SH.II dari Kadriah

Rabu, 22 Juli 2015

Akhir Tragis Sang Proklamator



Kisah nyata :
SAAT-SAAT TERAKHIR BUNG KARNO SETELAH TERUSIR DARI ISTANA NEGARA.

"Jadikan deritaku ini sebagai kesaksian, bahwa kekuasaan seorang presiden seka...lipun ada batasnya. Karena kekuasaan yang langgeng hanyalah kekuasaan rakyat. Dan diatas segalanya adalah kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa.” (Soekarno, 1967)

Tak lama setelah mosi tidak percaya parlemen bentukan Nasution di tahun 1967 dam MPRS menunjuk Suharto sebagai Presiden RI, Bung Karno menerima surat untuk segera meninggalkan Istana dalam waktu 2 X 24 Jam.
Bung Karno tidak diberi waktu untuk menginventarisir barang-barang pribadinya. Wajah-wajah tentara yang mengusir Bung Karno tidak bersahabat lagi. "Bapak harus cepat meninggalkan Istana ini dalam waktu dua hari dari sekarang!".

Bung Karno pergi ke ruang makan dan melihat Guruh sedang membaca sesuatu di ruang itu. "Mana kakak-kakakmu" kata Bung Karno. Guruh menoleh ke arah Bapaknya dan berkata "Mereka pergi ke rumah Ibu".
Rumah Ibu yang dimaksud adalah rumah Fatmawati di Jalan Sriwijaya, Kebayoran Baru. Bung Karno berkata lagi "Mas Guruh, Bapak tidak boleh lagi tinggal di Istana ini lagi, kamu persiapkan barang-barangmu, jangan kamu ambil lukisan atau hal lain, itu punya negara". Kata Bung Karno,
Bung Karno lalu melangkah ke arah ruang tamu Istana, disana ia mengumpulkan semua ajudan-ajudannya yang setia. Beberapa ajudannya sudah tidak kelihatan karena para ajudan bung karno sudah ditangkapi karena diduga terlibat Gestapu. "Aku sudah tidak boleh tinggal di Istana ini lagi, kalian jangan mengambil apapun, Lukisan-lukisan itu, Souvenir dan macam-macam barang. Itu milik negara.

Semua ajudan menangis saat tau Bung Karno mau pergi "Kenapa bapak tidak melawan, kenapa dari dulu bapak tidak melawan..." Salah satu ajudan separuh berteriak memprotes tindakan diam Bung Karno.
"Kalian tau apa, kalau saya melawan nanti perang saudara, perang saudara itu sulit jikalau perang dengan Belanda jelas hidungnya beda dengan hidung kita. Perang dengan bangsa sendiri tidak, wajahnya sama dengan wajahmu...keluarganya sama dengan keluargamu, lebih baik saya yang robek dan hancur daripada bangsa saya harus perang saudara". tegas bung karno kepada ajudannya.
Tiba-tiba beberapa orang dari dapur berlarian saat mendengar Bung Karno mau meninggalkan Istana. "Pak kami memang tidak ada anggaran untuk masak, tapi kami tidak enak bila bapak pergi, belum makan. Biarlah kami patungan dari uang kami untuk masak agak enak dari biasanya".
Bung Karno tertawa "Ah, sudahlah sayur lodeh basi tiga itu malah enak, kalian masak sayur lodeh saja. Aku ini perlunya apa..."

Di hari kedua saat Bung Karno sedang membenahi baju-bajunya datang perwira suruhan Orde Baru. "Pak, Bapak harus segera meninggalkan tempat ini". Beberapa tentara sudah memasuki ruangan tamu dan menyebar sampai ke ruang makan.
Mereka juga berdiri di depan Bung Karno dengan senapan terhunus. Bung Karno segera mencari koran bekas di pojok kamar, dalam pikiran Bung Karno yang ia takutkan adalah bendera pusaka akan diambil oleh tentara.

Lalu dengan cepat Bung Karno membungkus bendera pusaka dengan koran bekas, ia masukkan ke dalam kaos oblong, Bung Karno berdiri sebentar menatap tentara-tentara itu, namun beberapa perwira mendorong tubuh Bung Karno untuk keluar kamar.
Sesaat ia melihat wajah Ajudannya Maulwi Saelan ( pengawal terakhir bung karno ) dan Bung Karno menoleh ke arah Saelan.
"Aku pergi dulu" kata Bung Karno dengan terburu-buru. "Bapak tidak berpakaian rapih dulu, Pak" Saelan separuh berteriak.
Bung Karno hanya mengibaskan tangannya. Bung Karno langsung naik VW Kodok, satu-satunya mobil pribadi yang ia punya dan meminta sopir diantarkan ke Jalan Sriwijaya, rumah Ibu Fatmawati.
Di rumah Fatmawati, Bung Karno hanya duduk seharian saja di pojokan halaman, matanya kosong. Ia meminta bendera pusaka dirawat hati-hati. Bung Karno kerjanya hanya mengguntingi daun-daun di halaman.

Kadang-kadang ia memegang dadanya yang sakit, ia sakit ginjal parah namun obat yang biasanya diberikan sudah tidak boleh diberikan. Sisa obat di Istana dibuangi.
Suatu saat Bung Karno mengajak ajudannya yang bernama Nitri gadis Bali untuk jalan-jalan. Saat melihat duku, Bung Karno kepengen duku tapi dia tidak punya uang. "Aku pengen duku, ...Tru, Sing Ngelah Pis, aku tidak punya uang" Nitri yang uangnya pas-pasan juga melihat ke dompetnya, ia merasa cukuplah buat beli duku sekilo.

Lalu Nitri mendatangi tukang duku dan berkata "Pak Bawa dukunya ke orang yang ada di dalam mobil". Tukang duku itu berjalan dan mendekat ke arah Bung Karno. "Mau pilih mana, Pak manis-manis nih " sahut tukang duku dengan logat betawi kental.
Bung Karno dengan tersenyum senang berkata "coba kamu cari yang enak". Tukang Duku itu mengernyitkan dahinya, ia merasa kenal dengan suara ini. Lantas tukang duku itu berteriak "Bapak...Bapak....Bapak...Itu Bapak...Bapaak" Tukang duku malah berlarian ke arah teman-temannya di pinggir jalan" Ada Pak Karno, Ada Pak Karno...." mereka berlarian ke arah mobil VW Kodok warna putih itu dan dengan serta merta para tukang buah memberikan buah-buah pada Bung Karno.
Awalnya Bung Karno tertawa senang, ia terbiasa menikmati dengan rakyatnya. Tapi keadaan berubah kontan dalam pikiran Bung Karno, ia takut rakyat yang tidak tau apa-apa ini lantas digelandang tentara gara-gara dekat dengan dirinya. "Tri, berangkat ....cepat" perintah Bung Karno dan ia melambaikan ke tangan rakyatnya yang terus menerus memanggil namanya bahkan ada yang sampai menitikkan air mata. Mereka tau pemimpinnya dalam keadaan susah.

