 2001 dengan berdirinya Mal Matahari Pontianak di Pontianak Kota. Pusat perbelanjaan modern mulai dibangun di berbagai sudut kota, seperti Mal Pontianak dan Ayani Mega Mall Pontianak (Pontianak Selatan). Berbagai perusahaan retail nasional mulai mendirikan usahanya di Pontianak.
Pendidikan
Perguruan tinggi negeri dan swasta

* Universitas Tanjungpura[5]
* Universitas Muhammadiyah Pontianak[6]
* Universitas Panca Bhakti[7]
* STAIN Pontianak
* Politeknik Kesehatan Kemenkes Pontianak
* Politeknik Negeri Pontianak
* Perguruan Tinggi Widya Dharma Pontianak[8]
* Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Pontianak (STIEP)
* AMIK Bina Sarana Informatika Pontianak[9]
* Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer Pontianak[10]
* Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Pontianak

Sekolah Menengah Atas

1. SMA Negeri 1 Pontianak
2. SMA Negeri 2 Pontianak
3. SMA Negeri 3 Pontianak
4. SMA Negeri 4 Pontianak
5. SMA Negeri 5 Pontianak
6. SMA Negeri 6 Pontianak
7. SMA Negeri 7 Pontianak
8. SMA Negeri 8 Pontianak
9. SMA Negeri 9 Pontianak
10. SMA Negeri 10 Pontianak
11. SMA Santu Petrus Pontianak
12. SMA Santo Paulus
13. SMA Immanuel
14. SMA Muhammadiyah 1
15. SMA Muhammadiyah 2
16. SMA Gembala Baik
17. SMA Panca Bakti
18. SMA Bina Utama
19. SMK Immanuel 1
20. SMA Kapuas Pontianak
21. SMTI Negeri Pontianak
22. SMK Putra Khatulistiwa Pontianak
23. SMK Negeri 3 Pontianak

Pariwisata
Waterfront Kota Pontianak
Aksi Naga dan Barongsai saat Imlek di Kota Pontianak

Pariwisata Kota Pontianak didukung oleh keanekaragaman budaya penduduk Pontianak, yaitu Dayak, Melayu dan Tionghoa. Suku Dayak memiliki pesta syukur atas kelimpahan panen yang disebut Naik Dango dan masyarakat Tionghoa memiliki kegiatan pesta tahun baru Imlek dan perayaan sembahyang kubur (Cheng Beng atau Kuo Ciet) yang memiliki nilai atraktif turis.

Kota Pontianak juga dilintasi oleh garis khatulistiwa yang ditandai dengan Tugu Khatulistiwa di Pontianak Utara. Selain itu kota Pontianak juga memiliki visi menjadikan Pontianak sebagai kota dengan pariwisata sungai.

Pontianak juga dikenal sebagai tempat wisata kuliner. Keanekaragaman makanan menjadikan Pontianak sebagai surga kuliner. Makanan yang terkenal antara lain:

1. Sambal Goreng Tempoyak
2. Pekasam
3. Sotong Pangkong
4. Bubur Pedas
5. Pacri Nanas
6. Pindang
7. Lemang (ketan yang dibakar)
8. Ikan asam pedas (sup ikan pedas dengan bumbu asam)
9. Kwetiau (sejenis mie, ada yang goreng dan kuah)
10. Chai Kue (semacam pastel yang tidak digoreng, berisi bengkuang, kuchai, talas atau kacang. ada yang kukus dan goreng)
11. Kwe Cap (sup dengan kulit babi, semacam kwe tiau, tahu, kacang dan kadang-kadang ditambah daging)
12. Kwe Kia Theng (sup dengan isi jeroan babi)
13. Yam Mi (sejenis mie namun sangat kecil dengan lauk khas di atasnya)
14. Gwek Pia (dikenal dengan nama kue bulan. kue ini diisi dengan kacang hijau)
15. Ka Lo Ci (kue yang dibuat dari tepung kanji dan luarnya diselimuti biji wijen dan gula)
16. Sio Bi (seperti siomay, namun memiliki cita rasa tersendiri dengan sausnya yang juga berbeda rasanya)
17. Tau Swan (sup kacang hijau ditambah potongan-potongan kue yang digoreng dan mirip kerupuk "ca kue")
18. Peng Kang (sejenis lemper, diisi hebi)
19. Bak Pao (kue yang diisi dengan kacang hijau, ayam atau sapi)
20. Bak Cang (ketan yang dikukus dan diisi daging ayam, sawi asin, kacang tanah dan hebi. Terkadang ditambahkan lauk lainnya)
21. Ki Cang (ketan yang dikukus, digolongkan kue dan cara menikmatinya dengan menaburkan gula)
22. Ie atau Jan (sup manis yang dibuat dari tepung kanji dengan bola-bola kecil berwarna merah dan putih)
23. He Keng (daging goreng yang dibuat dari udang)
24. Kuan Chiang (sejenis sosis, berwarna merah)
25. Hu Ju (tahu yang dengan kuah berwarna merah yang asin)
26. Koi peng atau Nasi Campur (nasi campur dengan kuah khas dan campuran lauk khas tionghua di atasnya)
27. Pwe Ki Mue atau bubur pesawat (bubur yang ditambahkan telur, daging babi dan lemak dengan cita rasa khas)
28. Cap Chai (nasi dengan banyak jenis sayur)
29. Tun Koi (sup sari pati ayam dengan kunyit dan ginseng)
30. Keng Ci Kue Tiau
31. Keladi
32. Air Tahu yang lebih dikenal dengan Susu Soya
33. Minuman lidah buaya


Hotel-hotel berbintang yang ada di pusat kota Pontianak adalah:

* Hotel Aston (*4) Jl. Gajah Mada
* Hotel Mercure (*4) Jl. A. Yani
* Hotel Grand Mahkota (*4) Jl. Sidas
* Hotel Kapuas Palace (*3) Jl. Imam Bonjol
* Hotel Santika (*3) Jl. Diponegoro
* Hotel Orchardz (*3) Jl. Gajah Mada
* Hotel Kini (*3) Jl. Nusa Indah I
* Hotel Peony (*3) Jl. Gajah Mada
* Hotel Star (*3) Jl. Gajah Mada
* Hotel Gajah Mada (*3) Jl. Gajah Mada
* Hotel Garuda (*3) Jl. Veteran
* Hotel Merpati Jl. Imam Bonjol
* Hotel Kapuas Dharma Jl. Imam Bonjol
* Hotel Grand Kartika (*2) Jl. Rahadi Oesman
* Hotel Orient Jl. Tanjungpura
* Hotel Queen Jl. Hijas
* Hotel 2000 Jl. Gajah Mada
* Hotel 95 Jl. Imam Bonjol

Transportasi
Udara

Kota Pontianak melalui bandar udaranya, Bandar Udara Supadio terhubung dengan beberapa kota besar lain di Indonesia, seperti Jakarta, Surabaya, Semarang dan Yogyakarta.
Selain itu bandara ini juga mempunyai penerbangan internasional langsung dari dan ke luar negeri, yaitu ke Kuching, Sarawak, Malaysia; Kuala Lumpur, Malaysia dan Singapura.
Dari Pontianak juga dapat dilayani penerbangan perintis ke berbagai ibukota kabupaten di Kalimantan Barat.
Bandar Udara Supadio terletak di luar Kota Pontianak tepatnya di kecamatan Sungai Durian Kabupaten Kubu Raya.
Laut

Pelabuhan Pontianak dapat melayani kapal-kapal barang maupun penumpang. Dahulu melalui dermaga ini sering melayani kapal penumpang menuju Jakarta, Ketapang, Landak, Sanggau dan Putussibau.

Darat

Sistem transportasi darat Kota Pontianak dilayani oleh minibus angkutan kota yang biasa disebut oplet, taksi dan beberapa rute dilayani oleh bus kota. Sebagian besar rute dalam kota dilayani oleh oplet yang menghubungkan beberapa terminal. Untuk keberangkatan jalan darat ke luar kota dilayani di Terminal Batulayang.

Melalui jalan darat pula dilayani bus antar negara, yakni ke Kuching. Bus ini disediakan oleh berbagai penyedia layanan, termasuk DAMRI. Layanan imigrasi Indonesia-Malaysia dilaksanakan di Entikong, Kabupaten Sanggau.