Mengetahui bahwa Bung Karno sering keluar dari Jalan Sriwijaya, membuat beberapa perwira pro Suharto tidak suka. Tiba-tiba satu malam ada satu truk ke rumah Fatmawati dan mereka memindahkan Bung Karno ke Bogor. Di Bogor ia dirawat oleh Dokter Hewan!...
Tak lama setelah Bung Karno dipindahkan ke Bogor, datanglah Rachmawati, ia melihat ayahnya dan menangis keras-keras saat tau wajah ayahnya bengkak-bengkak dan sulit berdiri.
Saat melihat Rachmawati, Bung Karno berdiri lalu terhuyung dan jatuh. Ia merangkak dan memegang kursi. Rachmawati langsung teriak menangis.

Malamnya Rachmawati memohon pada Bapaknya agar pergi ke Jakarta saja dan dirawat keluarga. "Coba aku tulis surat permohonan kepada Presiden" kata Bung Karno dengan suara terbata. Dengan tangan gemetar Bung Karno menulis surat agar dirinya bisa dipindahkan ke Jakarta dan dekat dengan anak-anaknya.
Rachmawati adalah puteri Bung Karno yang paling nekat. Pagi-pagi setelah mengambil surat dari bapaknya, Rachma langsung ke Cendana rumah Suharto. Di Cendana ia ditemui Bu Tien yang kaget saat melihat Rachma ada di teras rumahnya.
"Lhol, Mbak Rachma ada apa?" tanya Bu Tien dengan nada kaget. Bu Tien memeluk Rachma, setelah itu Rachma bercerita tentang nasib bapaknya. Hati Bu Tien rada tersentuh dan menggenggam tangan Rachma lalu dengan menggenggam tangan Rachma bu Tien mengantarkan ke ruang kerja Pak Harto.
"Lho, Mbak Rachma..ada apa?" kata Pak Harto dengan nada santun. Rachma-pun menceritakan kondisi Bapaknya yang sangat tidak terawat di Bogor. Pak Harto berpikir sejenak dan kemudian menuliskan memo yang memerintahkan anak buahnya agar Bung Karno dibawa ke Djakarta. Diputuskan Bung Karno akan dirawar di Wisma Yaso.

Bung Karno lalu dibawa ke Wisma Yaso, tapi kali ini perlakuan tentara lebih keras. Bung Karno sama sekali tidak diperbolehkan keluar dari kamar. Seringkali ia dibentak bila akan melakukan sesuatu, suatu saat Bung Karno tanpa sengaja menemukan lembaran koran bekas bungkus sesuatu, koran itu langsung direbut dan ia dimarahi.

Kamar Bung Karno berantakan sekali, jorok dan bau. Memang ada yang merapikan tapi tidak serius. Dokter yang diperintahkan merawat Bung Karno, dokter Mahar Mardjono nyaris menangis karena sama sekali tidak ada obat-obatan yang bisa digunakan Bung Karno.
Ia tahu obat-obatan yang ada di laci Istana sudah dibuangi atas perintah seorang Perwira Tinggi. Mahar mardjono hanya bisa memberikan Vitamin dan Royal Jelly yang sesungguhnya hanya madu biasa. Jika sulit tidur Bung Karno diberi Valium, Sukarno sama sekali tidak diberikan obat untuk meredakan sakit akibat ginjalnya tidak berfungsi.

 Banyak rumor beredar di masyarakat bahwa Bung Karno hidup sengsara di Wisma Yaso, beberapa orang diketahui diceritakan nekat membebaskan Bung Karno.
Bahkan ada satu pasukan khusus KKO dikabarkan sempat menembus penjagaan Bung Karno dan berhasil masuk ke dalam kamar Bung Karno, tapi Bung Karno menolak untuk ikut karena itu berarti akan memancing perang saudara.
Pada awal tahun 1970 Bung Karno datang ke rumah Fatmawati untuk menghadiri pernikahan Rachmawati. Bung Karno yang jalan saja susah datang ke rumah isterinya itu. Wajah Bung Karno bengkak-bengkak.

Ketika tau Bung Karno datang ke rumah Fatmawati, banyak orang langsung berbondong-bondong ke sana dan sesampainya di depan rumah mereka berteriak "Hidup Bung Karno....hidup Bung Karno....Hidup Bung Karno...!!!!!"
Sukarno yang reflek karena ia mengenal benar gegap gempita seperti ini, ia tertawa dan melambaikan tangan, tapi dengan kasar tentara menurunkan tangan Sukarno dan menggiringnya ke dalam. Bung Karno paham dia adalah tahanan politik.

Masuk ke bulan Februari penyakit Bung Karno parah sekali ia tidak kuat berdiri, tidur saja. Tidak boleh ada orang yang bisa masuk. Ia sering berteriak kesakitan. Biasanya penderita penyakit ginjal memang akan diikuti kondisi psikis yang kacau.

Ia berteriak " Sakit....Sakit ya Allah...Sakit..." tapi tentara pengawal diam saja karena diperintahkan begitu oleh komandan. Sampai-sampai ada satu tentara yang menangis mendengar teriakan Bung Karno di depan pintu kamar. Kepentingan politik tak bisa memendung rasa kemanusiaan, dan air mata adalah bahasa paling jelas dari rasa kemanusiaan itu.

Hatta yang dilapori kondisi Bung Karno menulis surat pada Suharto dan mengecam cara merawat Sukarno. Di rumahnya Hatta duduk di beranda sambil menangis sesenggukan, ia teringat sahabatnya itu. Lalu dia bicara pada isterinya Rachmi untuk bertemu dengan Bung Karno.

"Kakak tidak mungkin kesana, Bung Karno sudah jadi tahanan politik" ujar istri bung hatta.
Hatta menoleh pada isterinya dan berkata "Sukarno adalah orang terpenting dalam pikiranku, dia sahabatku, kami pernah dibesarkan dalam suasana yang sama agar negeri ini merdeka. Bila memang ada perbedaan diantara kami itu lumrah tapi aku tak tahan mendengar berita Sukarno disakiti seperti ini".
Hatta menulis surat dengan nada tegas kepada Suharto untuk bertemu Sukarno, ajaibnya surat Hatta langsung disetujui, ia diperbolehkan menjenguk Bung Karno.
Hatta datang sendirian ke kamar Bung Karno yang sudah hampir tidak sadar, tubuhnya tidak kuat menahan sakit ginjal. Bung Karno membuka matanya. Hatta terdiam dan berkata pelan "Bagaimana kabarmu, No" kata Hatta ia tercekat mata Hatta sudah basah.

Bung Karno berkata pelan dan tangannya berusaha meraih lengan Hatta "Hoe gaat het met Jou?" kata Bung Karno dalam bahasa Belanda - Bagaimana pula kabarmu, Hatta - Hatta memegang lembut tangan Bung Karno dan mendekatkan wajahnya, air mata Hatta mengenai wajah Bung Karno dan Bung Karno menangis seperti anak kecil.

Dua proklamator bangsa ini menangis, di sebuah kamar yang bau dan jorok, kamar yang menjadi saksi ada dua orang yang memerdekakan bangsa ini di akhir hidupnya merasa tidak bahagia, suatu hubungan yang menyesakkan dada.

Tak lama setelah Hatta pulang, Bung Karno meninggal. Sama saat Proklamasi 1945 Bung Karno menunggui Hatta di kamar untuk segera membacai Proklamasi, saat kematiannya-pun Bung Karno juga seolah menunggu Hatta dulu, baru ia berangkat menemui Tuhan...

Kamis, 09 Juli 2015

Alqadrie Center,: Wadah Kemajuan Bangsa

Lembaga Pendidikan Al-Qadrie Center Sambangi Tribun

Ketua Eksekutif H Ngusmanto menuturkan, 

Al-Qadrie Center didirikan melalui akta notaries pada oktober 2013. Lembaga ini didirikan atas keprihatinan para pendiri yang sebagian besar bergerak dibidang pendidikan tentang kondisi sumber daya manusia (SDM) di Kalimantan Barat.“Survey menunjukkan SDM kita sangat tertinggl dengan malaysia, singapura dan yang di khawatirkan adalah Vietnam yang lebih maju. Survey juga dilakukan melalui kader di kabupaten, banyak guru honor yang mendapatkan gaji kecil meski telah mengabdi lama,” jelasnya.Kegiatan pengembangan sumber daya manusia di Kalimantan Barat, dilakukan dengan sasarannya para guru SD hingga SMA dan pelajar mulai SD hingga SMA, bahan S1 dan S2. Mereka akan dibantu secara materil sebagai bentuk apresiasi.Fokus utama adalah dengan memberikan tambahan honor kepada guru yang berpenghasilan Rp 250 ribu per bulan. Agar program tepat sasaran, selain penghasilan kecil juga telah mengabdi selama 8 tahun dan berumur 50 tahun ke atas.“Sudah dapat data guru mana yang mendapatkan tunjangan, bahkan guru juga diberikan pakaian dinas. Untuk anak sekolah tidak ada permasalahan karena ada Bantuan Operasional Sekolah (BOS) jadi sekolah gratis, namun yang menjadi persoalan ialah ada sebagian dari mereka yang tidak mempunyai baju seragam sekolah,” ucap Gusman.Dalam waktu dekat LPAC akan memberikan tunjangan guru di Kabupaten Sambas, Bengkayang, Mempawah dan Singkawang. Hasil penulusuran bahwa ada guru yang sudah 5 tahun bekerja namun honor mereka tidak naik tetap Rp 250 ribu. Hal itulah yang membuat LPAC semangat untuk segera melaksanakan program ini.Sumber dana lembaga berasal dari sumbangan berbagai pihak di Kalimantan Barat, luar Kalbar bahkan jaringan dari luar negeri, yang telah dikumpulkan selama kurang lebih satu tahun dengan total dana sekitar Rp 50 juta.

Rabu, 04 Maret 2015

Korban Kebiadaban Jepang di Istana Kadriah


Oleh; H.A.Halim R

“Suratkabar Borneo Sinbun yang diterbitkan Pemerintah Bala Tentara Jepang  pada 1 Sitigatu 2604 (1 Juli 1944) diberitakan, telah dilakukan hukuman mati pada 28 Rokugatu (28 Juni 1944) terhadap sejumlah tokoh dan warga Kalbar. Mereka dituduh hendak memberontak, melawan Pemerintah Jepang dan mendirikan Negara Borneo Barat yang merdeka.”

TERCANTUM 48 nama korban di situ, yang sesungguhnya adalah raja-raja di Kalbar, cerdik cendekia, tokoh-tokoh politik, pengusaha, baik lelaki maupun wanita,  dari berbagai etnik dan agama.

Di antara mereka tercantumlah nama Syarief Muhammad Alqadrie (74 th) yang bukan lain adalah Sultan Pontianak.

Bagaimana peristiwa penangkapan Sultan Muhammad tatkala itu, kita ikuti kisah yang dibeberkan oleh Ratu Perbu Wijaya (kini: almh) dan Ratu Anom Bendahara (kini: almh). Keduanya putri Sultan Muhammad Alqadrie. Wawancara dilakukan penulis pada awal Juni 1977.
Ratu Perbu Wijaya dan Ratu Anom Bendahara berusia sekitar 33 th dan 30 tahun ketika Jepang  masuk dan menduduki Kalbar pada tahun 1942.

Adapun jumlah putra-putri Sultan Muhammad seluruhnya 10 orang, yaitu: Syarief Hamid Alqadrie, Syarifah Maryam Alqadrie glr (gelar) Ratu Laksamana Negara, Syarifah Hadijah Alqadrie glr Ratu Perbu Wijaya, Syarifah Fatimah Alqadrie glr Ratu Anom Bendahara, Syarifah Safiah Alqadrie glr Ratu Cikre, Syarifah Maimunah Alqadrie glr Ratu Kusuma, Syarif Usman Alqadrie glr Pangeran Adipati, Syarief Mahmud Alqadri glr Pangeran Agung, Syarief Abdul Muthalib Alqadrie glr Pangeran Muda, dan Tengku Mahmud.

Sedangan menantu-menantunya adalah: Syarief Hamid Alqadrie (suami: Syarifah Maryam), Syarif Yusuf Alqadrie (suami: Syarifah Hadijah), Syarief  Usman Alqadrie (suami: Syarifah Fatimah), Syarief Ibrahim Alqadrie (Suami: Syarifah Safiah), Syarief Umar Alqadrie (suami: Syarifah Maimunah).

Pada penangkapan tanggal 24 Januari 1944, Sultan Muhammad telah diambil bersama seluruh anak laki-lakinya, kecuali Syarif Hamid. Juga semua menantunya, kecuali Syarief Ibrahim. Ditambah lagi dengan sejumlah keluarga dekat, baik yang bertempat tinggal di dalam lingkungan tembok Istana Qadriyah, maupun yang tinggal di luar tembok istana.



PKKAJ (Persatuan Keluarga Korban Agresi Jepang) Kalbar mencatat ada 60 korban yang berasal dari keluarga Istana Qadriyah Pontianak.

 Selanjutnya, inilah penuturan Ratu Perbu Wijaya dan Ratu Anom Bendahara:
Pada subuh 24 Januari 1944, sekitar jam 03.00 tiba-tiba saja suasana yang mencekam dan mencemaskan terjadi di dalam lingkungan tembok Istana Qadriyah, Kampung Dalam – Pontianak.
Diperkirakan tidak kurang dari 15 lusin tentara Jepang telah mengadakan stelling. Mereka berpencar di seluruh rumah yang didiami keluarga Alqadrie dengan senapan berbayonet terhunus.
Dari celah-celah lantai rumah yang bertiang tinggi, kelihatan bayonet diacung-acungkan. Kemudian setelah itu, pintu-pintu rumah digedor. Beberapa orang kempeitai masuk, membawa lampu senter. Di tangannya tergenggam sebuah daftar “les hitam” berikut foto dari calon-calon korban. Seluruh penghuni rumah dikumpulkan, dipilih mana yang termasuk ke dalam daftar tersebut.
Muka para calon korban diikat dengan sembarang apa yang bisa. Apakah itu taplak meja, atau karung atau gorden. Tangan diikat ke belakang.
Di antara penghuni Istana Qadriyah ada yang bermaksud untuk meloloskan diri lewat pintu belakang. Tapi ternyata di sana pun telah berjaga-jaga tentara Jepang.
Sultan Muhammad Alqadrie yang pada ketika itu baru saja selesai makan sehabis salat, diberitahu tentang apa yang sedang terjadi. Namun Sultan tampak tenang-tenang saja, bahkan berkata, ”Tidak apa-apa, Jepang sedang mencari orang-orangnya……..”
Mungkin sesungguhnya kalimat itu masih akan berlanjut, tetapi keburu muncul tentara Jepang yang langsung menangkapnya. Semula Sultan akan diperlakukan juga seperti korban-korban lainnya, yaitu mata ditutup dan tangan diikat ke belakang. Tapi Sultan Muhammad menolak, dan dengan berwibawa berkata, ”Sayatidak akan lari!”

Di rumah yang lain, di samping istana, Ratu Anom Bendahara sempat menerima pukulan-pukulan senter di kepalanya karena menentang perlakuan Jepang terhadap suami dan keluarganya yang lain.
Di rumah-rumah keluarga Alqadrie itu, Jepang bukan hanya telah mengambil manusia, tapi juga barang-barang perhiasan berharga. Untuk maksud itu mereka telah mengobrak-abrik seluruh isi rumah. Dari tingkat dua Istana Qadriyah tampak barang-barang perhiasan seperti emas, intan dan berlian diturunkan dengan menggunakan tali. Termasuk di situ alat-alat senjata yang bertatahkan berlian, bahkan dua buah mahkota emas tulen. (Apa yang masih terlihat pada masa kini, hanyalah duplikat yang terbuat dari perak bersepuh emas – pen.).
Orang-orang yang berhasil diambil dari rumahnya masing-masing itu dikumpulkan dekat tiang bendera, di halaman istana. Pada dada mereka disematkan secarik kertas atau kain sebagai tanda. Kemudian orang-orang itu diseberangkan dengan motor air yang dikenal dengan sebutan “motor sungkup”.

Hingga sore hari Istana Qadriyah masih diblokir oleh tentara Jepang. Selain mencari orang-orang yang belum ditemukan, juga mencari barang-barang berharga. Untuk mencari yang disebut terkahir ini, kiranya cukup memakan waktu.
Salah seorang putra Sultan Muhammad yang berhasil meloloskan diri adalah Syarif Abdul Muthalib glr Pangeran muda. Ketika penangkapan berlangsung, ia berhasil mengelabui tentara Jepang.

Karena tak berhasil menemukannya, Jepang membuat janji bohong. Jika Pangeran Muda menyerahkan diri, maka Sultan Muhammad akan dipulangkan. Atas desakan saudara-saudara perempuannya yang menginginkan Sultan segera dikembalikan, pun atas kehendak sendiri akhirnya Pangeran Muda menyerahkan diri.“Selamat tinggal……,” kiranya itulah kalimat perpisahan dan menjadi kalimat terakhir yang terdengar dari mulut Pangeran Muda. Sungguh memilukan.
Selesai penangkapan itu, tanggal 7 Maret 1944 kembali Jepang menangkap lagi seorang keluarga Qadriyah yaitu Syarifah Maimunah glr Ratu Kusuma.Berikutnya Syarief Ibrahim Alkadri, menantu Sultan Muhammad. Namun yang terakhir ini dipulangkan setelah ditahan selama sebulan.



Belum puas dengan apa yang telah diperolehnya, selama lebih kurang 6 bulan setelah penangkapan, tentara Jepang selalu saja datang ke istana. Mereka datang seolah-olah membawa pesan dari warga Istana Qadriyah yang telah ditahan, minta kirimkan ini dan itu. Apa boleh buat, pesan itu terpaksa dipenuhi.
Pesan yang benar dari sekian banyak pesan, mungkin hanyalah permintaan Sultan Muhammad, agar dikirimkan sebuah kelambu kasa, permadani, kipas dan tasbih. Dan kedatangan tentara-tentara Jepang itu, seakan mau berbaik-baik. Mereka menghibur dengan kata-kata, ”Jangan susah, anak-istri, Nippon jaga baik-baik…..”
Terhadap anak kecil, mereka sangat baik. Suka menggendong dan mengajak bermain-main. Oleh kalangan istana, hal seperti itu diduga sebagai ingin mengetahui rahasia dari mulut anak-anak yang polos.
Pada waktu itu Jepang juga mengeluarkan pengumuman, agar semua barang berharga seperti emas, intan, berlian, diserahkan kepada pemerintah Jepang.
Disebutkan bahwa barang-barang itu sangat diperlukan untuk membuat bom atom guna menghancurkan kekuatan orang Eropa. Tak ketinggalan, disebarkan pula isu, bahwa Nippon memiliki peralatan untuk mengetahui barang-barang yang disembunyikan. Sampai pun dikatakan, bahwa di segenap pojok dan tiang Istana Qadriyah, Jepang telah memasang alat-alat untuk menangkap pembicaraan penghuninya! Sehingga perasaan duka yang dirasakan oleh keluarga Alqadrie semakin bertambah berat dengan rasa was-was dan khawatir selalu. Belum lagi, di mana para ratu diharuskan bekerja kasar seperti mencangkul kebun di seberang, yaitu di kawasan Sungai Bangkong.


 Terpaksa para ratu mengenakan caping lebar untuk menahan sengatan matahari. Pun mengenakan sepatu yang terbuat dari karet mentah (rubber sheet). Mana lagi keadaan negeri bak “padang tekukur”. Beli apa-apa harus antre dan menggunakan kupon. Kalau beras habis, terpaksa makan lempeng sagu. Kalau pun ingin makan mie, terpaksa harus membuat sendiri dari cendawan hutan.
Tanggal 1 Juli 1944, berita yang dilansir oleh suratkabar Borneo Sinbun, membuat kalangan keluarga Istana Qadriyah menjadi gempar! Berita tersebut sampai juga ke istana, kendati ada pula usaha untuk menutup-nutupinya.

Tak dapat dikatakan, betapa kedukaan telah menyelubungi seluruh keluarga Alqadrie. Sampai-sampai tak dimiliki lagi air mata untuk diteteskan. Kering dalam kehampaan rasa.
Setelah kekuasaan Jepang di Indonesia runtuh pada tahun 1945, Ratu Perbu Wijaya, Ratu Anom Bendahara bersama keluarga korban lainnya, datang keMandor untuk menyaksikan tempat di mana Jepang telah melakukan pembantaian. Yang datang ke sana bukan hanya keluarga Istana Qadriyah, tapi juga masyarakat lainnya. Kepergian ke Mandor diantar oleh anggota tentara sekutu, bersama beberapa orang Jepang yang diborgol sebagai penunjuk jalan.

Apa yang ditemui, tak lain tulang-belulang yang sudah terpisah-pisah, berserakan di sana-sini. Tak dapat lagi dikenal identitasnya. Betapa luluh hati menyaksikan pemandangan serupa itu, tak kuasa kata-kata mengungkapkannya.

Sedangkan mayat Sultan Muhammad Alqadrie ditemukan pada tahun 1945 itu juga, atas petunjuk seorang hukuman yang ikut menyiapkan tempat penguburannya.
Tempat penguburan Sultan Muhammad itu lokasinya berada di belakang Kompleks Susteran, kini Jalan Arif Rahman Hakim – Pontianak.

Waktu digali, tampak mayat masih dalam keadaan utuh, terbungkus kelambu kasa dan permadani. Di tangannya masih terlilit tasbih, sedang di bahu kirinya terletak gigi palsu. Kipas yang biasa dipakai Sultan, juga ditemukan dalam gulungan kelambu kasa.

Waktu dikeluarkan dari bungkusan kelambu kasa dan permadani, tampak sebelah tangannya tertekuk ke atas. Kemudian mayat tersebut dibawa ke RSU Sungai Jawi Pontianak, diperiksa oleh dr. Soedarso. Selanjutnya, setelah itu, lalu dibawa pulang ke Istana Qadriyah.
Ketika dimandikan kulit terkelupas, tampak daging tubuh masih memerah segar. Tidak ditemukan bagian-bagian tubuh yang cacat, seperti terpotong ataupun patah. Pun tak ditemukan bekas penganiayaan seperti bekas pukulan ataupun tembakan.  Kuku jari tangan dan kaki masih lengkap.
Apakah penyebab beliau wafat?
Adakah beliau wafat karena sakit?
Hasil visum dari RSU Sungai Jawi – Pontianak  tidak pernah diungkapkan, sehingga penyebab wafatnya Sultan Muhammad pun menjadi sebuah misteri.
   
Menurut dugaan kalangan Istana Qadriyah, kemungkinan almarhum belum lama meninggal. Kendati ditangkap sudah lebih kurang setahun. Akhirnya, dengan upacara kebesaran, jenazah almarhum Sultan Syarief Muhammad Alqadrie dimakamkan di Pemakaman Raja-Raja Pontianak, di Batu Layang.

  Mengenai mayat korban lain yang berasal dari Istana Qadriyah, tetap tidak ditemukan. Apakah berada di Mandor ataukah di tempat lain, tidak diketahui dengan jelas…… ***

*Penulis salah satu wartawan senior di Kalbar.










 *Catatan Redaksi:  
Ratu Perbu Wijaya tersebutlah yang memberikan TITAH PENOBATAN pada Syarief Abubakar Alqadrie gelar Pangeran Mas Perdana Agung sebagai Sultan Pontianak pada tgl.22 Dzulkaedah 1424 Hijriah, bersamaan dengan 15 Januari 2004 Miladiyah, berdasarkah silsilah dan Penetapan Departemen Agama Republik Indonesia cq. Pengadilan Agama / Mahkamah Syar’iyah di Pontianak, No.118/1978 tgl.11 Juli 1978.
  *Telusuri Artikel terkait lainnya di kategori ‘Peristiwa’, ‘Hukrim’ dan ‘Interaksi’




Minggu, 08 Februari 2015

Meluruskan sejarah tahta kadriah.II



Realitas sejarah panjang tahta Istana Kadriah sebagaimana diuraikan pada edisi ke-3 kemarin, masih ada pandangan lain yang sama-sama laik untuk dikaji sebagaimana pendapat di bawah ini.
  1. Kelompok yang menulis dan menyatakan masa pemerintahan Sultan Hamid II dengan 2 versi yaitu, (1) dari 1945-1950 dan (2) dari tanggal 29 Oktober 1945-30 Maret 1978, yang perlu kita kaji bersama adalah Bahwa telah sama diketahui pelantikan Sultan Hamid II sebagai Sultan VII berlangsung tanggal 29 Oktober 1945 dan beliau meninggal tanggal 30 Maret 1978.
  2. Sementara itu, tanggal 5 April 1950 adalah pemberhentian beliau sebagai Wakil Kepala Swapraja Pontianak melalui Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor Pem.66/25/6 tanggal 2 September 1952 yang baru diterima oleh Sultan Hamid II tanggal 2 Januari 1953. Dalam hal ini perlu menjadi koreksi, walaupun kedudukan Sultan Hamid II dicopot sebagai Wakil Kepala Swapraja Pontianak, namun tidak menghilangkan statusnya sebagai Sultan Kerajaan Pontianak. Terbukti dari tahun 1950 ini, tidak ada yang menggantikannya sebagai Sultan hingga wafatnya pada 30 Maret 1978.
  3. Kelompok yang mengemukakan setelah Sultan Hamid II wafat, siapakah yang menjadi Sultan berikutnya? Syarif Abubakar bin Mahmud Alqadri atau Syarif Toto bin Thaha Alqadri? Terhadap kondisi ini dapat dipaparkan antara lain:
  • Bahwa sejak Sultan Hamid II mangkat tanggal 30 Maret 1978, tidak ada pelantikan dan penobatan Sultan di Kerajaan Pontianak sehingga terjadi kekosongan dan kondisi ini banyak menimbulkan hiruk pikuk. Akibatnya muncul berbagai nama yang ingin menjadi Sultan. Memperhatikan kondisi tersebut, maka Bambang Mulyadi Alhinduan,Syarif Hadi Lukman Alqadri dan Syarif Shaleh Thoha Assegaf, menulis di Harian Akcaya Pontianak, terbitan Sabtu, 5 Juli 1997/30 Shafar 1418 H, halaman 2 dengan judul : “SIAPA PEWARIS TAHTA KESULTANAN PONTIANAK“.
  • Pada tulisan tersebut disampaikan pernyataan Syarif Hamid (Yep Hamid) bin Husin (gelar Pangeran Pati) bin Sultan Syarif Hamid Alqadri. Yep Hamid saat itu satu-satunya sepupu sekali Sultan Syarif Muhammad Alqadri yang masih hidup. Beliau mengemukakan bahwa yang berhak menjadi Sultan Pontianak sebagai pengganti Sultan Hamid II ada tiga orang yaitu (1) Syarif Yusuf Alqadri (anak Syarif Usman Alqadri bergelar Pangeran Adipati), (2) Syarif Abubakar Alqadri, anak dari Syarif Mahmud (bergelar Pangeran Agung), dan (3) Syarif Abdullah Alqadri (Boy Syarif) anak dari Syarif Abdul Muthalib Alqadri bergelar Pangeran Muda.
  • Setelah tulisan pada Harian Akcaya itu diterbitkan, tidak ada tanggapan, sanggahan ataupun respon dari keluarga/kerabat Kesultanan Pontianak sampai dengan dilantiknya Syarif Abubakar bin Mahmud Alqadri, dinobatkan sebagai Sultan Pontianak tanggal 15 Januari 2004. Dasar lain yang menguatkan sehingga Syarif Abubakar bin Mahmud Alqadri dikukuhkan menjadi sultan menggantikan Sultan Hamid II adalah:
  1. Surat Keputusan Pengadilan Agama/Mahkamah Syar’iyah Pontianak Nomor : 154/1971, Selasa, 10 Zulkaidah 1391 H/28 Desember 1971 yang memutuskan bahwa Syarif Abubakar Alqadri merupakan salah seorang waris dari Syarif Mahmud Alqadri, (bergelar Pangeran Agung) yang mana Pangeran Agung ini sebagai salah seorang anak dari Sultan Syarif Muhammad Alqadri.
  2. Surat Ketetapan Pengadilan Agama/Mahkamah Syar’iyah Pontianak, Nomor : 118/1978 tanggal 11 Juli 1978 yang menetapkan bahwa Syarif Abubakar merupakan waris dari Sultan Hamid II bin Sultan Muhammad Alqadri, disebabkan Syarif Abubakar Alqadri merupakan keponakan dari Sultan Hamid II. Dimana Sultan Hamid II adalah saudara abanya/ayahnya yang bernama Syarif Mahmud sebagaimana tersebut diatas.
  3. Titah Penobatan dari Syarifah Chadijah Alkadrie binti Sulthan Syarif Muhammad Alkadrie, gelar Ratu Perbu Wijaya pada tanggal 22 Dzulkaedah 1424 H/15 Januari 2004, dimana Ratu Perbu Wijaya menyatakan, memberikan Titah Penobatan Putra saudara kandung saya Almarhum Syarif Machmud Alkadrie bin Sulthan Muhammad Alkadrie, gelar Pangeran Mas Perdana Agung, bernama : Syarif Abubakar Alkadri, gelar Pangeran Mas Perdana Agung sebagai Sulthan Pontianak. Titah ini dibubuhi tanda tangan oleh saksi-saksi: (1) Ketua Forum Keraton Nusantara: Kanjeng Pangeran Haryo Kusumodiningrat, (2) Pangeran Ratu H. Winata Kusuma, Sulthan Istana Kerajaan Alwatzikoebillah Sambas, (3) Pangeran Ratu Ir. Mardan Adijaya Kusuma Ibrahim,M.Sc, PhD, Kerajaan Amantubillah Mempawah. Untuk diketahui Ratu Perbu Wijaya adalah anak Sultan Syarif Muhammad Alqadri dari istrinya yang bernama Encik Haji Aminah.
  4. Surat Kesepakatan Bertiga dari cucu Sultan Syarif Muhammad Alqadri melalui garis anak-anaknya yang lelaki yaitu : (1) Syarif Yusuf bin Usman (Pangeran Adipati) bin Sultan Syarif Muhammad Alqadri, (2) Syarif Abubakar bin Mahmud (Pangeran Agung) bin Sultan Syarif Muhammad Alqadri, (3) Syarif Abdullah (Boy Syarif) bin Abdul Muthalib (Pangeran Muda) bin Sultan Syarif Muhammad Alqadri, mereka bertiga menyatakan sebagai Ahli Waris Kesultanan Pontianak menetapkan Syarif Abubakar Alkadri bin Syarif Mahmud Alkadri bin Syarif Muhammad Alkadri sebagai Sultan Pontianak masa bakti 3 tahun (tahun 2002 – 2005), masa bakti berikutnya akan ditentukan berdasarkan kesepakatan bertiga pada waktunya. Bahwa segala sesuatu Keputusan Sultan yang akan diambil merupakan keputusan mutlak Sultan yang ditetapkan. Kesepakatan ini dibuat di Pontianak, tanggal 10 Desember 2002.
  5. Untuk diketahui bahwa Syarif Abdullah bin Abdul Muthalib Alqadri, wafat 23 September 2003, sedangkan Syarif Yusuf bin Usman bin Sultan Muhammad Alqadri wafat tanggal 19 Oktober 2005. Dengan wafatnya kedua ahli waris tersebut yaitu Syarif Yusuf Alqadri dan Syarif Abdullah (Boy Syarif) Alqadri, maka otomatis Syarif Abubakar bin Mahmud Alqadri yang berhak meneruskan jabatan kesultanan ini hingga sekarang.
  6. Bahwa pada saat pelantikan Sultan Syarif Abubakar bin Mahmud Alqadri sebagai Sultan Pontianak tanggal 15 Januari 2004, Syarif Toto bin Thaha Alqadri adalah panitia penyelenggara acara tersebut dan memberikan sambutan atas nama kerabat Kraton Kadriah.
Demikian ulasan atau analisis ini disampaikan, dengan harapan dapat menjadi evaluasi, renungan bagi semua pihak dan tidak dijadikan polemik. Dan dalam bersikap seyogyanya kembali kepada nilai-nilai Islami. Semoga Istana Kadriah Kesultanan Pontianak tetap tegak berjayahingga akhir zaman, dan Sultan dapat mengayomi keluarga serta masyarakat Pontianak.
Pontianak, 13 Desember 2014
Dedi Kusnadi (Lembaga Pemerhati Kraton Indonesia)

Meluruskan Sejarah Tahta Kadriah.I


Syarif Slamet Yousuf  Alkadrie
Gelar : Pangeran Bendahara

Menyimak pemberitaan di Harian Rakyat Kalbar terbitan 23 November 2014 berjudul “Mengaku Memiliki Darah Gahra Kesultanan, Syarif Toto Alkadrie Sultan Pontianak ke X”. Narasumber dari berita itu Syarif Usman Jafar Almuthahar.
Usman Jafar Almuthahar menceritakan silsilah pewaris tahta (Gahra) dan ahli waris Kesultanan Pontianak, mulai dari Sultan Syarif Toesoef Alkadrie yang memiliki dua anak bernama Syarif Mahmud Alkadrie dan Syarif Muhammad Alkadrie.
Setelah Syarif Toesoef menjadi Sultan, digantikan anaknya bernama Syarif Muhammad Alkadrie menjadi Sultan Pontianak. Di mana Sultan Syarif Muhammad Alkadrie memiliki permaisuri bernama Syarifah Zubaidah Alkadrie dan sembilan selir, berdasarkan cerita Usman Jafar Almuthahar di Harian Rakyat Kalbar.
Dari sepuluh istri Sultan Pontianak saat itu hanya empat istri saja yang memiliki anak, yakni dua anak perempuan dari permaisuri, kemudian dari selir bernama Encik Haji Aminah memiliki empat anak. Sedangkan dari selir bernama Syecha Jamilah Syarwani memiliki enam anak dan dari selir Encik Entin memiliki satu anak.
Menanggapi apa yang disampaikan Syarif Usman Jafar Almunthahar itu, kami dari keluarga besar keturunan dari Almarhumah Encik Haji Aminah yang bergelar Mas Ratu Haji Aminah wajib meluruskan sejarah Kesultanan Pontianak pada masa Allahyarham Maulana As-Sultan As-Syaidis As-Syarif Muhammad Alkadrie, Sultan Kerajaan Pontianak ke VI yang bertahta dari tahun 1895-1944 (karena sejarah adalah fakta yang tidak bisa diubah). Adapun fakta penelusuran sejarah itu sebagai berikut :
  1. Allahyarham Maulana Sultan Syarif Muhammad Alkadrie mempunyai lima permaisuri, disamping lima orang istri lainnya. Kelima orang permaisuri itu (Perspektif Sejarah halaman 139) :
    1. Syarif Talha (Ratu Besar)
    2. Syarif Zubaidah (Ratu Muda)
    3. Syarif Maryam (Ratu Seberang)
    4. Syecha Jamilah (Mas Ratu Syecha)
    5. Encik Haji Aminah (Mas Ratu Haji)
  2. Allahyarham Maulana Sultan Syarif Muhammad Alkadrie yang juga sebagai Khalifah Kerajaan Pontianak pada zamannya, sangat menjunjung tinggi serta melaksanakan akidah dan syariat Islam yang diajarkan Rasulullah SAW. Oleh karena itu, tidak benar bahwa Allahyarham Maulana Sultan Syarif Muhammad Alkadrie mempunyai selir yang dikatakan oleh Syarif Usman Jafar Almuthahar mewakili Syarif Toto Alkadrie.
  3. Dari lima permaisuri Allahyarham Maulana Sultan Syarif Muhammad Alkadrie, hanya Almarhumah Mas Ratu Haji Aminah yang menunaikan rukun Islam yang kelima, karena itu merupakan salah satu syarat untuk Allahyarham Maulana Sultan Syarif Muhammad Alkadrie mempersunting Almarhumah Mas Ratu Haji Aminah sebagai istri.
Dari uraian di atas, kami keluarga besar Almarhumah Mas Ratu Haji Aminah, permaisuri dari Allahyarham Maulana Sultan Syarif Muhammad Alkadrie (Sultan Pontianak ke VI) sangat tersinggung dan terhina atas pencemaran nama baik Almarhumah Mas Ratu Haji Aminah yang disebut sebagai selir dari Allahyarham Maulana Sultan Syarif Muhammad Alkadrie (Sultan Pontianak ke VI).
Oleh karena itu, kami menegaskan kepada Syarif Usman Jafar Almuthahar yang mewakili Syarif Toto Alkadrie meminta maaf melalui media cetak atas pemberitaan yang tidak benar di Harian Rakyat Kalbar edisi Minggu, 23 November 2014 dengan jangka waktu selambat-lambatnya 3 hari terhitung dari terbitnya sanggahan ini.
Apabila dalam jangka waktu yang ditentukan Syarif Usman Jafar Almuthahar mewakili Syarif Toto Alkadrie tidak meminta maaf melalui media cetak, kami keluarga besar Almarhumah Mas Ratu Haji Aminah akan menempuh jalur hukum.
Kami sebagai ahli waris Kesultanan Pontianak (keluarga besar Allahyarham Maulana Sultan Syarif Muhammad Alkadrie dan Mas Ratu Haji Aminah) menyesalkan adanya kemelut yang terjadi di lingkungan keluarga Kesultanan Pontianak yang seharusnya mengikuti tatanan adat istiadat yang mengedepankan musyawarah untuk mencapai mufakat. (*)
Oleh : Syarif Selamat Joesoef Alkadrie 
(Pangeran Bendahara) Majelis Musyawarah Istana Kesultanan Pontianak



Kiri ke kanan : Syarifah Salmah Alkadrie (Ratu Sepuh ), Syarif Mahmud Alkadrie (Pangeran Agung), Maha ratu suri Syecha Jamilah Syarwani,Sultan Syarif Muhammad, Syarif Hamid ( Yang kemudian menjadi Sultan Hamid.II)



Diantara kerajaan atau kesultanan yang kental bernafas Islami di Kalbar, Kesultanan Pontianak memiliki sejarah panjang yang menarik pada deretan Kraton-kraton di Indonesia. Terutama dinasti Alqadri sebagai pemegang tampuk pemerintahan. Namun sebagaimana angle tulisan ini penulis lebih memfokuskan kepada uraian tentang garis keturunannya.
Sultan Syarif Abdurrahman Alqadri sebagai Sultan I Kerajaan Pontianak mempunyai 6 istri dan 66 anak terdiri dari 34 lelaki dan 32 orang perempuan. Dari jumlah tersebut yang menjadi raja dua orang yaitu Sultan Syarif Kasim Alqadri (Sultan II) dari ibunya Utin Cendramidi dan Sultan Syarif Usman Alqadri (Sultan III) dari ibunya Nyai Kusuma Sari. Setelah Sultan Syarif Usman mangkat, maka dinobatkan Sultan yang ke IV yakni Sultan Syarif Hamid Alqadri yang merupakan anak pertama dari perkawinan Sultan Syarif Usman Alqadri dengan Syarifah Zahara.
Sultan yang ke V yakni Sultan Syarif Yusuf Alqadri, adalah anak pertama dari perkawinan Sultan Syarif Hamid Alqadri dengan Syarifah Fatimah yang dinobatkan menjadi Sultan setelah ayahnya wafat. Sedangkan Sultan VI adalah Sultan Syarif Muhammad Alqadri, yang merupakan anak pertama dari perkawinan Sultan Yusuf Alqadri dengan Syarifah Zahra Alqadri dan dilantik sebagai Sultan pada 6 Agustus 1895.
Layak untuk diketahui, di saat Sultan Syarif Yusuf Alqadri sakit-sakitan, sebelum beliau mangkat maka diangkat Pemangku Jabatan Sultan yaitu Syarif Muhammad bin Harun bin Ahmad bin Sultan Syarif Abdurrahman Alqadri yang bergelar Pangeran Laksamana Tua. Jabatan ini dipegangnya sampai Sultan Syarif Yusuf Alqadri mangkat hingga beberapa tahun sambil menunggu Sultan Syarif Muhammad Alqadri dewasa untuk dilantik sebagai Sultan sebagaimana tanggal tersebut di atas. (Lihat grafis masa bertahtanya para Sultan).

Sultan-Sultan Kerajaan Pontianak Yang Bertahta
No
Sultan
Masa Tahta
1Sultan Syarif Abdurrahman Alqadri1 September 1778 -28 Februari 1808
2Sultan Syarif Kasim Alqadri28 Februari 1808-25 Februari 1819
3Sultan Usman Alqadri25 Februari 1819-12 April 1855
4Sultan Hamid Alqadri12 April 1855-22 Agustus 1872
5Sultan Yusuf Alqadri22 Agustus 1872-15 Maret 1895
6Sultan Muhammad Alqadri15 Maret 1895-24 Juni 1944

Siapa Pewaris Tahta Setelah Sultan Muhammad Alqadri? Dari tabel diatas, penulis uraikan secara singkat bahwa Sultan Syarif Muhammad Alqadri saat memangku jabatannya sebagai Sultan VI mempunyai beberapa istri. Dan yang cukup dikenal di masyarakat adalah:
  1. Syarifah Thalhah binti Shaleh bin Muhammad bin Sultan Syarif Usman Alqadri bergelar Maha Seri Ratu Besar. Beliau tidak mempunyai anak, dan wafat pada Jumadil Akhir 1326 H, dimakamkan di Gang Meliau Pontianak.
  2. Syarifah Zubaidah binti Muhammad (Pangeran Laksamana Tua) bin Harun bin Ahmad bin Sultan Syarif Abdurrahman Alqadri, bergelar Ratu Besar atau Ratu Muda, mempunyai dua puteri. Dimakamkan di Gang Meliau Pontianak.
  3. Encik Haji Aminah binti Encik Ajma’in, lahir 14 Rajab 1295 H, bergelar Mas Ratu Haji, mempunyai empat anak, 2 lelaki dan 2 perempuan, wafat 10 April 1930 M, dimakamkan di Gang Meliau Pontianak.
  4. Syarifah Mariam binti Alwi Assegaf, bergelar Ratu Seberang dan tidak mempunyai anak. Wafat 20 Syawwal 1348 H, dimakamkan di Gang Meliau Pontianak.
  5. Syeikhah Jamilah binti Mahmud bin Abdul Hamid bin Mahmud Syarwani, bergelar Maha Ratu Suri, mempunyai empat anak, terdiri dari 2 lelaki dan 2 perempuan. Wafat pada Kamis, 25 Rabiul Akhir 1397 H/14 April 1977, dimakamkan di Batu Layang Pontianak.
Sultan Syarif Muhammad Alqadri dikaruniai empatputra yaitu : (1) Syarif Usman bergelar Pangeran Adipati, (2) Syarif Mahmud bergelar Pangeran Agung, (3) Syarif Abdul Muthalib bergelar Pangeran Muda dan (4) Syarif Hamid. Diantara empat putra Sultan Muhammad ini, yang menjadi Putra Mahkota adalah Syarif Usman (Pangeran Adipati, ibunya bernama Encik Haji Aminah).
Pada tanggal 24 Juni 1944, Sultan Syarif Muhammad Alqadri beserta tiga putranya yaitu Pangeran Adipati, Pangeran Agung, Pangeran Muda ditangkap dan dibunuh Jepang bersama keluarga istana lainnya yang berjumlah lebih kurang 31 orang.
Peristiwa sungkup itu berlanjut pada tanggal 28 Juni 1944 dengan pembunuhan besar-besaran oleh tentara Jepang terhadap para Sultan, Panembahan, para tokoh masyarakat termasuk masyarakat umum di Kalimantan Barat. Jumlah pembantaian massal para cerdik cendikia, ulama, orang-orang terdidik dari berbagai etnis diperkirakan berjumlah sekitar 21.073 jiwa, yang dikenal sebagai Peristiwa Mandor.
Saat peristiwa pembantaian oleh balatentara Nipon itu, Syarif Hamid ditawan oleh Jepang dan dipenjarakan di Batavia dari tahun 1942-1945. Lalu siapa selanjutnya yang menjadi Sultan ke VII atau yang berhak menjadi Sultan VII menggantikan Sultan Syarif Muhammad Alqadri? Ini yang masih menjadi polemik. Dari beberapa sumber menyatakan:
(1). Yang menjadi Sultan VII adalah Sultan Syarif Thaha bin Usman Alqadri (lahir 27 September 1927). Syarif Thaha ini ibunya bernama Syarifah Fatimah bergelar Ratu Anom, yang merupakan anak Sultan Muhammad dari istrinya bernama Syarifah Zubaidah (Ratu Besar/Ratu Muda) binti Muhammad (Pangeran Laksamana Tua) bin Harun bin Ahmad bin Sultan Abdurrahman.
Syarifah Zubaidah mempunyai suami bernama Syarif Usman Alqadri bin Mahmud (bergelar Pangeran Laksamana Muda) bin Sultan Syarif Yusuf Alqadri. Dengan demikian, jalur yang diambil adalah dari garis perempuan, masa bertahta 1944 -1945.
(2). Sultan Hamid II bin Sultan Syarif Muhammad Alqadri, ibunya Syekhah Jamilah (Maha Ratu Suri), lahir 12 Juli 1913, dengan masa bertahta ada yang menyebutkan dari tahun 1945-1950 dan ada juga yang menyatakan 1945-1978.
(3). Ada yang mengemukakan Sultan Syarif Thaha Alqadri sebagai Sultan VII, sedangkan Sultan Hamid II sebagai Sultan VIII.
Dan siapa pula yang berhak untuk menjadi Sultan berikutnya apakah Syarif Abubakar bin Mahmud Alqadri (Pangeran Agung) bin Sultan Muhammad Alqadri yang juga merupakan keponakan dari Sultan Hamid II, ataukah Syarif Toto bin Thaha Alqadri? Dan apa yang menjadi dasar pengangkatan mereka untuk menjadi Sultan?
Hal diatas tentu menjadi sangat menarik untuk ditelaah, dikaji, walaupun bisa jadi tidak mudah diterima oleh semua pihak karena adanya tarik-menarik hubungan ataupun kepentingan. Dan dalam mengkaji hal ini tentu diperlukan pemikiran yang jernih, wawasan yang luas, dan tidak didasarkan kepada nafsu atau egosentris semata. Semua itu juga musti didukung oleh keakuratan data.


(Bersambung/*Dedi Kusnadi-Lembaga Pemerhati Kraton Indonesia)